
Semenjak percakapan di pantai itu Edgar tidak lagi menghubungiku dan tak pernah lagi muncul di kampus. Apa yang terjadi dengannya? Ada sedikit perasaan bersalah. Aku kembali bergumul dengan hatiku. Apakah sebaiknya aku mengirimkan pesan untuk sekedar bertanya kabar? Tapi, ada rasa gengsi menahan keinginan itu. Sehingga berlalu begitu saja. Akhirnya aku menunggu lagi sampai beberapa hari kedepan. Apa ia akan muncul atau tidak. Jika tidak barulah kuputuskan mencarinya.
Satu minggu kembali berlalu, Edgar masih tidak muncul di kampus. Aku mulai penasaran apa yang dia lakukan. Perasaanku juga tak yakin dia ke luar kota untuk suatu kompetisi. Akhirnya ku buang rasa gengsi dan mencoba menghubunginya. Sayang nomornya justru tak aktif. Kebetulan ini hari minggu. Sienna pergi ke luar bersama bibi. Sementara aku sendiri di rumah. Karena tak ada hal yang harus dikerjakan jadi ku putuskan pergi mencari Edgar di mansionnya.
Perjalanan cukup cepat dengan taksi. Aku tiba di mansion Edgar kurang dari setengah jam. Suasana rumah sangat sepi. Dari pintu gerbang aku bisa melihat mobil Edgar terparkir di garasi. Ku minta sang supir menunggu di depan gerbang sementara aku masuk ke dalam.
Halaman yang luas ini sangat sepi, tak ada siapapun yang aku temui. Seketika aku melihat Mr. Henry yang dulu pernah mengantarku dan Sienna kemari. Aku langsung memanggilnya.
"Mr. Henry! Mr. Henry!" teriakku sembari setengah berlari menuju tempat di mana dia berada.
Mr. Henry menyadari panggilanku. Dia menatapku dan menggangguk hormat seperti yang biasa dilakukannya kepada Edgar.
"Nona Eriza! Apa kabar?" tanyanya berbasa-basi.
"Anda masih ingat denganku!?" kataku.
"Tentu, ingatanku masih bagus. Ada gerangan apa Nona sampai kemari?" tanya Mr. Henry sambil mengerutkan dahi.
"Aku mencari Edgar! Apa dia ada di rumah? Aku sudah menghubunginya tapi nomornya tidak aktif!" Aku menjelaskan tujuan kedatanganku.
"Maaf Nona, tapi tuan muda tidak di sini! Sudah seminggu lebih tuan muda pergi ke New Angeles," jawab Mr. Henry.
"Ke New Angeles?! Untuk apa?" tanyaku dengan heran.
"Urusan keluarga," jawab Mr. Henry tenang.
"Oh," gumamku. Aku mengerti Mr. Henry pasti tak akan menjelaskan secara detail padaku. Jadi tak ada gunanya aku bertanya lebih banyak.
"Baiklah, Mr. Henry. Terima kasih atas informasi anda. Aku permisi dulu!" Aku pamit pergi.
Mr. Henry hanya mengangguk saja. Sedangkan aku mulai berjalan meninggalkan halaman rumah. Sekilas aku menangkap bayangan seorang wanita dibalik kaca jendela. Wanita itu sepertinya sedang mengawasiku. Menyadari bahwa aku menatapnya, wanita itu kemudian menyembunyikan dirinya dibalik tirai jendela. Aku juga tak memperdulikannya lagi. Aku masuk ke dalam taksi yang membawaku pulang.
.......
.......
.......
.......
...★━━━━━Pov2━━━━━★...
"Siapa gadis yang barusan datang kemari itu?"
Nancy langsung mencegat Henry dengan pertanyaan begitu lelaki tua itu memasuki rumah.
"Dia teman satu kampus tuan muda. Apa ada masalah, Nyonya?" tanya Henry.
"Tidak," jawab Nancy sambil berlalu pergi.
Dari dalam hatinya ia bergumam, 'gadis malang itu sedang berjalan menuju ke lembah kematian'.
__ADS_1
...★━━━━━━━━━━━━★...
.......
.......
.......
.......
Aneh, untuk apa Edgar ke New Angeles? Apa yang ia lakukan di sana? Urusan keluarga seperti apa yang dimaksud Mr. Henry? Aku jadi penasaran.
Ku raih ponselku dan mencoba menghubungi nomor Edgar. Tapi lagi-lagi nomor itu tidak aktif. Aku jadi cemas. Apa ini ada hubungannya dengan Wallace?! Oh ya ampun ... jangan sampai itu berhubungan dengannya. Mengingat sebelum kepergian Edgar ia sempat memperingatkan ku untuk menjauhi Wallace. Aku jadi bingung ada apa ini sebenarnya?
"Ada apa?" tanya Sienna yang begitu datang melihat kegundahan di wajahku.
"Aku tidak tahu. Aku merasa tidak tenang!" jawabku.
"Memangnya ada masalah apa?" tanya Sienna lebih jelas.
"Edgar. Sudah seminggu lebih dia pergi ke New Angeles. Nomornya tidak aktif sampai sekarang," aku menjelaskan.
"Terus kenapa kamu merasa tak tenang?" tanya Sienna yang bingung.
