Pangeran Dari Dunia Lain

Pangeran Dari Dunia Lain
Wallace Cemburu?!


__ADS_3

Kami sampai di Montana. Tapi sebelum menuju ke Mediterania Residence, ia membawa ku ke sebuah restoran seafood di pinggir pantai. Untuk mengajakku makan siang. Selesai makan siang perjalanan dilanjutkan kembali.


Kami tiba cepat dan langsung menuju ke kamar Edgar. Begitu Edgar membuka pintu kamarnya, tidak ada yang begitu menarik. Ruang tamu berfasilitas lengkap dengan tv serta sound system menyatu dengan ruang makan dan dapur. Sementara kamar tidur di sebelah kanan terpisah dengan dinding. Edgar menyuruhku masuk ke kamarnya. Dengan perasaan was-was aku bertanya,


"Untuk apa?"


"Bukankah kamu mau lihat laut?" teriaknya dari dalam kamar yang terbuka.


Aku menurutinya. Tapi sampai di depan pintu kamar aku mengintip ke dalam sedikit. Dirasa tidak ada hal yang mencurigakan barulah aku masuk ke sana. Dan wah ... kamar ini memang lebih istimewa. Tempat tidurnya benar-benar menghadap ke laut. Ada balcon dengan dinding kaca serta pintu kaca geser. Bahkan langsung bisa melihat pemandangan laut di depan begitu tirai dibuka. Kamar jadi sangat terang dan menyenangkan.



Edgar sedang berdiri di balkon. Aku mendekatinya dan berdiri di sebelahnya. Sambil mengagumi laut dari atas apartemen ini.


"Indah, bukan?" tanya Edgar.


"Indah sekali!" jawabku kagum.


"Kamu mau tinggal di sini?" tanya Edgar.


"Tidak. Aku tidak mau menghabiskan banyak uang hanya untuk itu!" jawabku.


"Kalau begitu tinggal di sini bersamaku saja!" ujar Edgar menawari.


"Apa? Maksudmu satu apartemen begitu?" tanyaku kaget.


"Iya," jawab Edgar cuek.


"Jangan bercanda!" ucapku.


"Aku tidak akan berbuat macam-macam!" kata Edgar dengan nada menggoda.


"Ih .... Tetap saja aku tidak mau!" kataku tegas.


Edgar langsung tertawa cekikikan.


"Aku hanya bercanda! Lagi pula mana mungkin membawa seorang gadis menginap berdua di apartemen pria. Sebaik apapun pria itu pikiran jahat pasti akan datang menggoda," kata Edgar sambil lalu.


"Hei, kalau kamu lelah istirahatlah sebentar! Aku mau ke bawah dulu! Kira-kira setengah jam aku kembali. Kamu tak perlu cemas," ujar Edgar.


Kemudian ia keluar meninggalkan apartemennya.


Sedangkan aku masih betah berada di balkon sambil menikmati pemandangan laut ini. Kapan lagi ada suasana seperti ini. Benar kata Edgar di sini benar-benar tenang dan tidak berisik. Hanya hembusan angin dan suara ombak di kejauhan. Benar-benar tempat peristirahatan yang sempurna. Lelah berdiri terlalu lama, aku kembali ke kamar. Iseng-iseng merebahkan diri di atas kasur empuk Edgar. Bau aroma parfum Edgar masih menempel di bantal. Di sini pun tidak beda jauh dengan kamarku, saat berbaring pun aku bisa langsung menatap langit. Aku jadi rindu rumah. Tanpa sadar aku ketiduran.


Saat aku terbangun langit mulai jingga. Dan entah sejak kapan selimut ini menyelimuti tubuhku. Perasaan aku tak memakai selimut tadi. Ku lihat aku masih sendiri di kamar. Dan pakaianku masih menempel sempurna. Ah, aneh-aneh saja pikiranku. Aku lalu bangkit dan berjalan keluar dari kamar. Di dapur nampak Edgar sedang memasak sesuatu. Ia melihatku lalu tersenyum.


"Kamu sudah bangun?"


"Ya. Maaf aku ketiduran!" kataku.


"Tidak apa-apa! Kamu mau mandi dulu? Selagi menunggu spageti ini matang," tanya Edgar.


Ku lihat jam di dinding sudah mau pukul 6 sore. Kalau aku pulang mandi di hotel aku akan kemalaman ke Dixie Holly. Jadi ku putuskan mandi di sini saja. Toh Edgar tidak akan macam-macam. Begitu aku selesai mandi dua piring spageti sudah siap di atas meja makan.

__ADS_1


"Sudah saatnya makan malam, Nona!" kata Edgar dengan gaya seorang pelayan.


Aku tertawa.


"Kamu tidak cocok jadi pelayan. Lebih cocoknya jadi pangeran!" kataku.


"Tidak ada pangeran di jaman modern. Jadi, aku lebih cocok jadi artis saja! Aku punya banyak penggemar dan suara ku bagus, benar kan?!" ujar Edgar memuji dirinya.


"Entahlah. Mungkin kamu harus bertanya pada penggemarmu! Atau sebaiknya kamu cepat pulang supaya tidak kehilangan penggemar beratmu di kampus!" kataku sambil tertawa.


"Tidak perlu, aku tidak butuh banyak penggemar yang hanya melihat diriku dari sisi luar yang baik saja. Aku hanya butuh satu yang bisa melihat dan menerima sejuta kekuranganku!" ucap Edgar dengan serius.


Aku terdiam. Kemudian bertanya.


"Apa kamu sudah menemukannya?"


"Sudah! Tapi, sayangnya dia lebih dulu menyukai orang lain!" jawab Edgar.


"Kamu terlambat! Artis kesiangan!" ejekku.


