Nina Sang Sekretaris Pengkhianat

Nina Sang Sekretaris Pengkhianat
Tuan Stephen Turun Tangan, Perkenalan Dengan Nina


__ADS_3

Dengan emosinya yang masih di ubun-ubun, Mia menuju rumah utama. Ia akan mengadukan pengkhianatan Alex kepada Papa Stephen.


 


Sejak Alex duduk sebagai CEO Midas Corp, Tuan Stephen Midas sudah sangat jarang berkunjung kekantornya. Beliau lebih banyak melewati masa tuanya dengan tenang bersama istrinya di rumah, hanya sesekali ke kantor apabila ada rapat umum pemegang saham atau hal-hal yang sangat genting.


 


Mia masuk ke rumah utama dengan emosi yang sudah agak tenang. Sepanjang perjalanan dari rumah tahanan sampai rumah besar, ia sudah menyusun kata-kata yang akan diucapkannya ke Papa Stephen.


 


Papa Stephen berjalan dengan tegap menuju ruang tamu didampingi oleh istrinya. Mia berdiri ketika melihat kedua orang tua itu datang, membungkukkan badannya sedikit untuk memberi hormat.


 


Papa Stephen dan Mama Briggite duduk di sofa di hadapan Mia dengan tatapan dingin. Lidah Mia terasa kelu, kata-kata yang sudah tersusun diotaknya seketika menghilang.


 


“Pa, Ma…” Sapa Mia canggung.


 


Papa Stephen tetap diam, ia memperhatikan gerak gerik menantunya.


 


“Alex.. Alex mengkhianati perkawinan kami.” Ujar Mia sambil menunduk. Kedua tangannya saling meremas jari-jarinya untuk menutupi kegugupannya. “Dia punya simpanan.” Sambungnya lagi.


 


Mama Brigitte melirik suaminya. Papa Stephen melihat sekilas ke wajah istrinya, lalu menghela napas.


 


“Papa akan bicara dengan Alex.” Ucapnya pelan, sesudah itu ia langsung berdiri, melangkah meninggalkan ruang tamu. Langkah kakinya diikuti oleh istrinya.


 


Mia kembali terperangah. Hanya seperti inikah reaksi mertuanya? Mia menyangka Papa Stephen atau minimal Mama Brigitte akan mencecarnya dengan pertanyaan kemudian mengelak dan membela anaknya. Namun ternyata, mereka hanya bilang akan bertanya kepada Alex.


 


Mia melangkahkan kakinya dengan lemas. Apakah rumah tangganya sudah berakhir? Alex, suami yang sudah memiliki sebagian kecil hatinya, lepas dari dekapannya. Ia harus kalah dari perempuan yang tidak pernah dikiranya akan merebut Alex dari sisinya. Harus kemana ia sekarang, apakah lebih baik ia pulang ke rumah papa dan mamanya?


 


Mia memejamkan matanya, kepalanya terasa sakit memikirkan semua masalah di kehidupannya.  Sejak ia menangkap basah Alex sedang ‘bersenang-senang’ di rumah mereka, permasalahan selalu menghampiri keluarga mereka, mulai dari kepergian Sharon sampai Alex dipenjara.


 


Mungkin lebih baik aku pergi menghibur diri dengan teman-temanku, gumam Mia. Diraihnya ponselnya, beberapa pesan dari teman-teman sosialitanya tampak di layar utama ponselnya. Sebagian dari mereka mempertanyakan kabar Mia dan sebagian lagi mengajaknya berlayar dengan kapal pesiar. Mereka akan arisan dan bersenang-senang di kapal pesiar itu.


 


Mia pulang ke rumahnya dengan diantar Pak Salim. Ia bergegas untuk berkemas, bersiap-siap untuk berlayar.


 


🌹🗡️🌹


 


Dua hari kemudian, Tuan Stephen mendatangi putranya di rumah tahanan. Dengan tegap, ia berjalan menyusuri koridor rutan menuju ruang tunggu yang dapat ia gunakan untuk bertemu dengan Alex.

