Pangeran Dari Dunia Lain

Pangeran Dari Dunia Lain
Ungkapan Hati Edgar


__ADS_3

Hari wisuda akhirnya tiba. Upacara wisuda diadakan cukup lama. Setelah selesai dengan semua embel-embel wisuda, kami kembali ke rumah. Bibi Jane merayakan hari wisuda kami dengan makan malam di restoran Jepang.


Lepas dari bangku kuliah kini kami memasuki pengalaman baru. Semuanya tengah sibuk mencari pekerjaan. Sementara Suzan sudah mendapatkan pekerjaan barunya. Sienna menunggu lamarannya dipanggil di Jackville. Ia sengaja mencari pekerjaan di sana supaya mudah menemui Justin. Aku juga masih menunggu panggilan pekerjaan. Aku bahkan memasukkan beberapa surat lamaran di perusahaan berbeda. Sementara Edgar masih cukup santai. Dia tidak memusingkan untuk membuat surat lamaran. Dia lebih tertarik di dunia entertainment, bekerja di belakang panggung atau malah menjadi seorang penyanyi. Itu hal mudah baginya. Karena dia memang berbakat di bidang itu. Kami masih berkumpul hingga beberapa hari ke depannya. Sampai sebuah perusahaan meneleponku dan membuat janji interview denganku. Aku menyetujui.


Tibalah hari di mana aku di interview, akhirnya aku mendapatkan pekerjaan pertamaku. Tapi bukan di kota ini. Aku ditempatkan di luar kota yang cukup jauh dari Losta. Ini pengalaman baru bagiku. Jadi aku mengambil pekerjaan itu. Bibi Jane dan Sienna ikut senang mendengarnya, meskipun sedikit berat membiarkan aku pergi sejauh itu sendiri. Aku meyakinkan mereka bahwa inilah yang aku inginkan. Aku ingin bisa hidup mandiri dengan kemampuanku sendiri. Mereka pun mendukungku dan selalu memberi semangat. Masih ada waktu tiga hari sebelum aku berangkat.


Dua hari sebelum berangkat Edgar mengunjungiku. Ia mengajakku ke luar dan membawaku ke pantai. Suasana pantai sangat sepi. Kami berjalan menyusuri pesisir pantai.


"Kamu pernah bilang kamu suka dengan pantai, jadi aku membawamu kemari. Kamu masih tidak bosan, kan?" tanya Edgar basa-basi.


"Tidak. Kalau suka tidak akan pernah bosan!" jawabku.


"Baguslah. Hmm .... Jadi, kamu benar-benar akan pergi, ya?" tanya Edgar.


"Iya! Ini pengalaman baru, aku akan mulai hidup mandiri dengan kemampuanku di kota yang asing bagiku. Ini seperti sebuah petualangan! Pasti akan menyenangkan!" jawabku bersemangat.


"Aku ikut senang. Aku berharap kamu mendapat banyak kemudahan di sana. Memangnya kamu tidak takut?" tanya Edgar.


"Tidak. Selama aku di sana, semua fasilitas sudah ditanggung perusahaan. Ada tempat tinggal dan kendaraan khusus untuk karyawan dari luar kota. Aku hanya perlu mencari uang makan saja! Hahahaha ...," jawabku sambil tertawa.


"Itu bagus! Aku tidak perlu cemas," ujar Edgar lega.


"Eh, kenapa kamu yang cemas?" tanyaku heran.


"Itu karena ... karena ... Emm ...," Edgar nampak gugup.

__ADS_1


"Karena apa? Kamu terlihat gugup," tanya ku.


"Ya, mungkin sudah saatnya aku katakan padamu!" ujar Edgar.


Aku masih tak mengerti maksudnya. Aku duduk di tepian pantai dengan Edgar yang mengikuti. Sambil menikmati cuaca cerah hari ini.


"Apa yang ingin kamu katakan?" tanyaku kemudian.


