
[Segera ke rumah sakit, Papa mau bicara.]
Daffin mengerutkan keningnya. Ia baru saja bangun dan memeriksa ponselnya sebelum beranjak dari ranjangnya.
Aduh, ada apa lagi ini, gumamnya dalam hati. Bila mellihat atau mendengar nama ayahnya muncul di ponselnya, Daffin serasa terkena serangan jantung kecil.
Diperiksanya lagi pesan dari ayahnya itu, terkirim jam 23.22 semalam. Daffin sudah tertidur saat itu.
Sambil menghela nafas panjang, Daffin membalas pesan dari ayahnya.
[Pagi, Pa. Ok Pa, Daffin ke RS pagi ini.]
Kemudian ia bergegas mempersiapkan diri.
🌹🗡️🌹
Nina menggeliat di atas kasurnya. Tubuhnya terasa hangat dan lembut. Ia tersenyum mengingat kejadian semalam.
Mereka bercinta dengan panasnya di atas kursi roda Alex. Dengan liarnya, Nina bergerak indah di atas tubuh Alex, sementara tangan dan bibir Alex dengan bebasnya menjelajahi tubuh Nina. Mereka saling memuaskan pasangan masing-masing, melampiaskan kerinduan mereka yang terpendam.
Nina tersenyum lagi. Selain melampiaskan kerinduannya, Nina memiliki motif lain dari hubungannya dengan Alex kali ini.
Nina berhasil merayu Alex. Sekali lagi, Alex jatuh dalam pesonanya. Nina percaya diri kali ini berhasil membuat Alex berdiri di pihaknya. Alex pasti akan menghajar Daffin sebagai imbalan untuk keberaniannya memaksa Nina menikahinya.
__ADS_1
Nina beranjak dari ranjangnya dengan mood yang sangat baik hari ini. Bayinya juga kelihatannya senang karena dikunjungi ayahnya semalam. Si bayi hanya menggeliat pelan dan tidak banyak menendang organ-organ tubuh Nina lainnya, membuat Nina dapat tidur malam tadi dengan nyaman.
Pagi ini pun, tidak ada lagi mual yang menggila seperti biasanya. Hanya keinginannya makan carbonara yang kembali muncul.
Selesai mandi pagi dan menghias dirinya, Nina beranjak ke dapur dan mempersiapkan sarapannya. Ia menikmati carbonaranya sambil mengelus perutnya dan sesekali tersenyum.
🌹🗡️🌹
“Pagi, Pa.”
Daffin menyapa ayahnya setibanya ia di kamar Alex. Alex sedang duduk di sofa kamarnya dengan wajah dingin. Di dekat kaki Alex, sebuah tongkat berkaki empat berdiri tegak. Rupanya Alex sudah mulai berlatih berjalan menggunakan tongkat, tidak lagi bergantung pada kursi roda.
“Duduk!” Perintah Alex tegas pada Daffin. Daffin duduk dengan debaran jantung yang begitu keras hingga terasa di telinganya.
“Bilang pada Papa, apa maksudmu memaksa Nina menikahimu?” Tanya Alex tanpa basa basi sambil menatap tajam ke Daffin.
Glek! Daffin menelan ludahnya gugup. Mati aku, kenapa Papa bisa tahu?
“Ngg… Aku mencoba mengancamnya agar mundur dari Crystal, Pa, sekaligus membuat dia merasa bertanggung jawab atas terpuruknya Midas Corp.” Ujar Daffin. “Aku menemukan kelemahan dalam kedudukannya saat ini, Pa. Seharusnya dia sudah menikah dengan Papa dulu, baru dia bisa menguasai Midas, atau selambat-lambatnya tiga bulan setelah…”
“Aku sudah tahu itu!” Potong Alex cepat. “Menikah denganku, kan? Kenapa jadi menikah denganmu? Apa maksudmu mau merebut wanitaku?” Teriak Alex geram.
__ADS_1
“A-aku ti-tidak bermaksud a-apa-apa, Pa.” Jawab Daffin gugup mendengar kemarahan ayahnya. “A-aku hanya be-berusaha mewakili Papa, ka-karena Papa masih harus menjalani pemeriksaan…” Mata Daffin semakin awas melihat tatapan Alex yang semakin tajam sambil tangannya semakin erat mencengkram tongkatnya. Daffin berjaga-jaga bila sewaktu-waktu tongkat itu terlempar ke arahnya. “Selain itu, masih ada Mama…”
“Apa kau menganggap dirimu sudah begitu pintar hingga dapat mewakiliku?” Desis Alex menahan kemarahannya. “Dan tahu apa kau tentang hubunganku dengan ibumu? Perempuan itu tidak pantas sebagai seorang istri dan seorang ibu. Dan perempuan yang sedang kau paksa untuk menikah denganmu sedang mengandung anakku. Anakku! Kau dengar itu? Itu adikmu!” Teriak Alex lagi sambil membanting tongkatnya, membuat Daffin terlonjak dari duduknya.
“Ta-tapii… Aku sedang berusaha untuk memperbaiki Midas, Pa. Dan cara paling cepat adalah membuat Nina mengucurkan lagi dananya dari Crystal. Papa bilang, aku boleh melakukan apa saja…”
“Tapi tidak dengan mengganggu wanitaku, Sialan!” Teriak Alex marah sambil melempar tongkatnya.
Kali ini Daffin terlambat bergerak, ia benar-benar tidak memperkirakan Alex akhirnya sungguh melemparkan tongkat itu. Tongkat itu melayang dan dengan kerasnya membentur dahi Daffin. Segera darah mengucur dari dahinya.
“Jauhi dia!” Teriak Alex marah sambil menunjuk wajah Daffin. “Aku akan menikahinya dalam waktu dekat. Tugasmu sekarang, persiapkan pernikahanku! Aku tidak mau tahu bagaimana caranya, dalam beberapa hari lagi pernikahan itu harus terjadi disini!” Teriaknya lagi.
“Keluar kau! Jangan kembali sampai semuanya beres!” Usir Alex sambil mengacungkan jarinya menunjuk pintu.
Tanpa diperintah dua kali, Daffin melompat dari sofanya dan berlari keluar dari kamar Alex.
🌹🗡️🌹
Daffin meninggalkan rumah sakit setelah seorang perawat yang baik hati membantu menjahitkan dahinya yang robek akibat terkena lemparan tongkat Alex.
Daffin sedang menuju ke kantor Midas. Ia perlu meneliti beberapa berkas lagi yang berguna untuk mengancam Nina supaya secepatnya mengucurkan dana untuk Midas.
Selama perjalanannya ke kantor Midas, Daffin berpikir. Memang, dia memaksa Nina menikah dengan Nina bukan murni karena ingin menolong Midas saja, namun juga karena terpikat kecantikan wanita itu. Mumpung wanita itu sedang dalam keadaan terjepit, ia mengajukan penawaran pernikahan untuk membebaskan wanita itu dari tekanannya. Sialnya, ayahnya mengetahui rencananya sebelum semuanya sempat berjalan.
Daffin menggumam sendiri. Entah mengapa, ia tertarik pada Nina sejak pandangan pertama. Padahal perempuan itu simpanan ayahnya, menghancurkan perkawinan orang tuanya, dan sedang mengandung adik tirinya. Miris, hati Daffin tanpa memandang kawan dan lawan, langsung menjatuhkan pilihannya pada Nina. Apa pendapat mama dan kakeknya bila mengetahui dia terpikat pada wanita yang selama ini menjadi momok keluarganya? Daffin tidak bisa membayangkannya, namun hatinya ingin memperjuangkannya.
__ADS_1