Nina Sang Sekretaris Pengkhianat

Nina Sang Sekretaris Pengkhianat
Kejutan Untuk Mia


__ADS_3

Sebelum itu.


Mia terguncang. Setelah Alex, sekarang William.


Mia baru saja menerima telepon dari Pengacara Lo. Pengacara itu memberikan laporan perkembangan penahanan Alex, karena akhir-akhir ini Mia sangat intens menghubunginya dan bertanya kapan Alex bisa dibebaskan. Hari ini, Mia bukannya mendapatkan kabar baik, malah mendapat info mengejutkan mengenai William.


Tangan kanan suaminya itu sekarang buronan karena usaha penyelundupan semalam gagal dan terendus pihak Custom.


Mia semakin berpikir, sebenarnya apa bisnis yang dimiliki suaminya? Midas Corp memang sudah dikenal sebagai perusahaan yang memiliki multi milyarder asset, namun sebenarnya dibidang apa perusahaan keluarga suaminya itu bergerak? Mia tidak terlalu pasti. Tapi sebagai akibatnya, minggu lalu Alex ditangkap polisi. Kali ini William yang buron. Ada apa ini sebenarnya?


Dimana aku harus mencari jawaban? Papa Stephen dan Mama Brigitte? Sepertinya tidak mungkin. Mia terus berpikir.


Nina! Tiba-tiba nama itu berkelebat di kepalanya.


Mia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Nina. Sekali, dua kali, Nina tidak menjawab teleponnya. Dimana dia?


Mia kemudian membongkar daftar telepon di ponselnya. Lagi-lagi ia mengutuk dirinya, karena tidak punya nomor telepon kantor suaminya. Untuk urusan suaminya, hanya nomor telepon Nina yang ada di ponselnya.


Mia berpikir, mengapa ia tidak bertanya langsung pada sumbernya? Ya, ia akan menanyakannya pada Alex.

__ADS_1


“Bi Arum!! Biiii!” Nina berteriak. Bi Arum segera tergopoh-gopoh menghampiri nyonyanya.


“Ya, Nyah.” Ucapnya sambil menundukkan tubuhnya sopan.


“Masak apa hari ini?” Tanya Mia tanpa melihat Bi Arum.


“Sup iga, Nyah, sesuai pesanan Nyonya kemarin.” Jawab Bi Arum.


“Apa Tuan suka sup iga?” Tanya Mia sambil memandang Bi Arum.


Bi Arum tertegun sebentar, kemudian tampak berpikir.


“Tuan ada sesekali memesan saya untuk menyiapkan sup iga, Nyah, tapi tidak sering. Sepertinya biasa saja, bukan makanan favorit Tuan.” Ucap Bi Arum setelah terdiam beberapa saat.


“Fettuccine Carbonara atau Beef Lasagna, Nyah.” Jawab Bi Arum cepat. Alex memang suka memesan makanan itu, kadang untuk sarapan, kadang untuk makan malam.


“Sediakan salah satu dari itu. Cepat, makanan itu akan saya bawa.” Mia melambaikan tangannya, mengusir Bi Arum agar cepat menjalankan perintahnya.


Bi Arum kembali menundukkan tubuhnya hormat, lalu segera ke dapur untuk mempersiapkan pesanan Mia. Ia akan memasak carbonara saja karena menurutnya lebih praktis untuk disiapkan.

__ADS_1


“Istri kok ga tahu kesukaan suaminya.” Gerutu Bi Arum sambil memasak. Ia kesal dengan tingkah Mia yang terlalu bossy.


Setengah jam kemudian, seporsi fettuccine carbonara sudah rapi berada dalam sebuah kotak makanan. Namun karena Mia yang belum siap, hingga satu jam kemudian makanan itu baru meninggalkan rumah dengan menumpang mobil Mia.


Mia memerintahkan Pak Salim untuk mengantarnya ke Rutan. Ia ingin mengunjungi Alex.


Aku hanya punya Alex. Aku mau memperbaiki hubungan dengan Alex, bagaimana caranya? Gumam Mia sambil melihat ke arah jalan.


Sesampainya di rutan, Mia menoleh ke kanan dan kiri. Ia bingung dan agak ketakutan melihat banyaknya aparat yang berwajah serius dan modar mandir di tempat itu.


“Ngg… Pak, mau tanya.. Kalau saya mau menjenguk, bagaimana caranya?” Tanya Mia pada seorang anggota polisi yang kebetulan lewat di dekatnya.


Polisi itu memandang Mia. Penampilan Mia yang terlihat takut-takut membuat polisi itu merasa kasihan. Akhirnya, polisi itu mengantarkan Mia sampai ke tempat pendaftaran tamu.


“Terima kasih, Pak.” Ujar Mia sambil menyodorkan beberapa lembar uang. Polisi itu menggelengkan kepalanya, menolak pemberian Mia. Hal ini membuat Mia bingung, karena ia terbiasa selalu memberikan uang pada setiap orang yang membantunya.


Di tempat pendaftaran, polisi yang bertugas mengenali nama Alexander Midas yang ingin dikunjungi Mia.


“Kebetulan Pak Alex juga sedang menerima tamu di ruang kunjungan 3. Ibu langsung kesana saja, ya. Dari lorong ini, nanti belok kanan, cari pintu nomor 3.” Ujar polisi itu memberikan petunjuk.

__ADS_1


Mia menganggukkan kepalanya dan langsung mengikuti petunjuk polisi itu. Setelah ia menemukan pintu nomor 3, ia segera masuk tanpa permisi.


Apa daya, yang tampak didepan matanya mengejutkannya dan membuat Mia tidak dapat menahan emosinya.


__ADS_2