Nina Sang Sekretaris Pengkhianat

Nina Sang Sekretaris Pengkhianat
Pengkhianatan yang Terbongkar


__ADS_3

Albert tertegun ketika siang itu ia melihat wajah Daffin.


 


“Pak, wajah Anda…” kata-kata Albert terputus ketika Daffin melambaikan tangannya, tanda supaya Albert tidak usah mempedulikan lukanya.


 


“Bagaimana? Apa ada bukti baru?” Tanya Daffin lagi.


 


“Belum ada lagi, Pak. Yang lainnya kelihatan wajar. Penjualan asset resmi, pengalihan dana keluar negeri wajar. Kelemahannya memang hanya di akte itu. Berarti satu-satunya peluang pertolongan untuk Midas dari Crystal hanya dari kemurahan hati Bu Nina.” Ucap Albert lesu.


 


Albert memang masih mencari bukti-bukti penyalahgunaan wewenang yang mungkin dilakukan Nina selama proses mendapatkan dana untuk Crystal dengan bantuan kartel luar negeri yang digawangi oleh Daniel Lusiana. Namun semua terlihat wajar dan sah karena memang Alex didenda oleh kartel itu, sebagai akibat kegagalannya dalam tiga pekerjaan yang diperintahkan oleh kartel itu.


 


Daffin menundukkan kepalanya, merenung dan berpikir. Bagaimana ini, Midas benar-benar diambang bahaya bila seperti ini, gumamnya dalam hati.


 


“Pak… Bisa bantu saya kumpulkan persyaratan untuk pernikahan?” Tanya Daffin tiba-tiba pada Albert.


 


Albert terpaku, bingung karena Daffin tiba-tiba mengubah arah percakapan mereka ke hal lain.


 


“Pernikahan? Siapa yang mau menikah, Pak?” Tanyanya bingung.


 


Daffin menghela napasnya. “Papa mau menikahi Bu Nina.” Jawabnya pelan.


 


Albert kembali terbengong. Tak salahkah pendengarannya? Si pengacau bukannya mendapatkan hukuman, malah mau dinikahi oleh pimpinan perusahaan mereka?


 


Daffin melihat pandangan kebingungan Albert. Ia menggelengkan kepalanya. “Jangan bertanya, aku juga bingung. Carikan saja informasi yang kutanyakan secepatnya.”


 


Albert mengangguk, lalu meninggalkan Daffin. Setengah jam kemudian, ia kembali dengan membawa secarik kertas ditangannya dan menyodorkannya kepada Daffin.


 


Daffin segera membaca kertas itu.


 


“Surat ijin nikah dari istri pertama?” Gumamnya kebingungan. Bagaimana ini, bagaimana ia bisa meminta ijin dari ibunya agar mengijinkan ayahnya menikah lagi?


 


Daffin menoleh kearah Albert. Albert yang mengerti arti pandangan Daffin, langsung menggelengkan kepalanya. “Jangan, Pak, jangan suruh saya meminta tanda tangan Bu Mia.” Ucap Albert cepat.


 


Daffin menghembuskan nafas panjang. Kelihatannya tidak ada pilihan lain, ia harus menemui ibunya.


 


🌹🗡️🌹


 

__ADS_1


“Tidak! Aku tidak mau!” Dengan marah Mia merampas surat yang dibawa oleh Daffin sore itu ke rumah orang tua Mia dan langsung merobek-robeknya. “Teganya kau meminta Mama menandatangani surat itu! Kau sudah berpihak pada papamu? Kau setuju papamu menikahi ****** itu?” Teriak Mia histeris.


 


“Ma! Dengar aku dulu, Ma! Aku tidak berpihak pada Papa, tapi Mama tahu kan kalau Papa sudah memberi perintah artinya dia harus mendapatkannya?” Daffin berusaha membela dirinya.


 


“Bilang sama papamu itu, sampai mati aku tidak akan pernah setuju dia mengawini ****** itu! Aku akan berbuat apapun supaya dia tidak bisa menikahinya! ****** itu tidak akan pernah mendapatkan posisiku! Tidak akan!” Teriak Mia lagi.


 


Mia membanting kakinya, lalu segera masuk ke kamarnya, menangis sejadi-jadinya. Sementara Daffin masih duduk terpaku melihat mamanya yang histeris. Ternyata papa dan mamanya sama saja, mereka berdua lebih mengutamakan mengumbar emosinya masing-masing tanpa mau mendengarkan orang lain.


 


Daffin menghela napas panjang. Sekarang ia harus mencari jalan lain supaya papanya bisa tetap menikah dengan Nina. Daffin lebih memilih mewujudkan impian papanya daripada nantinya papanya itu menghajarnya lagi.


 


🌹🗡️🌹


 


Setelah berjuang selama beberapa hari, akhirnya persiapan itu selesai. Dalam dua hari kedepan, Nina akan menjadi ibu tiri Daffin.


 


Daffin terpaksa membuat sebuah dokumen pernyataan kesediaan pernikahan atas nama Mia dan menyogok pegawai kependudukan agar dapat menerbitkan surat nikah Alex nantinya.


 


Nina tersenyum simpul saat menyerahkan dokumen-dokumen pribadinya kepada Daffin yang akan mengurus legalitas pernikahannya dengan Alex.


 


“Akhirnya aku akan masuk ke keluarga Midas, tapi bukan denganmu.” Ucapnya sambil menyodorkan dokumennya.


