
Hari ini pagi-pagi Edgar sudah datang ke rumah. Ia ingin mengajakku pergi jalan-jalan. Tapi aku memintanya mengantarku ke mansionnya. Aku ingin bertemu Ginnevra. Edgar setuju dan ia membawaku ke sana. Ginnevra langsung menyambutku dengan girang begitu aku datang. Gadis itu tidak berubah dengan rambut panjang hitam bergelombangnya. Hanya ia nampak lebih dewasa.
Kami habiskan waktu dengan bercerita banyak hal sambil minum teh bersama. Sementara Edgar, ia memilih pergi supaya kami bebas ngobrol berdua. Ginnevra banyak bercerita tentang Alex. Hingga siang menjelang sore aku baru pamit pergi pada Ginnevra.
Edgar mengajakku makan bersama. Aku tahu dia mungkin akan membawaku ke tempat yang aneh-aneh. Jadi aku katakan padanya.
"Edgar, kita ke perkebunan Sunflower saja! Aku ingin mengunjungi tempat-tempat yang ku datangi dulu di Losta!"
"Baik. Ke manapun kamu mau pergi!" jawab Edgar.
Dan kami langsung menuju ke sana. Berada di sana hingga petang kemudian.
Paginya, aku terbangun oleh suara ponsel yang berbunyi. Ku angkat tanpa melihat nama peneleponnya.
"Em. Halo," jawabku dengan setengah mengantuk.
📲[Pagi Eriza ... Kamu belum bangun?] Suara Ginnevra yang ku kenal bertanya dari seberang telepon.
"Oh, Ginnevra, ada apa?" tanyaku dengan mata masih terpenjam.
📲[Eriza, hari ini aku ingin mengajakmu ke Green Hill! Kebetulan Alex kemari. Dia datang bersama teman-temannya. Mereka ingin ke sana jadi aku sekalian mengajakmu. Oh ya, ada Mandy di sini! Ia titip salam untukmu!]
"Ah, ada Mandy?!" aku langsung terbangun.
"Oke, aku ikut! Aku akan segera bersiap!" kataku pada Ginnevra. Aku ingin sekali bertemu Mandy.
📲[Baik. Edgar akan menjemputmu nanti!] ujar Ginnevra dan telepon pun ditutup.
Tanpa membuang waktu lagi aku segera bangun dan mandi. Edgar datang saat aku sedang sarapan. Jadi, dia menungguku sampai selesai. Begitu aku siap kami berangkat. Karena Justin dan Sienna mulai sibuk mengurus semua keperluan acara pernikahan mereka jadi keduanya tidak ikut.
Begitu tiba di mansion Edgar aku langsung berlari keluar. Di teras rumah sudah nampak seorang gadis berambut pirang yang sangat ingin ku temui.
"Mandy!" seruku dengan girang.
"Eriza!" balas Mandy tak kalah senangnya.
Kami berpelukan. Sahabatku yang sudah sangat lama tidak ada kabar. Dia semakin cantik dan manis.
"Aku senang sekali akhirnya bisa bertemu lagi denganmu!" kataku.
"Aku juga! Kamu semakin cantik saja!" puji Mandy.
"Ah tidak .... Masih lebih cantik dirimu!" balasku.
Di belakang Mandy berdiri, aku melihat Vanessa. Ia datang juga rupanya. Dia tersenyum padaku dan mulai mendekat.
__ADS_1
"Hai, Eriza! Senang bertemu kembali," sapanya dengan ramah.
Aku sedikit heran bisa juga gadis ini bersikap ramah padaku. Namun aku tetap membalas sapaannya.
"Ya, aku juga!" kataku sambil menjabat tangannya.
"Hai, Alex!" Tak lupa pula menyapa Alex.
"Hai juga Riza. Apa kabar?" tanya Alex.
"Baik, seperti yang kamu lihat!" jawabku.
"Ngomong-ngomong selamat ya untuk kalian berdua!" godaku kemudian.
Alex tertawa.
"Simpan ucapan itu untuk lain kali saja!" ujarnya dengan malu-malu.
...*****...
Begitu semuanya siap kami lalu berangkat. Kami pergi dengan dua mobil. Mandy dan Vanessa ikut bersamaku dengan mobil Edgar. Di sepanjang perjalanan kami berbagi cerita tentang banyak hal dan pengalaman kami. Vanessa pun ikut berbagi cerita dengan ku. Rasanya ini seperti acara reunian dengan teman lama.
Begitu asyiknya mengobrol tak terasa akhirnya sudah tiba. Kami semua turun dari mobil dan mulai melakukan 'pendakian'. Hari ini cuaca cukup cerah. Pengunjung pun nampak ramai. Teman-temanku sudah berpencar semua. Hanya tinggal aku dan Edgar yang berjalan bersama. Kami berjalan dengan santai. Semakin naik semakin pegal rasanya. Aku teringat saat pertama kali kemari bersama Alex. Keesokan harinya kedua kaki ku menjadi pegal. Tak terasa waktu itu sudah lama berlalu.
