
...★━━━━━Pov Edgar━━━━━★...
Sebuah taksi berhenti di depan mansion mewah. Edgar keluar dari dalam taksi sambil menyeret kopernya. Dengan wajah penuh keceriaan ia memasuki halaman rumah. Hanya sekali menekan bel, pintu rumah telah dibuka. Yuna, pelayan pribadi Ginnevra tersenyum menyambut kedatangannya.
"Tuan muda sudah pulang!" ucapnya.
"Mana nenek? Aku ingin segera menemuinya!" tanya Edgar dengan senang.
Ia langsung masuk dan berteriak memanggil Nancy.
"Nenek. Nenek. Aku sudah pulang, Nek!"
Yuna nampak bingung dengan sikap Edgar, karena tak biasanya ia begitu. Nancy muncul dari dalam setelah mendengar panggilan Edgar.
"Akhirnya kamu pulang juga! Mana ...."
Nancy belum sempat menyelesaikan kalimatnya Edgar langsung memeluknya dan membawanya ke luar menuju bagasi.
"Nenek, nanti dulu ceritanya. Ayo, temani aku jalan-jalan sebentar! Nenek pasti bosan di rumah terus selama aku pergi, ya kan!? Nenek juga pasti belum makan siang. Kita akan pergi makan di restoran paling mewah. Nenek pasti akan senang!" begitu kata Edgar dengan semangat.
"Edgar, ini bukan saatnya untuk jalan-jalan!" ujar Nancy dengan ketus.
Namun Edgar tak memperdulikan ucapannya. Ia malah menuntun Nancy masuk ke dalam mobil dan mulai menyalakan mesin mobil.
"Nenek, untuk sementara lupakan dulu semua masalah. Tidak ada salahnya bersenang-senang sebentar. Aku sudah lama tidak pergi jalan-jalan dengan Nenek. Aku sangat rindu masa-masa kecil di mana Nenek selalu membawaku jalan-jalan di sore hari," jelas Edgar.
Dengan cepat mobil Edgar pun melaju meninggalkan kediaman mewahnya.
"Kamu ini bicara apa? Kamu tidak memikirkan bagaimana kondisi kakakmu? Cepat kembali, Edgar!" perintah Nancy.
"Karena aku sudah lelah memikirkan semua masalah itu makanya sekarang aku ingin melupakannya sebentar! Nenek juga pasti capek terus menjaganya berhari-hari, makanya aku mengajak Nenek pergi untuk refreshing sebentar!" jawab Edgar tak mau kalah. Ia terus berusaha mencari alasan supaya bisa membawa Nancy pergi tanpa ada rasa curiga.
"Lalu, apa kamu sudah mendapatkan Crystal Orlov?" tanya Nancy.
"Aku sudah mendapatkannya!" jawab Edgar belagak cuek. Begitu ke luar ke jalan raya mobil sengaja diperlambat.
"Sekarang di mana Crystal itu?" tanya Nancy lagi.
"Em .... Aku harus mengingat-ingat dulu di mana aku menyimpannya! Aku sangat terburu-buru mengemasi barangku tadi pagi," jawab Edgar masih begitu santai.
"Edgar, cepat katakan di mana crystal itu!" bentak Nancy makin tak sabaran.
"Nek, sabar sedikit aku ingat-ingat dulu! Kalau Nenek terus mendesakku aku jadi tidak bisa mengingat!" ujar Edgar berbohong.
Sebenarnya crystal itu sudah ia berikan pada Eriza kemarin malam. Sekarang ia sedang berusaha mengulur waktu supaya teman-temannya bisa menyelinap ke dalam rumahnya.
Namun Nancy tak ingin menunggu. Firasatnya merasa Edgar sedang mempermainkannya. Ia mulai bertindak. Dengan sigap ditodongkan sebuah pisau belati yang tersembunyi dibalik gaun panjangnya ke leher Edgar yang sedang mengemudi.
"Cepat berikan crystal itu atau akan ku cabik-cabik lehermu dengan pisau ini!" ancam Nancy.
"Nenek, jangan bercanda! Itu pisau sungguhan, bukan?!" tanya Edgar, nampaknya ia sudah tak punya pilihan.
"Aku tidak main-main, Edgar! Kamu pikir anak kecil sepertimu bisa mempermainkan ku!? Cepat kembali ke rumah dan serahkan Crystal Orlov padaku!" desak Nancy dengan belati yang mulai menekan ke leher Edgar.
