
Beberapa hari kemudian.
Pagi itu, Daffin sudah bangun dan bersiap untuk berangkat ke kantor. Nina pun sedang bersiap, ia sedang merias wajahnya di depan kaca riasnya.
“Dave, pagi ini kau berangkat saja lebih dulu ke kantor. Ada hal yang perlu aku lakukan sebelum ke kantor.” Ujar Nina sambil mengoleskan mascara di bulu mata lentiknya.
Daffin yang sedang megenakan jam tangannya, menoleh sambil mengernyitkan dahinya.
“Kau mau kemana? Biar aku antar.” Ujar Daffin menjawab saran Nina.
“Ga usah. Biar aku berangkat sendiri.” Sahut Nina cepat.
“Loh, kenapa? Kamu lagi hamil besar, Sayang. Takut nanti ada apa-apa. Apalagi kalau kamu menyetir sendiri, kalau kamu kramp mendadak bagaimana? Biar aku antar ya?” Bujuk Daffin sambil menghampiri Nina.
“Nggak usah! Aku sudah minta Pak Salim siap-siap mengantarku pagi ini, kamu ga usah khawatir.” Nina berhenti merias wajahnya dan menatap balik wajah Daffin.
Daffin terpaku berdiri di belakang Nina. Mereka saling bertatapan, seperti saling mengadu kekuatan agar keinginannya diikuti oleh pasangannya.
Apa yang dia rahasiakan, tanya Daffin di dalam hatinya. Daffin merasa hubungannya dengan Nina akhir-akhir ini membaik, semenjak kejadian romantis di kantor beberapa hari lalu. Bahkan setelah kejadian itu, beberapa malam berikutnya Daffin mendapatkan haknya sebagai suami selama beberapa malam berikutnya. Daffin mengira Nina sudah dapat menerimanya, dia tidak menyangka masih ada hal yang Nina ingin sembunyikan darinya.
“Dave?” Tegur Nina agak keras sambil menatap tajam mata Daffin melalui pantulan cerminnya. Daffin tersadar dari pikirannya dan menatap mata Nina.
“Baiklah.” Sahut Daffin sambil menghela napas panjang. “Aku akan berangkat duluan.”
Nina tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya.
🌹🌹🌹
Setelah bersiap, pasangan ini segera menuju ruang makan untuk menikmati sarapan pagi. Nina melayani Daffin seperti biasa, menghidangkan American Breakfast di piring Daffin walaupun bukan dia yang memasaknya.
Mereka makan dalam diam. Sesekali Daffin mencuri pandang ke wajah datar Nina sambil berusaha menemukan bahan pembicaraan dengan istrinya itu. Pagi ini, kembali dirasakannya jurang membentang diantara mereka.
“Nanti, kau ke kantor sekitar jam berapa?” Tanya Daffin basa basi.
__ADS_1
“Mungkin dua belas.” Jawab Nina singkat.
“Mau kemana?” Tanya Daffin lagi.
Nina hanya tersenyum sambil menatap Daffin, namun ia tidak menjawab pertanyaannya. Sebuah senyum yang begitu misterius.
Daffin kembali terdiam. Ia sudah merasa gagal mengorek informasi dari Nina.
Selesai makan, Daffin bersiap mengambil tas kerjanya. Ia ingin bertemu Pak Salim dulu sebelum ia berangkat kerja.
Diluar dugaan, Nina bergerak lebih cepat. Saat Daffin menuju ke sofa untuk mengmbil tas kerjanya, Nina sudah melesat ke pintu rumah, membukanya dan berteriak memanggil nama Pak Salim.
Pak Salim tergopoh-gopoh menghampiri Nina. Nina segera menyuruhnya masuk ke ruang makan.
“Ambil makanan yang sudah disiapkan Bi Arum di ruang makan. Tapi ingat, bawa keluar setelah Pak Daffin berangkat.” Ujar Nina sambil tersenyum dan melirik Daffin yang sudah berdiri terpaku di sisinya.
Daffin merutuk dalam hati. Tadinya ia ingin berpesan pada Pak Salim agar nanti memberitahukannya kemana saja Nina bepergian hari ini. Namun siapa sangka, Nina sudah mengamankan sopirnya itu terlebih dulu.
“Pak,” panggil Daffin saat Pak Salim melewatinya, “Jaga Nina baik-baik. Dia sedang hamil besar.” Ujar Daffin pelan sambil menatap mata Pak Salim.
Pak Salim menundukkan badannya sedikit. “Baik, Tuan Muda.” Ujarnya, kemudian berlalu menuju ruang makan.
Nina tersenyum saat Pak Salim telah beranjak meninggalkan mereka. Dengan gemulai diraihnya simpul dasi di leher Daffin dan dieratkannya hingga rapi, kemudian ditepuknya dengan lembut jas yang ada di tulang selangka Daffin. Dirapikannya pakaian suaminya itu sambil menatap matanya.
“Berangkatlah.” Ujarnya sambil tetap tersenyum.
Pasrah, Daffin menganggukkan kepalanya. Dikecupnya sekilas bibir Nina, kemudian ia beranjak keluar rumah dan menuju mobilnya.
🌹🌹🌹
Tujuan pertama untuk Nina di hari itu adalah rumah sakit jiwa tempat Aldo dirawat. Dengan berjalan perlahan, Nina membawa tas kecil berisi makanan untuk Aldo. Seperti biasa, ia membawakan mie kesukaan kakaknya itu.
