
Lagi-lagi pagi ini aku dibangunkan oleh deringan ponsel. Aku langsung mengangkatnya dengan mata mengantuk. Rupanya Edgar yang menelepon. Ia menyuruhku untuk bangun dan bersiap karena sebentar lagi ia akan datang. Jadinya aku buru-buru bangun. Begitu Edgar datang kami kemudian pergi.
Selama aku berada di Losta hampir setiap hari ia membawaku berkeliling kota. Ke pantai, ke taman Lavender, ke taman bermain, semua tempat yang ada di kota ini. Hampir seluruhnya kami jelajahi.
Sejalan dengan hubungan kami yang kian dekat, tapi aku masih tak yakin memiliki perasaan padanya. Untungnya Edgar juga tidak terus mendesak ku untuk memberinya jawaban. Ia ingin semuanya berjalan dengan sendirinya.
Tak terasa hari pernikahan Sienna dan Justin pun tiba. Sienna begitu cantik dalam balutan gaun pengantinnya. Wajahnya begitu bahagia. Saat ia berjalan menuju altar di mana Justin menunggu.
Usai janji pernikahan diucapkan semua bertepuk tangan dengan meriah. Aku memeluknya dengan erat sekali sambil mengucapkan selamat. Ia tersenyum padaku sambil berbisik.
"Aku menunggu giliranmu!"
Aku hanya bisa tersenyum saja. Acara masih berlanjut. Banyak tamu undangan yang datang memberinya selamat. Jadi aku meninggalkannya. Aku berjalan ke sebuah bangku taman yang agak jauh dari keramaian dan duduk di sana. Karena acara ini digelar di tempat terbuka. Edgar datang dan duduk di sampingku.
"Tempat ini indah, ya!" ujar Edgar.
"Kalau nanti kamu menikah ingin membuat acara di mana?" tanya Edgar.
"Aku tidak tahu. Aku belum memikirkan itu," jawabku.
"Kalau begini apa kamu mau memikirkannya?" tanya Edgar yang tiba-tiba membungkuk dihadapanku dengan sebuah cincin di tangannya.
"Apa maksudmu?" tanyaku.
__ADS_1
"Eriza, menikahlah denganku!" jawab Edgar bersungguh-sungguh.
Aku menyengir.
"Kita bahkan belum pacaran," kataku.
"Aku rasa kita sudah sangat kenal cukup lama. Kita hanya perlu memiliki perasaan yang sama saja. Lagi pula kita sudah dewasa. Tidak perlu pacaran seperti anak remaja lagi," ucap Edgar.
"Aku masih ragu, Edgar! Simpanlah cincin itu untuk suatu hari nanti. Mungkin kamu akan memberikan pada seseorang yang pantas!" kataku.
"Tidak ada yang lebih pantas darimu, Riza!" ucap Edgar. Ia kembali duduk di kursi.
"Aku selalu merasa tenang kalau dekat denganmu seperti ini," lanjutnya lagi.
Aku hanya diam saja mendengarnya. Alunan musik lembut mengalun dari kejauhan. Edgar mengulurkan tangannya.
Aku tersenyum dan menyambutnya. Ia menggenggam tanganku dengan erat dan kami mulai berdansa. Berdansa cukup lama dalam diam. Kepalaku menyandar ke bahunya. Tanganku masih dalam genggamannya. Dengan pelan langkah kaki bergerak mengikuti alunan musik. Meski kami tidak bicara tapi pikiranku melayang kemana-mana. Terlintas ucapan Ginnevra dulu,
"Aku juga ingin mencintai seseorang yang bisa ku sentuh, yang bisa memelukku dengan hangat, memegang tanganku ...."
Kalimat itu menyadarkanku bahwa entah sudah berapa lama aku menyendiri. Berapa lama aku lari. Berapa lama aku menutup diri dari cinta. Mungkin Ginnevra benar. Seperti ini rasanya dipeluk dengan hangat, digenggam oleh orang yang mencintaiku. Aku benar-benar hanyut dalam suasana ini. Semakin tenggelam dalam pelukan Edgar. Bahkan begitu dekat sampai-sampai aroma tubuhnya pun dapat tercium. Tiba-tiba Edgar berhenti dan menatapku.
"Apa kamu lelah? Mungkin sebaiknya kita duduk!" kata Edgar.ย
Sementara ia pergi mengambil minuman aku menunggunya di tempat duduk.
Ia kembali dengan cepat sambil menyodorkan segelas minuman padaku.
__ADS_1
"Thanks," ucapku lalu meneguk habis minuman itu.
"Aku akan ke sana!" kataku padaku Edgar.
Kemudian aku pergi meninggalkannya sendiri. Aku kembali ke kerumunan pesta. Meski sudah malam, masih banyak tamu yang datang. Aku bertemu Suzan lalu berbicara sebentar dengannya. Rupanya di sini cukup membosankan jadi aku memilih minum saja. Ku ambil segelas minuman yang dibawa pelayaan. Semakin banyak minum membuat kepalaku semakin pusing. Entah minuman apa yang ku ambil tadi. Aku ingin pergi dari sini dan kembali ke tempat Edgar. Tapi saat aku berdiri badanku serasa bergoyang. Baru beberapa langkah sebelum akhirnya jatuh, untung Edgar datang dengan cepat dan memapahku sebelum aku jatuh ke lantai. Ia membawaku ke tempat tadi.
"Kamu minum apa tadi? Sepertinya kamu mabuk!" kata Edgar dengan cemas.
"Entahlah. Kepalaku pusing sekali!" jawabku. Aku merasa semua yang ada di depan nampak berputar-putar.
Aku melihat wajah Edgar dengan samar-samar. Namun tiba-tiba berubah menjadi wajah Wallace. Aku kaget dan melihat dengan lebih fokus. Wajah Edgar yang muncul lagi. Aku sedikit lebih lega. Ku jatuhkan kepala ke bahunya. Lalu merangkulnya dan menarik tangannya.
"Ayo, berdansa!" ajakku.
"Kamu mabuk. Bagaimana bisa berdansa?" tanya Edgar.
"Aku tidak mabuk!" protesku. Meski pandanganku antara jelas dan kabur.
Edgar tidak membantah ia menurutiku. Aku langsung jatuh ke pelukannya lagi. Dan Edgar susah payah memelukku lebih erat saat aku mulai kehilangan keseimbangan. Aku berusaha untuk terus terjaga. Aku menatap wajah Edgar dengan dekat supaya aku tidak salah lihat. Ini memang Edgar. Kami saling menatap sangat lama. Perlahan-lahan bibirku mulai mendekat, Edgar juga tak menolak. Ia mengecup bibirku dengan lembut. Sampai tiba-tiba aku ambruk. Dan tidak ingat apa-apa lagi.
bersambung ....
Hai, teman-teman! Mohon dukungannya untuk karya ini, ya! Suka cerita fantasi? Kepoin karya bergenre fantasi ku yang lain yuk! Ga kalah seru deh pokoknya...
Cek profilku ya dan klik karya di bawah ini๐
Jangan lupa berikan dukungannya ๐ Terima kasih!
__ADS_1