 


 


“Setidak-tidaknya aku akan serumah denganmu, bisa melihatmu setiap hari.” Ujar Daffin sambil tersenyum. “Papa pasti tidak ada disampingmu setiap hari, tapi aku ada.”


 


Senyum Nina langsung menghilang, ia langsung memutar tubuhnya dan masuk ke ruangannya. Daffin terbahak melihat Nina kehilangan moodnya.


 


Sambil tersenyum, Daffin masih menatap pintu ruangan kantor Nina dimana sosok Nina tadi menghilang.


 


Daffin tidak bisa memungkiri bahwa ia masih tetap terperangkap pada pesona Nina. Ia sakit hati Nina akan menikahi ayahnya, namun hatinya terobati bila berpikir nantinya Nina akan semakin dekat dengannya, bahkan serumah dengannya. Bahkan nantinya, mungkin Daffin yang akan lebih sering menggendong bayi Nina dibandingkan ayahnya.


 


Daffin sudah tidak memikirkan Mia lagi. Ia sudah cukup lelah dengan mengurusi perintah ayahnya.


 


🌹🗡️🌹


 


Hari pernikahan itupun tiba.


 


Nina sudah hadir di rumah sakit menggunakan sebuah gaun pengantin putih dengan potongan sederhana. Ia tampak semakin cantik dengan make up flawlessnya, membuat Alex dan Daffin memandangnya dengan tidak berkedip.

__ADS_1


 


Alex juga sangat tampan dengan jas pengantin putihnya, sewarna dengan gaun Nina. Walaupun Alex masih harus berdiri dengan ditopang oleh sebuah tongkat, namun tidak mengurangi kadar ketampanan dan wibawanya.


 


Alex dan Nina masih duduk sambil bergandengan tangan, menunggu kedatangan petugas pencatatan nikah. Sesekali mereka mengobrol dan tertawa ringan, terlihat sangat bahagia.


 


Daffin melihatnya dengan pandangan nelangsa. Hatinya sakit melihat Nina yang bisa tersenyum dengan begitu cantik di samping ayahnya.


 


Akhirnya si petugas pencatatan pernikahan tiba. Mereka segera bersiap untuk memulai upacara pernikahan. Saksi atas pernikahan adalah Daffin dan salah seorang perawat di rumah sakit itu.


 


Tiba-tiba sebelum upacara dimulai, sekelompok anggota polisi memasuki ruangan rawat inap Alex. Mereka terpaku ketika melihat Alex dan Nina dengan pakaian pengantinnya sedang menghadap petugas pencatatan pernikahan.


 


Seorang polisi berpakaian preman segera maju menyapa Alex dan Nina. Ternyata ia adalah pimpinan dari kelompok itu.


 


“Selamat siang, Pak Alex dan Ibu. Maaf kami mengganggu, kami hendak menjemput Pak Alex untuk kembali ke rutan.” Ujarnya sambil menyodorkan surat ijin pulang pasien dari rumah sakit.


 


Alex mengambil surat itu dan membacanya. Ia mengangguk kemudian mengembalikan surat itu kepada si kepala polisi. Di surat itu tertulis, kondisi Alex dinilai sudah sangat membaik dan tidak lagi tergantung pada alat-alat penunjang kehidupan, karena itu sudah diijinkan untuk meninggalkan rumah sakit. Karena itu pihak rumah sakit kembali menyerahkan Alex untuk kembali menjalankan hukumannya di rutan.


 


“Hari ini hari pernikahan kami, Pak. Kami mohon ijin untuk menjalani upacara ini dulu, setelah itu saya akan ikut Bapak ke rutan.” Ujar Alex.


 


Kepala polisi itu mengangguk sambil tersenyum. “Tentu, Pak, silakan. Selamat untuk Bapak dan Ibu…” Ucapan kepala polisi itu terhenti sambil matanya menatap Nina penuh tanya.


 


“Nina. Karenina.” Ucap Alex sambil tersenyum, ia mengerti arti tatapan kepala polisi itu yang ingin mengetahui nama calon istrinya.


 


“Ibu Nina.” Ucap kepala polisi itu sambil tersenyum, namun kemudian matanya membesar dan bibirnya kembali tersenyum. “Ibu Nina? Ini benar Ibu Nina? Karenina Crystal Clementine?” Sambungnya lagi.


 


Alex memandangnya dengan pandangan heran. Nina juga demikian, kemudian menganggukkan kepalanya.


 


“Apa saya kenal dengan Bapak?” Tanya Nina ragu.


 


Kepala polisi itu tersenyum, kemudian mengulurkan tangannya. Dangan mantap ia menjabat tangan Nina. “Saya Kapten Reynard Gillian, yang selama ini berkomunikasi dengan Ibu mengenai kartel itu.”


 


Sebuah palu besar seperti menimpa kepala Nina. Mulutnya terbuka terkejut, kemudian perlahan diliriknya Alex yang kini menatapnya dengan keterkejutan yang sama.


 


Wajah Alex memerah, semakin lama semakin merah. Ia terlihat sangat marah dan kebencian terpancar dari desisan mulutnya.


 


“Jadi kau pengkhianat itu? Kau mengkhianatiku?” Desis Alex penuh kemarahan.

__ADS_1


 


Nina terpaku tak bergerak.


__ADS_2