Pangeran Dari Dunia Lain

Pangeran Dari Dunia Lain
Mencari Tahu Tentang Siapa Sebenarnya Dia


__ADS_3

...★━━━━━━Pov2━━━━━━★...


Sementara di apartemen Edgar, saat ia telah siap hendak pergi. Tiba-tiba Wallace muncul di depannya. Edgar jelas saja kaget.


"Untuk apa kamu kemari?" tanyanya terbata-bata.


"Ada hal aneh yang terjadi di rumahmu! Untuk pertama kalinya rumah itu 'disegel' dan aku tidak dapat masuk ke dalam! Siapa yang melakukannya?" tanya Wallace to the point.


"Mana aku tahu! Aku tidak pernah meminta siapapun menyegel rumah itu!" jawab Edgar dengan suara meninggi.


"Kamu harus cepat pulang untuk melihat kondisi Ginnevra!" ujar Wallace.


"Kalau Crystal Orlov belum didapatkan, bagaimana aku bisa pulang menolongnya? Kenapa kamu tidak meminta ibumu memberikan Crystalnya padaku supaya aku bisa cepat pulang? Lagipula kamu tidak perlu mencemaskan kakak, sudah ada nenek Nancy yang menjaganya di sana!" jawab Edgar ketus.


"Kamu yakin Crystal Orlov itu untuk menolong Ginnevra atau malah akan merenggut nyawa Ginnevra!?" tanya Wallace dengan tenang. Kemudian ia menghilang.


Edgar tak berkutik mendengar kata terakhir Wallace. Ia terduduk lemas di sofa. Terus bergelut dengan hatinya.


'Bagaimana caranya menolong kakak jika Crystal Orlov sendiri dikutuk? Bagaimana bila niat ingin menolong malah berbalik mencelakakan!? Pangeran Wallace sendiri adalah teman terbaik kakak, tidak mungkin dia akan melakukan hal yang ia tahu mencelakakannya. Sekarang siapa yang harus aku percaya? Apa yang harus aku lakukan?'


Begitu kacaunya pikiran Edgar, ia sampai lupa untuk secepatnya menemui Eriza. Sehingga waktu terulur hampir satu jam. Ia baru tersadar dan bergegas pergi.


...★━━━━━━━━━━━━★...


... ....


.......


.......


.......


Setelah pencarian di mesin pencari tidak membuahkan hasil, aku kemudian mengambil daftar buku telepon New Angeles didekat telepon kabel. Daftar buku telepon terbaru dan cukup tebal ini memuat nomor telepon penting dan nomor telepon kabel serta ponsel dari seluruh orang yang tinggal di kota ini.


Aku mulai dari huruf W. Seluruh nama berinisial W tidak ada. Berlanjut mencari dengan nama belakang, dimulai dengan huruf G. Ada puluhan nama Grayson tapi tak ada satu pun yang nama depannya Wallace. Ini tidak mungkin! Apa itu berarti tidak ada seorang pun yang bernama Wallace yang tinggal di kota ini?! Lalu siapa Wallace yang selama ini aku temui tiap malam?


Tiap malam .... Tunggu! Ada yang mengganjal dengan kalimat itu. Aku teringat jawaban pak Berto tadi siang saat aku bertanya mengenai Wallace, 'dia hanya muncul pada malam hari saja'.


Kenapa pak Berto menggunakan kata 'muncul' bukannya 'datang'?! Sepertinya memang ada yang tidak beres. Aku coba mengingat-ingat lagi semua peristiwa yang pernah terjadi. Pertama di Stairway Street, dua pemuda yang ingin menggodaku tiba-tiba lari ketakutan. Jika kedua pemuda itu melihat Wallace, mereka tidak mungkin mendekatiku. Kalau hanya karena cahaya yang minim tetap akan terlihat bayangan dua orang bukannya hanya bayanganku. Dan selalu saat aku bersamanya orang hanya melihat aku sendiri, seperti kejadian di pesta ulang tahun Edgar.


Kedua, dia selalu menghindari keramaian. Lebih suka di tempat yang remang dengan sedikit cahaya. Kalau di tempat terang kulitnya terlihat pucat dan tangannya selalu dingin. Lalu dia bisa tahu alamatku sementara aku tak pernah memberitahunya. Dia mengetahui hampir segalanya.