Edgar tertawa dengan keras. Aku memperhatikannya sambil menggelengkan kepala. Acara makan malam baru kemudian dimulai.


"Setelah ini kamu mau ke mana?" tanya Edgar.


"Aku ingin ke Dixie Holly!" jawabku.


Edgar yang sedang makan tiba-tiba tersedak.


"Kamu tidak apa-apa? Pelan sedikit makannya!" kataku.


"Untuk apa ke sana?" tanyanya.


"Menemui Wallace!" jawabku pelan.


"Oh," gumam Edgar. Entah dia suka atau tidak, tapi dia menawarkan diri.


"Aku akan mengantarmu ke sana. Tapi habiskan dulu makananmu!"


"Ah, tidak usah! Aku bisa menyuruh taksi langgananku datang menjemputku! Lagi pula ini sudah malam!" aku menolak.


"Karena sudah malam makanya aku mengantarmu! Aku tidak percaya pada supir taksi! Apalagi dari sini ke Dixie Holly cukup jauh dan jalanan agak sepi," kata Edgar sewot.


"Tapi supir taksi yang ku tumpangi ini baik. Dia temanku! Aku berkenalan dengannya saat liburan pertamaku beberapa bulan yang lalu di sini," bela ku.


"Aku akan tetap mengantarmu, Nona! Sebaiknya simpan saja uang sewa taksimu itu. Karena kamu tidak perlu taksi lagi! Mulai sekarang aku yang akan mengantarmu ke mana-mana!" kata Edgar memaksa.


"Hei .... Jangan seenaknya begitu!" protesku.


"Kamu sudah bilang akan membantuku! Jadi anggap saja ini balasan dariku! Menjadi supir pribadimu!" kata Edgar dengan senang hati.


"Tapi ...."


"Dilarang protes lagi! Cepat habiskan makananmu! Kamu lihat sudah jam berapa sekarang?" Edgar memotong dengan cepat.

__ADS_1


Yah, aku tak boleh mengundur waktu. Secepatnya ku habiskan makananku kemudian berangkat ke Dixie Holly bersama Edgar.


"Kita sudah sampai!" kata Edgar begitu mobilnya berhenti di parkiran.


"Kamu pergilah! Aku akan menunggu di sini!" lanjutnya.


"Tapi ... baiklah! Sampai bertemu nanti! Ku harap kamu tidak bosan," kataku kemudian keluar dari mobil. Percuma membantah jadi biarkan saja dia berbuat sesuka hatinya.


Aku sampai di depan katedral dan melihat Wallace sudah berada di sana.


"Kamu datang terlambat!" katanya.


"Maaf! Aku ketiduran jadi datang agak malam!" aku menjelaskan.


"Oh. Kamu bukannya sedang jalan-jalan dengan temanmu?! Di mana dia? Kamu tidak mengajaknya ke sini?" tanya Wallace dengan nada menyindir.


"Teman? Maksudmu Edgar? Aku tadi ke apartemennya. Waktu aku bilang mau ke sini dia mengantarku. Padahal aku sudah menolak," jelasku.


"Lalu kamu meninggalkannya di mobil, membiarkannya menunggu sendiri? Kamu tidak kasihan padanya? Seharusnya kamu temani dia saja!" kata Wallace semakin menjadi.


"Wallace, kamu ini kenapa, sih? Bukannya biasanya aku juga meninggalkan supir ku di taksi?! Kenapa kamu malah bicara seperti itu saat Edgar yang mengantarku ke sini? Kamu cemburu?" balasku.


"Aku cemburu?! Ya, aku cemburu? Memangnya kenapa?" jawab Wallace tak mau kalah.


"Kamu sama sekali tidak berhak untuk cemburu. Kamu bahkan tidak pernah bilang kamu mencintaiku! Untuk apa kamu cemburu?" tanyaku dengan emosi.


Wallace hanya diam saja. Dia tidak menjawab kata-kataku. Beberapa saat aku pun terdiam. Sampai emosi mulai sedikit surut. Aku berkata dengan pelan.


"Aku benar-benar tidak mengerti. Kamu semakin aneh saja! Mungkin sebaiknya aku pulang supaya kamu punya waktu untuk sendiri. Aku minta maaf kalau aku ada salah!"


Aku berjalan meninggalkan Wallace yang hanya diam mematung. Dengan perasaan serba salah yang berkecambuk di dada.


Edgar menatapku heran begitu aku masuk ke dalam mobil.


"Ei, cepat sekali? Dia tidak muncul di sana, ya?" tanya Edgar.


"Aku tidak tahu. Dia tiba-tiba marah! Mungkin dia butuh waktu untuk memikirkan semuanya sendiri!" jawabku.


"Marah kenapa?" Edgar bertanya dengan hati-hati.


"Sudahlah tidak perlu dibicarakan! Kita pergi saja!" kataku.


"Baiklah, aku akan mengantarmu pulang!" ujar Edgar.


Lalu mobil melaju meninggalkan Dixie Holly membawaku kembali ke hotel.


┌──❀*̥˚──◌──────────◌──❀*̥˚─┐


...29 Oktober 2013,...


...Aku mulai ragu dengan perasaan ini. Dia menjadi aneh. Semakin hari aku merasa dia semakin aneh. Dia memegang tanganku, memelukku, membelai kepalaku, bahkan terang-terangan mengaku cemburu tapi dia tidak pernah mengatakan apapun padaku. Aku jadi tidak mengerti hubungan apa ini?...


└◌───❀*̥˚─────────◌───❀*̥˚──┘

__ADS_1


Ku tutup buku harian yang baru selesai ku tulis. Dan menaruhnya di atas nakas. Kemudian mengambil buku yang ku pinjam tadi di perpustakaan melanjutkan bacaan yang tadi.


bersambung ....


__ADS_2