Pangeran Dari Dunia Lain

Pangeran Dari Dunia Lain
Bertemu Kembali


__ADS_3

"Hari ini kita akan ke mana?" tanyaku pada Sienna begitu aku keluar dari kamar mandi.


"Ke museum sejarah Felize. Kamu suka sejarah? Mungkin kamu bisa melihat beberapa benda peninggalan di sana," jawab Sienna yang asyik mengutak-atik ponselnya.


"Oh ... Mungkin tidak terlalu membosankan," ujarku sambil mengeringkan rambut yang basah.


"Tidak terasa sudah lima hari kita di sini! Lusa kita sudah harus pulang!" kata Sienna.


Aku berhenti sejenak mendengar perkataan Sienna.


"Lusa?" Aku mengulangi kalimat itu. Entah Sienna mendengarnya sebagai pertanyaan atau gumaman.


Sienna menerangkan "Iya. Lusa, tepat satu minggu! Bukankah kita hanya diberi waktu liburan seminggu?"


Oh iya, betul. Aku hampir lupa bibi Jane memberi kami waktu libur seminggu di sini. Benar tidak terasa cepat sekali waktu berlalu. Padahal aku baru bertemu Wallace kemarin. Kalau begitu aku tidak banyak waktu bertemu dengannya sampai lusa nanti.


"Riza? Eriza!" panggil Sienna membuyarkan lamunanku.


Aku tersentak. "Ya? Kenapa?"


"Diam saja. Apa yang kamu pikirkan?" tanya Sienna.


"Tidak ada. Sebaiknya aku bersiap," kataku berdalih. Dan segera beranjak.


...*****...


Sama seperti kebanyakan museum lain yang isinya benda-benda peninggalan zaman purbakala. Demikian pula dengan museum Felize. Bedanya benda-benda yang menjadi koleksi di dalam museum ini lebih kepada benda hasil penemuan dari kota New Angeles saja. Yang mungkin sudah berusia berabad-abad.


Aku berjalan ke sisi kanan. Sebuah pedang mengkilat berukir naga di dalam kotak kaca menarik perhatianku. Aku mendekat untuk perhatikan dengan lebih jelas, ada sedikit noda di bagian ujung pedang itu.


"Riza, apa yang kamu lihat!" Sienna tiba-tiba datang dari belakang mengagetkanku.


"Tidak ada. Hanya sebuah pedang!" jawabku seadanya.


"Oh," Sienna bergumam sambil menatap ke arah pedang.


"Pedang yang bagus!"


"Ya! Masih terawat dengan baik!" tambahku.


"Ayo, kita ke sana! Kamu harus lihat lukisan besar yang ada di ruang tengah museum. Kamu pasti akan takjub melihatnya!" ujar Sienna sambil mengajakku pergi.


Aku mengikutinya, tapi beberapa langkah aku menoleh kembali menatap pedang itu. Aku merasa ada sesuatu yang aneh. Tapi cepat-cepat mengabaikannya.


...---PoV2---...


Begitu Eriza dan Sienna meninggalkan tempat penyimpanan pedang itu, tiba-tiba Wallace muncul di sana. Dengan tatapan tajam menatap kepergian kedua gadis itu.


...--------...


Benar seperti yang dikatakan Sienna, begitu kami sampai di ruang tengah. Sebuah lukisan sepanjang lima meter dengan warna emas, perak dan tembaga terpampang indah di dinding museum. Sebuah lukisan kerajaan. Aku bisa melihatnya dari istananya dan pemukiman penduduk yang tak jauh dari istana. Aku dan Sienna melihat lebih dekat ke lukisan itu. Benar-benar indah.


"Ini lukisan sebuah kerajaan! Yang melukisnya pasti orang yang hebat sekali!" kataku kagum pada lukisan yang berkilau itu.


"Benarkan kataku? Kamu pasti takjub dengan lukisan ini!" ujar Sienna senang.


Aku mulai mendekatkan jari ke lukisan itu. Penasaran dengan warna kilaunya. Dengan pelan mengusap lukisan yang permukaannya kasar seperti helaian benang yang ditumpuk-tumpuk. Tunggu dulu! Benang?


