Nina Sang Sekretaris Pengkhianat

Nina Sang Sekretaris Pengkhianat
Akankah Kau Mencintaiku?


__ADS_3

Pagi harinya.


 


Daffin membuka matanya ketika merasa cahaya matahari menyengat matanya. Setelah mengejap sejenak, ia meraba tempat tidur disampingnya. Kosong. Nina sudah tidak berada di tempat tidurnya.


 


Daffin menggumam sambil memeluk bantal gulingnya. Ia kembali memejamkan matanya sejenak, namun segera terbuka lagi setelah ia merasa tidak mendengar suara apapun, tanda Nina tidak berada di kamar tidur mereka.


 


Daffin bengkit dan menghampiri kamar mandi. Kosong namun basah, percikan air masih tersisa di lantai shower. Daffin segera membersihkan dirinya dan bersiap untuk sarapan.


 


Ketika keluar dari kamar mandi, ia masih mendapati kamar tidurnya kosong. Kemana dia, gumamnya bingung. Hari ini hari pertama mereka sebagai suami istri, namun Daffin bingung karena Nina meninggalkannya. Pakaian pun tidak disiapkan, hingga akhirnya Daffin mengambil pakaiannya sendiri di ruang gantinya. Sebuah tshirt putih dan celana pendek menjadi pilihannya hari ini untuk bersantai di rumah.


 


Setelah selesai berpakaian, Daffin turun ke ruang makan. Disanapun sepi tidak ada seorang pun, hanya beberapa menu terhidang di meja makan.


 


“Bi Arum!” Seru Daffin sambil melihat menu sarapannya. Bi Arum tergopoh-gopoh dari dapur, segera menghampiri Daffin.


 


“Ya, Den?” Ujarnya segera setelah ia berdiri di samping Daffin.


 


“Non Nina kemana?” Tanya Daffin sambil mulai mengambil roti ke piringnya.


 


“Tadi sudah berangkat, Den. Sepertinya ke kantor karena pakai pakaian kantor.” Jawab Bi Arum lagi.


 


Tring! Pisau margarin yang dipegang Daffin jatuh menyentuh piringnya. Nina berangkat bekerja? Bekerja di hari pertama pernikahan mereka?


 


“Oh ya sudah, ga apa.” Daffin mengibaskan tangannya. Bi Arum segera meninggalkan ruang makan, meninggalkan Daffin yang duduk termenung.


 


Daffin sudah kehilangan nafsu makannya. Ia segera beranjak kembali masuk ke kamarnya dan mengambil ponselnya.


 


[Nina, dimana?] Daffin mengirimkan pesan kepada istrinya.


 


Lama pesan Daffin tidak dijawab. Akhirnya sambil menghela napas panjang, ia beranjak ke ruang ganti, mengambil pakaian kerjanya dan berganti pakaian.


 

__ADS_1


Setelah siap, Daffin segera menuju garasi dan mengarahkan mobilnya ke kantor Crystal.


 


🌹🗡️🌹


 


“Se-selamat pagi, Pak.” Ujar Rosa setelah berhasil mengatasi keterkejutannya. Setelah bos perempuannya datang di hari yang seharusnya dia masih menikmati cuti menikah, kini bos lelakinya yang muncul di hadapannya.


 


“Bu Nina ada?” Daffin menunjuk ruangan Nina sambil kakinya terus melangkah menuju ruangan yang ditunjuknya. Tidak memberi kesempatan pada Rosa untuk memberitahukan kedatangannya pada bosnya.


 


“Pak… Pak… Tunggu…” Rosa tergesa-gesa menyusul Daffin. Namun belum sempat ia mencapai pintu ruangan Nina, Daffin sudah membuka pintu itu terlebih dulu.


 


Tampak Nina sudah duduk di depan komputernya, memeriksa laporan seperti yang setiap hari ia lakukan. Nina mengangkat kepalanya ketika mendengar pintu ruangannya berbunyi.


 


Dilihatnya Daffin dan Rosa masuk susul menyusul ke ruangannya dengan wajah merah padam. Yang berbeda adalah penyebab merahnya wajah kedua orang itu. Daffin karena marah, Rosa karena kelelahan mengejar Daffin.


 


Nina tersenyum tipis lalu melambaikan tangannya, mengusir Rosa keluar dari ruangannya. Lalu ia tersenyum pada Daffin sambil menggelengkan kepalanya, kemudian berdiri dan menghampiri Daffin.


 


“Kau persis ayahmu, suka masuk ke ruanganku tanpa mengetuk pintu.” Ucapnya pelan sambil menghampiri Daffin, lalu mengecup sebelah pipinya sekilas. Daffin tetap berdiri terpaku sambil memandang Nina, sementara Nina mengarahkan dirinya untuk duduk di sofa.


