Pangeran Dari Dunia Lain

Pangeran Dari Dunia Lain
Surat-surat Penggemar Edgar


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, di dalam mobil Sienna dan Suzan sibuk meributkan surat cinta Edgar. Sementara aku masih diam termenung dengan pikiranku.


"Banyak sekali! Di mana kita akan buka semua surat ini?" tanya Suzan sambil mengacak-acak kantong berisi semua surat dipangkuannya.


"Jangan di rumahku. Aku tak mau rumahku penuh berantakan dengan semua surat ini!" jawab Sienna.


"Kita ke rumahku saja!" usul Edgar.


" Ide bagus! Aku belum pernah melihat semua isi di dalam rumahmu! Pasti menyenangkan tinggal di rumah yang begitu besar!" ujar Suzan.


Akhirnya mobil melaju menuju mansion Edgar. Melihatku hanya diam saja tiba-tiba tangan Edgar menggenggam tanganku.


"Kamu tidak apa-apa?" tanyanya.


"Aku tidak apa-apa," jawabku sambil melepaskan tangannya dariku.


Edgar mengangguk.


Akhirnya kami tiba di mansion Edgar. Suzan dan Sienna langsung keluar sambil menenteng barang masuk ke dalam. Aku keluar belakangan bersama Edgar.


"Benarkah tidak apa-apa? Dari tadi kamu hanya diam saja! Bersemangatlah, Sienna dan Suzan pasti akan cemas melihatmu begini. Ingat ini rencanamu mengajak mereka datang kemari untuk mengejekku dengan surat-surat itu!" kata Edgar.


Aku tersenyum. Memang aku ingin tahu apa yang ditulis gadis-gadis itu.


"Aku tidak apa-apa. Kamu jangan marah ya!" ujarku sambil berjalan meninggalkan Edgar.


"Hah.. Kadang kamu ini sangat aneh!" desah Edgar saat aku mulai menjauh.


......................



"Edgar aku menyukaimu, maukah kamu jadi pacarku? Oh, Edgar ku yang tampan, aku sungguh tergila-gila padamu. Aku mencintaimu! Kamu idolaku! Hai tampan, boleh kita kenalan? Haiz .... Semua isinya sama saja!" ujar Suzan dengan bosan. Setelah membaca satu persatu surat itu.


"Memangnya apa yang kamu harapkan?" tanya Sienna.


"Setidaknya ada sesuatu yang lebih wow ... begitu!" jawab Suzan sambil menunjukkan ekspresi 'wow' nya.


"Hei, aku menemukan sesuatu! Sebuah foto, sepertinya foto lama!" kataku pada yang lainnya.


"Mana?" tanya Suzan mulai mendekat.


"Foto siapa?" Sienna pun ikut mendekat.


Dan kemudian Edgar.


"Ini!" aku menyerahkan foto itu pada Edgar.


Edgar menatapnya sambil mencoba mengingat-ingat.


"Ini foto semasa SMU dulu! Siapa pengirimnya?" tanya Edgar.


"Samantha Jillian," jawabku sambil membaca nama yang tertera di amplop.


"Samantha ...," gumam Edgar.


"Kamu kenal?" tanyaku.


"Ya, dia teman satu sekolahku dulu!" jawab Edgar.


"Aku tidak tahu dia juga kuliah di sana! Wajahnya pasti sudah berubah sehingga aku tidak mengenalinya," lanjut Edgar.


"Sepertinya dia teman yang spesial," ejek Suzan. Tapi Sienna menyikutnya agar ia diam.


Aku ingat dulu Edgar pernah cerita ia pernah menyukai seseorang. Apa jangan-jangan dia orangnya.


"Apa dia menulis surat?" tanya Edgar.


"Sepertinya ada! Ini ...," aku memberikannya langsung dengan amplopnya. Memang ada selembar kertas yang belum ku buka.


Edgar menerima dan membaca isinya. Kemudian menyimpan foto serta surat itu di dekat meja telepon.


"Ada yang lain lagi?" tanya Edgar.


"Tidak ada! Semuanya sama, hanya aku menyukaimu dan jadilah pacarku!" jawab Suzan.

__ADS_1


"Lalu, apa yang akan kamu lakukan dengan semua surat ini?" tanya Sienna.


"Biarkan saja. Nanti aku akan menyuruh Yuna yang membereskannya," jawab Edgar. Ia kemudian berjalan pergi dengan wajah gelisah.


"Aneh, apa isi di dalam surat itu? Ia jadi tidak tenang begitu," ujar Sienna.


"Entah. Aku juga tidak berani membacanya," jawabku.