Aku mencoba memastikan sekali lagi bahwa jariku tidak salah. Dan mempertajam penglihatan bahwa ini tidak sekedar lukisan biasa. Ya, bukan lukisan biasa.


"Ini bukan lukisan. Ini sulaman! Gambar ini dibuat dari benang emas yang disulam!" seruku yakin dengan analisaku.


"Sulaman?" Sienna yang tak percaya mencoba menyentuh permukaan lukisan yang kasar namun berkilau.


"Tepat sekali!" ujar seorang pak tua yang berdiri tak jauh dari kami.


"Matamu sangat jeli, Nona! Lukisan ini memang disulam dengan benang emas, perak, dan tembaga!" lanjutnya sembari mendekati kami.


"Anda siapa?" tanyaku pada pak tua itu.


"Aku pengelola museum ini! Perkenalkan namaku Jones Warren!" jawab si pak tua sambil mengulurkan tangan.


Aku membalas jabatan tangannya.


"Eriza Ravella!" kataku memperkenalkan diri.


"Sienna Aeris!" ujar Sienna ikut memperkenalkan diri.


"Kalian luar biasa! Banyak pengunjung yang terkecoh dengan lukisan ini. Tapi anda, Nona Eriza ... dapat melihat bagian lain dari lukisan ini!" puji Mr. Jones.


Aku tersenyum. Dan kemudian bertanya.


"Yang tak bisa aku bayangkan, berapa lama waktu habis hanya untuk duduk dan menyulam gambar sebesar ini?"


Mr. Jones tertawa mendengar pertanyaan ku. Namun ia menjawabnya juga.


"Mungkin satu dua tahun cukup jika ia mengerjakannya setiap hari. Lukisan ini sudah ada sejak beberapa abad yang lalu. Tetapi siapa yang membuat itu masih jadi pertanyaan hingga saat ini."


"Aku rasa tidak akan cukup setahun dua tahun karena pengerjaannya sangat detail dan rapi. Ini dikerjakan dengan sangat hati-hati. Lihat saja detail gambarnya yang halus. Siapapun orang yang menyulam gambar ini, dia pasti sangat hebat!" menurutku begitu.


"Kira-kira di mana lokasi lukisan ini ditemukan pertama kali?" Sienna mulai bertanya.

__ADS_1


"Soal itu aku tidak begitu tahu. Kalau tidak salah di sekitar Dixie Holly. Menurut keterangan yang pernah ku dengar dari pengelola museum terdahulu," jawab Mr. Jones dengan ramah.


"Dixie Holly?!" Aku bergumam pelan.


"Kamu bilang apa, Nona Eriza?" tanya Mr. Jones memastikan.


"Ah, tidak ada. Terima kasih infonya, Mr!" kataku akhirnya.


"Sama-sama! Senang bertemu pengunjung seperti kalian! Kalau begitu aku permisi dulu! Semoga kalian menyukai koleksi kami!" ujar Mr. Jones yang hendak pergi.


"Tentu," balas Sienna. Dan Mr. Jones pun pergi.


Setelah puas melihat-lihat benda koleksi museum, aku dan Sienna akhirnya pergi. Tujuan selanjutnya adalah mencari tempat makan. Karena hari telah siang, perut pun mulai meminta bagiannya.


Pilihan jatuh di sebuah cafe terbuka di tepi jalan. Usai makan siang kami melanjutkan perjalanan dengan berkeliling kota dengan bus wisata selama dua jam.


Kami pulang sebelum petang. Karena aku tak ingin melewatkan janjiku bertemu Wallace malam ini. Waktuku di sini tinggal menghitung hari jadi aku harus memanfaatkannya dengan baik. Sepulangnya ke hotel aku segera menghubungi Mr. Richard. Aku akan menggunakan jasa taksinya untuk beberapa malam lagi.


...*****...


Aku turun dari taksi setelah memberi pesan kepada Mr. Richard. Ia mengangguk dan tersenyum ramah. Aku pun meninggalkannya, memasuki Dixie Street yang sama ramainya seperti semalam.


Aku berjalan ke tempat di mana Wallace menunggu. Dari kejauhan aku sudah melihatnya. Ia berdiri di depan katedral. Aku mempercepat langkah kaki menuju arahnya. Dan menyapanya dengan senyum hangat.


"Hai, sudah lama menunggu?" tanyaku.


