Pangeran Dari Dunia Lain

Pangeran Dari Dunia Lain
Wanita Gipsy


__ADS_3

Suara ponsel yang berdering tiba-tiba membangunkan ku. Aku mengambilnya dengan setengah ngantuk dan menempelkannya ke telinga.


"Halo!"


📲[Hei, pemalas! Sudah siang masih belum bangun juga, ya?] ejek suara Edgar diseberang.


Aku terperanjat. Lalu bangun dan melihat jam dinding yang sudah menunjuk angka sembilan lewat tiga puluh menit.


"Edgar! Ya ampun ... aku bangun kesiangan!" balasku.


📲[Aku tidak mau tahu. Sekarang aku ada di lobby hotel. Cepat turun!]


"Tapi, aku belum mandi!"


📲[Aku beri waktu lima belas menit! Cepat sebelum aku ke sana! Kkkkkkk] ejek Edgar dengan tawa terkekeh sebelum ia memutuskan panggilan.


"Apa? Edgar. Edgar. Halo?"


Oh, sialan! Pemuda ini sungguh menjengkelkan! Aku lalu cepat-cepat mandi sambil menggerutu di dalam hati. Semalam aku membaca sampai ketiduran. Entah sampai jam berapa pastinya sehingga aku bisa bangun kesiangan. Tanpa sempat dandan kuraih tas dan memasukkan ponsel serta dompet dengan asal-asalan. Kemudian turun dengan cepat menuju lobby.


"Kamu terlambat sepuluh menit!" kata Edgar sambil melirik jam tangannya.


"Aku tidak memintamu datang tiba-tiba," aku menyalahkannya.


Edgar hanya tertawa melihat ku begitu cemberut.


"Ayo, Nona .... Kita sarapan dan setelah itu jalan-jalan sepuasnya!" ajaknya.


"Ke mana?" tanyaku.


"Ke museum dan toko barang antik!" jawab Edgar.


"Kamu tidak mungkin mencari Crystal di tempat seperti itu, bukan?!" aku bertanya memastikan.


"Aku tidak tahu. Aku sedang berusaha, ke manapun, tempat seperti apapun, aku akan cari dan datangi!" jawab Edgar tak punya pilihan.


Yah, meski sudah mengunjungi beberapa museum serta toko-toko barang antik tetap saja tak menemukan benda itu. Bahkan replika saja sekali pun tidak ada di museum. Ciri-ciri yang kami tahu hanya dari gambar saja. Edgar sampai mencari di toko berlian, tapi tetap saja tidak ada yang menjual berlian seperti itu.


Seharian ini sudah jalan pontang-panting ke sana-sini. Melewati tiap jalan dengan deretan pertokoan. Di mana melihat ada toko barang antik akan kami singgahi. Saat berjalan-jalan tak sengaja aku melihat sebuah toko yang agak mencolok dan berbeda dari toko lainnya. Toko Gipsy. Aku berhenti dan menarik Edgar yang berjalan selangkah di depanku.



"Kamu percaya pada Ramalan?" tanyaku.


"Tidak!" jawab Edgar.


"Tidak ada salahnya mencoba," kataku lantas aku menarik Edgar memasuki toko Gipsy tersebut.


Suasana dalam toko nampak remang. Dengan banyak benda-benda aneh bergelantungan. Tidak terlihat ada orang. Nampak sebuah ruangan di dalam yang dihiasi dengan tirai tipis setengah terbuka.


"Halo! Permisi ...," teriakku.

__ADS_1


"Masuklah!" jawab suara dari balik tirai.


Aku dan Edgar mengikuti suara itu. Kami masuk ke dalam. Di balik ruangan dengan tirai itu, seorang wanita Gipsy dengan mata berbinar sedang duduk di balik mejanya sambil menatap kami.



"Duduklah!" suruhnya.


Kami berdua duduk di depannya. Sementara sebuah bola kaca tergeletak di atas meja. Sebelum aku sempat mengatakan sesuatu, wanita itu lebih dulu membuka suara.


"Kalian dalam masalah besar! Kamu ...," wanita itu menunjuk Edgar.


"Kamu sedang berhadapan dengan maut! Dan kamu ...," wanita itu ini kini menunjukku.


"Kamu menyerahkan diri pada maut itu sendiri!"


"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti. Aku kan belum mengatakan apapun padamu?" tanyaku pada wanita Gipsy.


Tapi wanita Gipsy malah mengangkat telapak tangannya. Memberi isyarat agar aku berhenti bicara.


