Nina Sang Sekretaris Pengkhianat

Nina Sang Sekretaris Pengkhianat
Berusaha Mengambil Hatinya


__ADS_3

Nina membuka matanya pagi itu dengan pemandangan ranjang kosong di sampingnya. Dirabanya kasur kosong itu, terasa dingin. Berarti Daffin sudah lama meninggalkan tempat tidur mereka.


 


Nina masih tetap berbaring sambil menajamkan telinganya. Tidak ada suara percikan air dari arah kamar mandi. Apakah Daffin sudah meninggalkan rumah?


 


Nina bangkit dari tempat tidurnya, rasa ingin tahunya tergelitik. Diraihnya gaun tidurnya, dan ia segera keluar kamar setelah mengikat tali pinggang gaun itu di pinggangnya.


 


Tercium harum daging bakar dan telur menguar di udara. Perlahan, Nina menuruni tangga, menghampiri ruang makan.


 


Daffin terlihat sedang membelakangi meja bar, sedang menghadap kompor. Tubuhnya masih terbungkus tshirt putih dan celana pendek, seperti yang dikenakannya semalam.


 


Daffin segera menoleh saat ia merasakan kehadiran seseorang dibelakangnya. Ia tersenyum melihat seorang wanita cantik dengan wajah baru bangun tidur dan rambut acak namun sangat seksi sedang berjalan menghampirinya.


 


“Selamat pagi.” Ujarnya sambil menunjuk kursi makan di depannya dengan menggunakan spatula.


 


“Masak apa?” Ujar Nina dengan wajah bantalnya. Kedua sikunya menopang di atas meja makan.


 


“Burger.” Jawab Daffin singkat. “Dua menit lagi siap.” Tambahnya.


 


Selanjutnya, Nina memperhatikan tangan Daffin yang bergerak terampil mengisi piring saji. Ditempatkannya dua roti yang sudah dibakarnya, disusunnya lembaran lettuce, tomat, keju, pickles, telur dan terakhir diambilnya beef patty yang masih mengebul di atas pemanggangan.


 


“Dimana kau belajar memasak?” Ujar Nina lagi.


 


“Di US aku harus hidup mandiri,” ucap Daffin sambil memadatkan tumpukan burgernya, “Beli makanan setiap hari itu mahal. Bisa-bisa aku bangkrut kalau beli makanan siap saji terus menerus.”


 


“Makanlah.” Ucap Daffin sambil menyodorkan sepiring burger lengkap dengan salad dan kentang gorengnya. Lalu dengan sigap diletakkannya sebuah garpu dan pisau di samping piring Nina.


 


“Ini terlalu banyak.” Ucap Nina sambil memandang piringnya.


 


“Habiskan saja sebisamu.” Ujar Daffin lagi sambil duduk di meja bar, tepat di hadapan Nina. “Bayi kita butuh banyak asupan bergizi dari ibunya supaya bisa tumbuh dengan baik.” Sambungnya sambil tersenyum.


 


Nina hanya melirik acuh sambil menusukkan garpunya ke burgernya dan memotongnya dengan pisau. Ia sudah mulai terbiasa mendengar Daffin menyebut bayinya “anak kita”, perasaannya agar tergetar namun Nina tetap berusaha mengacuhkannya.

__ADS_1


 


“Hm hm.” Gumam Nina sambil mengunyah makanannya.


 


“Enak?” Tanya Daffin dengan mata berbinar menatap Nina, seperti seorang bocah yang sedang haus pujian dari ibunya.


 


“Lumayan.” Ujar Nina pendek sambil meraih kentang gorengnya.


 


Daffin tersenyum, baginya pendapat Nina itu bagaikan sebuah pujian untuknya. Dengan bahagia, ia mulai melahap burgernya. Dengan tangan kosong, Daffin meraih burgernya dan menggigitnya. Segeralah mayonnaise dan saus tomat mengotori sudut-sudit bibirnya.


 


Nina memandangnya, benar-benar seperti bocah, pikirnya. Dipandanginya wajah Daffin, ia sangat ingin membersihkan ujung bibir Daffin namun ia menahan diri.


 


Daffin seperti bisa membaca pikiran Nina. Walaupun ia menjilati ujung bibirnya namun tidak sepenuhnya bersih. Ia hanya diam sambil memandangi Nina, menunggu wanita itu berinisiatif mengusap bibirnya.


 


Namun Daffin harus menelan kekecewaan. Hingga piringnya tandas, Nina tidak sekalipun melakukan apa yang ia harapkan.


 


“Jusnya.” Ujar Daffin menyodorkan segelas jus jeruk yang baru diambilnya dari dalam kulkas. Nina kembali terpaku, Daffin benar-benar menyiapkan menu lengkap untuk sarapan pagi ini.


 


 


“Tidak perlu. Aku bisa menyelesaikan sendiri tugasku.” Ujar Nina acuh.


 


“Kamu sudah mulai sering pulang malam. Aku tidak mau anakku kelelahan.” Ujar Daffin sambil tersenyum.


 


Nina meletakkan gelasnya ke meja dengan jengkel. “Ini bukan anakmu!”