"Baru saja!" jawab Wallace dengan senyum kaku di wajahnya.


"Aku kira kamu tidak akan datang," lanjutnya.


"Kenapa berpikir begitu?" tanyaku heran.


"Tidak tahu. Hanya perkiraan saja," jawabnya.


"Buktinya aku datang!" ujarku.


"Ya. Kamu gadis pemberani," katanya datar.


Entah apa maksudnya. Tapi ya sudahlah, siapa peduli.


"Terus kita mau ke mana?" tanyaku padanya.


"Aku tidak suka keramaian. Kita duduk di tempat kemarin saja!" jawab Wallace.


"Oke," aku mengikuti.


Seperti jalan yang kami tempuh kemarin. Aku dan Wallace melewati sebuah gang kecil menuju Stairway Street. Dan kembali duduk-duduk menghabiskan waktu di depan bekas restoran Italia.


"Bintang meskipun tidak nampak bukan berarti tidak ada! Ia selalu ada dalam cuaca apapun. Hanya kadang awan dan mendung menutupi sinarnya. Sehingga kadang kala ia tidak terlihat," ucap Wallace dengan pelan layaknya seorang penyair.


"Tapi lebih bagus kalau ia selalu terlihat. Supaya langit tidak terlalu gelap dan kosong bila ditatap," kataku.


Beberapa saat Wallace terdiam. Kemudian ia bertanya, "Kamu bisa ceritakan keluargamu?"


"Keluargaku?"


Wallace mengangguk.


"Aku ingin tahu bagaimana kehidupanmu! Bolehkah?" tanyanya.


"Boleh. Kenapa tidak?"


Aku agak kaget Wallace bertanya demikian. Karena sebelumnya belum ada teman pria yang pernah bertanya demikian padaku. Dengan sedikit canggung aku bercerita.


"Sudah sepuluh tahun ini aku tinggal bersama bibi Jane dan Sienna. Orang tuaku meninggal dalam kecelakaan mobil. Saat itu aku baru berusia 11 tahun. Bibi Jane-lah yang merawatku hingga saat ini. Selang tiga tahun kemudian paman ku meninggal karena serangan jantung. Tetapi bibi Jane wanita yang kuat, ia merawat dan membesarkan aku dan Sienna seorang diri."


"Apa dia menyayangimu?" tanya Wallace.


"Tentu saja. Bibi memperlakukan ku sama seperti memperlakukan Sienna. Tidak ada perbedaan antara kami berdua. Perjalananku kemari juga hadiah yang diberikannya padaku saat ulang tahunku beberapa hari yang lalu. Ia sungguh baik dan luar biasa sekali!" kataku dengan penuh kekaguman.


"Kamu ulang tahun? Selamat ulang tahun untukmu!" ucap Wallace.


"Itu sudah lewat," kataku.


"Tidak apa yang penting aku ada mengucapkan," jawab Wallace.


Aku tertawa. Kemudian gantian bertanya.


"Bagaimana dengan kehidupanmu?"


Sesaat Wallace nampak murung. Ia terdiam dengan wajah datar. Tapi kemudian ia tersenyum tipis dan menjawab pertanyaan ku dengan singkat.


"Orang tuaku juga sudah meninggal."


"Oh ... Maaf!" kataku tak enak.


"Tidak perlu minta maaf. Kita sama! Mereka meninggal karena ... melindungi ku," ujar Wallace pelan.


"Melindungi mu? Apa dulunya terjadi bencana alam di sini?" tanyaku.


Wallace diam tapi mengangguk.

__ADS_1


"Jadi, sekarang kamu tinggal dengan siapa?" tanyaku prihatin.


"Dengan saudara," jawabnya datar.


"Oh ... Hm, bagaimana kalau besok aku mengunjungimu di toko saudaramu? Aku akan mengajak Sienna dan mengenalkannya padamu," tanyaku.


Dengan cepat Wallace menolak.


"Tidak! Kamu tidak boleh ke sana!"


"Kenapa?" tanyaku.


Wallace nampak kebingungan, namun akhirnya ia berkata, "Saudara ku tidak suka ada yang mengunjungi ku di saat kerja."