Masih ada sebagian yang belum dibuka. Dan kami yang membuka semua sisanya. Tidak perlu membaca dengan seksama karena hampir semua isinya sama.


"Wah, aku dapat lagi ... dari Samantha Jillian!" seru Suzan. Ia baru akan membuka amplopnya tapi aku menahannya.


"Letakkan di atas meja!" kataku.


"Yah ...," Suzan jadi lemes karena tak bisa melihat isinya.


"Samantha Jillian, lagi!" giliran Sienna yang menemukan. Disisihkannya juga ke atas meja.


Semua selesai. Semua surat habis dibuka. Tinggal amplop dan kertas yang berserakan di mana-mana. Aku menyandarkan tubuhku di sofa. Lelah sekali. Suzan malah berbaring seenaknya di atas sofa. Sedangkan Sienna sibuk dengan ponselnya. Edgar masih belum kembali. Akhirnya Yuna datang dengan plastik hitam besar untuk membereskan semuanya. Sepertinya Edgar sudah menyuruhnya terlebih dulu.


"Yuna, kamu tahu di mana Edgar?" tanyaku.


"Tuan muda ada di balkon atas, Nona!" jawab Yuna.


"Kalau Ginnevra?" tanyaku lagi, karena tidak melihat keberadaan gadis itu.


"Nona muda sedang ke luar!" jawab Yuna.


"Oh ...," gumamku.


Sementara semuanya sibuk, aku pun beranjak.


"Hei, aku tinggal dulu ya!" kataku pada Sienna. Karena Suzan nampaknya sudah ketiduran.


"Oke," jawab Sienna.


Aku menaiki tangga ke lantai atas. Mencari kira-kira di balkon mana Edgar berada. Tidak sulit menemukannya. Ia berdiri di balkon belakang yang menghadap ke taman bawah. Aku mendekatinya dengan perlahan.


"Edgar, apa yang terjadi? Apa kamu baik-baik saja?" tanyaku pelan.


"Tidak apa-apa kalau kamu tidak mau cerita. Aku hanya berharap kamu baik-baik saja!" kataku sambil berbalik pergi.


Namun tanpa disangka-sangka Edgar tiba-tiba memelukku dari belakang. Aku kaget dan berusaha melepaskan diri.


"Edgar, apa yang kamu lakukan? Lepaskan!" kataku.


"Aku merindukanmu, Riza!" bisiknya.


Ah, suara itu. Aku cepat-cepat menoleh. Menatap matanya yang biru. Itu bukan Edgar.


"Tidak Wallace. Jangan seperti ini!"


"Aku hanya ingin memelukmu sekali lagi! Aku sangat tersiksa dengan perasaan ini. Bagaimana aku bisa pergi dengan tenang!?" ucap suara Wallace lirih.


"Wallace, aku juga ingin kamu tidak pergi. Tapi bukan seperti ini. Keluarlah dari tubuh Edgar! Ku mohon! Aku mencintaimu, tapi aku tidak mau kamu menjadikan tubuh orang sebagai perantara. Aku ingin melihatmu seperti dulu! Dengan wajah pucat dan tangan dinginmu," pintaku.


"Tapi kamu tidak akan bisa menyentuhku lagi, Riza!" ujar Wallace.


"Wallace, jangan pernah lakukan ini lagi!" pintaku.


Seketika kurasakan dekapan Edgar melemah. Tubuhnya kemudian lunglai ke bawah. Aku menopangnya semampuku. Dan ku tepuk-tepuk pipinya berusaha menyadarkannya.


"Edgar. Sadarlah! Edgar!" panggilku.


Tak lama kemudian Edgar tersadar. Ia kaget menyadari kepalanya berada dipangkuanku. Dengan cepat ia bangun.


"Apa yang terjadi?" tanyanya sambil mengingat-ngingat.


"Ah .... Apa aku melakukan sesuatu padamu? Aku ingat tadi Wallace datang dan ...."


"Ya, aku tahu. Kamu tidak melakukan apa-apa. Aku hanya cemas kamu tidak turun-turun setelah membaca surat Samantha. Aku hanya ingin bertanya apa kamu baik-baik saja? Kami juga menemukan dua surat Samantha yang lain!" kataku dengan cepat memotong kalimatnya.


"Benarkah?! Di mana?" tanyanya antusias.


"Di bawah, ada di atas meja!" jawabku.

__ADS_1


Edgar langsung mengajakku turun untuk melihat surat itu. Ia membaca kedua surat tersebut tanpa berkata apa-apa.


"Sepertinya dia teman yang cukup berarti," kataku mengira-ngira.


