
Pagi ini aku tidak berangkat ke kampus bersama Sienna. Ada urusan lain yang harus aku lakukan. Jadi, Sienna pergi lebih dulu dengan Suzan. Aku hanya akan bolos tiga kelas hari ini. Jadi, aku akan tetap masuk kuliah setelah urusanku selesai.
Taksi yang ku tumpangi berhenti di sebuah mansion mewah. Aku menyuruh sang supir untuk menunggu sebentar sementara aku masuk ke dalam.
Meski tak yakin dan sedikit gugup aku memberanikan diri. Setelah menyakinkan bahwa aku siap baru ku pencet tombol bel pintu.
Setelah bunyi bel yang kedua, akhirnya pintu terbuka. Seorang gadis bermata coklat yang tak lain ialah Ginnevra menatapku dengan tajam sekaligus heran.
"Maaf Ginnevra, boleh bicara sebentar? Ada hal yang ingin kutanyakan padamu," kataku dengan gugup.
Tatapan gadis itu saja sudah membuatku tidak nyaman. Ginnevra tidak berkata apa-apa. Ia membuka pintunya lebih lebar dan masuk terlebih dulu. Kupikir itu artinya ia menyuruhku masuk, jadi aku mengikutinya.
Ia berhenti di ruang tamu dan langsung duduk di sofa. Ia juga menyuruhku duduk dengan menunjuk tangannya tanpa berbicara. Aneh sekali gadis ini!
"Apa yang mau kamu ketahui?" tanya Ginnevra kemudian tetap tanpa ekspresi.
"Aku .... Aku hanya ingin bertanya apa kamu punya kenalan bernama Wallace? Karena aku tak sengaja bertemu dengannya di pesta kemarin malam. Aku sudah bertanya pada Edgar tapi dia tidak kenal dan bilang mungkin itu temanmu!" Aku menjelaskan dengan cepat.
Ginnevra menoleh ke samping beberapa saat lalu kembali menatapku.
"Apa yang ingin kamu ketahui tentangnya?" tanyanya.
"Jadi, kamu benar mengenalinya?" Aku meyakinkan sekali lagi dan sekali lagi Ginnevra memberikan pertanyaan yang sama.
"Apa yang ingin kamu ketahui tentangnya?"
"Ginnevra, tolong beritahu aku! Apakah Wallace ada di Losta?" Aku memohon.
"Apa itu penting?" Ginnevra bertanya.
"Ya! Aku perlu bertemu dan bicara dengannya!" jawabku cepat.
"Hem .... Yang punya urusan kamu dan dia, kenapa datang mencariku?" tanya Ginnevra datar.
"Karena aku tidak tahu dia di mana, tidak ada satupun kontak yang ia tinggalkan untuk bisa ku hubungi," jawabku lagi.
Kali ini Ginnevra diam saja. Ia tak menanggapi ucapanku. Ia malah berdiri lalu menyuruhku pergi.
"Pergilah! Percuma kamu bertanya padaku. Dia sudah pergi!" katanya.
"Tapi, beritahu aku ke mana dia pergi? Di mana dia sekarang? Atau ada nomor atau alamat yang bisa ku hubungi mungkin?" Aku masih bersikeras mencoba.
"Tidak ada. Tunggu sampai waktunya dia akan datang sendiri ke hadapanmu! Pergilah!" kata Ginnevra.
"Tapi ... kapan?" tanyaku.
"Aku tidak tahu. Yang jelas dia tidak suka kamu mencarinya. Dia hanya ingin kamu menunggu dengan sabar sampai dia sendiri yang datang menemuimu!" jawab Ginnevra datar.
Aku pun tak bisa berkata apa-apa lagi. Dengan lunglai aku pergi dari hadapan Ginnevra.
"Baiklah. Terima kasih untuk waktunya! Maaf, kalau aku mengganggu!" ucapku sebelum kemudian pergi.