"Eriza, aku tidak mau kejadian seperti dulu berulang. Sebelum kamu pergi aku ingin memberitahumu bahwa aku menyukaimu .... Ah bukan ... tapi aku mencintaimu! Sejak pertama kali berbicara denganmu! Aku jatuh cinta padamu! Selama ini aku terus memendamnya, aku tidak berani mengatakannya," kata Edgar mengungkapkan perasaannya.


"Apa maksudmu, Edgar?! Bukankah kita ini sahabat?" tanyaku.


"Aku mengerti Riza, kamu pasti belum bisa melupakan Wallace. Tapi, tolong beri aku kesempatan. Tidak ada salahnya bukan bila aku mencintai sahabatku?! Aku juga tidak meminta jawabanmu sekarang. Aku akan menunggu kamu pulang, dan menunggu sampai kamu siap!" jawab Edgar dengan serius.


"Aku tidak tahu, Edgar. Selama ini aku hanya menganggapmu sahabat. Kamu sangat baik padaku. Aku tidak pernah menduga kalau kamu punya perasaan lebih padaku," jawabku.


"Entahlah Edgar aku tidak bisa berjanji. Saat ini aku hanya fokus pada pekerjaan dan kehidupan baru. Aku belum berpikir untuk memulai suatu hubungan," aku menjelaskan pada Edgar.


"Aku mengerti. Tapi aku pasti akan kesepian kalau kamu tidak ada di sini. Aku berencana akan ke luar negeri setelah kamu meninggalkan Losta. Mengejar mimpiku di dunia entertainment atau meneruskan perusahaan orang tuaku. Meski bukan pilihan yang sulit. Em ... Riza, janji ya akan terus menghubungiku di sana? Aku tak mau kehilangan kontak denganmu!" pinta Edgar.


"Baiklah. Nomorku tidak pernah ku ganti. Kamu bisa menghubungiku kapan saja, kecuali jam kerja!" kataku.


"Pasti! Dan kalau kamu kembali ke Losta, kamu harus memberitahuku. Aku pasti akan pulang juga untuk menemuimu! Kamu janji?" tanya Edgar sambil mengulurkan kelingkingnya.


"Apa cara ini masih berlaku?" candaku. Namun ku lingkarkan juga kelingkingku ke kelingkingnya.

__ADS_1


"Janji!" ucapku.


"Aku menunggu!" ujar Edgar dengan senyum puas.


Aku tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Hingga matahari condong ke barat. Kami masih betah duduk di sana. Sambil menikmati sunset terakhir di Losta.


...*****...


Bibi Jane, Sienna dan Edgar ikut mengantarku ke bandara. Bibi Jane terlihat sedih namun masih tersenyum memberi semangat untukku. Dia tahu tak lama lagi ia akan tinggal sendiri karena Sienna juga akan pergi. Begitu juga Sienna, kami berpelukan sebentar. Dan Edgar memelukku dengan erat. Ia berbisik kecil ditelingaku, 'aku akan sangat merindukanmu!'


Aku hanya tersenyum. Kemudian Edgar menyodorkan sebuah bingkisan untukku.


"Apa ini?" tanyaku.


"Ambil saja! Ini sebagai pengobat rindumu di sana!" jawab Edgar sambil tersenyum.


Aku juga tersenyum sambil berkata 'trims'.


"Jaga diri baik-baik di sana, Eriza!" pesan bibi Jane.


"Iya, Bibi ...," balasku.


"Ingat untuk menghubungi ku," timpal Edgar.


"Iya," jawabku.

__ADS_1


Aku melambaikan tangan pada mereka sebelum aku masuk ke ruang khusus penumpang. Di dalam pesawat baru ku buka bingkisan itu. Isi nya sebuah vcd tanpa cover. Aku sudah bisa menebak apa isi di dalam vcd ini. Aku kembali tersenyum.


bersambung ....


__ADS_2