"Ba ... baik, Nek! Tapi crystal itu tidak ada di rumah! Aku baru ingat menitipkannya pada temanku. Jadi, kita harus pergi ke rumahnya untuk mengambil benda itu," jawab Edgar mulai takut.
"Cepat ke sana sekarang juga!" desak Nancy.
Akhirnya Edgar melanjutkan perjalanan ke rumah Eriza. Dengan Nancy yang terus menodongkan belati sebagai ancaman padanya.
...★━━━━━━━━━━★...
.......
.......
.......
.......
.......
Begitu mobil Edgar yang membawa Nancy meninggalkan mansion. Aku bersama Sienna, Suzan, Alex dan Justin langsung menyusup masuk. Yuna yang membukakan pintu bagi kami. Kami langsung beraksi. Ku keluarkan kelopak bunga yang diberikan Batilda dari dalam tasku. Lalu ku bagikan pada semua temanku. Dan ku suruh sebarkan di lima sudut mansion ini. Dimulai dari pintu utama seperti pesan Batilda. Rencana sudah dimulai.
"Aku tidak tahu pasti letak sudut mana yang dimaksud. Rumah ini terlalu besar!" ucap Suzan.
__ADS_1
"Ada di setiap titik sudut bangunan. Pintu ini berada di tengah, lalu di ujung depan kiri-kanan, dan di ujung belakang kiri-kanan mansion. Yuna akan membantu semampunya. Kita harus cepat, kekuatan segel hanya melemah selama 30 menit. Aku akan tahu jika kita berhasil melemahkan kekuatannya," aku menjelaskan dengan cepat.
"Selagi kalian menyebarkan kelopak bunga ini, aku akan mencari di mana Hati Ruby berada," lanjutku.
Kami mulai berpencar. Aku tidak tahu pasti harus memulai darimana, tapi aku berjalan menaiki tangga menuju lantai atas. Di sana pasti banyak ruangan dan kamar. Aku mencapai lantai dua tepat saat Wallace muncul.
"Eriza," panggilnya.
Aku menoleh, aku kembali sedih melihatnya namun kutepiskan perasaan itu jauh-jauh. Sekarang bukan saatnya memikirkan masalah perasaan. Menyelamatkan nyawa orang lebih penting.
"Kita harus cepat, Wallace! Waktumu hanya 30 menit!" aku mengingatkan.
"Ikut aku!" suruh Wallace.
Aku langsung mengikuti ke mana ia pergi. Pertama ia membawaku ke kamar Ginnevra.
"Ini kamar Ginnevra!" katanya.
Gadis itu terbaring dengan wajah pucat. Ia terlihat seperti sedang tertidur. Wallace menatap Ginnevra dengan penuh perhatian.
"Dia sengaja dibuat tak sadarkan diri," ujar Wallace
"Apa maksudnya?" tanyaku tak paham.
"Seseorang sengaja mengambil benda miliknya kemudian mengirim mantra tidur padanya melalui benda tersebut. Mantra akan terus bekerja selama benda milik korban masih berada di tangan pelaku," Wallace menjelaskan dengan wajah serius.
Wallace kemudian bergerak cepat beralih ke ruangan lain. Aku terus mengikutinya dengan cepat. Sementara teman-temanku di bawah mulai menyusulku.
Satu demi satu ruangan dimasuki Wallace. Sedangkan aku sudah kelelahan mengejarnya. Namun belum juga ada hasil. Teman-temanku sudah kembali berkumpul denganku.
"Bagaimana Riza, sudah menemukan kalungnya?" tanya Sienna padaku.
"Belum," jawabku dengan nafas terengah-engah.
Wallace kembali muncul di depanku. Tapi hanya aku yang bisa melihatnya.
"Aku tidak menemukan apa-apa, Riza! Hati Ruby yang ku cari tak ada di rumah ini!" kata Wallace.
"Jadi, sekarang bagaimana? Waktumu tinggal 15 menit!" tanyaku.
Sementara yang lainnya nampak bingung dengan pertanyaanku.
"Maaf teman-teman, tapi aku bukan bicara dengan kalian!" jelasku.
"Lalu dengan siapa? Hanya ada kita ber-enam di sini!" kini Alex yang bertanya.
