
Aku turun dari tempat tidur begitu jam dinding mulai menunjuk pukul 13.25. Padahal aku bilang pada Alex akan menemui mereka jam 11 siang nanti. Tapi aku malah ketiduran dan terlambat bangun.
Aku keluar dari lift dengan tergesa-gesa. Dari kejauhan terlihat Alex melambaikan tangan. Sepertinya dia terus mengawasi arah lift sehingga begitu cepat sudah melihatku. Aku berjalan mendekatinya. Di sana semua sudah berkumpul dengan koper masing-masing.
"Riza, bagaimana istirahatmu?" tanya Alex dengan penuh perhatian.
"Lumayan. Sorry, aku tidak menemani waktu terakhir kalian," jawabku pada Alex dan semuanya.
"Tidak apa-apa. Kita sudah menghabiskan banyak waktu bersama, koq!" ujar Mandy.
"Mandy, aku tidak tahu kapan kita bisa bertemu lagi. Kamu teman baruku yang baik!" kataku sambil memeluk gadis berjaket ungu itu.
"Aku juga senang mengenalmu!" balas Mandy dengan senyum manisnya.
Lalu aku beralih ke Justin untuk ucapkan salam perpisahan.
"Hai, Justin. Sienna pasti tidak akan betah di sini sepulangnya dirimu," godaku. Sambil melirik Sienna di sampingnya yang melotot tajam padaku.
Justin tertawa dan berkata, "Dia bisa menghubungiku. Lagipula jarak kota kita tidak begitu jauh. Mungkin nanti kita bisa berkumpul lagi."
"Aku akan tunggu," ujarku.
"Riza, aku pasti akan menemui mu," Alex cepat berkata.
"Terserah kamu saja," jawabku malas.
"Riza, aku serius. Tunggu saja kedatanganku nanti. Hanya aku pasti akan merindukanmu!" ucap Alex lantang diikuti sorakan dari yang lain.
"Aku tidak yakin akan sama sepertimu!" balasku. Dan lagi Alex mendapat sorak ejekan dari temannya.
Dan giliran orang terakhir yang sebenarnya ingin ku abaikan. Vanessa. Apa yang harus kukatakan padanya? Sementara ia sendiri nampak tak peduli.
"Vanessa, selamat jalan! Sampai bertemu lagi," kataku akhirnya.
Benar saja jangankan menyahut, melihat pun Vanessa enggan. Sedikit menyesal berbicara dengannya, tapi ya sudahlah.
"Oya, dimana Mr. Mark?" tanyaku pada yang lainnya.
"Ia di depan resepsionis," jawab Alex.
"Oh," gumamku.
Tak lama Mr. Mark datang.
" Nah, itu dia!" ujar Alex.
"Mr. Mark," panggilku.
"Oh, Eriza. Sayang sekali perjalanan kita sudah berakhir. Aku sangat menyesalkan tidak bisa menunjukkan seluruh kota ini padamu," ujar Mr. Mark.
"Tidak masalah. Aku dan Sienna masih punya banyak waktu untuk menjelajahi kota ini. Aku sangat berterima kasih untuk tumpangan dan jalan-jalan gratis dari anda. Hanya saja suasananya pasti akan berbeda. Pasti tidak akan seseru bersama anda dan teman-teman. Ah, bukan itu yang ingin aku katakan. Mr. Mark, selamat jalan!" kataku sembari berjabat tangan dengannya.
"It's oke, Eriza! Kita masih bisa bertemu dilain kesempatan. Jaga diri baik-baik!" ujar Mr. Mark dengan tenang.
Aku mengangguk pasti.
"Baik, semuanya sudah siap? Kita akan berangkat," kata Mr. Mark.
"Sampai bertemu lagi, Eriza ... Sienna ...," pamit Mr. Mark pada kami berdua.
Lalu aku dan Sienna mengantar mereka sampai di depan hotel di mana mobil yang akan membawa mereka menunggu.
"Sampai jumpa lagi, Mr. Mark!" kataku.
"Sampai jumpa, teman-teman. Semoga perjalanan kalian lancar sampai tujuan," kataku pada teman-teman baruku yang akan pulang.
Kami semua saling bersalaman. Aku memeluk Mandy agak lama. Setelah itu mereka mulai masuk ke dalam mobil. Terakhir Alex masih berbicara padaku.
"Riza, jaga diri baik-baik, ya! Aku pasti akan menghubungimu nanti. Ini ada sesuatu untukmu. Kuharap kamu menyukainya. Aku pergi dulu, ya!" pamit Alex sambil menyodorkan sebuah kotak hadiah kecil. Setelah itu ia pergi dengan cepat.
__ADS_1
Aku hanya terbengong. Kemudian melambaikan tangan padanya saat ia mulai masuk ke dalam mobil. Begitu mobil meninggalkan hotel barulah aku dan Sienna kembali ke kamar.
Aku langsung melemparkan tubuh ke atas kasur. Kotak yang diberikan Alex kutaruh di atas meja. Sedangkan Sienna duduk di kursi sambil membolak-balikkan majalah.
"Hari ini kita di hotel saja ya!" kataku.
