Nina Sang Sekretaris Pengkhianat

Nina Sang Sekretaris Pengkhianat
Kegagalan Pertama


__ADS_3

Nina mempersiapkan segala sesuatu yang diminta oleh Alex. Kebetulan, data yang Alex minta semuanya sudah berada di meja Alex, sehingga saat itu Nina harus membongkar meja Alex dengan pengawasan Mia.


 


Mia memperhatikan Nina. Perempuan ini sangat cantik, apakah Alex sungguh tidak tertarik padanya? Pikir Mia.


 


“Nin.” Panggil Mia. “Saya minta nomor ponsel kamu.” Ujarnya datar.


 


Nina menoleh dan segera menghampiri Mia. “Baik, Bu.” Ia segera mendiktekan nomor ponselnya.


 


“Nin, ada perempuan yang sedang dekat dengan Alex?” Tanya Mia setelah ia selesai menyimpan nomor ponsel Nina di ponselnya sendiri.


 


“Kalau di kantor, hanya saya, Bu. Kalau di luar kantor, saya kurang tahu, karena saya tidak selalu mengikuti kemana Bapak pergi.” Ujar Nina.


 


Mia memicingkan matanya, sambil bersiap untuk pergi. “Huh, semua sama saja. Semua tutup mulut!” Ujarnya gusar.


 


Mia langsung melangkahkan kakinya meninggalkan gedung Midas Corp. Nina memperhatikannya dari belakang sambil tersenyum manis.


 


🌹🗡️🌹


 


Nina berjalan menuju ruang meeting, mambawa data-data yang Alex minta dan sepiring makan siang untuk Alex.


 


Alex menoleh ketika Nina memasuki ruang meeting.


 


“Perempuan itu sudah pergi?” Tanyanya datar.


 


Nina tersenyum tipis. “Perempuan itu istri Anda, Pak.” Ujarnya lembut.


 

__ADS_1


Alex meringis, kemudian menarik bangku di sebelahnya. Menepuknya, meminta Nina duduk disitu.


 


“Sayangnya, ya, dia istriku. Ayo, suapi aku. Aku mau disuapi calon ibu dari anakku.” Ujarnya sambil mulai mengerjakan dokumen yang dibawa Nina tadi.


 


Nina tersenyum lalu duduk di sisi Alex. Ia mengelus lengan Alex sebelum mulai mempersiapkan makanan di piring Alex.


 


Alex tersenyum, senang dengan perilaku Nina yang halus dan memanjakannya. Ia melahap makanan yang disodorkan oleh Nina. Sesendok, dua sendok, dan seterusnya sambil mata dan tangannya meneruskan pekerjaannya.


 


“Sampai kapan kita di ruang meeting ini, Pak?” Tanya Nina sambil menyuapi Alex.


 


“Tadinya sampai perempuan itu pergi. Tapi karena dia sudah pergi, setelah ini kita ke rumahmu ya?”


 


“Ke rumah saya, Pak?” Tanya Nina heran. Ia mengira Alex akan mengajaknya kembali ke ruangan direksi saja, ternyata malah ke rumah Nina.


 


 


Setelah menghabiskan makan siangnya, Alex berdiskusi dengan Nina mengenai pekerjaan mereka dan ‘pekerjaan nanti malam’. ‘Pekerjaan nanti malam’ yang dimaksud oleh Alex adalah proses serah terima impor senjata api dari kartel mafianya.


 


---


 


Alex dan Nina menyelesaikan pekerjaannya jam empat sore, lebih cepat satu jam dari jam pulang kantor. Dengan santainya, mereka berdua meninggalkan kantor dan menuju kediaman Nina.


 


Selama perjalanan pulang, kali ini mobil Nina yang menjadi saksi bisu kemesraan pasangan ini. Bisikan, kecupan dan tawa canda kerap terdengar selama perjalanan berlangsung.


 


Setelah tiba di rumah Nina, Alex meraih tubuh Nina dan menggendongnya seperti karung beras segera setelah pintu garasi mobil tertutup.


 


Sesampainya di kamar tidur, dengan cepat Alex membanting tubuh Nina di ranjangnya dan segeralah permainan dimulai.

__ADS_1


 


Nina mendesis sambil mendongakkan kepalanya, menikmati penyatuan mereka. Alex memang sudah melakukan pemanasan sejak mereka di mobil tadi, sehingga mudah bagi Nina untuk menikmati permainan Alex.


 


“Ingat, Sayang. Lahirkan penerusku.” Bisik Alex beberapa kali saat ia hubungan mereka telah mencapai puncaknya.


