
Perjalanan berlanjut, kami ke luar dari plaza. Mr. Mark membawaku ke sebuah tempat. Sebuah katedral di tengah pusat St. Barbara.
"Ini Katedral St. Barbara. Bangunan pertama yang berdiri di St. Barbara sebelum rumah pertokoan dan plaza ada. Sayang, untuk umum tidak dibuka setiap hari. Jadi, kita hanya bisa melihat luarnya saja," terang Mr. Mark dengan semangat.
"Indah sekali!" kataku mengagumi keindahan katedral itu meski hanya dari luarnya saja.
Melihat jam menara di katedral yang hampir menunjuk pukul 12 siang, Mr. Mark segera mengajakku kembali.
"Jam makan siang hampir tiba. Mari, kita kembali, Riza!"
"Iya!"
Kami tiba ditempat. Di depan van sudah ada Mandy yang menunggu sambil membaca buku. Mandy langsung memberikan senyuman manisnya begitu melihat kami.
"Sudah mendapatkan apa yang kamu cari, Riza?" tanya Mandy.
"Aku harap begitu," jawabku sambil menunjukkan buku yang baru kubeli.
"Oh ... Semoga beruntung!" ucap Mandy.
"Trims," kataku.
"Yang lainnya belum datang?" tanya Mr. Mark.
"Mungkin sebentar lagi," jawab Mandy.
Tidak lama Sienna dan Justin datang disusul kemudian Alex dan Vanessa. Maka lengkaplah rombongan. Mr. Mark menyuruh kami naik ke van dan kami mulai menuju ke sebuah restoran untuk makan siang.
Pilihan siang ini jatuh pada sebuah restoran terbuka yang tak jauh dari Corola Beach. Berlokasi tidak jauh dari kawasan St. Barbara.
Kami turun untuk makan siang. Meja yang hanya tersedia untuk empat orang memisahkan kami menjadi dua kelompok. Aku, Mr. Mark, Mandy dan Alex di meja pertama. Kemudian Justin, Sienna, dan Vanessa di meja sebelahnya. Tak ingin membuang waktu kami segera memesan makanan dan menyantapnya. Karena Alex mengusulkan untuk pergi ke Corola Beach setelah ini. Semua juga setuju. Usai makan siang kami langsung menuju ke sana.
Pengunjung pantai cukup ramai siang ini. Kebanyakan memang wisatawan. Kami mulai berpencar ke mana-mana. Setelah sebelumnya Mr. Mark berpesan agar kembali berkumpul sebelum pukul 6 sore.
Aku mulai berjalan menyusuri tepian pantai. Alex menyusul kemudian.
"Hai, Eriza!" sapa Alex.
"Hai!" balasku.
Ia nampak bersemangat sekaligus gugup. Malah terdiam dengan sesuatu yang sepertinya susah dia ucapkan.
"Eriza," panggilnya.
"Ya. Kenapa?" tanyaku.
"Em ... Besok sore ... kami semua akan pulang ... meninggalkan New Angeles maksudku, kembali ke Jackville," katanya dengan terputus-putus.
"Lalu?" tanyaku sambil menatapnya yang makin gugup.
"Ya ... Aku berharap kita masih akan saling menghubungi seterusnya," jawab Alex.
"Bukannya kamu menyimpan nomor ponselku?" ujarku.
"Iya, aku masih menyimpannya. Kamu tidak keberatan bukan kalau suatu hari aku menghubungimu? Atau aku mengunjungimu di Losta?" tanya Alex penuh harap.
__ADS_1
"Ya, silahkan! Selama tidak mengganggu waktu istirahatku," jawabku.
Alex menyeringai.
"Tidak. Aku pasti akan memilih waktu yang tepat," katanya.
Dari kejauhan Vanessa datang dan menghampiri Alex. Dengan bicaranya yang cepat dan heboh mencoba mengambil perhatian Alex. Sambil memaksanya untuk ikut dengannya. Meski Alex menolak.