 


 


“Kau tidak membalas pesanku.” Ucap Daffin pelan.


 


Nina memandangnya, lalu mengangkat kedua tangannya.


 


“Aku tidak ada waktu mengecek ponselku. Sorry.” Ujarnya, namun dari nada suaranya terlihat tidak ada rasa bersalah.


 


“Kenapa kau meninggalkan aku?” Tanya Daffin pelan sambil menatap Nina.


 


“Aku berangkat kerja.” Jawab Nina tenang.


 


“Di hari cuti pernikahan kita?” Potong Daffin kecewa.

__ADS_1


 


“Aku sibuk. Pekerjaanku banyak.” Jawab Nina cepat.


 


“Tapi meninggalkanku sendirian…” Daffin menggelengkan kepalanya. “Minimal kau bisa membangunkanku, aku akan mengantarmu ka kantor.”


 


“Aku sudah biasa menyetir mobilku sendiri.” Ucap Nina lagi sambil tangannya bersedekap di dadanya.


 


“Semandiri itukah kau sampai kau tidak memberi ruang kepadaku untuk berbuat sesuatu untukmu?” Tanya Daffin, menohok langsung ke hati Nina.


 


Nina terdiam, bahkan ia tidak memandang Daffin.


 


“Apakah kau memandang pernikahan kita sebagai suatu ikatan sah antara dua manusia? Apakah kau menganggap aku sebagai suamimu? Apakah lelaki di depanmu ini tidak berkesempatan berbuat sesuatu sesuai posisinya sebagai suami? Atau kau hanya menganggap pernikahan ini hanya sebagai status agar kau bebas bergerak kemanapun kau mau dan berbuat apapun sesuai kemauanmu?” Sambung Daffin lagi.


 


Nina masih tidak bergerak dan tidak mau melihat Daffin.


 


Daffin mendekati Nina dan berlutut dihadapannya.


 


“Kau masih ingat kata-kataku pada saat pernikahan kita? Aku akan serius menjalani pernikahan ini. Aku akan mencintai dan melindungimu, dan aku berharap kau bisa mencoba melakukan hal yang sama padaku. Tapi melihat tindakanmu hari ini, aku jadi bertanya-tanya. Apakah mungkin kau mencintaiku, sedangkan kau kelihatannya tidak ingin mencobanya?” Ujar Daffin sambil menatap mata Nina.


 


Nina masih bungkam seribu bahasa. Dibiarkannya Daffin memandangnya, namun Nina tidak berminat untuk memandang Daffin.


 


Akhirnya Daffin hanya bisa menghela napasnya. Kemudian ia berdiri dan melangkah perlahan keluar dari ruangan Nina. Di balik pintu, Daffin berkata pada Rosa, “Jangan lupa belikan Bu Nina makan siang, wanita hamil tidak boleh terlambat makan.”


 


Rosa terpaku dan hanya dapat menganggukkan kepalanya. Sedangkan Nina, ia masih bisa mendengar kata-kata Daffin walaupun lelaki itu sudah keluar dari ruangannya dan menutup pintunya.


 


Nina memejamkan matanya, air matanya menitik. Ia tidak bisa membohongi hatinya yang masih tetap mengharapkan Alex. Ia masih mengingat tatapan mata Alex yang penuh kebencian dan jijik saat menatapnya kemarin, namun ia tetap merindukan kemanjaan dan perilaku Alex yang begitu bergantung kepadanya. Nina belum bisa menerima Daffin walaupun Daffin begitu baik dan menerimanya apa adanya. Ia akan selalu mengingat Alex dan apapun yang Daffin lakukan tidak akan bernilai positif dimatanya.


 


Daffin meninggalkan gedung kantor Crystal. Ia bingung kemana harus melangkah. Ia seperti seorang anak sebatang kara, tidak punya ayah dan ibu yang bisa diajaknya berbagi cerita. Juga kakek dan nenek yang bisa mendengarkannya berkeluh kesah. Saudara tidak ada, teman akrab pun ia tidak punya.


 


Akhirnya Daffin memutuskan untuk pulang. Ia harus mempersiapkan dokumen untuk melengkapi berkas pernikahannya, seperti yang dijanjikannya kepada petugas pencatatan pernikahannya kemarin.

__ADS_1


 


Daffin menggerakkan mobilnya keluar dari tempat parkir kantor Crystal, tanpa disadarinya sepasang mata istrinya memandangi mobilnya dari jendela kantornya.


__ADS_2