
Sekarang rombongan kami bertambah satu orang lagi, yaitu Edgar. Sejak beberapa hari belakangan ini ia menghabiskan liburannya bersama kami. Meski kadang sekali dua kali kami hanya pergi berdua saja.
Hari ini tepat hari Natal. Suasana Natal di New Angeles rupanya sangat meriah. Sehari sebelumnya diadakan lomba lari kostum Santa. Alex, Justin, Edgar, Suzan dan Sienna bahkan ikut serta. Meski tak jadi pemenang tapi mereka sangat bangga bisa mengikuti lomba lari massal ini. Lalu ada festival dan parade-parade di jalanan. Hingga hari ini pun parade masih digelar. Semua turun memenuhi jalan. Para penari turun menari di jalanan, serta santa-santa yang membagikan coklat dan permen kepada anak-anak di sepanjang jalan. Semua senang, semua bersorak dan bergembira. Sekarang Edgar sibuk merekam dengan ponselnya.
"Eriza, say 'hai' ...," seru Edgar sambil mengarahkan ponselnya ke arahku.
Aku tersenyum sambil melambaikan tangan padanya. Cukup lama setelah itu baru Edgar beralih ke sisi lain.
Parade terus berlangsung hingga malam hari. Sementara kami sudah lelah dan memilih kembali ke hotel untuk istirahat dan makan. Untuk pertama kalinya ini Natal yang paling berkesan. Sahabat dan keluarga, semuanya berkumpul bersama di satu meja dan makan bersama. Ini moment yang sangat jarang. Aku sungguh merasa senang. Wallace pun pasti melihatku dan ikut senang. Usai makan malam aku dan Edgar masih berjalan-jalan di sekitaran hotel.
"Bisa temani aku ke suatu tempat?" tanyaku pada Edgar.
"Tentu. Ke manapun kamu ingin pergi!" jawab Edgar dengan senang hati.
Meski awalnya sedikit keberatan setelah ku bilang tujuanku ke Dixie Holly. Namun Edgar mengantarku juga. Begitu sampai aku menyuruhnya turun dan ikut bersamaku. Malam ini sangat ramai. Benar-benar berdesakan. Edgar masih bingung apa yang ingin ku lakukan di sini. Aku juga tak memberitahunya. Sampai kami tiba di Katedral. Aku memandangnya dan mengajaknya masuk. Malam ini juga lebih ramai dari hari biasanya. Seluruh tempat duduk sampai penuh. Di antara para jemaat yang sedang bernyanyi khusuk. Aku panjatkan doa untuk kebahagiannya di alam sana. Semoga Tuhan memaafkannya dan memberinya tempat terbaik di sana. Dan semoga kelak Tuhan mengijinkan kami bertemu kembali.
...*****...
Tahun baru sudah tiba. Semua orang turun ke jalan. Untuk ikut merayakan malam pergantian tahun ini. Termasuk keluarga dan sahabatku. Kami berkumpul di depan Glows Tower. Salah satu lokasi yang paling ramai, di mana kembang api akan dimainkan secara serentak di sana. Benar-benar menakjubkan. Saat ribuan kembang api menyala di atas langit New Angeles. Keindahan Glows Tower pun semakin nampak dengan warna-warni kembang api yang menghiasinya.
Hampir 35 menit pertunjukan kembang api itu berlangsung. Setelah lewat pukul satu dini hari semua penonton mulai berpencar. Tapi aku masih betah duduk di sana. Tak ada rasa kantuk sama sekali. Bibi Jane saja nampak mulai kelelahan. Jadinya mereka pulang duluan meninggalkan aku dan Edgar. Namun rupanya masih ada Alex dan Ginnevra yang tinggal. Keduanya duduk agak jauh dari kami.
"Bagaimana? Kamu belum mau pulang?" tanya Edgar.
"Aku belum ngantuk. Malam ini sungguh indah! Ini pengalaman pertamaku menyaksikan kembang api di malam pergantian tahun. Dan sangat menakjubkan!" jawabku dengan penuh kagum.
"Kalau begitu tahun depan kita datang lagi saja!" ujar Edgar.
__ADS_1
"Ya, semoga saja bisa berkumpul bersama seperti ini lagi," aku berharap.
"Eriza, maaf bukannya aku ingin mengingatkanmu, tapi kamu terlihat lebih bahagia!" ucap Edgar hati-hati.
"Ya, setelah aku menyadari sesuatu. Hidup bermula dari perjumpaan dan berakhir dengan perpisahan. Itu hukum yang pasti. Tidak bisa diubah. Cepat atau lambat hanya tergantung waktu. Aku merasa beban ku semakin berat saat aku merasa sedih. Namun saat aku tersenyum mengingatnya semua beban itu hilang. Itu seolah memberi tanda bahwa dia ikut bahagia melihatku bahagia. Maka jika dengan begitu dapat membuatnya tenang aku akan terus bahagia untuknya," aku menerangkan sambil membayangkan wajah Wallace yang tersenyum.
"Apa itu juga berarti kamu akan membuka hatimu untuk orang lain?" tanya Edgar pelan.
"Mungkin. Tapi entahlah, mungkin tidak sekarang! Aku butuh waktu untuk memperbaiki sedikit retakan di hatiku! Hahahaha ...," jawabku sambil tertawa mencandai Edgar.
"Aku akan menunggu," ucap Edgar dengan suara kecil.
"Apa?" tanyaku karena tak mendengar jelas.
"Tidak, bukan apa-apa," jawab Edgar sambil tersenyum.
...*****...