"Terserah kamu saja!" jawab Sienna.
"Oya, apa yang diberikan Alex padamu tadi? Cepat buka aku ingin lihat!" desak Sienna sembari berpindah duduk di dekatku.
Aku bangun dan mengambil kotak itu dari atas meja. Lalu membukanya. Isinya sebuah jam tangan.
"Wow!" seru Sienna.
"Hem ... Apa Justin memberimu sesuatu?" tanyaku lalu menutup kembali kotak itu.
"Tada ...," seru Sienna sambil menyibak rambutnya memperlihatkan anting barunya.
" Wah, cantik!" pujiku pada anting crystal birunya.
" Trims. Ia membelikannya untukku di St. Barbara kemarin," terang Sienna senang.
"Oh."
"By the way, ada hubungan apa kamu dengan Mr. Mark? Kalian begitu akrab?" tanya Sienna yang kini telah berbaring di sampingku.
"Tidak ada. Hanya berteman saja. Aku tidak mungkin menyukai pria yang umurnya jauh lebih tua dariku, kan?!" jawabku.
"Siapa tahu," goda Sienna asal.
"Habis kau lebih suka bicara dengannya daripada yang lainnya," lanjutnya.
"Aku hanya mencari informasi," aku membela diri.
"Informasi apa?" tanya Sienna.
"Informasi mengenai Lucent Inn di Dixie Holly. Aku merasa ada yang aneh dengan penginapan itu," jawabku.
"Sejak kapan kamu suka hal seperti itu. Sepertinya kamu mulai tertular hobinya Alex," ejek Sienna.
"Bukan. Waktu itu aku melihat seseorang di dalam penginapan itu. Padahal jelas-jelas tidak ada satupun manusia yang tinggal di kawasan itu. Aku penasaran yang kulihat itu manusia atau hantu. Begitu saja," jelasku pada Sienna.
"Sudahlah. Bisa jadi kamu salah lihat. Ngomong-ngomong kamu ke mana dengan Alex pagi tadi?" tanya Sienna mengganti topik lain.
"Hanya jalan di sekitaran taman saja," jawabku.
"Apa yang dia bicarakan? Apa dia menembakmu?" tanya Sienna lebih antusias.
"Dia bilang menyukaiku. Aku sudah menolaknya. Namun dia tidak mau menyerah rupanya. Dia bilang akan berusaha sampai aku menyukainya," jawabku.
"Wow, hebat sekali!" kata Sienna salut.
"Apanya yang hebat? Lalu kamu sendiri? Bagaimana lanjutan ceritanya setelah dia membelikan mu anting?" giliran ku bertanya kini.
"Dia memang tidak bilang tentang perasaannya. Dia hanya bilang akan tetap menjalin komunikasi denganku. Dan akan mengunjungi ku di Losta. Anting ini sebagai hadiah darinya supaya aku tetap mengingatnya," jawab Sienna senang.
"Oh ... Pertanda baik," kataku sambil manggut-manggut.
"Ya," Sienna menimpali.
Ia mulai menguap. Lalu beranjak ketempat tidurnya. Tempat tidur kami memang terpisah.
"Bangunkan aku saat makan malam nanti, ya!" begitu pesannya sebelum terlelap ke alam mimpi. Aku menyahut iya.
Aku baru bangun dari tidur. Kuambil tas ku di atas meja. Mengeluarkan buku yang ku beli di St. Barbara kemarin. Tak lupa juga dengan sobekan koran lama yang diberikan Mr. Mark.
Kubuka plastik pembungkus buku lalu mulai membuka tiap halaman buku. Aku malas membaca semuanya. Jadi, aku buka index saja dan mencari judul yang menarik. Dimulai dari berdirinya New Angeles, pembangunan kota, kawasan wisata, St. Barbara, Corola Beach, Katedral St. Barbara, semua tidak ada yang menarik. Sampai aku membaca judul yang kucari, Dixie Holly! Aku berhenti dan membuka halaman tersebut. Barulah bagian ini ku baca betul-betul.
Sayang agak mengecewakan karena bagian ini tidak menceritakan dengan lengkap sejarah bangunan tak berpenghuni itu. Hanya menuliskan tahun pembangunan, jenis gedung, peresmian dan pemberian nama oleh sang walikota. Tidak ada kisah terperinci dari tiap bangunan angker tersebut. Aku menutup buku itu dan menaruhnya di atas meja. Tidak ada informasi yang bisa didapat dari buku itu. Aku pun beralih ke sobekan koran lama. Kubentangkan koran itu dan mulai membaca tulisan buram yang masih dapat terbaca.
__ADS_1
"Lucent Inn Ditutup!"
New Angeles-- Seperti dilansir oleh CityNews, penginapan Lucent Inn dikawasan Dixie Holly dinyatakan resmi ditutup. Mr. Ben Rucher selaku pemilik Lucent Inn tidak mau berkomentar tentang penutupan penginapannya ini. Padahal Lucent Inn sendiri baru resmi dibuka dua bulan yang lalu. Penutupan Lucent Inn yang tiba-tiba ini jelas mengundang banyak pertanyaan publik. Apa yang membuat Mr. Rucher menutup penginapannya?! Apa dikarenakan sepinya pengunjung? Atau ada hal lainnya?
