
Beberapa hari berlalu.
Sudah beberapa hari ini, Daffin selalu mendampingi Nina bekerja di kantor Crystal. Daffin selalu berusaha menjalankan tugasnya, mempersiapkan laporan keuangan agar Midas dapat segera mendapat persetujuan kucuran dana dari Nina.
Seperti hari ini. Di kantor, Daffin begitu serius menghadapi tumpukan kertas bukti transaksi dan laptopnya. Kepalanya menunduk dan sesekali mendongak, mencocokkan bukti transaksi dengan laporan transaksi bank. Sebuah kacamata anti radiasi bertengger di tulang hidungnya, membuat wajahnya ala nerd jenius dan cukup menarik untuk mengundang Nina untuk sesekali menoleh kearahnya.
Nina sesekali memperhatikan Daffin sambil tersenyum tipis. Bocah ini tampaknya memiliki kemauan bekerja, tidak seperti cap yang diberikan oleh Alex selama ini. Kelihatannya Alex sebenarnya tidak terlalu mengenal putranya sendiri.
Sudah beberapa hari ini, Daffin menarik perhatian Nina. Namun Nina menahan diri, tidak ingin menampakkan apa yang diinginkannya di hadapan Daffin. Ia tidak ingin Daffin besar kepala bila mengetahui Nina begitu menginginkan perhatiannya. Namun kali ini, Nina sangat ingin mengganggu Daffin.
Setelah peristiwa mie kantin yang terakhir, Nina belum meminta apapun pada Daffin. Tiba-tiba, sebuah ide jahil muncul di pikirannya.
“Dave.” Panggilnya pelan, namun cukup untuk membuat Daffin menengok memandangnya.
“Tolong. Kakiku keram.” Sambung Nina lagi.
Daffin segera berdiri dari kursinya lalu menghampiri Nina.
“Dimana yang sakit?” Tanyanya lembut sambil menunduk di depan Nina, memperhatikan kedua tungkai Nina dengan begitu telitinya hingga Nina ingin tertawa.
“Disini.” Ujar Nina asal sambil memijat betis kirinya sekilas.
Nina sangat terkejut ketika tiba-tiba Daffin meletakkan lengannya di tengkuk Nina dan di lipatan bawah lututnya, menggendongnya ala bride stlyle dan membawanya ke sofa.
“Dave!” Ujarnya kaget sambil melingkarkan lengannya ke leher Daffin. Dangan wajah Datar, Daffin mendudukkan Nina dengan lembut di sofa.
__ADS_1
Daffin duduk di lantai didepan Nina, lalu kedua tangannya segera meraih betis kiri Nina. Nina mengaduh ketika dengan lembut Daffin mulai memijit betisnya.
“Sakit?” Tanya Daffin lembut sambil menatap mata Nina. Terpaku, Nina menggelengkan kepalanya. Ia terkejut dengan sentuhan awal yang diberikan oleh Daffin.
Dengan telaten, Daffin terus memijat betis Nina. Tangannya dan jari-jarinya bergerak, beberapa kali menekan lembut dari arah lutut menuju mata kakinya hingga membuat Nina merasa begitu rileks.
Selesai dengan betis kiri, Daffin beralih ke betis kanan.
Selama proses pemijatan berlangsung, Nina memperhatikan wajah serius Daffin. Tidak ada gerak gerik genit atau mencari keuntungan disana, sepertinya niatnya tulus membantu Nina.
Nina kembali menelaah perasaannya sambil memperhatikan Daffin. Begitu baiknya Daffin, namun perasaannya tidak tersentuh. Alex, tetap hanya Alex yang selalu datang di bayang-bayangnya setiap hari.
“Sudah cukup.” Jawabnya sambil menggoyangkan kakinya, melepaskan genggaman Daffin di kedua betisnya.
Daffin bangkit berdiri, namun kemudian ia duduk di sofa, menempatkan dirinya di samping Nina. Menarik tubuh Nina, membuat Nina bersandar di dadanya. Lalu dengan lembut, ia mulai memijit kedua bahu Nina.