Ketiga, dia selalu terlihat di malam hari. Dan hanya datang di malam hari. Ke-empat, Edgar yang tiba-tiba memintaku menjauhinya. Bahkan ia sendiri tak bisa menjelaskan alasannya. Dan terakhir kenyataan yang hampir tidak bisa dipercaya, lukisan keluarga Dixie. Benar-benar tidak ada perbedaan dengan Wallace yang ku kenal. Ditambah kenyataan tidak ada yang bernama Wallace di kota ini. Jadi, siapa yang bersamaku selama ini?!


Pikiranku mulai kacau. Aku mulai merasa takut sendiri. Ini tidak mungkin! Mustahil! Edgar pasti tahu sesuatu.


Tanpa menunda waktu aku berlari ke luar apartemen dengan rasa panik. Tepat saat itu mobil Edgar datang. Ia langsung berhenti di depanku.


"Eriza, kamu mau ke mana?" tanya Edgar dengan wajah tak kalah panik.


"Kamu harus ceritakan semuanya padaku! Sekarang juga!" Aku meminta dengan nada bergetar.


"Iya, iya, tapi ceritakan apa?" tanya Edgar bingung.


"Edgar, kamu pasti tahu. Katakan padaku siapa sebenarnya Wallace!" pintaku dengan mata mulai memerah.


Edgar tak langsung menjawab, ia diam tertegun. Terkejut dengan pertanyaanku.


"Edgar, kamu pasti tahu sesuatu! Katakan Edgar! Dia bukan Wallace Grayson, iya kan!?" desakku dengan menggoyangkan tangan Edgar.


"Aku tidak tahu, Riza! Maaf, aku sudah janji tidak akan ikut campur urusan kalian! Mungkin sebaiknya kamu bicara langsung dengannya!" jawab Edgar dengan perasaan serba salah.


Aku terdiam dengan sesenggukan. Aku tak percaya ini terjadi. Aku merasa bodoh.


"Eriza, kita kembali ke dalam dulu! Kamu harus tenangkan dirimu!" kata Edgar dengan pelan.


Ia kemudian menuntunku kembali ke apartemenku. Aku masih begitu syok. Aku belum bisa merasa tenang. Edgar memberikan segelas minuman padaku.


"Minumlah dulu!" suruhnya.


Aku meraih gelas itu dan meneguknya sedikit.


"Tenanglah. Bicarakan dengan baik-baik!" ujar Edgar.


"Bagaimana aku bisa tenang!? Kalau aku mendapati kenyataan yang begitu menakutkan! Edgar, apa ini cuma mimpi? Aku sedang bermimpi?" tanyaku.


"Tidak, Riza! Ini kenyataan! Kamu harus melihat kenyataan!" jawab Edgar.


"Jadi, ini maksudmu memintaku menjauhinya?" tanyaku.


Edgar hanya mengangguk pelan. Aku menatap jam dinding, hari masih terlalu sore. Namun aku sudah tak tahan lagi. Aku benar-benar tak percaya semua ini. Aku ingin pergi dan membuktikan bahwa semua ini bohong. Lantas aku lari keluar apartemen sementara Edgar mengejarku. Ia menahan tanganku dengan kuat.


"Riza, kau mau ke mana?" gertaknya.


"Aku akan ke Dixie Holly dan membuktikan semua ini tidak benar!" balasku. Tapi Edgar tak juga melepaskan tanganku.

__ADS_1


"Lepaskan, Edgar!" pintaku.


"Tidak!" jawab Edgar.


"Edgar!" Aku menggertaknya dengan lebih keras.


"Baik, kalau kamu ingin ke sana membuktikannya! Aku akan mengantarmu sekarang juga!" ujarnya kemudian.


Ia lalu menarik tanganku mengikutinya ke dalam mobil. Begitu siap mobil melaju dengan cepat menuju Dixie Holly. Tak peduli berapa ramai jalan raya sore ini, Edgar beberapa kali menyalip mobil di depannya. Dan melaju dengan kecepatan tinggi.