"Kamu tidak perlu mengatakan apapun. Yang kamu cari tidak ada di sini. Dan kalian tidak membutuhkan itu. Pulanglah ke tempat di mana kalian berasal. Sesuatu yang kalian cari ada di sana! Tapi ... jika kalian tetap bersikeras dengan keputusan kalian, kalian akan berhadapan dengan maut!" wanita Gipsy itu berkata dengan serius.


"Apa yang dikatakan wanita ini? Aku sama sekali tidak mengerti. Ayo, kita pergi saja! Kita tidak punya banyak waktu!" ucap Edgar langsung berdiri.


Wanita itu hanya menatap kepergian kami dengan sorot mata yang tajam.


"Katanya peramal tapi bicaranya tidak jelas! Peramal apa-apaan?!" gerutu Edgar begitu keluar dari toko itu.


Aku terdiam mencoba memahami ucapan wanita Gipsy tadi. Apa dia tahu apa yang sebenarnya kami cari? Dan itu tidak ada di kota ini? Tapi di Losta?


"Jangan bilang kamu sedang memikirkan ucapan wanita Gipsy tadi," ujar Edgar.


"Entahlah, Edgar. Aku tidak mengerti," kataku.


"Kamu tidak harus mengerti, Riza! Wanita itu pasti mengada-ngada, aku saja tidak tahu ke mana arah bicaranya. Tidak jelas. Itulah alasan aku tidak percaya peramal!" ujar Edgar.


"Lalu, sekarang kita mau ke mana?" tanyaku beralih topik.


"Aku tidak punya tujuan lagi. Bagaimana denganmu?" Edgar bertanya kembali.


"Tidak ada juga. Kalau begitu antar aku pulang saja! Aku ingin segera menyelesaikan buku yang ku pinjam kemarin," jawabku.


"Oke. Kamu mau aku menjemputmu jam berapa nanti malam? Kamu pasti ingin ke Dixie Holly, kan?" tanya Edgar.


Aku terdiam sesaat. Lalu dengan datar berkata.


"Tidak perlu. Aku sedang tidak ingin ke sana!"


"Begitu, ya?! Terserah kalau itu keputusanmu!" ujar Edgar santai.


Dan perjalanan hari ini berakhir. Aku kembali ke hotel. Melanjutkan buku yang ku pinjam kemarin. Aku hanya punya waktu empat hari untuk menyelesaikannya.

__ADS_1


Meskipun sudah malam aku masih sibuk membaca, hingga dering ponsel yang membuatku berhenti. Oh, Alex menelepon. Aku mengangkatnya. Tanpa basa-basi ia langsung menyerang ku dengan bertubi-tubi pertanyaan. Dia baru tahu kalau aku berada di Dixie Holly dari Sienna. Begitu mendengar berita itu ia langsung meneleponku. Aku jelas tak mungkin mengatakan tujuan awal aku kemari jadi aku katakan aku sedang membantu Edgar mencari sesuatu. Setelah ia yakin yang ku katakan benar barulah ia tenang. Dan berbicara lebih pelan padaku. Kami berbicara cukup lama. Mungkin karena sudah jarang berkomunikasi jadi banyak yang bisa diceritakan. Dia baru menyudahi telepon begitu mendengar aku mulai menguap.


Malam memang sudah semakin larut, walaupun sudah berkali-kali menguap tetap saja sulit untuk tidur. Aku lalu mengambil buku harianku, dan menulis beberapa patah kata di dalamnya.


┌──❀*̥˚──◌──────────◌──❀*̥˚─┐


...30 Oktober 2013,...


...Malam di Dixie Holly. Ini malam di mana aku tidak pergi menemuinya. Setelah sempat beradu mulut kemarin malam. Aku ingin tahu jika aku tidak menemuinya di sana, apakah dia akan datang mencari ku? Bukan hanya sekedar kata cemburu saja. Cemburu tanpa perasaan ataupun pernyataan, apa artinya?...


└◌───❀*̥˚───────────◌───❀*̥˚┘


...****************...


Sudah hampir dua minggu mungkin aku di New Angeles. Sudah berapa biaya hotel yang ku habiskan, ya? Meski sebenarnya tidak perlu mengkhawatirkan masalah itu.


Hari ini aku akan pindah ke apartemen murah yang tak jauh dari hotel tempat ku menginap. Aku menemukannya saat membaca iklan penginapan murah di koran. Dan Edgar akan membantuku pindah nanti.