Aku juga tidak mau berlama-lama menjadi penghalang Alex untuk pergi dengan Vanessa. Aku memilih meninggalkan mereka saja.
"Sorry, aku pergi dulu, ya!" ujarku sambil lalu.
"Eh ... eh ... Eriza, mau ke mana?" panggil Alex coba menahanku.
"Sudah biarkan saja. Ayo kita ke sana!" kata Vanessa sambil menarik Alex.
Aku berjalan ke arah pondokan. Di salah satu pondok nampak Mr. Mark sedang duduk bersantai. Aku putuskan pergi ke sana. Tanpa bertanya langsung duduk di sebelahnya.
"Mau minum?" tawarnya.
"Tidak. Trims," balasku.
"Kamu tidak suka pantai, ya?" tanyanya menebak.
"Aku suka pantai. Mengapa anda bertanya begitu?" jawabku sambil bertanya balik.
"Aku pikir kamu tidak suka pantai karena kamu tidak turun bermain air, atau membuat sesuatu dengan pasir. Malah duduk-duduk di pondokan ini dengan pria tua. Hahaha ...." jawab Mr. Mark sambil tertawa..
"Kalau begitu anda-lah yang tidak suka pantai," giliranku mengatainya.
Mr. Mark tertawa pelan.
"Oh ... Oya, rombongan anda besok sudah akan pulang. Apa dengan begitu berakhir juga pekerjaan anda di sini?" tanyaku.
"Bisa dikatakan begitu. Aku harus membawa mereka kembali ke Jackville. Kemudian mencari wisatawan lain yang akan berlibur. Secara aku bekerja sendiri tanpa perantara agen perjalanan wisata," jelas Mr. Mark.
"Apa tidak terlalu repot seperti itu?" tanyaku lagi.
"Tidak. Lebih mudah dan murah. Kita bebas ke mana saja tanpa perlu dikejar waktu. Tidak juga harus mengikuti prosedur dari agen perjalanan. Mereka cukup membayar jasaku dan aku akan membawa mereka ketempat yang ingin mereka kunjungi selama apapun yang mereka mau," Mr. Mark menjelaskan dengan bersemangat.
"Oh, pekerjaan yang menyenangkan. Pasti tidak akan pernah bosan," ujarku.
"Ya. Tapi sebelumnya kamu harus tahu dulu seluk beluk kota yang akan menjadi tempat tujuanmu. Baru kamu bisa jadi pemandu mereka," balas Mr. Mark sambil tertawa. Aku ikut tertawa bersamanya.
"Oh ya, Mister. Ada tidak kendaraan umum yang bisa dipakai dari hotel menuju Dixie Holly? Dan butuh waktu berapa lama?" tanyaku pada Mr. Mark.
"Ada bis kota menuju ke sana, tapi bis hanya beroperasi sampai jam 10 malam saja. Waktu tempuh jelas sedikit lebih lamban. Kalau ingin cepat, naik taksi saja. Cari taksi yang memberi pelayanan 24 jam dan aman untuk seorang gadis sepertimu," jawab Mr. Mark.
"Kalau begitu apa Mr. punya kenalan taksi yang bisa dipercaya dan melayani panggilan 24 jam?" tanyaku penuh semangat.
Mr. Mark berpikir sebentar.
"Em ... Ada. Tunggu sebentar!"
Dan ia mulai mengeluarkan dompetnya mencari disela kantung kecil dompet kulitnya. Lalu mengeluarkan sebuah kartu nama. Ia memberikannya padaku.
__ADS_1
"Ini kartu namanya. Ia kenalan lamaku. Ia sudah puluhan tahun bekerja sebagai supir taksi. Aku pastikan dia orang yang bisa dipercaya. Dan melayani panggilan 24 jam," ujar Mr. Mark.