"Edgar, tak bisakah kamu pelankan mobilnya sedikit?" kataku. Tapi ia tak mendengar.


"Edgar, kamu mau membunuhku?!" Aku berteriak padanya.


Barulah kecepatan mobil berkurang.


"Pikiranku sedang kacau, Riza! Tolong jangan perbanyak masalahku!" ujar Edgar.


"Apa? Aku memperbanyak masalahmu? Aku bahkan tak memintamu mengantarku ke sana! Kalau kamu memang tak suka turunkan aku di sini sekarang juga! Aku bisa pergi dan menyelesaikan masalahku sendiri!" kataku marah.


Mobil langsung berhenti saat itu juga. Sepertinya Edgar serius menurunkan ku di tengah jalan. Tanpa basa-basi aku langsung turun dan membanting pintu dengan kasar. Tapi rupanya aku sudah sampai di tempat tujuan.


Aku tak menghiraukan Edgar yang masih berada di dalam mobil. Aku langsung berjalan memasuki Dixie Street. Tak disangka Edgar mengejarku dari belakang.


"Riza. Eriza. Tunggu!" panggil Edgar. Tapi aku tak menghiraukannya.


Ia masih terus mengejarku.


"Eriza!" panggilnya setelah berhasil mensejajarkan langkah denganku.


"Mau apa lagi? Bukannya seharusnya kamu pulang dan mengurus masalahmu sendiri?" tanyaku ketus.


"Eriza, aku minta maaf! Tadi aku hanya sedikit emosi! Aku tidak mungkin membiarkanmu sendiri di sini. Aku takut kejadiannya akan seperti kemarin," jawab Edgar. Ia mulai terlihat tenang.


Aku terdiam teringat kejadian dirasuki arwah kemarin. Aku jadi bergidik sendiri kebetulan sedang melewati Mansion Maera. Ku percepat langkah kakiku. Edgar masih mengikutiku.


"Aku tidak tahu harus bagaimana! Aku tak bisa menemukan Crystal Orlov, sementara sudah lama aku di sini mencarinya. Waktuku semakin sempit. Aku tak bisa mengulur-ulur waktu lagi. Sedangkan disisi lain aku takut nantinya justru Crystal itu yang akan mencelakakan Ginnevra. Mengingat bila crystal itu dikutuk. Aku benar-benar tak tahu harus berbuat apa!" ucap Edgar menceritakan kegundahannya.


"Aku mengerti. Maaf sudah berteriak padamu. Sebenarnya kita tak membutuhkan Crystal Orlov, tapi ada yang lebih penting dari crystal itu!" kataku.


"Apa Maksudmu?" tanya Edgar.


"Aku akan menceritakannya nanti setelah semua ini selesai!" jawabku.


Sekarang aku telah sampai di katedral. Tidak ada siapapun di sana. Pintu katedral masih terbuka tapi tak ada satupun pengunjung. Tiba-tiba pak Berto keluar dari pintu samping membalikkan badan hendak ke taman. Aku cepat memanggilnya,


Pak Berto menoleh melihatku. Aku dan Edgar yang masih mengikutiku berjalan menghampiri pak tua itu.


"Nona, kebetulan aku ingin kembalikan ...."


Belum selesai ia berbicara aku memotongnya dengan cepat. Melihat Pak Berto hendak mengembalikan uang yang ku titipkan untuknya.


"Tidak, jangan kembalikan! Anggap saja sebagai tanda terima kasihku! Anda simpan saja! Lagi pula masih ada hal yang ingin aku tanyakan pada anda!"


"Kalau begitu kita bicara di dalam saja!" ajak pak Berto.


Kemudian kami dibawa masuk melalui pintu samping itu dan sampai di ruang belakang tempat untuk para tamu. Pak Berto mempersilahkan kami duduk, dan memberikan dua gelas air mineral.


"Apa yang ingin anda tanyakan, Nona?" tanya Pak Berto dengan suara beratnya.


"Pak Berto, apa Wallace sering kemari? Apa anda sangat kenal dengannya?" Aku memulai pertanyaan.


"Ya, aku kenal. Dia datang setiap malam. Aku bahkan pernah beberapa kali berbicara dengannya!" jawab Pak Berto tanpa ada rasa curiga.