“Kakak…” Panggil Nina lembut, sesaat setelah pintu kamar Aldo ditutup oleh perawat yang mengantarnya.
__ADS_1
Nina meletakkan tas makanan dan tasnya sendiri di meja bulat yang terdapat di kamar itu. Sebuah meja bulat berdiameter sembilan puluh sentimeter dan dilengkapi tiga kursi dan terletak di tengah ruangan, berguna bila si pasien menerima tamu atau bila ia ingin makan atau sekedar duduk menonton TV di kamar itu.
Nina mengelus bahu kakaknya yang berbaring membelakanginya, namun Aldo tidak menoleh. Nina mencoba berjinjit melihat wajah Aldo melalui samping wajahnya, namun ia kesulitan karena perut besarnya menghalanginya.
“Kakak…” Panggil Nina lagi sambil duduk di sisi ranjang. “Kak, apa Kakak tidak mau melihatku? Kak, aku sudah menikah. Aku sedang hamil saat ini. Kakak tahu, bayi siapa ini? Ini bayi Midas.” Ujar Nina pelan.
Sesuai dugaannya, Aldo seperti tersentak mendengar nama Midas. Ia sontak berbalik, hampir saja menyenggol tubuh Nina dan hampir membuat Nina terbanting dari sisi ranjang.
“Uh!” Nina segera menyeimbangkan tubuhnya di atas kedua kakinya. Matanya terbelalak melihat Aldo yang sudah terduduk sambil menatap horror kepadanya.
“Midas?” Desis Aldo marah. “Bayi Midas?” Geramnya hingga giginya bergemeletuk.
Nina mengusap dadanya, menenangkan jantungnya. Perlahan, dihampirnya kakaknya itu dan dipengangnya tangannya.
“Kakak… Ini taktikku untuk menghancurkan Midas. Aku sudah hampir berhasil merebut Crystal, Kak. Kau ingat Crystal, kan? Dan lagi, dengan bantuan bayi ini,” Nina meletakkan tangan Aldo di perutnya,” Aku bisa menguasai Crystal sepenuhnya. Sekaligus menghancurkan Midas.” Ujarnya lagi sambil menatap mata Aldo.
“Kau gila!” Desis Aldo marah. “Kenapa kau lakukan itu? Untuk apa kau mengandung bayi laknat itu?”
“Kakak…” Air mata Nina mengalir. “Aku tidak ada cara lain. Aku sendirian, Kak. Ini jalan tercepatku untuk bisa menghancurkan Midas dan merebut Crystal lagi.”
“Tapi tidak dengan mengorbankan dirimu!” Teriak Aldo. “Sekarang, apa yang tersisa dari keluarga kita? Tidak ada! Bahkan kau mengandung keturunan keluarga pembunuh itu!”
“Kakak!” Seru Nina sambil berurai air mata. Ia mulai putus asa memberikan pengertian pada kakaknya yang sekarang bagaikan sudah normal kembali. “Ini pengorbananku untuk diriku sendiri dan Kakak! Kak, aku mau Kakak sehat kembali dan bisa mengendalikan Crystal. Setidaknya dari keluarga kita, masih ada kita berdua yang bertahan! Midas sudah hancur, Kak! Pembunuh itu sudah lumpuh sengsara, anaknya dipenjara, keluarga mereka sudah hancur! Kak, pembalasan ini akan sempurna saat Kakak sudah bisa menduduki Crystal kembali! Kumohon Kak, mengertilah dan dukung aku!” Tangis Nina tersedu-sedu di depan Aldo.
Perlahan, kemarahan di mata Aldo meredup. Ditatapnya adik tersayangnya yang sekarang berdiri di hadapannya, berurai air mata. Tubuhnya yang tidak selangsing dulu, berdiri sambil terguncang sambil meluapkan emosinya.
Aldo bergerak cepat ketika ia melihat Nina hampir roboh. Aldo melompat dari kasurnya dan menangkap tubuh Nina beberapa saat sebelum Nina jatuh terduduk. Didekapnya tubuh Nina yang masih bergetar karena tangis, dipapahnya dan didudukkannya di kursi meja makan.
“Stt… Stt… Sudah…” Bujuk Aldo pelan sambil mengusap-usap pucuk kepala Nina. Dikecupnya rambut Nina beberapa kali hingga tangis Nina mulai mereda.
“Maafkan Kakak ya. Maafkan kakakmu yang tidak berguna ini. Aku anak laki-laki satu-satunya dan anak paling besar, tapi aku tidak bisa melindungi keluargaku sendiri. Aku tidak bisa menyelamatkan warisan Papa dan tidak bisa menjaga perasaan Mama, sehingga membuat adikku harus mengorbankan diri sampai sejauh ini. Aku tidak berhak marah padamu, aku bahkan harus berterima kasih padamu. Kau yang menyelamatkan aku sekaligus memulihkan kembali nama baik keluarga kita. Aku sangat bangga padamu.” Aldo mengecup pucuk kepala Nina berulang kali sambil terus menenggelamkan Nina didalam pelukannya.
“Katakan apa yang harus aku lakukan. Aku akan membantumu. Bahkan nyawaku, sekarang adalah milikmu.”
__ADS_1