"Sebelum dia pergi dia memintaku untuk menjauhi Wallace tanpa alasan yang jelas. Tentu saja aku marah dan tak ingin berbicara dengannya. Keesokan harinya dia tidak muncul di kampus. Dan tahu-tahunya pergi ke New Angeles. Lalu sekarang tak ada kabar darinya dan aku tak tahu untuk apa dia ke sana," jawabku sejelas-jelasnya.
"Jadi, apa perkiraanmu kepergiannya untuk menemui Wallace?!" ujar Sienna.
"Apa dia akan berbuat begitu?" tanyaku.
Awalnya Sienna mengangkat kedua bahunya, tapi ia berkata.
"Jika sebelumnya dia berani memintamu untuk menjauhi Wallace. Apa tidak mungkin jika dia juga akan meminta Wallace melakukan hal yang sama?!"
"Aku tidak akan membiarkannya!" kataku cepat.
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Sienna dengan tenang meski aku sudah begitu tegang.
"Aku akan ke New Angeles!" kataku mantap.
"Apa?" seru Sienna kaget.
Aku melemparkan senyum penuh kemenangan padanya. Kemudian beranjak pergi menuju kamar. Namun Sienna mengikutiku. Seolah masih tak percaya dengan apa yang kukatakan barusan. Dia terus bertanya padaku.
"Kamu bercanda, kan?" ujarnya.
"Aku serius!" kataku.
"Bagaimana dengan kuliah?" tanyanya.
"Aku bisa mengulangnya saat kembali nanti," jawabku tenang.
__ADS_1
"Tapi, kamu tidak mungkin pergi sendiri!?" ujar Sienna keberatan.
"Mungkin. Aku akan ke sana sendiri. Aku sudah pernah ke sana sebelumnya dan aku yakin tidak akan tersesat!" kataku.
Sienna terdiam kehabisan kata-kata.
"Ya ampun, Riza .... Kamu yakin dengan keputusan mu?" Sienna masih tak percaya.
"Yakin seratus persen!"
"Lalu, kapan kamu pergi?" tanya Sienna.
"Besok!" jawabku sangat yakin.
"Apa Wallace begitu berarti untukmu!?" tanya Sienna dengan suara rendah.
Aku tercengang. Berarti? Jujur aku tidak yakin dengan pertanyaan itu. Tapi bagaimanapun dia pemuda yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan aku masih tidak bisa melupakannya hingga saat ini. Namun terlepas dari berarti atau tidaknya kehadiran Wallace, aku masih tetap harus menemukan Edgar untuk meluruskan masalah ku dengannya. Aku mengangguk dengan cepat.
"Ya. Ya. Tentu saja!" kataku cepat.
"Apa yang akan kamu katakan pada mama?" tanya Sienna sambil menghela nafas.
"Mungkin aku akan memberitahunya dengan surat saja. Bibi pasti tidak setuju jika aku pergi sendiri dengan alasan yang tidak jelas," jawabku.
"Baiklah, aku mengerti. Aku hanya bisa berdoa untukmu. Semoga berhasil!" ujar Sienna lalu dia meninggalkanku sendiri.
Aku tidak mau banyak berpikir lagi. Sebelum pikiranku berubah aku segera mengemasi barang-barang yang akan ku bawa besok. Sebelumnya aku memesan tiket keberangkatan via online untuk besok siang. Kemudian menulis sepucuk surat untuk bibi Jane dan juga surat ketidak-hadiran di kampus.
Keesokan paginya Sienna menemuiku di kamar sebelum ia berangkat kuliah. Aku sedang membereskan tempat tidur. Wajahnya nampak sedih. Tapi aku berusaha menyemangatinya.
"Kamu harus segera menghubungiku begitu sampai. Dan secepatnya pulang setelah urusannya selesai!" pesan Sienna seperti sebuah ancaman.
"Iya. Iya. Paling aku hanya beberapa hari di sana!" kataku sambil tersenyum.
"Kamu tahu betapa membosankannya rumah kalau tak ada kamu, Riza! Aku akan merindukanmu!" kata Sienna sembari memelukku erat.
"Aku juga pasti merindukanmu! Nanti pulang aku belikan oleh-oleh, ya!" kataku sedikit menghibur.
"Aku tak butuh oleh-oleh. Asal kamu pulang cepat itu sudah hadiah yang sangat bagus untukku!" jawab Sienna.
Menyadari dia harus segera berangkat kuliah dengan lesu menyeret kakinya meninggalkan kamar.
Aku hanya tersenyum melihatnya. Sienna lalu berbalik dan berpesan.
"Hati-hati, ya! Ingat setelah sampai langsung menghubungiku!"
"Iya. Bersemangatlah sedikit, Sienna! Kamu nampak tua kalau lesu begitu!" ejekku.
Sienna hanya menyengir saja. Dan pergi hingga hanya ada aku saja di rumah ini.
Kuletakkan sepucuk surat untuk bibi Jane di atas meja riasnya. Ia pasti akan membacanya saat ia pulang nanti. Saat jam tepat menunjuk pukul sebelas siang, taksi yang ku hubungi tiba di depan rumah. Aku pun bergegas berangkat meninggalkan Losta menuju ke New Angeles.
__ADS_1
bersambung ....