__ADS_1


 


Klik! Tuan Stephen yang sedang duduk di sofa menoleh kearah pintu masuk saat ia mendengar bunyi pintu terbuka. Tampak putranya berjalan masuk ke dalam ruangan. Alex tampak segar dan tetap gagah.


 


Tanpa berbicara apapun, Alex duduk di depan papanya, menatap lelaki itu dengan mata elangnya. Tuan Stephen juga menatap Alex dengan matanya yang tajam, tidak gentar dengan mata elang Alex.


“Papa sudah bicara dengan Pengacara Hans,” ujar Tuan Stephen tenang, Pengacara Hans yang dimaksudnya adalah pengacara pribadinya selama ini, “Dia bilang, kau terlibat kasus berat. Negara memantau kasus ini, kita tidak bisa main-main dengan ancaman dan uang seperti biasa. Kau akan dipenjara dalam waktu lama, kecil kemungkinan kau bisa lolos.” Sambungnya lagi sambil menatap mata Alex.


 


Alex bergeming mendengar perkataan Tuan Stephen. Kedua siku tangannya bertumpu pada lututnya, matanya tetap menatap ayahnya dengan tajam.


 


“Kau terlalu berani, tapi kurang perhitungan,“ Tuan Stephen menghela napasnya, “Hanya ada dua pilihan. Papa harus kembali turun tangan memegang Midas, atau terpaksa Papa memanggil Daffin pulang.” Sambungnya lagi.


 


“Daffin belum siap!” Potong Alex sebelum Tuan Stephen selesai berbicara.


 


“Tidak ada pilihan lain! Atau kau mau melihat Papa kembali turun tangan?” Jawab Tuan Stephen cepat. “Midas sudah goyah. Terlalu banyak yang harus dikeluarkan karena kasusmu ini. Apalagi sekarang William juga terkena kasus yang sama. Semuanya menunjuk kepadamu.” Sambung Tuan Stephen lagi sambil mengelus dagunya.


 


Alex terdiam, ia tidak menanggapi kata-kata papanya.


 


“Kemarin Mia ke rumah.” Sambung Tuan Stephen lagi, membuat Alex melirik padanya. “Siapa perempuan itu?”


 


 


“Kenapa harus dia?” Tanya Tuan Stephen lagi, berusaha mengorek putranya.


 


“Daffin terlalu bodoh. Ia seperti ibunya. Kita sudah kehilangan Sharon. Aku ragu dua anak itu bisa mengendalikan Midas, apalagi bila hanya Daffin. Nina sangat pintar dan sigap, anaknya akan punya kecerdasan seperti ibunya. Aku tidak akan terlalu bodoh untuk punya anak lagi dari Mia.” Jawab Alex santai sambil menyandarkan punggungnya pada sofanya.


 


Tok! Tok! Tuan Stephen dan Alex menoleh saat pintu ruangan tempat mereka berada diketuk oleh seseorang.


 


Klik! Nina memasuki ruangan. Langkahnya terhenti ketika melihat seorang lelaki lanjut usia di dalam ruangan, duduk berhadapan dengan Alex. Mata Nina bertanya-tanya, melihat ke arah Alex.


 


Alex tersenyum, ia segera menepuk sofa di sebelahnya.


“Umur panjang!” Gumamnya sambil tersenyum, lalu melambaikan tangan pada papanya.


 


“Pa, ini Nina. Nin, ini Tuan Stephen Midas yang terhormat.” Ujarnya sambil terus tersenyum.


 


Nina nyaris tersedak, matanya memandang Tuan Stephen. Seumur-umur bekerja di Midas Corp, Nina belum pernah bertemu dengan Tuan Stephen, Komisaris Midas Corp. Jadi ini dia, si pembunuh ayah, gumamnya dalam hati. Dengan berusaha menenangkan debar jantungnya, Nina berjalan menghampiri Tuan Stephen yang sedang duduk sambil memandang menyelidik ke arahnya.

__ADS_1


 


“Selamat siang, Tuan. Perkenalkan, saya Nina.” Ucapnya sopan sambil sedikit menundukkan tubuhnya.