"Masih baru! Belum ku minum," kata Edgar karena melihat keraguanku.
Aku justru tertawa. Edgar semakin bingung melihatku.
"Apa yang lucu?" tanyanya.
"Deja vu! Ini seperti enam tahun yang lalu!" jawabku sambil mengambil minumannya lalu meneguknya.
"Oya? Saat itu kamu datang bersama siapa?" tanya Edgar tertarik ingin tahu.
"Alex! Pacar Ginnevra sekarang," jawabku sambil meneruskan langkah.
"Emm ... Jadi dulu Alex menyukaimu?" tanya Edgar.
Aku mengangguk. Kemudian menjawab.
"Dulu dia bilang begitu! Tapi aku senang akhirnya dia bersama Ginnevra. Karena sejauh yang aku tahu Alex pemuda yang baik!"
"Kalian tidak pacaran?" tanya Edgar.
"Tidak. Aku tidak memiliki perasaan lebih padanya. Meski dia terus berusaha mengejarku. Aku hanya menganggapnya teman. Lagi pula saat itu aku sudah lebih dulu menyukai Wallace," jawabku sambil tersenyum.
__ADS_1
"Oh maaf," ucap Edgar.
"Kenapa meminta maaf?" tanyaku bingung.
"Aku membuatmu teringat Wallace lagi!" jawab Edgar.
"Tidak apa-apa. Aku sudah bisa merelakannya. Aku tahu dia akan bahagia kalau aku juga bahagia. Makanya aku tidak akan sedih lagi," terangku sambil tersenyum pada Edgar. Edgar membalas senyumku. Dan kami terus naik sampai ke puncak.
Di puncak udara terasa sangat segar. Walaupun agak dingin. Beberapa kali aku merinding karena hembusan udaranya yang dingin. Edgar melihatku menggigil lantas ia melepas jaketnya dan memakaikannya ke pundakku. Kami duduk di depan sebuah kedai. Sementara Edgar masuk ke dalam kedai memesan makanan. Aku menunggunya di luar. Dari jauh Vanessa berjalan mendekat. Kemudian ia duduk di depanku.
"Hai, Eriza! Maaf aku mengganggu sebentar!" ujar Vanessa.
"Tidak apa-apa. Kita bisa makan bersama!" aku menawarkan.
"Tidak, trims. Aku hanya ingin minta maaf padamu atas sikapku yang kurang baik padamu dulu. Aku menyesalinya," ucap Vanessa penuh sesal.
"Aku sudah memaafkanmu! Kamu pasti punya alasan untuk itu," kataku.
"Trims. Kamu sangat pengertian. Dulu aku sangat menyukai Alex. Aku tahu Alex menyukaimu makanya aku tidak suka padamu dan bersikap buruk begitu. Aku sangat menyesal dan berharap punya kesempatan untuk meminta maaf padamu," Vanessa menjelaskan.
"Lalu, kenapa kamu tidak katakan saja perasaanmu pada Alex?" tanyaku.
"Sudah. Dia menolakku," Vanessa tertawa. Dia melanjutkan kata-katanya.
"Dia tidak menyukaiku karena sikapku. Sejak saat itu aku mulai berpikir menyakiti orang lain karena cemburu sungguh hal yang bodoh. Jadi, aku berusaha merubah sikap burukku. Aku ingin terlihat baik supaya dia menyukaiku. Tapi nyatanya dia tidak pernah menyukaiku. Dia memilih gadis lain. Meski aku masih menyukainya tapi aku mengerti perasaan orang tidak bisa dipaksa. Jadi, aku hanya bisa berharap semoga mereka bahagia," jelas Vanessa dengan senyum tipis.
"Setidaknya kamu sudah berusaha. Mungkin dia bukan jodohmu, mungkin suatu saat, pasti akan ada orang yang tulus menyukaimu," aku memberinya semangat.
"Ya, semoga saja!" Vanessa menimpali.
Edgar telah datang dengan sebuah nampan berisi makanan.
"Vanessa, aku tidak tahu kamu di sini. Aku akan pesankan makanan untukmu!" kata Edgar.
"Ah, tidak perlu. Aku sudah selesai. Aku hanya ingin berbicara sebentar dengan Eriza! Kalian makan saja. Aku pergi dulu!" tolak Vanessa lalu pergi dengan cepat.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Edgar sambil membagikan mangkuk untukku.
"Masalah perempuan," jawabku.
"Oh itu berarti aku tidak perlu bertanya lagi. Nah, makanlah!" kata Edgar. Aku hanya tertawa kecil dan mulai menyantap makanannya.
Kami berada di Green Hill hingga sore hari. Berkumpul sambil bersenda gurau dengan sahabat lama. Melepas kangen setelah sekian lama tidak bertemu. Sayangnya mereka harus pulang malam ini juga.
bersambung ....
__ADS_1