"Kalau begitu anda pasti tahu di mana dia tinggal! Latar belakang serta keluarganya, ya kan?! Bisakah anda ceritakan padaku?" tanyaku lagi.


Kali ini pak Berto nampak terdiam. Tak bisa menjawab pertanyaan ku. Yang menurutku pertanyaan sederhana untuk orang yang sangat dikenalinya.


"Pak Berto, benarkah namanya Wallace Grayson?"


Aku bertanya lagi dengan sedikit mendesak.


"Ataukah Wallace Dixie?!"


Aku melanjutkan dengan suara pelan.


Saat itu Pak Berto baru menatapku. Dengan tatapan yang tak ku mengerti. Cukup lama sampai ia mengatakan sesuatu.


"Aku tak mengerti maksud pertanyaanmu! Tapi aku akan menceritakan sebuah kisah padamu! Ikutlah jika kamu ingin mengetahuinya!"


Pak Berto lalu bangkit dari kursinya berjalan ke ruangan lain di dalam. Aku dan Edgar mengikutinya. Sampai kemudian tiba di sebuah anak tangga. Tangga melingkar yang sangat tinggi menuju menara. Pak Berto terus menaiki anak tangga itu satu persatu menuju ke puncak menara. Aku dan Edgar masih terus mengikuti meski bingung dengan maksud semua ini. Karena yang ada di puncak menara hanyalah sebuah lonceng besar.


"Pak Berto, kita akan ke mana?" tanyaku pada Pak Berto yang berjalan duluan di depan.


"Ke puncak menara lonceng!" jawab Pak Berto.

__ADS_1


"Untuk apa?" tanyaku lagi.


"Kamu akan tahu nanti!" jawab Pak Berto.


Padahal aku sudah kelelahan menaiki tangga yang mungkin hampir sepuluh lantai tingginya ini. Tapi Pak Berto masih terlihat kuat saja dengan usianya yang sudah tua.


Akhirnya kami sampai juga di puncak. Aku langsung duduk di sebuah kursi panjang yang ada di sana. Memang tidak ada apa-apa di sini, hanya sebuah lonceng besar saja.


"Apa yang akan kita lakukan di sini?" tanya Edgar yang sedari tadi diam saja.


"Lihatlah di sana!" ujar Pak Berto. Jarinya menunjuk ke tengah hutan jauh di depan.


Aku berdiri melihat ke bawah. Cukup tinggi. Dari atas sini aku bisa melihat hutan dengan jelas tanpa terhalang oleh tembok. Dan lihat yang ditunjukkan Pak Berto. Ada sesuatu di tengah hutan sana. Seperti pilar-pilar besar yang sebagian hancur namun ada sebagian yang juga sudah tertutup tumbuhan merambat. Hanya hutan lebat di sekeliling bangunan yang hancur dan pilar-pilar itu.


"Apa itu?" tanyaku.


"Itu adalah istana. Dahulu ada sebuah Kerajaan di sini, namanya Kerajaan Dixie. Kamu mungkin pernah mendengar cerita itu. Namun sekarang yang tersisa hanya puing-puing istana saja. Setelah peperangan yang menewaskan Raja Dixie dan Pangeran, kerajaan Dixie akhirnya tumbang," jawab Pak Berto.


"Aku pernah membacanya di buku! Jadi, istana itu benar-benar ada?! Bisakah kita ke sana?" tanyaku.


"Tidak bisa. Tidak boleh ada yang masuk ke sana. Alasan mengapa dibuat tembok tinggi seperti ini adalah supaya tak ada yang kembali ke sana. Karena tempat itu selalu memakan korban jiwa, entah sudah berapa banyak kecelakaan terjadi di sana. Istana itu angker!" ujar Pak Berto.


"Angker? Bukankah setiap gedung ini juga angker?!" kataku.


"Sebelum ada gedung ini, saat pertama kali ditemukan Dixie Street adalah tempat tinggal penduduk. Berapa banyak penduduk yang ikut tewas saat perang itu membuat arwah mereka tetap tinggal. Mereka yang meninggal akibat perang tidak pernah pergi dari tempat ini. Itu mengapa kawasan ini dikatakan angker. Bahkan tak ada satupun orang yang tahan tinggal di sini," Pak Berto menjelaskan.


