
Seminggu kemudian.
Terjadi keributan di rumah utama pada pagi hari. Mia yang baru pulang pesiar besama teman-teman sosialitanya, baru mengetahui mengenai kejadian yang menimpa Alex.
“Pa, kenapa Papa tidak mengabari aku? Kenapa, Pa?” Tangis Mia di hadapan Tuan Stephen.
“Memangnya kamu kemana, sampai tidak tahu kalau suamimu kecelakaan?” Tanya Tuan Stephen dongkol.
“Aku pergi dengan teman-temanku, Pa. Alex juga tahu kok.” Kilah Mia, padahal ia pergi begitu saja seperti biasanya, tanpa meminta ijin pada Alex. “Tapi biar bagaimana pun, seharusnya Papa atau Mama mengabariku.” Lanjutnya.
“Apa gunanya? Memang, apa yang bisa kau perbuat?” Sinis Tuan Stephen. “Pekerjaanmu kan hanya hura-hura saja. Daffin dan Sharon saja tidak terawat, mereka jadi anak-anak yang ugal-ugalan. Kau ada waktu luang, tapi tidak pernah membantu Alex di perusahaan. Sekarang sudah jadi seperti ini, apa gunanya? Alex sudah seperti mayat hidup, apa yang bisa kau perbuat?” Cecar Tuan Stephen pada Mia, membuat Mia tidak berkutik.
“Tapi Pa, siapa yang bisa mengira kejadian ini bisa menimpa Alex? Bukankah Alex sedang dipenjara? Seharusnya, kejadian ini tidak bisa menimpa Alex kan, Pa? Apa ini gara-gara perempuan itu lagi Pa?” Mia mengelak dari cecaran Tuan Stephen, bahkan ia mulai berusaha mengalihkan pemikiran Tuan Stephen ke hal lain selain dirinya.
“Will mati seminggu yang lalu.” Ujar Tuan Stephen dingin, membuat Mia terkejut. “Kau kira, saat itu Will ada dimana? Di dalam penjara! Di penjara yang sama dengan penjara yang Alex tempati!” Bentak Tuan Stephen.
“Wi.. Will? William?” Ujar Mia terbata-bata.
“Dan sekarang, jangan kau ungkit lagi soal Nina!” Sambar Tuan Stephen tanpa peduli reaksi Mia. “Perempuan itu mungkin memang lebih baik darimu. Mungkin pilihan Alex memang tidak salah!”
“Pa.. Papa mendukung hubungan mereka?” Mia menatap Tuan Stephen tidak percaya.
__ADS_1
“Sekurang-kurangnya perempuan itu tahu caranya menghargai dan mendampingi Alex.” Ujar Tuan Stephen pelan, namun cukup untuk membakar emosi Mia.
“Aku tidak bisa terima ini! Akan aku laporkan ke Papa!” Mia mulai histeris. Ia mulai membawa-bawa nama papanya, berharap bisa membuat Tuan Stephen gentar.
“Silakan, kalau itu maumu.” Ujar Tuan Stephen dingin. “Supaya aku juga bisa membuka kebusukanmu didepan papamu!”
“Apa maksud Papa? Yang mana kebusukanku?” Sanggah Mia.
“Kau kira Papa tidak tahu kalau kau juga mengkhianati Alex?” Tanya Tuan Stephen dingin. Mia terpaku mendengar tuduhan mertuanya itu.
“Tidak usah berkelit!” Seru Tuan Stephen ketika Mia baru mau membuka mulutnya. “Jangan kau kira karena Papa sudah tua dan lebih sering di rumah, jadi Papa tidak tahu apa-apa! Kau dan teman-teman sosialitamu itu, kalian bersenang-senang dengan membawa lelaki kan? Kau kira Papa tidak tahu dengan siapa saja kau tidur? Perlu Papa keluarkan daftarnya?” Seru Tuan Stephen telak, membuat Mia terdiam.
Mia tidak menyangka Tuan Stephen mengetahui hingga sejauh itu. Tanpa ia ketahui, Tuan Stephen telah menyebarkan mata-matanya di sekitar Midas Corp dan keluarga putranya. Mia tidak bisa melawan lagi. Hingga akhirnya Tuan Stephen meninggalkan ruang tamu tempat pertemuan mereka, akhirnya Mia meninggalkan rumah itu dalam diam dan tanpa pamit.
🌹🗡️🌹
Dengan galau, Mia mengunjungi rumah sakit untuk menjenguk Alex. Di ruang ICU, ia diarahkan ke ruang rawat inap VVIP. Keterlaluan, sampai Alex sudah dipindahkan ke ruang rawat biasa saja, tidak ada yang memberitahukannya padaku, geramnya kesal.
Klik! Mia masuk ke dalam kamar Alex. Pemandangan didepan matanya sontak membuat matanya melebar.
__ADS_1
“Kau!” Teriak Mia kalap, saat melihat Nina sedang berdiri di samping ranjang Alex. Perempuan itu sedang menyuapi Alex makan. Berani-beraninya perempuan itu tetap mendekati Alex walaupun sudah dua kali tertangkap basah olehnya. Atau jangan-jangan, mereka semakin dekat disaat ia tak ada?
Nina dan Alex menatap Mia yang datang dengan emosi menggunung. Nina langsung menekan tombol darurat, memanggil bantuan perawat.
Kini Nina berdiri dengan tegap, menghadapi Mia. Postur tubuhnya yang ramping dan lebih tinggi dari Mia, membuat Nina seakan-akan siap bertempur dengan Mia.
Alex melihat Nina dengan kagum. Ia belum pernah melihat Nina dalam posisi seperti itu. Sepertinya Nina dapat membela dirinya sendiri, tidak tergantung dari pertolongan orang lain.
Mia menyeruduk maju, bibirnya terkatup rapat dan mengepalkan tangannya. Ia bersiap untuk menampar Nina.
Diluar dugaan, Nina menangkap tangan Mia yang sudah melayang menuju ke pipinya. Kemudian Nina menangkat tangan Mia hingga tangan itu lebih tinggi dari kepala Mia. Mia menjerit kesakitan karena tangannya terpelintir kebelakang.
“Jangan kau coba-coba menyentuhku!” Desis Nina di telinga Mia. “Suamimu sekarang sudah ada di pihakku. Sebentar lagi, dia dan Midas akan jadi milikku. Lebih baik, sekarang kau pulang dan kemasi barang-barangmu. Siap-siap kau akan segera pulang ke rumah orang tuamu, kau sudah tidak berguna!” Desis Nina lagi sambil mendorong tubuh Mia hingga Mia terjajar kebelakang.
Mia meringis memegang bahunya yang terasa nyeri.
“Apa maksudnya ini? Alex masih suamiku!” Teriak Mia lagi.
Nina tersenyum miring. Ia mengambil dua buah surat dan melambaikannya didepan wajah Mia.
Mia merampas surat itu. Sebuah surat pemeriksaan dokter dan sebuah surat kuasa. Dibacanya surat-surat itu sekilas dan segera wajah Mia memucat.
__ADS_1
“Dia menyerahkan Midas padamu?” Desis Mia. “Kau… Hamil?