"Oh, Dia pasti memperlakukanmu dengan sangat buruk! Yang sabar, ya!" kataku menyemangati Wallace sambil menempelkan tanganku di bahunya. Tetapi cepat kutarik kembali, bahunya terasa dingin dan keras meski tertutup pakaian.


Wallace menyadari reaksiku sehingga ia nampak merasa tidak enak.


"Maaf!" katanya serba salah.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan! Ku rasa ...." jawabku tak kalah canggung.


Kami berdua terdiam. Di malam yang gelap, dari kejauhan nampak dua orang pemuda berjalan mendekat. Mereka baru akan membelok ke gang kecil, tapi saat melihatku mereka berbalik dan berjalan mendekat ke tempatku duduk.


"Hai Nona, apa yang kamu lakukan di sini sendiri?" tanya seorang pemuda yang lebih tinggi.


"Ini sudah malam. Kamu tidak takut dengan .... "goda si pemuda satunya sembari memainkan jari-jarinya menyerupai sesuatu yang dia anggap menakutkan.


"Maaf, aku bersama temanku di sini! Kalian tidak lihat?" ujarku sembari menunjuk ke tempat keberadaan Wallace di belakang.


"Teman?!" Kedua pemuda itu berkata sambil saling berpandangan bingung.


Saat itu aku lihat Wallace berdiri dan melangkah maju satu langkah di sampingku.


"Oh, benar. Maaf kalau begitu sudah mengganggumu. Hahaha ... Kami pergi dulu!" kata pemuda yang tinggi itu. Keduanya segera pergi dengan wajah ketakutan.


"Apa-apaan orang itu. Apa dia tidak lihat aku sedang bersamamu!" gerutuku pada Wallace yang sekarang duduk disampingku.


"Mungkin karena terlalu gelap jadi tidak melihatku!" ujar Wallace.


"Bagaimana mungkin? Sementara mereka bisa melihatku dari jauh?" kataku tak sependapat.


Wallace tersenyum.


"Ya, sudahlah. Lain kali kamu harus hati-hati. Bisa saja mereka punya niat jahat. Apalagi kota ini sangat asing bagimu!" katanya.


Aku mengangguk mengerti.


"Ngomong-ngomong lusa nanti aku akan pulang ke Losta!" kataku dengan berat.


"Apa secepat itu?" tanya Wallace.


"Aku sudah seminggu di sini! Liburanku sudah berakhir! Jadi aku harus pulang!" jawabku sambil menatap Wallace lekat-lekat.


"Oh ... Jadi, kita tidak akan bertemu lagi?" tanyanya.


"Kamu berharap ingin bertemu denganku lagi?" tanyaku penasaran.


"Ya. Aku ingin sekali!" jawab Wallace cepat.


Aku tersenyum senang mendengarnya.


"Besok kita masih bisa bertemu! Tapi kamu tidak mengijinkan ku menemuimu di toko saudaramu. Ah, bagaimana kalau kamu ijin sehari saja tidak masuk kerja. Kita bisa pergi jalan-jalan!" kataku dengan semangat.


"Tidak bisa!" Wallace menolak.


"Kenapa? Apa ijin sehari pun tidak boleh?" aku bertanya menurut tebakanku.


Wallace mengangguk dengan pelan.


"Ish. Keterlaluan. Jadi, kita akan bertemu saat malam di sini?!" tanyaku memastikan.


"Iya. Aku hanya punya waktu malam hari saja!" jawab Wallace tenang.


"Oh ... Baiklah, aku mengerti!" kataku menyerah.


"Maaf!" ucapnya.


"Tidak masalah!" balasku.


Aku melirik jam di ponselku. Sudah waktunya aku pulang.


"Sudah waktunya aku kembali," kataku pada Wallace sambil berdiri.


"Baik. Ayo, ku antar," ujarnya ikut bangkit.


Kami berjalan kembali ke Dixie Street. Wallace hanya mengantarku sampai di depan Katedral.


"Besok aku tunggu di sini lagi!" pesannya sebelum aku pergi.


Aku mengangguk lalu berjalan pergi meninggalkannya. Perasaan aneh tiba-tiba muncul. Aku menoleh kembali ke belakang sudah tidak ada Wallace di sana. Cepat sekali ia pergi.

__ADS_1


bersambung ....


__ADS_2