Pangeran Dari Dunia Lain

Pangeran Dari Dunia Lain
Lavender Park


__ADS_3

Pagi ini kami sedang sarapan sandwich sambil mengobrol ringan. Bibi Jane sedang menceritakan kejadian lucu mengenai karyawan baru di kantornya. Sampai membuat kami semua tertawa. Tawa kami berhenti begitu sebuah mobil berhenti di depan rumah dan membunyikan klaksonnya dengan nyaring. Sienna langsung bangkit dan berlari keluar rumah. Sepertinya aku bisa menebak siapa yang datang.


Ya, tak lama kemudian suara tawa Sienna serta seorang pemuda yang tak asing terdengar memasuki rumah. Mereka langsung menemui ku dan bibi Jane di meja makan.


"Selamat pagi, Bibi!" sapa Justin.



"Hai, kalian berdua sudah lama sekali tidak datang kemari!" ujar Bibi Jane sangat senang. Ia langsung berdiri memeluk Justin dengan hangat.


Aku menoleh pada tamu yang datang itu. Tebakanku benar yang datang Justin dan Alex.


"Hai, Riza!" sapa Alex malu-malu.


"Hai," balasku.


"Bagaimana kabarmu?" tanyanya hangat.


"Baik," jawabku datar. Pemuda ini sedikit banyak berubah sejak beberapa bulan terakhir ia kemari.


"Kalian berdua pasti belum sarapan? Ayo, duduk! Kita sarapan sama-sama!" ajak bibi Jane sembari menyodorkan piring berisi Sandwich.


Kedua pemuda itu menerima tawaran bibi dengan senang hati.


...******...


Mobil Alex melaju menuju ke Lavender Park. Hari ini kami berempat akan menghabiskan waktu libur di sana. Ini merupakan usulan Justin. Yang aku tahu itu adalah sebuah taman bunga. Aku sendiri belum pernah ke sana karena jaraknya yang cukup jauh dari pusat kota. Hampir dua jam-an perjalanan kami dengan mobil. Hingga akhirnya tiba di tempat tujuan.


Cukup ramai pengunjung di hari libur seperti sekarang ini. Alex mengemudikan mobil ke parkiran yang kosong. Dan kami semua turun. Dengan berjalan kaki memasuki area taman Lavender yang sangat luas. Sesuai nama tempatnya di mana hanya bunga Lavender yang tumbuh di taman ini. Kami sampai di padang bunga Lavender. Di mana seluruh permukaan padang dipenuhi oleh bunga Lavender yang sedang mekar. Hanya ada jalan setapak yang bisa dilalui untuk dua orang saja. Jalan setapak itu menuju ke sebuah paviliun di tengah-tengah padang Lavender.


"Indah, ya!" ujar Alex kagum.


"Iya," aku menyahut. Ku perhatikan ke sekeliling baru sadar bahwa hanya tinggal aku dan Alex saja yang berada di sini.


"Sienna dan Justin ke mana?" tanyaku.


"Mereka ke taman labirin di bagian barat sana. Katanya ada taman serta pancuran air yang indah bila berhasil sampai ke pusat labirin," jawab Alex bersemangat.


"Oh," gumamku paham.


"Kamu mau ke sana juga?" tanya Alex.


"Tidak. Di sini saja!" jawabku.


"Kalau begitu kita duduk di sana saja!" ajak Alex sembari melangkah menuju ke paviliun. Aku mengikutinya di belakang.

__ADS_1



Selain bentuk paviliun yang unik, diletakkan pula replika piano disini. Aku langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan piano tersebut. Cuaca hari ini cukup panas sehingga keringat mengucur dari dahi ku. Tiba-tiba Alex menyodorkan sapu tangan padaku. Aku menolaknya.


"Tidak usah, terima kasih. Aku bawa tisu!" kataku lalu mulai membuka isi tas dan mencari tisu. Ah, sial sepertinya tertinggal.


Alex pun tersenyum dan memaksaku untuk menerima sapu tangannya.


"Sudah pakai ini saja! Masih baru koq!" katanya.


Ya, akhirnya aku menerimanya juga. Dengan pelan mengusap keringat di dahi. Sementara Alex sibuk dengan ponselnya. Aku juga tak begitu mempedulikannya. Karena aku begitu kepanasan.


Aku terkejut saat Alex mendadak duduk di sampingku, karena kursi ini sangat kecil. Dia meletakan ponselnya di atas replika piano dengan musik player yang berputar. Sebuah instrumen musik piano mengalun dari ponsel Alex. Ia melemparkan senyumnya padaku. Aku menatapnya dengan heran.


"Kalau begini rasanya seperti memainkan piano sungguhan, bukan?!" ujar Alex.


