Nina Sang Sekretaris Pengkhianat

Nina Sang Sekretaris Pengkhianat
Cinta itu Buta, Namun Dapat Melihat di Kegelapan


__ADS_3

“Jadi kau pengkhianat itu? Kau mengkhianatiku?” Desis Alex penuh kemarahan.


 


Nina terpaku tak bergerak.


 


“Selama ini, aku selalu menyangka William…” Ujar Alex sambil menatap tajam pada Nina. “Ternyata tikusnya adalah kau, perempuan yang paling aku percayai melebihi istriku sendiri.” Geram Alex lagi.


 


Air mata Nina mulai mengalir. Ia memang melakukannya untuk membalas Alex, demi membuat keluarga Midas membayar atas kejahatan yang dilakukan oleh Tuan Stephen di waktu lampau. Namun mendengar tuduhan Alex saat ini, sungguh membuat hati Nina sakit.


 


“Dan mirisnya, aku hampir menikahimu.” Alex tertawa sinis sambil melihat dengan tatapan jijk pada Nina. “Menikahi perempuan yang kukira berharga dan mencintaiku, namun ternyata tak lebih dari tikus pengkhianat!”


 


“Mari, Pak Alex. Kita berangkat.” Potong Kapten Rey mencairkan suasana. “Karena kelihatannya tidak akan ada pernikahan hari ini, jadi mari segera kita tinggalkan tempat ini.”


 


“Penjarakan dia, Dave.” Perintah Alex dingin sambil melirik Daffin. “Cabut kuasanya atas Midas dan Crystal, kemudian penjarakan dia atas penyalahgunaan wewenang.”


 


Segera setelah mengatakan itu Alex beranjak, digiring oleh Kapten Rey dan anak buahnya untuk kembali ke rutan.


 


Nina merosot terduduk di lantai segera setelah kepergian Alex. Air matanya terus mengalir walaupun tidak ada isak tangis keluar dari mulutnya. Ia terduduk diam sambil sesekali mengusap air matanya. Dan ketika tiba-tiba Nina teringat akan nasib janin yang dikandungnya, ia mengelus perutnya perlahan.


 

__ADS_1


Daffin jongkok di hadapan Nina dengan wajah prihatin. Ia tidak mengeluarkan kata-kata, hanya diam sambil memandangi Nina. Hatinya tersentuh menlihat betapa hancurnya perempuan itu. Perempuan yang biasanya begitu galak dan gigih melawannya, kini kehilangan daya kekuatannya.


 


Nina mengangkat kepalanya ketika melihat pergerakan di depannya. Dihapusnya airmatanya, lalu ia menatap tegar pada Daffin.


 


“Cabut saja kuasaku dan jebloskan aku ke penjara, seperti perintah papamu tadi. Aku sudah tidak peduli lagi walaupun aku dihukum mati sekalipun. Aku lelah, terlalu lelah menghadapi semua ini. Lakukan saja apa yang harus kau lakukan.” Ujarnya dengan suara bergetar menahan tangisnya.


 


Daffin berdiri dan berjalan mendekat, kemudian bersimpuh dengan lututnya di hadapan Nina. Sebuah tekad tergambar di wajahnya. Dengan perlahan dirogohnya kantong celananya, dikeluarkannya sebentuk cincin berlian yang dulu pernah disematkannya di jari manis Nina pada saat ia melamarnya dengan ancaman. Cincin itu kemarin terselip diantara dokumen pribadi Nina yang ia berikan pada Daffin saat Daffin datang untuk mengurus dokumen pernikahan Alex dan Nina. Nina sengaja menyelipkannya dengan maksud mengembalikan cincin itu pada Daffin.


 


“Aku bisa menyelamatkanmu.” Ujar Daffin pelan sambil mengulurkan cincin itu. “Perlu kau tahu, aku tulus mencintaimu. Aku juga memikirkan adikku. Kita bisa membesarkannya sebagai anak kita.” Ujarnya sambil terus memegang cincin itu dan menghadapkannya ke Nina.


 


Nina terdiam, matanya berganti-ganti memandang Daffin dan cincin yang ada di tangannya.


 


 


“Tunggu!” Seru Daffin, lalu dengan cepat ia menggenggam tangan Nina. “Putuskan sekarang, Sayang.” Ujarnya lembut.


 


Nina tersentak mendengar nama panggilan mesra yang diucapkan oleh Daffin. Matanya menatap ragu pada Daffin, namun setelah melihat senyum tulus Daffin, Nina menganggukkan kepalanya.


 


“Pak, Pak, kami jadi menikah!” Dengan bersemangat Daffin langsung berdiri dan menangkap lengan si petugas yang sudah bersiap pergi.

__ADS_1


 


“Loh, jadi Pak? Tapi pengantinnya kan…” Si petugas pencatat kebingungan.


 


“Saya yang menggantikannya.” Ujar Daffin dengan wajah berseri. “Pakai nama saya, ini passport saya. Dokumen-dokumen saya lainnya akan saya susulkan besok.” Sambung Daffin lagi.


 


“Cepat pak.” Tambah Daffin lagi sambil menyisipkan segepok uang ke kantong di petugas pencatatan, membuatnya makin bingung. Petugas itu segera kembali membuka dokumen-dokumennya dan membuat revisi di sana sini, mencoret nama Alex dan menggantinya dengan nama Daffin.


 


Sementara si petugas mempersiapkan dokumennya, Daffin menuntun Nina untuk berdiri di hadapan petugas itu.


 


“Kamu yakin?” Tanya Nina, masih dengan tatapan sangsi.


 


“Aku tidak pernah seyakin ini.” Ujar Daffin sambil tersenyum.


 


“Tapi aku sudah mengkhianati ayahmu, menghancurkan pernikahan orang tuamu.” Ujar Nina lagi. Suaranya masih bergetar menahan tangis.


 


“Cintaku memang buta,” ujar Daffin sambil mengelus pipi Nina, menghapus air matanya, “Tapi bisa melihat di kegelapan.” Sambungnya sambil tersenyum. “Aku melihat beban kehidupanmu yang berat. Perbuatanmu akibat dari perilaku keluargaku juga. Hitung-hitung, aku membayar kesalahan yang dilakukan oleh kakek dan ayahku. Semoga setelah ini, semuanya bisa membaik dan tidak ada dendam lagi diantara keluarga kita.”


 


Nina terisak, meresapi kata-kata Daffin.

__ADS_1


 


Akhirnya di hari itu, di kamar rumah sakit itu, berlangsung pernikahan antara Karenina Crystal Clementine dan Ranedave Hanson Midas.


__ADS_2