Seorang reporter dari CityNews berhasil mewawancarai salah seorang pengunjung yang sebelumnya pernah menginap di sana. Pengunjung yang tidak mau disebutkan namanya ini mengaku jika ia sering :::::::::::::: :::::::: :::::::::: :::::::::::::: :::::: "
Ah, tulisannya hilang, tidak dapat dibaca. Ya ampun! Ku lempar sobekan koran usang itu dengan kasar. Kesal karena hampir menemukan sedikit informasi tapi gagal.
Ku bongkar lagi tasku. Dan mengambil secarik kartu nama. Memperhatikannya sejenak kemudian meraih ponsel dan segera menghubungi nomor yang tertera di kartu nama tersebut.
...*****...
Setelah makan malam bersama Sienna, aku meninggalkan hotel. Karena Sienna tak ingin ke luar malam ini. Jadi, aku meninggalkannya sendiri. Sedang aku ke luar dan menunggu di depan pintu hotel. Sesuai janji tepat pukul 18.00 sebuah taksi dengan plat nomor yang kutunggu akhirnya datang. Tak perlu menunggu sang supir keluar aku berjalan mendekat. Aku sampai di depan taksi bersamaan kemunculan sang supir yang turut menyambut ku.
"Anda Eriza Ravella?" tanyanya dengan sopan.
"Benar," jawabku.
"Aku Richard Billy yang akan menjadi supir anda hari ini. Mari, silahkan masuk!" ajak sang supir yang diperhatikan usianya mungkin sudah setengah abad.
Ia membukakan pintu penumpang untukku dan mempersilahkan ku masuk.
"Trims," kataku.
Pintu kembali ditutup dan Mr. Richard mulai menjalankan taksinya.
"Jadi, kemana aku akan mengantar Nona?" tanya Mr. Richard.
"Ke Dixie Holly," jawabku.
"Oh, anda suka tempat yang misterius rupanya. Nona tidak takut pergi ke sana sendiri?" tanya Mr. Richard tanpa menakuti.
"Tidak. Kalau boleh aku tahu semisterius apa tempat itu?" tanyaku penasaran.
"Banyak yang bilang kawasan itu seram. Sejak pembangunan hingga resmi dibuka bagi umum, entah sudah berapa banyak korban melayang. Dari kecelakaan pekerjaan sampai ada yang bunuh diri tanpa alasan yang jelas," jawab Mr. Richard.
'Aha, cerita yang menarik.'
Ku condongkan badan agak ke depan kemudian bertanya lagi dengan penuh semangat.
"Lalu, apa Mr. tahu kisah tentang Lucent Inn? Mengapa penginapan itu ditutup padahal baru dua bulan dibuka?"
"Lucent Inn, ya .... Aku kurang begitu tahu karena pemiliknya sendiri enggan mengatakan alasan penutupannya. Meski tak begitu populer tapi penginapan itu cukup ramai di hari-hari tertentu. Yang aku tahu penginapan itu pernah terbakar selang beberapa minggu dibuka. Namun hanya belakang penginapan saja yang terbakar. Setelah itu kembali dibuka seperti biasa sampai keluar berita yang menyatakan ditutup," jelas Mr. Richard.
"Oh," gumamku. Aku bertanya lagi.
"Aku juga dengar katanya siapapun yang masuk ke sana tidak akan keluar dengan selamat. Benarkah demikian?"
Mr. Richard tertawa. Namun ia tetap menjawab pertanyaanku dengan senang hati.
"Kurasa itu hanya rumor saja. Aku sendiri belum pernah membaca di koran ada berita semacam itu. Bisa jadi itu hanya untuk menakut-nakuti atau malah menarik lebih banyak wisatawan yang penasaran agar datang kemari."
"Begitu .... Wajar saja karena kedengarannya aneh," aku menimpali.
"Memang tempat itu aneh sekali. Tak ada yang bisa tinggal lama-lama di sana. Satu persatu orang pergi meninggalkan tempat itu. Sampai akhirnya kawasan itu menjadi mati dan tak berpenghuni sampai sekarang," ujar Mr. Richard.
"Tapi yang menjual cidera mata di sepanjang Dixie Street nampaknya tidak apa-apa," kataku.
"Mereka membuka stand dari jam 5 sore sampai jam 2 dini hari. Itu tidak berpengaruh karena stand didirikan di luar gedung. Lagipula tidak ada yang akan menginap di stand tempat berjualan, bukan?!" ujar Mr. Richard.
"Benar juga," ucapku.
"Nah kita sudah sampai," kata Mr. Richard begitu taksi berhenti.
"Sepertinya hari ini sangat ramai. Bersenang-senanglah! Aku akan menunggu di sini," ucap Mr. Richard.
"Trims. Aku akan kembali sebelum jam 11 malam," pesanku.
Lalu aku pun keluar dari taksi. Benar yang dikatakan Mr. Richard, hari ini Dixie Holly jauh lebih ramai daripada hari pertama aku kemari. Perjalanan dimulai!
__ADS_1
bersambung ....