Nina terkejut, namun tubuhnya menuruti apa yang Daffin lakukan. Ia bersandar di dada Daffin tanpa perlawanan.
Nina menikmati pijatan Daffin. Rasanya begitu nyaman dan menenangkan. Tanpa sadar, Nina menengadahkan kepalanya, bersandar di bahu Daffin sambil memejamkan matanya.
Daffin terus memijat bahu Nina. Namun setelah Nina menengadahkan kepalanya dan memejamkan matanya, pijatan Daffin mulai berubah menjadi elusan. Dan Nina tidak menolaknya, ia tetap bersandar dengan nyaman.
Tangan Daffin mulai bergerak berubah tempat, dari bahu Nina sesekali ia menyentuh tengkuk Nina. Nina mulai menggumam, kepalanya terkulai masuk ke dalam ceruk leher Daffin.
__ADS_1
Daffin menimbang-nimbang. Dengan Nina yang bersandar di dadanya dan kepalanya di ceruk leher Daffin, bila Daffin menolehkan kepalanya dengan mudah ia akan mendapatkan bibir ranum Nina. Namun, akan marahkah Nina bila ia mengecup bibirnya?
Dengan mempertaruhkan nasibnya, dengan nekat Daffin menangkap bibir Nina, ********** lembut. Tangannya pun terjulur, ia mendekap tubuh indah Nina dari belakang dan menangkup kedua bongkahan ranum di bagian dadanya.
Nina seperti terhipnotis, ia tidak melawan apa yang dilakukan oleh Daffin. Dinikmatinya ******* panjang itu dan juga belaian di tubuhnya. Perlahan namun pasti, gairahnya mulai tersulut.
Setelah semuanya terlewati, mereka berbaring dalam diam. Daffin tidak menyangka, percintaan pertama mereka akan terjadi di ruang kantor ini. Sepertinya ia perlu bersiap bila tiba-tiba Nina tersadar dan mengamuk, menganggap Daffin memanfaatkan kesempatan untuk menjamah tubuhnya.
Tiba-tiba Nina membuka matanya, membuat Daffin yang sedang memandang wajah Nina sedikit terkejut. Namun tidak ada kata-kata kemarahan keluar dari bibir Nina, ia hanya memandangi wajah Daffin.
Perlahan, Nina menurunkan tangan kirinya yang sedari tadi berada di bahu Daffin. Ia menyentuh dan membelai perutnya sendiri, menikmati kehangatan disana. Bayinya terbaring tenang disana, seakan tidak protes dengan apa yang baru saja dilakukan oleh ibunya.
Daffin memperhatikan gerak gerik Nina. Ia sengaja sedikit merenggangkan jarak antara tubuhnya dan tubuh Nina ketika melihat perempuan itu ingin membelai tubuhnya sendiri.
Pergerakan Daffin menggelitik sebuah titik di bawah sana, entah mengapa membuat Nina kembali tersulut. Sepertinya apa yang diraihnya belum cukup, tubuhnya masih menuntut lagi dan lagi.
Rasa apa ini? Tidak cukupkah apa yang sudah mereka lakukan? Tubuhnya kembali menutut seakan belum cukup. Apakah ia menginginkan seperti yang selalu dilakukan oleh Alex, tidak pernah hanya sekali dalam setiap percintaan?
Dengan ragu, dipandangnya mata Daffin dengan sendu.
“Dave…” Bisiknya, membuat Daffin meremang. “Lagi…” Ucapnya dengan mata terpejam.
Daffin tersentak, tidak menyangka dengan permintaan Nina. Ia memandang bingung ke wajah Nina namun kemudian tersenyum bahagia. Dengan lembut dirapikannya beberapa anak rambut Nina yang menutupi dahinya. Dan perlahan, Daffin memulai kembali kehangatan diantara mereka.
Hingga menjelang jam sore, tidak ada pekerjaan kantor yang kembali mereka selesaikan. Keduanya asyik memuaskan hasrat diri dan pasangannya, menjadikan ruangan itu saksi atas mulai meningkatnya hubungan diantara keduanya.
__ADS_1