... ★━━━━━━PoV2━━━━━━★...
Dari belakang Ginnevra sebuah suara berbisik padanya.
"Terima kasih bantuanmu, Ginnevra!"
"Sama-sama, Pangeran!" jawab Ginnevra dengan pandangan lurus.
...★━━━━━━━━━━━━★...
__ADS_1
... ....
.......
.......
Aku duduk dengan tak bersemangat di bangku taman. Beberapa kelas terakhir yang ku ikuti sama sekali tidak ada yang masuk ke dalam otak. Aku masih begitu penasaran dengan keberadaan Wallace. Mengapa aku tak boleh mencarinya? Sementara aku tidak tahu kapan waktu dia akan muncul di depanku seperti kata Ginnevra. Semua ini penuh tanda tanya. Memangnya siapa sebenarnya Wallace?
Ditengah lamunanku tiba-tiba Edgar datang dan duduk di sampingku. Aku menatapnya dan ia tersenyum padaku.
"Ke mana saja kamu pagi ini? Aku baru melihatmu di kelas Mr. Feddy. Kamu bolos tiga kelas ya hari ini?" tanya Edgar diselingi gurauan.
"Ada sedikit urusan," jawabku singkat.
"Urusan apa? Aku boleh tahu?" tanya Edgar.
Aku menggelengkan kepala.
"Sudah beres!" kataku menutupi kebohonganku dengan senyuman.
"Oh. Baguslah!" ujar Edgar ikut merasa lega.
"Apa kamu melihat Sienna?" tanyaku beralih ketopik lain.
"Em ... tadi dia bersama Suzan. Mereka berjalan ke arah cafe. Kamu mau menyusulnya ke sana? " jawab Edgar.
"Tidak. Aku sudah bilang padanya tidak usah menungguku," kataku.
"Lalu, sekarang kamu mau ke mana?" tanya Edgar.
"Aku mau pulang saja!" jawabku. Lalu ku tarik tasku dan bangkit berdiri.
"Aku antar, ya!" Edgar menawarkan.
"Baiklah. Hati-hati di jalan, Riza!" pesan Edgar dengan cepat.
Aku membalasnya dengan lambaian tangan.
...★━━━━━━PoV2━━━━━━★...
'Aneh sekali dia hari ini!' pikir Edgar.
Edgar baru pergi begitu Eriza menghilang dari pandangannya. Ia bergegas menuju ke cafe. Mencari keberadaan Sienna di sana. Tak sulit menemukannya, karena Sienna dan Suzan duduk di meja bagian tengah. Edgar pun melangkah kesana. Dan ikut bergabung dengan kedua gadis itu.
"Hai Ladies! Aku boleh ikut bergabung, bukan?" tanya Edgar.
"Silahkan saja!" jawab Suzan sembari menyikut Sienna. Sienna yang disikut menatap risih pada Suzan.
"Kamu sendiri? Eriza mana?" tanya Sienna.
"Dia sudah pulang duluan. Tadinya aku menawarkan tumpangan tapi dia menolak. Katanya ingin pulang sendiri saja," jawab Edgar seadanya.
"Dia juga berpesan pada kami untuk tidak menunggunya pulang bersama," Suzan menimpali dengan antusias.
Sienna langsung menatap temannya yang mulai genit itu dengan tajam.
"Oh ya, bukankah tadi pagi ia bolos kuliah? Apa kalian tahu dia pergi ke mana?" tanya Edgar mengingat tujuan kedatangannya untuk menanyakan ini.
"Tidak. Dia cuma bilang ada urusan sebentar. Tapi tidak bilang ke mana," jawab Sienna.
"Begitu .... Baiklah, aku pergi dulu! Trims infonya! Sampai bertemu besok!" pamit Edgar kemudian pergi.
__ADS_1
"Sama-sama!" Sienna membalas.