Hingga akhirnya Nina tertidur kelelahan saat Alex mengecup keningnya. Alex telah selesai membersihkan diri dan akan pergi ke pelabuhan untuk melakukan serah terima barang.


 


Anak buah Alex telah menunggunya di depan rumah Nina. Pada pukul satu subuh, Alex berangkat bersama anak buahnya menuju dermaga sepuluh.


 


🌹🗡️🌹


Dor! Dor!


Puluhan orang berpakaian hitam kocar kacir. Sebagian berlari naik ke atas kapal, meninggalkan dermaga. Sebagian lagi menceburkan diri ke laut, berusaha bersembunyi dari serbuan pihak kepolisian.


“Shit!” Alex memaki. Gerak geriknya malam ini terendus pihak kepolisian. Mereka terkena penggerebekan hingga Alex kehilangan senjatanya dan sebagian anak buahnya yang tewas atau tertangkap polisi. Alex sendiri menceburkan diri ke laut dan berenang ke daratan. Ia ingin melarikan diri dengan mobil jemputannya.


Dor! Sebuah peluru hampir menyerempet kakinya yang sedang berlari menuju kendaraannya. Alex terpaksa berhenti berlari ketika melihat beberapa orang polisi muncul dari balik mobil yang justru menjadi tujuannya. Alex sadar, ia sudah terkepung.


“Menyerahlah! Angkat tangan, Anda sudah terkepung!” Polisi itu berbicara dengan pengeras suara.


Alex tersenyum sinis sambil mengangkat tangannya, menyerah. Benar-benar sial, desisnya kesal.


Beberapa polisi menangkapnya dan memborgolnya, membawanya dengan kendaraan kepolisian. Selama perjalanan mereka mencoba bertanya beberapa hal pada Alex, namun Alex hanya diam tanpa menjawab.


🌹🗡️🌹


Rumah utama mendapat kejutan di pagi harinya. Kabar mengenai penangkapan Alex membahana ke setiap pelosok rumah, dibawa oleh Mia yang menangis-nangis datang ke rumah mertuanya itu pagi buta.


Tuan Stephen hanya memandang menantunya yang sedang histeris di hadapannya dan istrinya. Dengan tenang Tuan Stephen meraih ponselnya, menghubungi pengacaranya. “Urus Alex.” Demikian titahnya.


Mia segera terdiam dengan wajah masih beruraian air mata. Hanya itu? Desisnya. Hanya mengangkat telepon dan mengucapkan dua kata, masalah terselesaikan? Apakah mertuanya seberkuasa itu?


Tanpa berkata-kata lagi, Tuan Stephen langsung bangkit berdiri dan memanggil istrinya. “Ayo kita tidur, Mih.” Ucapnya sambil berjalan menuju kamarnya.


Nyonya Briggite pun demikian. Dengan wajah datarnya, wanita berumur namun masih cantik itu segera bangkit mengikuti langkah kaki suaminya. Dia tidak mengeluarkan sepatah katapun, hanya melirik sekilas ke Mia.


Mia tertegun. Bagaimana ini? Harus apa dia selanjutnya? Apakah pulang saja kerumah dan menunggu suaminya dirumah? Tapi, apakah suaminya akan benar-benar pulang? Mia sungguh kebingungan. Sepertinya sia-sia dia mengabarkannya kepada kedua mertuanya yang berhati batu itu.


Dilain pihak, William sudah mulai bekerja di pagi buta. Setelah menerima kabar penangkapan bosnya, ia menghubungi pihak pengacara kartel bosnya. Mereka memang selalu siap sedia menghadapi situasi semacam ini, menggunakan pengacaranya untuk menyelidiki apakah ada peluang untuk menyelamatkan anggotanya yang tertangkap. Segala macam cara dihalalkan asalkan dapat ditukar dengan kebebasan anggotanya.


Alex jelas merugi, nilainya lumayan besar. Kehilangan barang dagangan dalam nilai jutaan dollar membuat keuangan perusahaannya mendapat guncangan kecil. Alex menggeram, ia sedang memikirkan siapa pengkhianat yang berani membocorkan kegiatannya malam itu kepada kepolisian.


Polisi terus mencecar Alex dan anak buahnya yang tertangkap, mengenai usaha penyelundupan senjata mereka. Namun Alex dan anak buahnya tetap membisu, mereka hanya berkata ‘hanya akan berbicara dengan pendampingan pengacara.’

__ADS_1


__ADS_2