Sekembali dari New Angeles, itu berarti liburan sudah berakhir. Dan waktu untuk kembali bergelut dengan buku-buku tebal pelajaran dan tugas kuliah. Hanya tinggal beberapa bulan lagi aku akan mendapat gelar sarjana. Berarti aku harus mulai belajar dengan lebih giat lagi. Tidak ada waktu untuk bermain-main. Begitu kembali ke kampus, kami semua fokus untuk belajar. Dan hanya berkumpul sebentar di taman kampus saat usai kuliah. Rutinitas ini terus berlanjut selama beberapa bulan. Aku dan Edgar pun jarang bertemu karena selalu beda kelas. Kesibukan ini baru berakhir setelah tugas akhir kuliah kami selesai. Aku boleh banyak bermain sekarang. Hanya tinggal menunggu hasilnya saja.
Seiring berjalannya waktu dengan semua kesibukan itu membuatku tak sempat memikirkan perasaan kehilangan. Aku pun lebih bisa merelakannya. Dan lepas dari keterpurukan yang selama ini membebani pikiran. Kata Edgar aku sudah kembali menjadi diriku yang dulu. Ya karena aku ingin dia bahagia di sana maka aku pun harus bahagia di sini, supaya dia tidak terus menyalahkan dirinya. Aku selalu memegang kata-kata itu. Maka aku harus bisa menerima kenyataan.
...*****...
Sudah lama tidak pernah membersihkan kamar. Sejak tahun baru lewat terus sibuk. Mumpung sekarang hari minggu aku habiskan waktu dengan membereskan kamar. Ku buka lemari pakaian dan merapikannya, kemudian ke laci meja belajar yang sangat semrawut. Barang-barang berantakan tak karuan. Lalu saat membuka laci paling bawah, nampak amplop merah maroon yang berserakan. Ku keluarkan semua amplop itu. Dan mengikatnya jadi satu. Kemudian aku juga menemukan buku harian ku yang sudah lama tidak pernah ku tulis. Aku membolak-balikkan tiap lembar halamannya. Sampai halaman yang bercerita mengenai Wallace, aku melipat semua halamannya itu dan menyatukannya dengan clip kertas. Aku tidak ingin merobeknya, aku ingin ini tetap tersimpan sebagai kenangan yang tak akan ku buka lagi.
Setelah kamar bersih dan rapi aku keluar membawa semua amplop merah maroon yang sudah terikat. Aku berjalan ke teras belakang rumah. Hari masih sore dengan matahari yang cukup menyengat. Aku duduk di depan tumpukan daun kering. Lalu ku buka lagi semua isi di dalam amplop. Membacanya kembali satu persatu. Semua ini adalah tulisan tangan Ginnevra, aku rasa tak ada gunanya disimpan. Lantas ku buang semua amplop beserta isinya ke dalam tumpukan daun kering. Lalu menyalakan api yang seketika membakar habis semuanya. Tepat ketika itu Edgar datang menemui ku. Ia mengajakku keluar dan kami pergi jalan-jalan hingga malam.
...*****...
__ADS_1
Seperti biasanya aku tetap masuk ke kampus meski kuliah sudah selesai. Ya alasannya banyak, selain melihat iklan lowongan pekerjaan, bertemu teman, menyendiri di perpustakaan, seharian di ruang komputer, atau yang paling sering menonton pertunjukan musik di cafe. Cafe ini tidak pernah sepi meski libur kuliah.
Aku sedang duduk di salah satu meja bersama Sienna dan Suzan. Kami sedang mengobrol masalah pekerjaan yang akan di ambil Suzan. Saat tiba-tiba layar proyektor di depan panggung menayangkan sebuah musik video. Alunan musik yang ku kenal, ya tidak salah lagi itu lagu yang ku nyanyikan dulu, I never told You. Semua mata langsung tertuju ke depan layar. Sekarang video itu menampilkan gambar diriku yang sedang bernyanyi kemudian berpindah ke adegan lain. Adegan yang sempat direkam oleh Edgar di New Angeles. Aku sebenarnya malu ingin menyembunyikan wajahku, namun aku penasaran apa saja isi video itu jadi aku pun menontonnya sampai habis. Aku sangat kagum dengan editor video tersebut. Itu seperti musik video betulan di mana akulah penyanyi dan modelnya.
"Bagaimana bagus, bukan?!" tanya Edgar yang entah kapan sudah duduk di sebelahku.
"Keren!" puji Suzan sambil bertepuk tangan.
"Jadi, kamu pelakunya? Membuatku malu saja!" gerutu ku.
Edgar tersenyum sambil mengacak rambutku.
"Tidak perlu malu. Semua menyukainya!" katanya kemudian.
Aku diam. Memang benar, semua orang nampak menikmatinya. Tidak ada tatapan sinis ke arahku.
"Sepertinya kamu punya bakat jadi sutradara musik," goda Sienna pada Edgar.
"Aku harap begitu! Coba lihat video berikutnya!" kata Edgar.
Video berikutnya menayangkan lagu yang dibawakan band Russel. Meski konsepnya live namun dengan keterampilan editing Edgar, video musik itu nampak berwarna dan tidak membosankan. Karena kamera tidak hanya menyorot ke satu sisi saja. Semua pengunjung sangat menikmati video musik yang hanya berisi lima lagu tersebut.
bersambung ....
Suka dengan cerita ini? Berikan dukunganmu dengan hadiah 🌹 ☕ ataupun iklan ⏪ gratis ya!
Kepoin juga cerita fantasi lain dari author, yuk! Dijamin gak kalah seru deh!
__ADS_1