Nina Sang Sekretaris Pengkhianat

Nina Sang Sekretaris Pengkhianat
William Sang Pengkhianat


__ADS_3

Selasa pagi.


 


Hari ini rencananya Nina akan menghadap Tuan Stephen. Ada beberapa hal yang ingin ia sampaikan mengenai Midas Corp dan kartel mafia Alex.


 


Bip! Bip! Ponsel yang biasa dipergunakannya untuk kegiatan bisnis sehari-harinya berbunyi. Nina yang sedang duduk merias wajah di depan meja riasnya, segera meraih ponsel itu.


 


Mata Nina melebar ketika membaca pesan itu. Pesan dari rumah sakit, yang memberitahukan bahwa Alex baru saja sadar dari komanya.


 


Alex! Secara tak sadar batin Nina menjerit bahagia.


 


Nina bergegas menyelesaikan make up-nya, lalu setengah berlari ia menuju lemari bajunya, mengganti pakaiannya dengan pakaian kerja. Ia harus secepatnya menuju rumah sakit.


 


🌹🗡️🌹


 


Setibanya di rumah sakit, Nina berjalan tergesa-gesa menghampiri Alex di ruang ICU. Jantungnya berdebar, bagaimana keadaan Alex? Ditelepon tadi, Nina hanya mendapat kabar bahwa Alex sudah sadar, namun tidak dijelaskan bagaimana keadaannya.


 


Nina melaporkan diri pada perawat yang berjaga didepan ruang ICU, mengatakan bahwa ia ingin mengunjungi Alex.  Perawat itu segera memeriksa catatannya.


 


“Anda keluarganya?” Tanya perawat itu.


 


“Perwakilan keluarga.” Jawab Nina cepat.


 

__ADS_1


Perawat itu menganggukkan kepalanya lalu kembali melihat ke catatannya.


 


“Pak Alex, sudah sadar namun ada keluhan tidak dapat menggerakkan tubuhnya.” Ujar perawat itu, membuat jantung Nina kembali serasa terhenti. “Kecuali matanya, tubuhnya belum dapat bergerak. Ada gangguan juga di kemampuannya berbicara. Untuk penjelasan lainnya, dokter spesialis syaraf yang akan menjelaskannya kepada Ibu.


 


“Terima kasih, Sus.” Nina menggumam, lalu meminta ijin menjenguk Alex.


 


Setelah mendapat persetujuan perawat dan menggunakan pakaian khusus untuk ruang ICU, Nina memasuki ruang rawat tempat Alex berada. Ia berjalan perlahan, mencegah sepatu high heels-nya menimbulkan suara yang mengganggu ketenangan pasien.


 


Alex meliriknya ketika Nina memasuki bilik rawat Alex. Pandangan matanya tajam seperti biasa, namun bibirnya tidak mengucapkan apapun.


“Pak…” Sapa Nina perlahan. Ia menggenggam tangan Alex, meremasnya pelan. Pandangan mata Alex melembut, menatap Nina.


 


“Senang Bapak sudah sadar. Jangan khawatir ya Pak, nanti coba kita dengar apa penjelasan dokter mengenai keadaan Bapak. Mengenai kenapa Bapak belum bisa bergerak.” Ujar Nina lagi sambil mengelus tangan Alex.


 


 


“Bu Nina, dokter sudah menunggu Ibu.” Perawat yang tadi sekilas menjelaskan kondisi Alex pada Nina, kini memanggilnya untuk menghadap dokter.


“Sebentar ya Pak.” Nina menepuk pelan tangan Alex, Alex hanya sekilas mengedipkan matanya. Nina bergegas mengikuti perawat itu keluar ruang ICU dan menuju ruang konsultasi dokter.


 


Nina duduk didepan meja kerja dokter, lalu mendengarkan penjelasan dokter. Alex menderita benturan yang sangat keras pada tulang belakangnya saat penggerebekan terjadi dan menimbulkan kerusakan pada susunan syaraf belakangnya. Karena itulah Alex sempat koma selama dua minggu dan kini kehilangan fungsi gerak tubuhnya. Dokter menjadwalkan pemeriksaan lanjutan untuk Alex, namun karena kesadaran Alex sudah sepenuhnya pulih dan fungsi paru-paru dan jantungnya sudah normal, Alex akan segera dipindahkan ke ruang rawat inap biasa.


 


Nina terus mendampingi Alex hingga bosnya itu masuk ke kamar rawat inapnya.


 


“Hmm…” Alex menggumam saat para perawat sudah meninggalkan kamar baru Alex. Mereka sudah menempatkan Alex di posisinya yang nyaman, dan Nina sudah duduk di samping ranjang Alex.

__ADS_1


 


“Bapak mau dibantu apa, Pak?” Tanya Nina responsif.


 


Alex memandang Nina. “Midas.” Ucapnya singkat dan perlahan, lebih seperti berbisik namun Nina mengerti artinya.


 


Nina menceritakan secara garis besar keadaan perusahaan itu, tidak ada yang ia tutupi. Memang menurutnya, lebih baik Alex yang tahu lebih dulu sebelum Nina melaporkan kondisi Midas kepada Tuan Stephen.


 


Setelah mendengar penjelasan Nina, Alex terdiam menatap Nina.


 


“Apa saya perlu melapor pada Tuan Stephen, Pak? Bapak sedang sakit, supaya Tuan Stephen bisa mengambil keputusan mewakili Bapak.” Ujar Nina pelan.


 


Sinar mata Alex sontak panik. “No! No!” Bisiknya lagi.


 


Nina mengangguk. Ternyata Alex masih ingin menyembunyikan keadaan ini dari ayahnya.


 


Dengan menguatkan hati, Nina melanjutkan laporannya. Laporan yang seharusnya tidak ada. Laporan yang disusunnya untuk menghancurkan ikatan kepercayaan didalam Midas Corp. Terutama tentang William.


 


“Kartel meminta ganti rugi, Pak, karena kegagalan Goliath membuat mereka lagi-laki kehilangan barang dagangan. William sudah ada di kantor polisi saat ini, entah sejak kapan ia ditahan.”


 


Mata Alex memandang Nina dengan tatapan horror. Diotaknya, ia menyambung-nyambungkan informasi yang Nina berikan. Benar dugaannya, William sudah terlebih dulu dibawah perlindungan polisi. Sangat besar kemungkinan, kegagalan Goliath karena William yang membocorkannya. Karena selain William, tidak ada orang lain yang mengetahui tentang William selain Alex. Bahkan mungkin kegagalan Blackie juga disengaja oleh William agar dia dapat segera bersembunyi.


 


Gigi Alex bergemeletuk karena marahnya. William ternyata mengkhianatinya! Orang yang selama ini mereka cari karena membocorkan rencana kerjanya kepada kepolisian, ternyata adalah William!

__ADS_1


 


“Uh… Uh…” Alex menggeram marah. Nina menatap ngeri pada bosnya, baru kali ini ia melihat kemarahan Alex yang menggebu-gebu. Namun dihatinya, ada setitik kebahagiaan. Ia berhasil merusak kepercayaan Alex pada William.


__ADS_2