
...★━━━━Pov2━━━━★...
Saat Eriza kehilangan kesadaran sebenarnya Wallace telah merasuki tubuhnya. Matanya berubah menjadi biru. Dia menjadi lebih kuat. Dia mengangkat kepalanya dan mencengkeram balik leher Nancy. Dengan sekuat tenaga dihempaskan nya tubuh Nancy hingga membentur dinding dan menghancurkan benda didekatnya. Eriza berjalan mendekat. Nancy masih dapat berdiri tanpa terluka sedikitpun.
"Kamu tidak mungkin mengalahkan ku!" kata Nancy dengan sombongnya.
Seketika Nancy maju menyerang Eriza. Meski Wallace yang merasuki tubuh Eriza cukup kuat, tentu saja ia juga tak ingin kalah. Keduanya saling menyerang. Sebuah pukulan dari Nancy berhasil mendarat di sudut bibir Eriza. Sehingga menciptakan luka. Wallace jadi marah. Dia membalas menyerang Nancy dan berhasil mencengkeramnya. Dengan kuat menghempaskan tubuh Nancy ke lantai. Namun Nancy segera bangkit tanpa luka sedikitpun. Ia membalas serangan Eriza, mendorong tubuh gadis itu hingga menubruk dinding kemudian mencekik leher Eriza dengan kuat. Eriza balas mencekik leher Nancy. Semua teman Eriza yang menyaksikan peristiwa itu sangat terkejut dan tidak bisa berbuat apa-apa.
"Wallace, kamu tidak akan mengalahkannya dengan cara seperti itu! Kamu juga bisa membunuh Eriza!" teriak Edgar yang juga menahan sakit dari luka di lehernya.
Tersadar dengan ucapan Edgar, cengkeraman tangan Eriza di leher Nancy melemah. Wallace ingat ini bukan tubuhnya. Dan Nancy bukan manusia biasa.
"Kamu memang kuat tapi aku tidak akan kalah!" ujar suara Wallace yang keluar dari mulut Eriza pada Nancy.
Edgar melihat belati yang dibuang Nancy di lantai, kemudian ia memungut belati itu lalu melemparkannya pada Eriza.
"Wallace!" teriak Edgar.
Eriza menoleh tepat saat Edgar melemparkan belati milik Nancy padanya. Eriza berhasil menangkapnya, kemudian dengan sekali ayunan belati itu menancap tepat di jantung Nancy. Tidak ada darah yang keluar. Nancy melihat belati yang masih dipegang Eriza menancap di jantungnya. Beberapa menit kemudian tubuh Nancy perlahan berubah. Kulitnya yang kencang dan mulus mulai kendur dan mengerut, wajahnya juga berubah menjadi keriput seperti nenek-nenek tua.
"Oh, tidakkkk ...," teriak Nancy histeris. Ia menutup wajahnya yang telah menua sambil berjalan mundur menjauh dari Eriza.
Kemudian perlahan-lahan seluruh tubuh Nancy yang telah renta itu mengering hingga tersisa tulang dan akhirnya hancur luluh lantak ke atas lantai. Sosok Nancy berubah menjadi gundukan abu. Hanya pakaiannya saja yang masih utuh.
Wallace akhirnya keluar dari tubuh Eriza. Tubuh Eriza langsung lunglai, untung Edgar berhasil menangkapnya sebelum jatuh.
Edgar dan teman-temannya kemudian mendekat. Edgar dibantu Alex membawa tubuh Eriza ke kamar Ginnevra. Kemudian dibaringkan di atas sofa. Sienna mulai mengobati luka Eriza. Sedangkan Suzan membalut luka di leher Edgar. Namun tak ada yang berani bertanya apa yang terjadi pada Eriza. Mereka hanya diam saja.
"Ini kalungnya! Apa warnanya memang hitam?!" ujar Sienna sambil menyerahkan kalung itu.
Edgar menerima kalung itu.
