Pangeran Dari Dunia Lain

Pangeran Dari Dunia Lain
Pertemuan


__ADS_3

Aku melangkah dengan pelan menuju Dixie Street. Tujuanku hanya satu, Lucent Inn. Kupikir dengan suasana yang ramai seperti saat ini mungkin tidak akan membuatku merinding. Namun sayang nampaknya itu tidak berpengaruh. Karena begitu melewati katedral suasana kembali sepi. Tidak ada pengunjung yang berjalan sampai ke sini. Suasana di sini tidak berubah seperti hari pertama aku kemari. Tetap sepi, sunyi, dan mencekam.


Meski begitu tetap tak menyurutkan niatku untuk tetap mendatangi Lucent Inn. Dengan pelan dan hati-hati sambil mengawasi sekeliling, aku berjalan semakin dekat ke penginapan itu. Sambil berjaga-jaga kalau kakek tua itu muncul lagi tiba-tiba. Untuk saat ini sepertinya aman-aman saja karena tidak ada siapapun di sini. Sementara aku telah sampai di depan penginapan. Sebelumnya aku telah menyiapkan senter kecil sebagai penerangan supaya bisa melihat ke dalam melalui pintu kaca. Aku mulai menyalakan senter ku lalu ku arahkan ke pintu kaca. Belum sempat melihat apa yang ada di dalam tiba-tiba suara seseorang mengagetkanku.


"Apa yang kamu cari, Nona?"


Kaget. Sontak senter yang ku pegang pun terlepas dari tanganku. Aku segera berbalik untuk melihat siapa pemilik suara itu.


Detak jantungku yang sempat melonjak cepat masih belum kembali normal. Kini darahku dibuat membeku karena terkesima oleh sosok yang ada dihadapanku saat ini. Seorang pemuda tampan dengan kulit putih pucat, mata biru cerah dan rambut hitam kecoklatan tersenyum padaku. Satu lagi pakaiannya, seperti pakaian yang dikenakan para bangsawan jaman dulu yang biasa aku lihat di tv.



"Apa yang kamu lakukan di sini malam-malam begini?" tanyanya membuyarkan ketertegunanku.


"Ti ... tidak ... hanya jalan-jalan saja!" jawabku kaku. Lalu segera memungut senter yang jatuh dan mematikannya.


"Jalan-jalan? Sendiri? Boleh aku temani?" tanyanya menawarkan diri.


"Te ... tentu saja. Mungkin akan menyenangkan," jawabku begitu saja seperti tersihir oleh ketampanannya. Namun setelah itu sedikit menyesal telah menerima tawaran orang asing.


"Perkenalkan namaku Wallace. Aku tinggal di St. Barbara," kata pemuda itu mengenalkan diri sembari mengulurkan tangan.


"Eriza Ravella. Aku datang dari Losta," kataku sambil membalas jabatan tangan Wallace. Tangannya terasa sangat dingin sampai-sampai aku seolah merasakan tubuhku yang seakan ikut membeku.


"Kamu datang jauh-jauh kemari ada urusan apa?" tanyanya.


"Hanya berlibur," jawabku gugup.


"Oh ... Apa kamu suka tempat ini?" tanyanya lagi. Kini kami mulai berjalan dengan pelan.


"Maksudmu Dixie Holly? Atau kota New Angeles?" tanyaku lebih jelas.


"Keduanya," jawabnya.


"Aku sih tidak terlalu suka Dixie Holly. Tempat ini menakutkan," kataku jujur. Ya, suhu tubuhku sudah kembali lebih normal setelah sebelumnya terasa membeku.


"Tadi barusan kamu berani mendekat ke Lucent Inn. Padahal jarang sekali ada manusia yang berani mendekat ke sana," ujar Wallace dengan suaranya yang lembut.


"Yah, aku hanya penasaran saja. Menurut yang aku dengar tempat itu angker. Bahkan ada juga rumor yang mengatakan siapapun yang masuk tidak akan bisa keluar," kataku padanya. Aku mulai lebih terbiasa dengan pemuda asing di sampingku ini.


"Semua itu tidak benar. Hanya berita bohong saja. Itu untuk menghindari agar tidak ada pencuri yang berani masuk ke dalam dan mengambil barang berharga yang tertinggal," balas Wallace dengan penuh keyakinan.


"Benarkah? Lalu, kamu sendiri apa yang kamu lakukan di sini?" tanyaku dengan curiga. Jangan-jangan dia yang punya niat jahat.


