
Daffin tiba di rumahnya menjelang subuh. Tubuhnya lelah, hatinya sakit. Kata-kata ayahnya terngiang-ngiang di telinganya, tindak tanduk Nina terbayang di depan matanya.
Dengan langkah gontai Daffin berjalan menuju kamar tidurnya. Otaknya terus berputar, mencari strategi untuk menundukkan Nina sekaligus mendapat pengakuan dari Alex.
Diraihnya sebotol wine dari meja bar yang dilewatinya. Diteguknya beberapa mulut, lalu botol itu ditentengnya menuju kamar mandi.
Daffin menikmati wine itu sambil berendam. Aroma wine dan tajamnya alkohol bak mengiris lidahnya, membuat Daffin tetap terjaga dan berpikir.
Nina… Apa kelemahan wanita itu? Apakah kehamilannya membuatnya lemah? Daffin sering menonton di film-film action, kelemahan seorang biasanya terletak pada keluarganya. Jadi, apakah anak dalam kandungan Nina dapat dimanfaatkan untuk membuatnya mengabulkan permintaan Daffin? Belum tentu! Bagaimana bila Nina justru tidak menyayangi anak itu dan membiarkan Daffin mengancamnya?
Daffin terus berpikir. Seandainya saja ia dapat bertukar pikiran dengan ayahnya, mungkin permasalahan yang mereka hadapi akan lebih mudah dicarikan jalan keluarnya. Bukankah lebih baik berpikir dengan beberapa kepala dibandingkan hanya satu kepala yang berpikir? Sayang sekali, ayahnya itu tidak pernah membiarkan Daffin selesai menyelesaikan laporannya. Alex selalu memotong kata-kata Daffin sebelum Daffin bisa melaporkan semuanya.
Nina belum dapat menguasai Midas sepenuhnya, karena Nina belum menikah dengan Alex. Anak itu memang anak Alex, namun belum secara legalitas. Karena itu, untuk menguasai Midas sepenuhnya, seharusnya mereka terikat pernikahan dulu. Daffin hendak menyampaikan ini pada Alex, namun Alex sudah keburu murka dan mengusirnya.
Huft… Daffin menghela napasnya panjang. Sepertinya sudah tidak ada gunanya berbicara dengan Alex. Tadi ayahnya itu bilang, terserah ia mau melakukan apapun asalkan tidak kembali ke Amerika. Jadi, yang akan Daffin lakukan saat ini adalah terserah dirinya, tidak perlu persetujuan Alex.
Aku akan menguasai Midas. Akan kubuat perempuan itu mengikuti kemauanku, tekadnya dalam hati.
Dengan cepat Daffin menenggak wine di gelasnya, lalu bangkit dari bathtub-nya. Dia membilas tubuhnya dibawah pancuran shower, lalu mengeringkan tubuhnya.
Disambarnya ponselnya segera setelah ia tiba di kamar. Diketiknya pesan untuk Nina.
[Selamat malam, Cantik. Besok aku akan ke kantormu lagi, ada yang ingin kubicarakan. Aku akan datang, jangan sampai kau tak ada.] Ketiknya, lalu meletakkan ponselnya tanpa menunggu balasan dari Nina.
Daffin terus berpikir, memikirkan strateginya untuk menghadapi Nina. Akan dibuatnya perempuan itu tidak berkutik dan menuruti dirinya.
Dengan pemikiran itu, Daffin terlelap dalam tidurnya.
🌹🗡️🌹
__ADS_1
Pagi harinya.
Nina mendengus kesal ketika ia melihat ponselnya. Ia baru saja membuka matanya dan melihat pesan Daffin melayang-layang di wall-nya.
Mau apa lagi dia, gerutunya, kenapa dia harus terus menggangguku?
Nina meletakkan ponselnya tanpa menjawab pesan dari Daffin. Ia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk ke kantor.
🌹🗡️🌹
“Permisi, Bu. Ada Pak Daffin ingin bertemu Ibu.”
Suara Rosa kembali terdengar dari interkom di meja Nina.
Nina mendengus sebal sebelum menjawab sekretarisnya itu. “Suruh saja dia masuk, Ros.”
Daffin masuk ke ruangan Nina dengan penuh senyum. Nina tidak menggubrisnya, ia hanya melambaikan tangan ke sofanya dan mempersilakan Daffin duduk.
“Aku juga tidak mau berkuasa di Midas. Aku hanya menginginkan Crystal. Kalau kau mau, kau boleh mengambil Midas.” Potong Nina cepat.
Daffin menggelengkan kepalanya dan senyumnya makin melebar. “Kau melupakan apa yang kukatakan semalam? Mengenai adik tiriku yang harus membayar kerugian Midas karena kelalaian dan salah keputusan dari ibunya di masa lalu?”
Nina menggeram kesal. Dia lengah, pasal pernikahan itu dulu adalah ide Nina untuk mendongkel Mia. Pasal yang akan dipergunakannya untuk memaksa Alex menikahinya dan menceraikan Mia. Tidak disangkanya, kini pasal itu dipergunakan Daffin untuk menekannya.