"Seingat ku warnanya merah!" jawab Edgar.
"Pakaikan itu dilehernya, Edgar!" suruh Wallace.
Edgar menurutinya. Dipakaikan Hati Ruby ke leher Ginnevra yang tertidur. Meski sudah memakai kalung itu, namun belum ada reaksi darinya. Warna hatinya tetap hitam.
"Dia belum bangun juga?!" ujar Suzan.
"Kakak, bangunlah!" kata Edgar sambil menggenggam erat tangan Ginnevra.
"Kakak, aku minta maaf sudah jadi adik yang menyebalkan. Bangunlah, Kak! Rumah sangat sepi tanpa alunan piano yang kamu mainkan. Aku janji setelah kamu sadar aku pasti akan lebih banyak menemanimu dan mengajakmu jalan-jalan," Edgar melanjutkan kata-katanya.
Disaat itu Eriza mulai menggerakkan kepalanya. Perlahan matanya terbuka, dan ia mendapatkan kembali kesadarannya.
...★━━━━━━━━━━━━★...
__ADS_1
... ....
.......
.......
.......
.......
Aku melihat sekelilingku. Semua temanku berada di sini. Bukankah ini kamar Ginnevra?! Sienna duduk di sampingku tersenyum begitu melihatku sadar.
"Akhirnya kamu sadar!" ucapnya.
"Apa yang terjadi?" tanyaku sambil menatap sekeliling.
Teman-temanku semua berkumpul di sini. Di samping tempat tidur Ginnevra, Edgar duduk sambil memegang tangan Ginnevra yang masih terbaring.
"Kakak, kumohon bangunlah!" pinta Edgar.
Aku mengangkat tubuhku untuk bangun. Namun aku meringis merasakan punggungku yang sakit. Sienna mendekati ku untuk membantu. Aku meyakinkannya kalau aku tidak apa-apa. Aku mendekati Edgar. Lalu ikut berjongkok di samping tempat tidur Ginnevra.
"Ginnevra, bangunlah! Kami semua mencemaskanmu! Apa kamu bisa mendengarkan kami?" Aku berkata pada Ginnevra yang sedang tidur itu.
"Sepertinya percuma," ujar Edgar menyerah.
"Apa tidak ada mantra khusus untuk membangunkannya?" tanya Suzan.
"Alex, bukan saatnya bercanda!" tegur Sienna.
"Ups, sorry!" ujar Alex.
"Seharusnya mantranya ikut hilang bersama musnahnya nenek tua itu!" kata Wallace.
Namun aku lebih tertarik pada ciuman sang pangeran, aku langsung menatap Wallace yang berada tak jauh dari sana. Wallace balas menatapku.
"Bagaimana dengan pangeran yang biasa dipanggil nona? Aku tidak tahu apa pangeran itu nyata? Karena nona sering berbicara sendiri. Awalnya aku mengira nona sedikit ...," ujar Yuna dengan hati-hati.
"Tidak mungkin!" kata Edgar.
"Mungkin saja!" aku menimpali tapi tatapanku tak lepas dari Wallace.
"Eriza, kamu tidak berpikir kalau ...," Edgar berbicara namun ku potong,
"Edgar, kamu ingat siapa yang paling dekat dengan Ginnevra selama ini? Pernahkah dia bersama pemuda lain di luar sana? Kamu mungkin melihatnya sedang jatuh cinta tapi kamu tidak tahu dengan siapa. Orang yang selama ini dekat dengannya, menemaninya, bermain dengannya, bisa jadi juga orang yang ada di hatinya. Tidak peduli dia itu apa!"
"Jadi maksudmu ...," Edgar agak ragu untuk berkata.
__ADS_1
"Wallace! Kamu yang bisa membangunkannya!" kataku tapi kini aku berpaling dari wajahnya.
"Siapa Wallace? Tidak ada yang bernama Wallace di sini!" Justin bertanya dengan bingung.