"Aku hanya lewat. Saat keluar dari toko Dark Wolf aku melihat ada seorang gadis berdiri di depan Lucent Inn. Aku mendekat karena ada dua orang pria berdiri di belakangmu. Seperti hendak melakukan sesuatu. Lalu mereka pergi begitu melihatku datang," jawab Wallace tenang.


"Hah? Ada dua orang pria katamu? Jelas-jelas aku hanya sendiri tadi. Aku bahkan tidak melihat siapapun di sekitar penginapan. Kamu jangan bercanda!" ujarku. Jelas aku kaget mendengar Wallace berkata seperti itu. Karena aku sama sekali tak merasakan adanya kehadiran orang lain di belakangku tadi.


"Aku tidak bercanda. Kamu kan tahu tempat ini angker," balas Wallace dengan senyum menyeringai yang aneh.


Aku jadi merinding melihatnya seperti itu. Apalagi di sini begitu sepi.


"Ayo, kita ke sana!" ajak Wallace.


"Ke mana?" tanyaku was-was.


"Ke Stairway Street. Ayo, lewat sini!"


Tanpa menunggu jawaban dariku Wallace berjalan mendahuluiku.

__ADS_1


Ia membawaku melewati sebuah gang kecil dengan lampu jalan yang redup. Tetapi begitu sampai di ujung gang, suasananya berubah. Memasuki Stairway Street suasananya lebih terang, ramai dan berisik. Lebih seperti pasar malam. Banyak pula stand seperti di Dixie Street, bedanya stand di sini lebih menawarkan hiburan dan permainan daripada dagangan. Stairway Street juga didominasi gedung tua tak berpenghuni. Dengan meriahnya lampu serta hiasan dari stand yang berdiri di depan gedung tua tidak menciptakan kesan seangker Dixie Street.


Kali ini Wallace mengajakku ke tempat yang agak sepi. Kami sampai di depan bangunan bergaya Itali. Dari papan nama yang masih tergantung di depannya jelas bangunan ini dulunya merupakan sebuah restoran. Wallace mengajakku duduk di salah satu anak tangga bangunan. Aku menurut, duduk agak jauh di sebelahnya.


"Mengapa kamu mengajakku ke sini?" tanyaku.


"Aku ingin mengobrol denganmu. Apa tidak boleh?" ucapnya dengan polos.


"Bo ... boleh saja," kataku. Kembali merasa kikuk dengan suasana seperti ini.


"Aku boleh tahu lebih banyak tentang dirimu?" tanyanya dengan kalem.


"Kenapa?" tanyaku ingin tahu.


"Bukankah sekarang kita teman? Aku ingin kenal lebih dekat dengan teman baruku," jawab Wallace dengan senyum yang kalem.


"Bagaimana kalau kamu mulai duluan?" Aku memberikan penawaran.


"Baik, apa yang ingin kamu tahu?" tanyanya.


"Umur, tempat tinggal, pekerjaan ...." jawabku sekenanya.


"Aku seumuran denganmu. Seperti yang kukatakan tadi aku tinggal di St. Barbara. Pekerjaanku hanya membantu usaha keluarga di sana. Ada lagi?" jawabnya tenang.


"Apa kamu masih kuliah?" tanyaku. Bukan pertanyaan penting hanya ingin tahu saja.


"Tidak. Aku sudah cukup pintar," jawab Wallace memuji dirinya.


"Oh," gumamku pelan.


"Kamu sendiri, bagaimana? Tadi kamu bilang datang dari Losta? Apakah jauh dari New Angeles?" tanya Wallace dengan polosnya.


"Belum pernah," jawab Wallace jujur.


"Aku juga baru pertama kali ini ke luar kota, ke kota ini," aku menimpali.


"Kamu melakukan perjalanan sendiri?" tanya Wallace.


"Tidak. Aku datang bersama sepupuku. Dia ku tinggalkan di hotel sementara aku jalan-jalan si sini," jawabku.


"Kamu gadis pemberani!" puji Wallace kagum.


"Pemberani bagaimana?" ucapku.


" Kamu berani melakukan perjalanan jauh. Dan datang seorang diri malam-malam di tempat yang kamu tahu menakutkan hanya untuk sekedar menjawab rasa penasaranmu," terang Wallace dengan sorot mata yang aneh.


"Bukankah kamu juga demikian?" balasku.