 


“Anakku dong! Dia hadir di tengah pernikahanku!” Ujar Daffin tidak mau kalah.


 


“Ah, terserah kau deh mau ngomong apa!” Nina bangkit dari duduknya, beranjak kembali ke kamar.


 


“Tunggu!” Daffin bergegas menyusul Nina, meraih tangannya. “Jangan berjalan cepat-cepat, nanti kau jatuh.”


 


Nina menepis tangan Daffin, namun karena genggaman Daffin cukup keras, Nina tidak dapat melepaskan tangannya. Akhirnya, Daffin yang menuntun Nina menuju kamar mereka.

__ADS_1


 


Genggaman tangan Daffin tidak serta merta lepas saat mereka masuk ke dalam kamar tidur. Daffin tetap menuntun Nina hingga mereka masuk ke kamar mandi.


 


Nina mulai memberontak, ia menolak masuk ke kamar mandi dengan Daffin.


 


“Stt… Kita sudah terlambat, jadi lebih baik sekarang kita mandi dan ngantor.” Ujar Daffin sambil mengunci pintu kamar mandi, lalu dengan cepat mendorong Nina masuk ke bawah shower.


Daffin langsung membuka pakaiannya, membuat Nina menjerit dan menutup matanya.


 


“Aku ga mau!” Teriak Nina sambil mencoba lari keluar dari shower ketika dilihatnya Daffin lengah. Di pikirannya sudah terlintas berbagai perkiraan bahwa Daffin akan meminta haknya saat itu. Namun Daffin dengan cekatan menahan tubuh Nina dan menarik gaun tidur serta lingerie-nya. Alhasil, lingerie itu robek di beberapa bagian dan terlepas dari tubuh Nina.


 


Dengan cepat, Daffin menyalakan shower sehingga membasahi tubuh mereka berdua. Diraihnya sabun dan dibalurkannya ke tubuh Nina dengan lembut. Diusapnya seluruh bagian tubuh istrinya hingga sabun itu berbusa, seakan-akan memang tujuannya hanyalah menghemat waktu agar mereka dapat berangkat ke kantor lebih cepat.


 


Perlahan, Nina tidak lagi mencoba melarikan diri. Nina berdiri diam sambil sesekali meremas tangan Daffin. Sebenarnya ia merasa malu karena Daffin kini melihat seluruh bagian tubuhnya, namun di sisi lain ia takut jatuh karena lantai kamar mandi yang licin. Karena itulah ia berpegangan pada tubuh Daffin.


 


Disamping itu, Nina sesekali memejamkan matanya. Belaian lembut dan usapan Daffin sungguh memanjakan dirinya, kembali lagi ia merasa begitu disayang. Sesuatu yang tidak pernah didapatnya dari Alex, yang biasanya hanya memperhatikan keinginan dirinya sendiri. Ninalah  yang selama ini harus memanjakan Alex, tidak pernah Alex yang memanjakan Nina.


 


Daffin menggeram, menahan hasratnya untuk menyerang Nina. Bagian tubuhnya di bawah sana bereaksi, membuat tubuhnya terasa panas dan jantungnya berdegup kencang. Nina sangat cantik dengan tubuhnya yang sempurna, bahkan di kehamilannya ini ia tampak semakin seksi. Daffin benar-benar menahan tangannya untuk tidak meremas dan mencicipi bongkahan-bongkahan yang ia gemari.


 


Akhirnya, mandi bersama selesai. Daffin mengeringkan tubuh Nina terlebih dahulu, baru menyusul tubuhnya sendiri. Dengan jengkel, Nina menyabet tubuh Daffin dengan handuk sebelum meninggalkan kamar mandi. Daffin terbahak, sabetan Nina hanya menyerupai belaian di tubuhnya.


“Dasar, sudah disayang, tetap saja galak!” Senyum Daffin sambil memperhatikan Nina yang berjalan keluar kamar mandi setelah membungkus tubuhnya dengan handuk.


 


Daffin melangkah keluar kamar mandi, dilihatnya Nina yang masih menggunakan bathrobe-nya sudah duduk di depan meja riasnya sambil merias wajahnya.


 


Daffin segera mengenakan pakaian kerjanya, lalu kembali ke meja rias.


 


Nina mendelik melihat Daffin menghampirinya. “Mau apa lagi kau?” Ujarnya jengkel.


 


Daffin tersenyum sambil menggeleng, namun tangannya meraih hair dryer. Dengan lembut, Daffin mulai menyalakan pengering rambut itu dan mengeringkan rambut Nina sambil sesekali memijit kulit kepalanya.


 


Nina melihat ke wajah Daffin melalui pantulan kaca meja riasnya. Nina melihat pancaran mata tulus dan bahagia, menandakan Daffin dengan sukacita melakukan ini semua. Akhirnya, Nina membiarkan saja Daffin menata rambutnya pagi itu. Bahkan Nina membiarkan Daffin memilihkan pakaian yang akan dipakainya hari itu.


 

__ADS_1


Belum selesai sampai situ. Setelah Nina selesai memakai sepatu datarnya, dengan pasrah ia mengikuti Daffin yang menarik tangannya menuju mobil Daffin. Hari itu, mereka akan ke kantor bersama.


__ADS_2