"Ssttt!" Sienna menyuruhnya diam.
"Wallace, bicaralah padanya! Mungkin hanya kamulah yang bisa membangunkannya!" kataku.
"Mengapa kamu berpikir begitu?" tanya Wallace.
"Karena kamu yang paling dekat dengannya!" jawabku.
"Kamu ingin aku menciumnya? Kamu tidak lupa kan aku ini apa?!" tanya Wallace lagi.
"Aku tidak peduli kamu itu apa. Kalau kamu bisa menemaninya sampai selama ini, tidak mungkin kamu tidak bisa menyentuhnya. Seperti aku yang bisa melihatmu dan menyentuhmu. Kamu mungkin juga tidak lupa," jawabku.
"Sudah, bukan saatnya berdebat. Sekarang cuma kamu satu-satunya harapan untuk membangunkannya. Pangeran, kumohon!" ucap Edgar. Padahal dia tak suka memanggil Wallace pangeran.
"Aku akan coba jika kalian memaksa!" jawab Wallace akhirnya.
Wallace mendekati Ginnevra. Ia duduk di sampingnya. Kemudian membungkukkan badan membisikkan sesuatu di telinga Ginnevra. Tidak ada yang tahu apa yang Wallace bisikkan. Aku memalingkan wajah darinya. Sepertinya Edgar mengerti perasaanku. Ia memegang bahuku, mencoba menghibur walau tanpa berkata. Aku hanya menatapnya saja.
Saat Wallace mencium Ginnevra hal ajaib terjadi. Semua yang ada di sana kaget. Mereka dapat melihat Wallace saat itu juga. Tapi kemudian Wallace menghilang menjadi kilauan crystal yang menyelubungi tubuh Ginnevra. Perlahan warna hitam pada Hati Ruby mulai memudar kembali ke warna sebelumnya, merah. Kala itu tangan Ginnevra mulai bergerak. Matanya mengerjap-ngerjap dan perlahan terbuka. Semua tersenyum padanya, termasuk aku.
"Kakak, akhirnya kamu sadar!" ujar Edgar senang. Ia langsung memeluk Ginnevra yang nampak masih kebingungan.
"Kalian siapa? Kenapa ada di kamarku?" tanya Ginnevra heran.
"Mereka semua teman barumu!" jawabku.
"Kamu? Teman baru? Apa maksudnya?" tanya Ginnevra masih tak mengerti.
"Kamu tidak ingat?" tanya Edgar.
Ginnevra menggelengkan kepala. Ia melihat kalung yang menempel di lehernya. Kemudian mencari-cari sesuatu di sekelilingnya. Aku tahu siapa yang ia cari.
"Sepertinya tugas kita sudah selesai. Ayo, saatnya pergi!" kataku sambil beranjak. Begitu juga teman yang lainnya mulai meninggalkan kamar Ginnevra.
"Eriza," panggil Edgar.
Aku menoleh.
"Kita bicara lain kali saja! Sekarang temani kakakmu!" kataku padanya.
"Tapi aku belum bilang terima kasih. Hei .... Terima kasih untuk kalian semua!" teriak Edgar karena kami tak menghiraukannya. Aku hanya melambaikan tangan saja padanya.
Kemudian aku pergi. Di depanku sudah menunggu Sienna dan Suzan. Mereka langsung mengapitku begitu aku datang. Tugas kami sudah selesai. Saatnya kami pulang.
__ADS_1
Di perjalanan pulang, mereka bercerita dengan seru. Memberitahu ku bagaimana aku bertarung dengan Nancy. Meski awalnya keheranan tapi akhirnya mereka mengerti bahwa itu bukan aku. Dan sedikit takut membayangkan aku kerasukan. Namun dari sini aku mengetahui bahwa Ginnevra juga mencintai Wallace. Meski ia tahu jelas siapa Wallace sebenarnya. Gadis itu jauh lebih berani daripada aku.
bersambung ....