Nina Sang Sekretaris Pengkhianat

Nina Sang Sekretaris Pengkhianat
Meneguhkan Hati


__ADS_3

Pagi ini, Nina meggeliat terbangun dari tidurnya karena bunyi ponselnya. Setelah kesadarannya hampir sepenuhnya pulih, Nina sontak berlari menuju lemari pakaiannya. Ponselnya yang berbunyi bukan ponsel yang biasa ia bawa kekantor, melainkan ponsel rahasianya yang memang sengaja ia sembunyikan di lemari pakaiannya.


 


[Sang Macan tertangkap.] Demikian bunyi pesan itu, seperti membuat jantung Nina berhenti berdetak.


 


[Dimana dia?] Ketik Nina kepada rekan berbalas pesannya.


 


[Opname, luka tembak dan tertabrak kendaraan anggota.] Jawab rekannya lagi, membuat jantung Nina kini berdebar kencang.


 


Alex! Air mata Nina menggenang. Ia masih teringat senyum kebahagiaan Alex kemarin dan semangatnya mencumbu Nina semalaman.


 


Nina bergegas menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Setelah itu, dengan tubuhnya yang masih berbalut handuk, ia meraih ponsel bisnisnya. Disana terdapat pesan dari kantor kepolisian yang mengkonfirmasikan penangkapan dan keadaan Alex yang kini dirawat di rumah sakit.


 


Nina segera berpakaian dan berlari menuju ke mobilnya, mengarahkannya ke rumah sakit.


 


---


 


Nina memperhatikan Alex yang berbaring tidak sadar di ruang ICU rumah sakit. Kamar Alex dijaga oleh dua orang anggota kepolisian dan Nina tidak diperkenankan masuk. Nina hanya dapat memperhatikan Alex melalui kaca tembus pandang yang dipasang di dinding kamar itu.


 

__ADS_1


Nina menghela napasnya. Ia memperhatikan wajah Alex. Wajah ceria dengan mata berbinar yang memandangnya penuh semangat semalam, kini terbaring pucat dengan mata terpejam.


 


Nina menguatkan hatinya, ia memperingatkan dirinya untuk berlaku kejam pada Alex. Tidak perlu merasa kasihan pada Alex. Alex memang harus berada di kondisi seperti ini, agar Tuan Stephen menderita.


 


Namun akhirnya Nina tidak tahan. Air matanya sudah merebak, sambil menahan isaknya ia bergegas kembali ke mobilnya. Kemudian menggerakkan mobilnya menuju rumah sakit jiwa.


 


Aldo! Nina perlu Aldo untuk saat ini. Hanya Aldo yang dapat menyalurkan energy kekuatan untuk Nina. Dengan melihat penderitaan Aldo, Nina kembali terpecut untuk membalaskan dendam keluarganya.


 


Dengan cepat Nina mengemudikan mobilnya. Setelah ia tiba di rumah sakit jiwa, sambil setengah berlari ia berjalan di koridor rumah sakit menuju ke kamar Aldo.


 


Nina menghambur ke pelukan Aldo segera setelah ia tiba di kamar Aldo. Nina ikut berbaring di ranjang Aldo, masuk ke dalam dekapannya. Aldo yang terbaring di ranjangnya dengan mata terbuka, tidak merespon tubuh Nina yang merapat di dadanya.


 


 


Isakan Nina terus terdengar, hatinya sakit melihat penderitaan Alex. Namun ia juga sadar, ia tidak boleh melemah. Pembalasan dendam keluarga mereka baru saja dimulai, bila Nina kalah dengan perasaannya maka ia akan gagal. Tuan Stephen dan keluarganya tetap akan berjaya, meninggalkan Nina dan keluarganya dalam kesengsaraan sendirian.


 


Tiba-tiba, Aldo mengangkat salah satu tangannya. Ia membelai rambut Nina. Nina menengadahkan kepalanya, memandang wajah Aldo. Wajah Aldo masih kosong, matanya terbuka namun terpusat pada dinding rumah sakit. Ia tidak memandang Nina, namun tangannya tetap membelai rambut Nina. Sepertinya ia sadar ada seseorang yang sedang bersandar di dadanya.


 


Lelah karena terus menangis, akhirnya Nina jatuh tertidur. Malam itu pun akhirnya dilewatkan oleh Nina di rumah sakit jiwa.

__ADS_1


 


🌹🗡️🌹


 


Seminggu telah berlalu. Alex masih belum sadarkan diri, ia masih tetap terbaring di ICU.


 


Hari minggu pagi. Nina sedang berbaring dengan malas diatas kasurnya. Hari sabtu kemarin digunakannya untuk mempelajari keuangan Midas Corp yang laporannya secara rutin dikirimkan oleh direktur keuangan perusahaan, dengan maksud agar diteruskan kepada Alex.


 


Pip! Pip! Ponsel Nina berbunyi. Nina berjalan santai menuju lemari bajunya. Ponsel spesialnya yang berbunyi.


 


[Rubah sudah masuk perangkap.] Sebuah pesan tampak di ponsel itu.


 


Nina terkesiap. William! Rubah adalah julukan yang diberikan oleh rekannya itu untuk William. Jadi, William sudah tertangkap, gumam Nina.


 


[Dimana dia sekarang?] Tanya Nina lagi.


 


[Masih di markas.] Jawab rekan Nina.


 


Nina tidak menjawab lagi. Ia terpekur diam, duduk di pinggir ranjangnya. Sudah saatnya, memecah keluarga besar Midas Corp.

__ADS_1


 


Dengan cepat, Nina meraih dokumen yang sudah dipelajarinya semalam. Selain data keuangan, ada beberapa data mengenai Blackie dan Goliath. Disusunnya sedemikian rupa dan diberikannya beberapa review. Ia siap menghadap Tuan Stephen.


__ADS_2