
“Pengacara Lo.” Nina menghubungi Pengacara Lo.
[….]
“Ini bukan tentang Pak Alex, Pak. Ini William. Tolong hubungi Pak Juan juga.” Sambung Nina.
[….!!] Teriakan Pengacara Lo terdengar dari balik telepon. Nina meringis mendengar betapa histerisnya Pengacara Lo. Belum satu kasus terselesaikan, sudah ada satu kasus lagi.
“Pokoknya tolong hubungi Pak Juan ya, Pak. Untuk Pak Alex, biar saya yang menyampaikan.” Nina segera menutup panggilan itu, ia tidak mau lagi mendengar teriakan dan keluh kesah Pengacara Lo.
Nina termenung kembali. Dia harus segera mengabarkannya ke Alex mengenai kegagalan proyek Blackie. Sore ini, ia akan mengunjunginya di tahanan.
Tanpa sadar, Nina membelai perutnya. Masih terasa hangatnya disana. Terbayang olehnya, pembuahan itu telah terjadi seperti ilustrasi yang sering ia lihat di youtube.
Nina tersentak terkejut, ia segera menjauhkan tangannya. Ya Tuhan, jangan sampai terjadi…
Nina segera merampas tas dan kunci mobilnya, ia berlari menuju tempat parkir mobil. Tergesa-gesa, dibantingnya pintu mobil dan dinyalakannya mesin mobil. Mobil segera melesat ke sebuah apotik.
Nina memasuki apotik. Ia membeli obat kontrasepsi darurat, yang harus diminumnya maksimal 24 jam bila ia tidak menginginkan pembuahan ini terjadi. Setelah menjawab beberapa pertanyaan rewel dari apoteker, Nina berhasil membawa obat itu ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Di dalam mobil, keraguan itu datang lagi. Alex… Anak ini putra Alex. Anak ini akan lahir dari bibit Alex yang ditanamkan dengan penuh cinta dari ibunya, dan mungkin juga dari ayahnya. Apakah ia tega membuangnya?
Pip! Pip! Ponselnya berbunyi. Sebuah nomor asing lagi muncul di ponselnya.
“Ya, selamat siang.” Nina menjawab.
[….] Suara di seberang telepon berbicara cepat, Nina mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Saya segera kesana.” Nina mengakhiri panggilan itu. Ia meletakkan obat itu di kursi penumpang di sebelahnya, lalu menggerakkan mobilnya mengarah ke rumah tahanan.
Seorang anggota kepolisian menelepon, mengabarkan Alex mengamuk di selnya. Ia tidak dapat dikendalikan setelah mendapat kabar mengenai kegagalan William.
Alex datang dengan wajah merah padam. Rambutnya acak-acakan dan tangannya terluka. Kelihatannya dia mengamuk sambil memukul benda atau menonjok tembok penjara.
“Pak…” Nina bergegas berdiri dan menghampiri Alex ketika Alex memasuki ruangan. Alex menatap Nina dengan mata menyala. Nina berdiri terpaku ketika dengan cepat Alex berjalan menghampirinya dan mencengkram kedua lengannya.
“Kenapa! Kenapaaa!” Jerit Alex histeris didepan wajah Nina. Nina meringis, telinganya berdengung dan lengannya sakit karena remasan Alex.
“Pak, sakit…” Desis Nina sambil mengalihkan pandangannya. Ia tidak tahan melihat pancaran kemarahan di mata Alex.
__ADS_1
Alex tidak melepaskan cengkramannya. Ia malah mulai mengguncang-guncang tubuh Nina.
“Kenapa.. Kenapa bisa gagal lagi? Kenapa semuanya jadi begitu sial? Apalagi yang terjadi ini? Kenapa semua diluar sana tidak becus mengurus hal kecil seperti ini? Kemana Pengacara Lo? Keluarkan aku dari sini! Bilang pada dua pengacara ga becus itu, akan kupatahkan lehernya kalau tiga hari lagi aku tidak keluar dari sini! Mana dia? Cepat telepon dia! Cepaaatt!!” Alex semakin keras berteriak.
Nina mulai sesenggukkan menangis, ia ketakutan dan tubuhnya terasa sakit.
Beberapa anggota kepolisian mulai menyerbu masuk, berusaha memisahkan cengkraman Alex dari tubuh Nina. Ketika akhirnya cengkraman itu terlepas, Alex masih melihat Nina dengan tatapan menyala.
Nina menatap Alex dengan air mata yang sudah menganak sungai. Alex terdiam melihat Nina menangis didepan matanya. Baru kali ini, ia melihat wanita itu menangis.
Nina memberanikan diri melangkah mendekati Alex, perlahan-lahan ia melangkahkan kakinya menghampiri lelaki itu. Para anggota polisi yang masih mengapit tangan kanan dan kiri Alex, menjadi lebih waspada. Namun mereka semua termasuk Alex, terpaku ketika akhirnya Nina berada didepan Alex, mengulurkan tangannya dan memeluk pinggang Alex, menyandarkan kepalanya di dada Alex dan terisak disana.
Alex seperti tersadar. Ia memberontak, melepaskan kedua lengannya dari cengkraman para anggota kepolisian. Ia segera memeluk Nina erat setelah kedua tangannya terbebaskan.
“Maafkan aku.” Bisiknya sambil beberapa kali mengecup pucuk kepala Nina. Mereka saling mendekap beberapa lama, hingga para anggota polisi itu menepi, menganggap situasi sudah aman terkendali.
“Alex!!”
Sebuah jeritan membuat pelukan Alex dan Nina terlepas. Mereka segera mengalihkan pandangannya ke pintu ruang kunjungan. Disana, Mia berdiri sambil menatap keduanya dengan mata menyala.
__ADS_1