Aku menerimanya. Sebuah kartu nama dengan nama 'Richard Billy' beserta nomor teleponnya terpampang jelas.
"Ambil saja! Aku punya banyak," kata Mr. Mark sambil tertawa.
"Trims," balasku sambil tersenyum.
Di tepian pantai ada Sienna dan Justin. Sienna menoleh ke arahku yang mungkin heran melihat aku begitu akrab dengan Mr. Mark. Aku melambaikan tangan padanya. Ia membalasnya juga.
Kemudian aku pergi meninggalkan Mr. Mark. Berjalan tanpa arah di pesisir pantai. Saat aku melihat Mandy duduk di bawah pohon kelapa sendiri. Aku mendekatinya dan duduk di sampingnya. Pandangannya tak lepas dari buku tebal yang selalu ia bawa ke mana-mana.
"Apa aku mengganggu?" tanyaku.
"Tidak. Santai saja," jawabnya tanpa menoleh.
"Apa yang kamu baca?" tanyaku ingin tahu.
"Novel terakhir Harry Potter. Aku tertinggal dan ingin secepatnya menyelesaikannya," jawab Mandy dengan semangat.
Aku mengangkat kedua alisku. Apa ini berhubungan dengan dandannya yang aneh? Seperti Luna Lovegood?!
"Kamu suka Harry Potter? Mengapa tidak nonton filmnya saja?" tanyaku.
"Kamu akan kecewa setelah membaca novelnya kemudian menonton filmnya karena akan banyak adegan yang dihilangkan," jelas Mandy.
"Oh, begitu. Aku tidak tahu bahkan tidak pernah membaca novelnya," kataku.
Mandy lalu menutup bukunya kemudian menatapku dengan aneh.
"Bagaimana rencanamu?" tanyanya tiba-tiba.
"Rencana apa?" Aku balik bertanya, tak mengerti dengan maksud ucapannya.
"Kau mendekati Mr. Mark pasti bukan tanpa alasan, kan!?" singgung Mandy.
Aku terdiam sambil mengerutkan dahi.
"Kamu sudah dapat informasi yang kamu cari?" tanya Mandy. "Tentang penginapan yang misterius itu," sambungnya.
"Oh ... Tidak banyak. Dia sendiri tidak begitu tahu. Tadi aku membeli sebuah buku tentang Dixie Holly di St. Barbara. Semoga buku itu bisa menjawab rasa penasaranku," kataku.
"Mm ... Aku rasa akan lebih seru kalau kamu masuk dan melihat sendiri apa yang ada di dalam penginapan itu. Dan membuktikan sendiri apakah hantu atau manusia sosok yang kamu lihat waktu itu," Mandy berkomentar dengan entengnya.
"Hah? Aku harus masuk ke dalam penginapan itu? Kamu bercanda? Mr. Mark sendiri bilang kalau siapapun yang masuk ke sana tidak akan bisa ke luar," ujarku tak terbayang ide gila dari Mandy.
"Itu cuma rumor yang hanya untuk menakuti. Apa salahnya membuktikan. Bukankah kamu sangat penasaran dengan tempat itu! Yah, jika kamu punya cukup keberanian untuk melakukannya," balas Mandy menantang.
Memang benar aku penasaran setengah mati sama penginapan tua itu. Apalagi sosok yang muncul hilang tiba-tiba di depan jendela itu. Makin membuatku bertanya-tanya ada apa dibalik Dixie Holly. Tempat itu tidak mungkin dibangun dan dibiarkan begitu saja. Pasti ada alasan lainnya.
"Eriza," panggil Mandy menyadarkan lamunanku.
"Eh ... Iya?" jawabku.
"Diam saja. Ayo, gabung dengan Mr. Mark di pondok sana. Aku haus, ingin membeli minuman," ajak Mandy.
__ADS_1
"Ya, oke," Aku menyetujui. Dan kami beranjak menuju pondok yang masih sama di mana Mr. Mark duduk.
bersambung ....