"Tidak juga. Hanya saja di surat pertama dia mengajakku bertemu. Tanggal di surat itu sudah lewat 6 bulan yang lalu. Tapi aku tidak pernah tahu karena tidak pernah membaca semua surat ini. Surat kedua ia berkata, ia datang ke tempat yang dijanjikan denganku tapi aku tidak datang. Dia menunggu sampai enam jam di sana. Dan surat terakhir ...," Edgar berhenti bercerita.


"Ada apa dengan surat terakhir?" tanyaku.


"Dia bilang sudah berhenti kuliah. Karena mengalami kecelakaan dan melukai kakinya. Meskipun telah sembuh dari kecelakaan tapi ia menjadi lumpuh. Kakinya tidak bisa digerakkan sama sekali sehingga ia harus menggunakan kursi roda ke mana-mana. Awalnya hal itu membuatnya malu untuk ke kampus dengan kondisi tersebut. Namun berkat dukungan teman-teman dan keluarganya ia bisa lebih percaya diri. Ia ingin menyelesaikan segera kuliahnya di sini. Namun itu tidak mudah, banyak teman yang justru mem-bully dan mengejeknya. Hingga ia tak tahan lagi dan memilih berhenti kuliah," jelas Edgar.


"Itu berarti sekarang dia sudah tidak kuliah di Alpha lagi?" tanyaku.


"Benar. Andai aku tahu dia tinggal di mana aku pasti akan menemuinya!" kata Edgar.


"Hei, coba saja cari di situs resmi Alpha, mungkin namanya masih terdaftar di sana!" aku mengusulkan.


"Hm, ide bagus. Kamu tahu alamat webnya?" tanya Edgar.


"Aku lupa. Sienna, apa kamu tahu alamat situs resmi Alpha?" tanyaku pada Sienna yang masih sibuk dengan ponsel.


"Aku tahu, tapi situs itu sudah lama dikunci dan tidak bisa diakses orang luar. Kalau ingin mencari seseorang, mengapa tidak gunakan G-Earth saja?" jawab Sienna sambil mengusulkan.


"Bisa juga. Kamu bisa melakukannya, kan?!" ujar Edgar.


"Itu mudah," jawab Sienna.


Jempol Sienna mulai sibuk menari di atas layar ponsel.


"Aku dapat! Alamatnya tidak jauh dari sini," katanya sambil menunjukkan alamat yang tertera.


Segera saja Edgar mencatatnya. Dan berterima kasih pada Sienna telah membantunya.


Hari telah mulai sore. Edgar pun mengantar kami pulang sampai ke rumah.


.......


.......


.......


...★━━━━PoV Edgar━━━━★...


Usai mengantar ketiga gadis itu pulang, Edgar langsung melaju menuju alamat rumah Samantha. Ia berhenti didepan sebuah rumah. Tanpa perasaan ragu ia mengetuk pintu rumah tersebut. Seorang wanita paruh baya membuka pintu.


"Maaf, Nyonya. Apa benar ini rumah Samantha Jill?" tanya Edgar dengan sopan.


"Ya, benar. Kamu siapa?" tanya wanita itu.


"Aku temannya. Teman kuliah," jawab Edgar senang karena ia berhasil menemukan Samantha.


Wanita itu nampak kurang percaya dengan Edgar. Ia terus memperhatikannya dari kepala hingga ke kaki. Sebuah suara tiba-tiba bertanya dari dalam.


"Ibu, siapa yang datang?"


Saat itu pula seorang gadis yang duduk di atas kursi roda muncul.



"Edgar!" seru Samantha tak percaya.


"Samantha!" ujar Edgar. Ia pun tak kalah kaget dengan penampilan Samantha yang sekarang. Wajahnya agak berubah namun tetap terlihat cantik dan segar meski hanya bisa duduk di atas kursi roda.


Lantas wanita paruh baya itu berkata, "Sekarang aku yakin kalian berteman," kemudian kembali ke dalam.


"Bagaimana kabarmu? Aku kira kamu tidak kembali ke Losta lagi!" tanya Edgar.


"Seperti yang kamu lihat sekarang. Kamu pasti baru membaca suratku!" ujar Samantha tepat.


"Iya. Aku baru tahu kondisimu dan segera mencarimu. Aku minta maaf saat itu tidak datang! Aku tidak tahu kamu menulis surat untukku!" kata Edgar menyesal.


"Tidak apa-apa. Aku juga lihat kamu sangat sibuk! Bagaimana kuliahmu? Pasti sudah masuk musim libur?" tanya Samantha.


"Ya, biasa saja. Tidak ada sesuatu yang terlalu menarik," jawab Edgar.


Ia mendorong kursi roda Samantha berjalan-jalan di halaman sambil bercerita tentang banyak hal.

__ADS_1


bersambung .... 


__ADS_2