"Dengan seseorang yang hanya bisa aku lihat," jawabku.
Teman-temanku mulai mundur beberapa langkah menjauhiku. Nampaknya mereka mulai takut.
"Apa itu pangeran?" Yuna bertanya dengan pelan.
"Ya. Kamu tahu tentang dia?" tanyaku.
"Aku sering mendengar nona memanggil begitu saat nona berbicara sendiri," jawab Yuna.
"Apa lagi yang kamu tahu?" tanyaku coba menggali informasi.
"Tiga tahun yang lalu aku tak sengaja mendengar percakapan nenek Nancy dengan nona Ginnevra. Saat kunjungan nenek Nancy kemari, nenek meminta kalung Ruby yang dipakai nona. Alasannya sebagai kenang-kenangan, tapi nona tidak memberikannya. Ia berkata pada nenek bahwa pangeran akan marah jika ia memberikannya pada orang lain. Kemudian aku memergoki nenek tanpa sepengetahuan nona mencuri kalung itu saat nona sedang mandi. Aku tidak pernah menceritakan kejadian ini pada siapapun, karena nenek mengancam akan membuat hidupku dan keluargaku menderita. Jadi, aku diam saja!" kenang Yuna penuh sesal.
"Jadi, sekarang Hati Ruby itu masih berada di tangan nenek Nancy?!" aku bergumam.
"Wallace, apa yang harus kita lakukan?" tanyaku pada Wallace.
Tepat di saat bersamaan terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Kami semua kaget. Itu pasti Edgar dan Nancy!
"Mereka pasti sudah kembali!" seru Suzan panik.
"Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?" tanya Justin juga ikut panik.
Bel pintu terdengar berbunyi.
"Tenanglah! Yuna, kamu pergi bukakan pintu dan tetap bersikap tenang!" kataku pada Yuna.
"Riza, suruh teman-temanmu bersembunyi! Jangan keluar sampai aba-aba berikutnya," ujar Wallace.
__ADS_1
"Dan kalian semua cepat pergi bersembunyi! Jangan keluar sampai aba-aba berikutnya," kataku pada teman-temanku seperti ucapan Wallace.
"Kamu sendiri bagaimana?" tanya Sienna.
"Aku ...."
"Riza, kamu tetap bersamaku. Kita akan menunggu di kamar Ginnevra!" ucap Wallace.
"Aku akan menunggu di.kamar Ginnevra!" kataku pada mereka sembari menunjuk letak kamar Ginnevra.
Semua mengangguk mengerti. Dan kembali kami semua memisahkan diri. Yang lain bersembunyi dan aku bersama Wallace masuk ke dalam kamar Ginnevra.
Bel kembali berbunyi. Yuna pergi untuk membukakan pintu. Pintu terbuka dan nampak Edgar yang ditodong pisau belati oleh nenek Nancy. Yuna begitu kaget dan ketakutan. Melihat ekspresi nenek Nancy yang begitu serius, jelas ia tidak main-main. Pintu kemudian ditutup dengan kasar oleh Nancy.
"Edgar, ini kesempatan terakhirmu! Katakan di mana sebenarnya kamu menyimpan Crystal Orlov itu atau aku akan benar-benar menikammu dengan pisau ini!" ancam Nancy tidak main-main.
"Sa ... sabar dulu, Nenek! Aku harus mencarinya! Aku benar-benar menitipkan crystal itu pada temanku, tapi dia tidak ada di rumah itu bukan salahku!" jawab Edgar dengan takut.
"Ergh .... Itu kesalahanmu, Edgar! Tidak berguna! Kamu kira aku akan menolong Ginnevra? Nyawanya kini berada di tanganku!" kata Nancy dengan penuh kemenangan. Sembari menunjukkan kalung Hati Ruby milik Ginnevra di tangan kirinya.
"Hah? Hati Ruby?!" seru Edgar dengan kaget. Kini ia benar-benar putus asa. Nancy tertawa semakin keras.
"Aku tidak menyangka mengapa Nenek tega melakukan ini pada Ginnevra. Padahal kamu sudah kami anggap seperti keluarga sendiri! Bahkan kamu yang mengasuh dan membesarkan kami," ucap Edgar dengan lemah.
"Hem .... Itu salah kakekmu! Seandainya dia tidak meninggalkanku demi perempuan ****** itu, aku takkan sebenci ini pada keluargamu!" ucap Nancy dengan penuh amarah.