"Aku?" Wallace menggumam tapi kemudian tersenyum penuh misteri.


"Oya, sebelumnya ada seorang kakek tua yang melarangku mendekati Lucent Inn. Apa kamu tahu siapa kakek tua itu?" tanyaku teringat pada pertemuan pertama dengan kakek tua asing.


"Kakek tua? Mungkin dia penjaga katedral," jawab Wallace. Ia nampak seperti memikirkan sesuatu.


"Oh ... Tapi kenapa dia melarangku mendekati penginapan itu, ya?" tanyaku sambil berpikir.


"Bukankah sudah kukatakan tempat itu angker," ucap Wallace pelan tanpa ekspresi.


Aku tak berani menatapnya dengan wajahnya yang tanpa ekspresi. Ia terlihat menakutkan. Aku hanya berkata pelan.

__ADS_1


"Mungkin juga karena rumor itu."


Suasana di sini masih sama sepinya. Aku meraih ponselku untuk melihat jam. Aku terkejut karena waktu sudah mendesakku untuk segera pulang. Aku bangkit berdiri.


"Wallace, aku harus pulang. Sudah hampir jam sebelas malam, aku sudah berjanji pada supir taksi yang menunggu di parkiran. Aku akan kembali sebelum pukul 11 malam," kataku padanya.


"Baiklah. Aku antar kembali ke Dixie Street," ucap Wallace. Ia ikut berdiri.


Dan kami berjalan kembali melewati gang sempit tadi untuk kembali ke Dixie Street. Tapi Wallace hanya menemaniku sampai melewati toko Dark Wolf.


"Aku antar sampai di sini saja. Tidak apa-apa kan kamu jalan sendiri?" katanya.


"Tidak," jawabku.


"Besok kalau ada waktu datanglah lagi kemari. Aku akan menunggu di sini jam 8 malam," pesan Wallace.


Aku mengangguk pelan.


"Pasti," kataku sambil tersenyum.


Ia membalas senyumku sambil melambaikan tangan. Aku membalikkan badan dan pergi meninggalkannya. Tapi aku masih menoleh ke belakang. Aku lihat dia masih berdiri di sana sedang tersenyum. Aku tersenyum dan membalikkan kepala. Terus berjalan. Lalu menoleh lagi ke belakang, di tempat tadi ia berdiri. Dia sudah tidak ada di sana.


...*****...


Aku membuka pintu kamar dengan pelan. Ku kira Sienna sudah tertidur tapi rupanya ia masih sibuk dengan ponselnya. Padahal sudah lewat tengah malam. Aku lalu melemparkan tubuhku keatas kasur.


"Bagaimana jalan-jalannya?" tanya Sienna.


"Lumayan," jawabku. Meski sebenarnya lebih dari lumayan.


"Tumben kamu belum tidur?" tanyaku.


"Tadi Justin telepon. Mereka sudah tiba di Jackville. Alex juga titip salam untukmu," jawab Sienna dengan wajah berbinar.


"Oh," ucapku tak tertarik dengan kalimat terakhir Sienna.


" Kamu tidak mau membalas salamnya?" tanya Sienna.


"Tidak. Aku tidak mau dia berharap. Tapi sampaikan rasa terima kasihku untuk hadiah darinya," jawabku. Aku tidak mau memberi harapan pada Alex karena aku sama sekali tidak tertarik padanya.


"Oke," balas Sienna. Ia kembali mengetik di atas layar ponselnya. Selesai dengan itu dia berkata, "Aku tidur dulu. Selamat malam, Riza!"


"Malam!" balasku.


Kuraih buku harianku di atas meja. Membuka lembaran kosong lalu mulai menulis.


┌──❀*̥˚──◌──────────◌──❀*̥˚─┐


...3 Juni 2013,...


...Pertemuan pertama dengan Wallace! Sepertinya rasa penasaranku akan Lucent Inn berpindah padanya. Sungguh pertemuan yang tak terduga....


└◌───❀*̥˚───────────◌───❀*̥˚┘


Aku tersenyum membaca tulisanku. Lalu ku tutup buku harian itu dan meletakannya kembali di atas meja. Aku pun berbaring di tempat tidur berusaha memejamkan mata. Tapi malah tidak bisa tidur.


Aneh. Kenapa aku malah jadi memikirkan Wallace, ya?!


bersambung .... 

__ADS_1


__ADS_2