Usai menyelesaikan biaya administrasi di hotel aku pun menuju ke apartemen yang sudah ku pesan sebelumnya. Edgar nampak tercengang begitu melihat kondisi kamar baru ku. Ruang tamu yang sempit, kamar tidurnya kecil, dapurnya juga kecil dan tidak ada tv maupun barang elektronik lain selain kulkas mini dan kipas angin.


"Kamu yakin akan betah tinggal di sini?" tanya Edgar yang malah tak yakin dengan keputusanku.


"Tentu saja! Kita kan bukannya tinggal menetap di sini," jawabku dengan senyum kepuasan.


"Seharusnya kamu biarkan aku menyelesaikan biaya administrasi di hotel. Dengan begitu kamu bisa menyewa apartemen yang lebih baik," ujar Edgar.


"Aku bukannya tidak punya uang! Aku hanya tidak mau menghamburkan uang orang tua ku," kataku dengan senyum menyungging.


Seharian ini Edgar berada di apartemen baruku. Dia juga membantuku beres-beres. Dan membelikan ku banyak makanan instan dan buah-buahan. Katanya persediaan kalau-kalau lapar tengah malam. Aku menertawainya. Aku malah tak pernah bangun di tengah malam hanya untuk makan. Edgar baru pulang saat hari sudah petang. Ia masih bertanya apakah aku akan ke Dixie Holly. Aku katakan tidak. Aku ingin membaca buku saja.


Setelah Edgar pulang dan setelah makan malam. Aku lanjutkan dengan buku bacaan ku kemarin. Cerita di buku ini memang bagus. Aku jadi tahu sejarah kota ini lebih banyak. Ceritanya jadi semakin menarik saat sampai pada bagian Legenda Kerajaan Dixie. Dulu Roger pernah bercerita mengenai Kerajaan ini. Aku semakin semangat membaca.


Di halaman pertama bagian ini ada gambar sebuah kerajaan. Kemudian halaman berikutnya bercerita mengenai kejayaan Raja Lucent Dixie dalam memerintah kerajaannya. Gambar Raja Lucent Dixie pun terpampang jelas. Melanjutkan ke beberapa halaman berikutnya ada gambar keluarga Raja Dixie.



Dari keterangan di bawah gambar tertulis Raja Lucent Dixie, Ratu Maera Dixie dan Pangeran Wallace Dixie.


Wallace Dixie? Namanya persis seperti nama Wallace dan wajahnya pun mirip terutama warna matanya.



Ku perhatikan lebih detail lagi gambar Pangeran Wallace Dixie, ya memang mirip. Aneh, apa mungkin ada dua orang berbeda yang begitu mirip, ya?


Saat sedang berpikir demikian rupanya ada yang lebih menarik perhatian. Ya, kalung yang dipakai Ratu Maera Dixie, itu Crystal Orlov!



Sama persis seperti gambar yang ditunjukkan Edgar waktu itu. Aku semakin penasaran dan melanjutkan bacaan ke halaman berikutnya. Tidak ada keterangan lain lagi mengenai Crystal Orlov. Setelah Ratu wafat, Raja Edmund Darkoven yang berhasil memilikinya. Tapi tidak lama kemudian Raja Edmund wafat dan Crystal itu ikut lenyap entah ke mana. Dan sampai kini masih menjadi misteri.


Satu lagi fakta yang lebih menarik. Meskipun tidak ada keterangan mengapa Dixie Holly menjadi kawasan mati yang ditinggalkan oleh penghuninya, tapi di buku ini tertulis jelas bahwa letak Kerajaan Dixie dulunya ada di Dixie Holly. Pantas saja nama mansion dan penginapan di sana mirip dengan nama keluarga kerajaan. Aku jadi bertanya-tanya apakah istana Dixie sudah hancur digantikan bangunan modern itu? Karena aku sama sekali tidak melihat ada sisa istana atau bangunan kuno peninggalan jaman dulu yang masih berdiri di sana. Perjalanan ini semakin menarik. Aku seperti berada dalam dunia dongeng saja.

__ADS_1


Tak terasa sudah hampir tengah malam. Selesai juga bacaanku. Besok bisa langsung mengembalikannya ke perpustakaan. Hoamz .... Aku mulai mengantuk. Lelah duduk dari tadi sore. Ku rebahkan tubuh di atas kasur, meski kasur di sini tidak seempuk di hotel. Cukup untuk membuat tidur nyenyak.


bersambung ....


__ADS_2