"Apa maksud Nenek?" tanya Edgar tak mengerti.
"Karena nenekmu dia meninggalkanku! Aku bukanlah apa-apa dibanding nenekmu yang kaya raya. Sejak itu aku membalaskan sakit hatiku pada semua anak perempuan dari keluarga Henley. Tidak akan ada anak perempuan yang lahir dari keluarga Henley. Sayangnya aku tidak mendapatkan Ginnevra karena dia dilindungi kalung ini dan arwah gentayangan itu! Sekarang tidak ada yang bisa menghalangiku lagi! Setelah mendapatkan Crystal Orlov maka kekuatanku akan sempurna. Hahaha ...," jelas Nancy dengan gelak tawa yang membahana.
Aku mendengar semua yang mereka bicarakan dari dalam kamar Ginnevra. Benar Hati Ruby ada bersama Nancy. Waktu Wallace tak banyak lagi. Aku menatapnya dengan sendu. Tepat ia juga menatapku dengan wajah yang tak kalah pilu.
"Wallace, waktu tinggal sedikit! Jika terjadi sesuatu padamu nantinya, kamu harus cepat masuk ke tubuhku!" kataku sungguh-sungguh pada Wallace.
Kemudian aku beranikan diri keluar dari kamar Ginnevra untuk berhadapan langsung dengan Nancy.
"Kamu mencari ini, Nenek tua?!" seruku sambil menunjukkan Crystal Orlov padanya.
"Ergh ... Kamu!" geram Nancy. Ia nampak sangat marah.
"Serahkan crystal itu sekarang juga!" teriaknya.
"Tidak, sebelum kamu berikan Hati Ruby itu padaku!" kataku menantang.
"Kalau begitu kamu pasti suka melihat temanmu mati perlahan-lahan!" ancam Nancy tak mau kalah. Ia menekan belatinya ke leher Edgar kemudian menggoresnya hingga terluka. Darah mengucur keluar dari leher Edgar.
"Argh ...," Edgar merintih.
"Tidak, Edgar!" teriakku.
"Cepat kemari dan serahkan crystal itu, manis!" kata Nancy dengan senyum sumringahnya.
"Jangan, Riza!" teriak Edgar.
Nancy menekan belatinya lebih kuat. Membuat luka goresan yang lebih panjang. Edgar kembali merintih kesakitan.
"Berhenti! Jangan lukai Edgar!" aku memohon.
"Aku akan berhenti menyiksanya setelah kamu berikan crystal itu padaku!" ujar Nancy tak bisa ditawar.
"Baik. Akan aku berikan," kataku.
Dengan secepatnya aku menuju ke tempat Nancy berada. Aku kini berdiri di depannya. Nancy sudah siap dengan tangannya yang terulur padaku. Ia tersenyum penuh kemenangan begitu aku menyerahkan crystal itu. Ia tertawa terbahak-bahak.
Belati yang ia pegang dijatuhkan begitu saja. Tetapi Hati Ruby milik Ginnevra dilemparkan sembarangan jauh entah ke mana. Untungnya temanku yang lain langsung muncul untuk mencari Hati Ruby tersebut. Nancy juga tak peduli berapa banyak yang muncul untuk melawannya.
"Berapapun jumlah kalian aku tidak takut karena sekarang aku punya crystal ini! Crystal Orlov! Aku akan jadi yang terhebat. Hahahaha ...," kata Nancy dengan tawa penuh kemenangan.
Namun tawa itu menghilang begitu ia menyadari itu crystal palsu. Wajahnya memerah penuh amarah. Ia menatapku dengan tatapan ingin membunuh. Aku terkejut mundur beberapa langkah.
"Ini crystal palsu!" bentaknya marah sambil melempar crystal itu ke lantai.
"Kamu bocah sialan, berani menipuku! Tak akan ku maafkan!" seru Nancy dengan penuh kemarahan.
Dia datang dengan cepat lalu mencengkeram leherku dengan kuat. Aku hampir tak bisa bernafas. Wajahnya yang beringas penuh emosi dan amarah nampak sangat menakutkan. Setelah itu aku merasa ada sesuatu yang sangat keras menghantam masuk ke dalam tubuhku. Dan aku tidak ingat apa-apa lagi.
__ADS_1
bersambung ....