 


Tuan Stephen mengangguk tanpa mengeluarkan kata-kata apapun. Selanjutnya, ia hanya memperhatikan interaksi Alex dengan Nina.


 


Alex kembali menepuk sofa disebelahnya. Nina segera duduk di sana dengan memangku beberapa dokumen kantor yang ia bawa.


 


Segera Nina memulai pekerjaannya. Satu persatu dokumen diberikannya kepada Alex sambil ia ceritakan kronologinya. Alex dan Nina asyik berdebat mengenai solusi yang akan diambil mengenai kasus per kasus, Alex memutuskan dan Nina menyanggah sambil memberikan alternatif keputusan. Setelah keputusan yang diambil sudah dirasa yang terbaik, Alex segera mencantumkan tanda tangan persetujuannya. Demikian terus menerus hingga semua dokumen di pangkuan Nina habis.


 


Tuan Stephen terus mengawasi Alex dan Nina selama mereka berdiskusi. Harus diakuinya, Nina dapat mengimbangi Alex. Nina sangat tahu mengenai seluk beluk Midas Corp, ia sangat pantas sebagai asisten utama Alex.


 


Nina dan Alex duduk diam berpandangan setelah pekerjaan mereka selesai. Sebenarnya Alex sangat ingin meraih Nina ke dalam pelukannya dan memberinya beberapa kecupan, namun ia merasa tidak enak karena ada ayahnya disana, duduk diam memperhatikan dirinya dan Nina.


 


“Apa itu?” Tanya Alex sambil menunjuk sebuah tas kain yang diletakkan diatas sofa, berdampingan dengan tas cantik Nina.


 


Nina tertunduk malu, lalu melirik ke Tuan Stephen sekilas sebelum menjawab pertanyaan Alex.


 


“Makan siang Anda, Pak.” Gumamnya pelan.


 


Alex tersenyum sumringah, ia segera mengulurkan tangannya. Dengan ragu Nina mengeluarkan sebuah kotak makanan dari tasnya dan mengulurkannya pada Alex, yang disambut dengan antusias oleh Alex.


Alex tersenyum senang melihat isinya. Ternyata kali ini Nina memasak sendiri makan siangnya, seporsi besar spaghetti bolognaise dan beberapa potong pizza terhidang didepan Alex.


 


“Kau memasaknya sendiri?” Ucap Alex kagum.


 


Nina menganggukkan kepalanya. “Turkey Pizza, kesukaan Bapak.” Ujarnya sambil menunjuk pizzanya.


 


“Aku akan membawanya nanti.” Ujar Alex cepat sambil mulai melahap spaghettinya. Ia merasa tidak akan bisa menghabiskan semua makanan ini, jadi sebagian akan dibawanya ke selnya untuk dinikmati nanti.


 


Tuan Stephen memandang wajah Alex yang berbinar-binar. Sudah sangat lama ia tidak melihat wajah bahagia Alex, mungkin terakhir kali saat Alex masih kanak-kanak. Tuan Stephen kini mengerti, Nina menduduki posisi yang lebih penting di hati Alex dibandingkan dengan Mia.


 


“Urusan kita dengan GreenLand Property sudah selesai,” ujar Tuan Stephen tiba-tiba, “Kau bisa mencari 'potensi' lain yang lebih baik kedepannya.” Sambung Tuan Stephen sambil berdiri, ia beranjak keluar ruangan.


 


GreenLand Property adalah perusahaan property milik keluarga Mia. Apakah Papa setuju aku berpisah dengan Mia? Pikir Alex didalam hatinya.

__ADS_1


 


Nina yang tidak mengerti apa yang dikatakan Tuan Stephen, hanya menatap Tuan Stephen dan Alex bergantian. Namun setelah Tuan Stephen menghilang di balik pintu, Alex segera meraih tubuh Nina kedalam pelukannya, mengecup wajahnya sepuas hatinya. Alex meluapkan kebahagiaannya, ia merasa Tuan Stephen telah merestui hubungannya dengan Nina.


__ADS_2