"Itu sebabnya ini menjadi kawasan mati?! Ah, berarti sosok yang ku lihat di Lucent Inn dulu juga salah satu dari arwah itu? Hii ...," gumamku ngeri.


"Kalau begitu sang ratu pun masih tinggal di istananya?!" ujar Edgar.


Aku menatap Edgar. Dan Pak Berto tertawa.


"Apa menurutmu begitu? Ratu tidak tewas dalam perang, dia bunuh diri!" kata Pak Berto.


"Aku yakin begitu, karena beberapa hari yang lalu saat kami masuk ke Mansion Maera arwahnya merasuki tubuh Eriza!" ujar Edgar.


Pak Berto terdiam. Kemudian ia bertanya,


"Apa yang kalian lakukan sehingga ia sampai merasuki mu, Nona?"


"Sebenarnya kemarin kami pergi untuk mencari Crystal Orlov!" jawabku.


"Tapi sepertinya dia marah. Dia berkata akan mencelakakan siapapun yang memiliki Crystal itu!" sambung Edgar.


"Untuk apa kalian mencari Crystal Orlov! Sementara selama ini belum pernah ada yang bisa menemukannya!" kata Pak Berto.


"Itu ... untuk menolong kakakku yang mati suri!" Edgar berkata.


"Omong kosong! Aku belum pernah mendengar ada kisah tentang Crystal Orlov sebagai media untuk menolong orang. Yang ada orang-orang yang memburu Crystal Orlov untuk tujuan tak baik," jawab Pak Tua.


Aku tiba-tiba teringat sesuatu, aku lalu bertanya pada Pak Berto.


"Pak Berto, aku ingat bukankah dulu anda pernah melarangku mendekati Lucent Inn? Apa alasannya?"


Pak Berto tersenyum.


"Itu untuk mencegah sesuatu terjadi. Tapi karena sudah terlanjur terjadi, yah sudahlah!" jawabnya.


Tapi aku masih tak mengerti,


"Maksud anda sesuatu seperti apa?" tanyaku.


Pak Berto tak menjawab tapi malah tertawa terkekeh. Ia lalu mulai berjalan menuruni tangga. Aku dan Edgar ikut turun.


"Pak Berto, aku tidak mengerti maksud anda!" kataku.


"Sudah terlanjur, Nona! Tak ada gunanya aku menjelaskan! Kamu sudah berhubungan dengan sosok yang kamu lihat itu!" jawab Pak Tua.


Sosok itu ...! Aku terdiam berhenti berjalan. Jadi, ini benar-benar terjadi? Apa itu dia?!


"Eriza, kamu kenapa?" tanya Edgar melihatku diam tak bergerak.


"Aku tidak apa-apa! Tidak apa-apa!" kataku sembari menenangkan diri sendiri. Aku kembali menuruni tangga.


Edgar masih memperhatikanku sambil mengawasi langkahku. Aku saja berjalan seperti setengah melayang. Kakiku terasa ringan. Pikiranku kacau, kembali lagi ingatan-ingatan yang dulu bermain di kepala. Dari dulu sudah merasa aneh namun sekarang baru menyadari keanehan itu.


Pak Berto langsung memisahkan diri begitu kembali ke bawah. Aku dan Edgar berjalan keluar dari Katedral.


"Aku antar kamu pulang, ya!" ujar Edgar pelan.


"Tidak Edgar, aku harus bicara dengannya!" jawabku dengan mata yang kembali panas.


"Riza, kamu tidak bisa bicara dengan keadaan seperti ini. Kamu harus menenangkan diri dulu!" kata Edgar.


Dipikir-pikir memang benar kata Edgar, aku tak bisa bicara kalau pikiranku kacau seperti ini. Aku harus menenangkan diri dulu. Sambil memikirkan apa yang harus ku katakan saat berhadapan dengannya nanti. Lantas aku pun menuruti ucapan Edgar. Ia mengantarku kembali ke apartemen.

__ADS_1


bersambung ....


__ADS_2