"Eh ... cepat sekali perginya. Aku kan belum bicara apa-apa dengannya!" protes Suzan.
"Berhentilah bertingkah bodoh, Suzan! Kamu tidak lihat Edgar sebetulnya menyukai Eriza!" kata Sienna menegaskan.
"What?!" Suzan berseru dengan kaget.
...★━━━━━━━━━━━━★...
... ....
.......
.......
.......
Aku memasuki halaman rumah. Begitu sampai di depan pintu langkahku terhenti. Sebelumnya aku menatap ke kiri-kanan dan sekitar tempatku memastikan tak ada yang aneh. Memang tidak ada. Baru kemudian membungkuk memungut amplop merah maroon yang tergeletak di depan pintu.
Aku tidak langsung membukanya. Aku masuk ke dalam rumah terlebih dulu. Lalu naik keatas kamarku, barulah aku membukanya. Hanya sebuah surat kecil. Kubaca isinya.
'Kamu harus meyakinkan dirimu dulu, bila benar-benar ingin bertemu denganku! Aku tak ingin kamu menyesal!'
Dengan isi surat ini semakin menyakinkan ku bahwa amplop merah maroon yang selama ini aku terima memang berasal dari Wallace.
Dia mengirimkan kartu pos dan foto-foto New Angeles di mana kawasan Dixie Holly yang pernah kami kunjungi hanyalah untuk mengingatkan aku supaya tidak melupakannya. Betapa bodohnya aku, baru menyadari hal ini sekarang. Entah kenapa air mataku tiba-tiba menetes. Apa terharu atau bahagia karena surat ini? Aku tidak tahu. Yang pasti aku rasa ada setitik harapan bahwa ini akan berakhir indah. Aku hanya perlu sabar menunggu sampai waktu itu tiba. Ah, lagi-lagi aku berharap padahal aku sudah berniat melupakannya. Perasaan memang sulit dimengerti.
...****...
Malam ini indah sekali. Ku lewati di atas balcon sambil menikmati indahnya langit yang penuh bintang. Indahnya langit malam ini seperti hatiku yang dipenuhi oleh bintang pujaanku. Aku tersenyum sendiri mengingat dia.
"Ehem!" suara deheman Sienna menyadarkanku. Aku menoleh menatapnya dengan tersipu.
Sienna malah heran melihatku begitu.
"Apa ada yang membuatmu senang hari ini?" tanyanya agak heran.
Aku mengangguk cepat sambil tersenyum.
"Jadi, urusanmu tadi pagi sudah selesai?" tanyanya sekali lagi.
Aku mengangguk lagi. Karena menurutku begitu.
"Jadi, apa kamu mau ceritakan padaku?" tanya Sienna.
Aku menatapnya sejenak sebelum kemudian aku menceritakan semuanya.
"Tadi pagi aku pergi ke mansion Edgar menemui Ginnevra," kataku memulai cerita.
Sienna nampak heran mendengarnya.
"Untuk apa kamu menemuinya?" tanyanya.
Aku pun mulai menceritakan detail kejadiannya. Maksud serta tujuanku menemui gadis aneh itu. Aku juga mengatakan pada Sienna mengenai amplop merah maroon yang ku terima hari ini. Memberitahunya bahwa aku telah mengetahui siapa yang selama ini mengirimkan amplop itu padaku. Sienna ikut senang mendengar ceritaku.
"Itu sangat bagus sekali. Harapanmu selama ini tidak sia-sia. Aku ikut senang mendengarnya!" komentar Sienna.
"Ya. Trims! Tapi aku harus menunggu waktu itu tiba," ujarku.
"Sabar, ya! Kesabaran pasti akan membuahkan sesuatu yang manis!" kata Sienna menyemangati.
__ADS_1
Aku tersenyum sambil mengangguk. Lalu kami berdua mulai membicarakan topik lain hingga mata memaksa kami untuk segera beristirahat.
bersambung ....