Dengan cekatan tangannya menari di atas tuts-tuts replika piano yang sebenarnya tak menciptakan bunyi itu. Namun tangan Alex menari seolah mengikuti tiap nada dari instrumen di ponselnya. Aku hanya diam memperhatikan saja. Hingga lagu berhenti berputar Alex pun menyudahi aksinya.


"Akan lebih bagus lagi kalau kamu memainkannya dengan piano sungguhan," kataku memberi komentar.


Alex tersenyum kemudian berkata.


"Aku akan memainkannya di depanmu begitu ada kesempatan."


"Kamu bisa bermain piano?" tanyaku malah seperti tak percaya.


"Sudah cukup bagus. Aku malah sama sekali tidak mengerti," kataku.


"Kalau mau belajar juga pasti bisa!" ujar Alex.


"Aku tidak tertarik. Sepertinya sangat rumit," kataku.


"Ya, butuh bakat juga," balas Alex.


Aku mengangguk.


Entah kenapa kalau bersama Alex rasanya lebih canggung daripada saat bersama Edgar. Tidak ada begitu banyak hal yang bisa dibicarakan dengan Alex. Pada akhirnya selalu Alex yang bertanya dan aku menjawab saja.


"Bagaimana kuliahmu?" tanya Alex membuka topik lain.


"Seperti biasa. Tidak ada yang istimewa. Kamu bagaimana?" tanyaku.


"Aku bekerja di kantor periklanan. Karena jadwal yang sibuk jadi aku tak sempat menghubungimu. Bahkan sudah jarang datang kemari menemui mu," terang Alex.


"Tidak apa-apa," kataku.

__ADS_1


"Lalu, apa aku masih punya kesempatan?" tanya Alex hati-hati.


"Kesempatan apa?" Aku bertanya balik.


"Kesempatan untuk jadi pendamping hidupmu, mungkin?" jawab Alex pelan namun berharap.


Aku memutar kedua mataku mendengar Alex berkata begitu. Awalnya ia bilang ingin jadi pacarku sekarang ia berharap ke level yang lebih tinggi. Sesuatu yang tidak pernah aku pikirkan, mencari pendamping hidup. Aku menanggapinya dengan tawa.


"Alex, aku bahkan belum berpikir sampai ke situ!" kataku merasa lucu.


"Ya, apa salahnya sedikit berharap," ujarnya membela diri.


"Jangan berharap terlalu tinggi, Alex!" kataku.


"Kenapa?" tanyanya.


"Kamu tidak takut kecewa? Jangan menggantungkan harapan terlalu tinggi pada sesuatu yang belum pasti," aku menasehati.


Namun Alex malah tersenyum.


" Riza, segala keputusan pasti ada resiko. Kalau kita tidak mencoba tidak akan pernah tahu hasilnya. Jadi, kalau tidak siap dengan segala resiko, jangan memulai!" kata Alex mantap.


"Kamu memang pandai berbicara. Aku menyerah!" ucapku.


"Riza, bukan begitu caranya menyelesaikan masalah! Itu sama saja kamu kalah. Kamu tidak akan mendapatkan apa-apa kalau menyerah. Kamu bahkan akan kehilangan sesuatu yang mungkin sudah sangat dekat denganmu," kata Alex.


"Bukan masalahku, Alex! Itu menurut mu tapi tidak di posisiku," balasku.


"Bukan hanya dalam percintaan, Riza! Tapi dalam karir, kehidupan, mencapai kesuksesan, semua itu berlaku."


Aku memotong dengan cepat.


"Kamu sudah pandai berceramah sekarang, ya! Seharusnya kamu menjadi motivator saja!"


"Bukan begitu, aku cuma menjelaskan apa yang menjadi pegangan ku," Alex membela diri.


"Bagaimana kalau ternyata aku menyukai orang lain?! Apa kamu akan menyerah dan berhenti mengejar ku?" tanyaku dengan serius pada Alex.


Alex terdiam sejenak dengan pertanyaan ku. Ia memandangku dengan serius. Lalu kemudian tertawa.


"Siapa yang kamu sukai? Apa dia teman kampus mu? Aku baru akan menyerah setelah aku tahu dja lebih baik dariku," kata Alex dengan penuh kepercayaan diri.


Aku hanya melotot tajam padanya. Pemuda ini benar-benar tidak mudah menyerah. Akhirnya aku berjalan pergi dari paviliun itu. Sementara Alex mengejar dari belakang.


"Riza, tunggu! Kamu marah, ya!" teriaknya.

__ADS_1


Namun aku tak menggubrisnya malah terus berjalan. Berkeliling dan menikmati pemandangan Lavender hingga sore menjelang.


bersambung ....


__ADS_2