“Apa maumu sekarang?” Geram Nina kesal.
“Kau harus menikah denganku.” Ujar Daffin sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.
Nina terperangah terkejut. “Apa? Apa kau sudah gila? Apa hubunganmu dengan urusanku ke Midas sampai-sampai aku harus menikah denganmu?”
__ADS_1
Daffin tersenyum lebar. “Aku kira kau cerdas, tapi kau cukup ceroboh kali ini. Kau melakukan sebuah kesalahan besar, dan aku akan memanfaatkan kesalahanmu.” Ujar Daffin, membuat Nina melotot.
Daffin berdiri, berjalan menuju sebuah kulkas kecil yang ada diruangan itu. Dibukanya dan diambilnya sebuah kopi hitam kaleng. Ia berbicara sambil mondar mandir dengan sekaleng kopi ditangannya.
“Di akta itu mengatakan, kekuasaan Midas sebenarnya adalah milikku dan adik tiriku,” ujar Daffin sambil mengarahkan matanya ke perut Nina, “Kau hanya mewakilinya hingga adik tiriku itu berusia delapan belas tahun.”
“Tapi, semua itu baru bisa berjalan bila kau sudah menikah dengan ayahku paling lambat tiga bulan setelah akta itu terbit. Saat ini, kesalahannya, kau tidak menikahi ayahku walaupun waktu telah lewat. Akibatnya, semua tindakanmu saat ini bisa diartikan sebagai kudeta atau perebutan kekuasaan secara tidak sah. Aku bisa menggulingkanmu sewaktu-waktu dan menuntutmu secara hukum karena aku adalah pewaris Midas yang asli.” Ujar Daffin lagi sambil berdiri didepan Nina sambil menatap tajam mata Nina.
Nina terpaku di tempat duduknya. Otaknya mencerna satu persatu kata-kata Daffin, berusaha mengenali apakah ini sebuah kebenaran atau semata-mata ancaman Daffin untuk menekannya.
“Pilihanmu hanya dua. Yang pertama, mundur dari Midas dan Crystal dan menyerahkan kedua perusahaan itu kepadaku, karena Crystalpun sampai saat ini masih tetap berada di bawah kendali Midas. Crystal selalu diposisikan sebagai anak perusahaan Midas,” ujar Daffin sambil kembali berjalan mondar-mandir, “Atau pilihan kedua, kau harus menikah dengan pewaris Midas, agar semua tindakanmu disahkan menurut hukum.” Sambung Daffin dan duduk di lengan sofa sambil memandang Nina dengan lembut.
Nina masih tetap terdiam sambil menatap Daffin.
“Permasalahannya, siapa yang hendak kau nikahi? Apakah ayahku, yang saat ini berstatus tahanan namun sedang marah besar padamu? Dia justru akan mencabut seluruh kekuasaanmu ketika kau sudah menikah dengannya.” Ujar Daffin sambil mengulum senyumnya, membuat jantung Nina melonjak mendengar Daffin menyebut nama Alex dan pernikahan.
“Atau… Kau mau menikahiku? Aku juga seorang penerus Midas, aku bebas dan aku tidak marah padamu. Kau bisa menjalankan semua kemauanmu secara sah setelah kau menjadi istriku.” Sambung Daffin sambil tersenyum lembut. “Dan aku bisa mendampingimu membesarkan anakmu, anak kita. Sebuah perbuatan yang tidak bisa dilakukan oleh ayahku tercinta. ” Ujar Daffin sambil menghirup kopi dinginnya.
Nina terpaku diam. Bagaimana ini, apakah semua itu benar? Ia harus menikah dengan penerus Midas? Nina merutuk dalam hatinya, ia benar-benar harus mempelajari dokumen itu lagi.
“A-aku tidak bisa memutuskan sekarang. Beri aku waktu.” Ujar Nina terbata-bata, ia begitu gugup saat ini.
Daffin menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, ia kembali berdiri dan kali ini ia berjalan menghampiri Nina.
“Aku tidak bisa memberimu banyak waktu.” Ujarnya sambil duduk di sebelah Nina dan meletakkan kopinya di meja sofa. “Semalam ayahku sudah menanyakan mengenai perkembangan Midas. Kau sudah benar-benar membuatnya marah.” Sambung Daffin sambil tersenyum.
“Ayahku bilang, sekarang terserah aku mau berbuat apa, asalkan aku tidak meninggalkan Midas. Jadi, aku harus memperbaikinya. Dan aku tidak mungkin memperbaiki Midas tanpamu. Jadi,” Daffin merogoh kantongnya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna merah hati, “Ayo kita perbaiki semuanya bersama-sama. Kita hilangkan semua dendam diantara keluarga kita. Demi Midas, demi Crystal, demi keluargaku dan yang terutama untukmu dan untuk anakmu. Anak kita.” Sambung Daffin sambil membuka dan menyodorkan kotak beludru itu kepada Nina.
Mata Nina melebar melihat sebuah cincin cantik bertahtakan sebongkah berlian berkilauan didepan matanya.
__ADS_1
“Kita menikah?” Daffin kembali mendekatkan cincin itu ke Nina sambil tersenyum.