Pangeran Dari Dunia Lain

Pangeran Dari Dunia Lain
Kembali Ke Kota New Angeles


__ADS_3

Aku tiba di New Angeles tepat pukul lima sore. Dari bandara langsung menuju hotel di mana aku menginap dulu. Tidak ada yang berubah di kota ini sejak kedatanganku beberapa bulan lalu. Suasananya masih tetap sama. Hanya udaranya lebih dingin dengan jalanan yang masih basah nampak sehabis hujan.


Aku memasuki lobby hotel yang cukup ramai, langsung memesan kamar dan pergi beristirahat. Tiba di kamar aku langsung menghubungi Sienna memberitahukan bahwa aku telah sampai dengan selamat. Dari seberang telepon terdengar suara bibi Jane yang berteriak-teriak. Sienna memberitahuku bahwa bibi Jane sangat kaget mendapati suratku bahwa aku telah terbang ke New Angeles seorang diri. Tapi kecemasannya nampak berkurang setelah aku berbicara dengannya melalui telepon. Aku terus meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja dan dia tidak perlu cemas. Usai berbicara panjang lebar di telepon aku baru pergi membersihkan diri dan beristirahat.


Duduk sendiri di kedai makan memang membosankan. Tak ada teman yang bisa diajak bicara. Hanya orang asing yang terlihat berlalu-lalang di jalanan. Aku sengaja memilih sarapan di kedai tepi jalan daripada di restoran hotel agar bisa sambil melihat pemandangan. Memang aku belum tahu tujuanku hari ini akan ke mana. Ke mana mencari Edgar di kota seluas ini? Ku keluarkan ponsel dan mencoba menghubungi Edgar. Lagi-lagi tidak aktif. Aku jadi bingung akan memulai darimana perjalanan hari ini.


Aku membuka halaman guide-book yang sudah ku siapkan. Meski pernah ke sini sebelumnya tapi yah sekedar untuk berjaga-jaga supaya tidak tersesat. Saking seriusnya mengamati nama jalan-jalan di guide-book tersebut sampai tidak menyadari kehadiran seseorang. Sampai orang itu memanggilku.


"Hei, kamu Eriza, bukan?!" tanya pemuda berseragam khas yang berdiri di depan mejaku.


Aku menengadahkan kepala menatap wajah orang itu sembari mengingat-ingat di mana aku pernah bertemu dengannya. Ya, aku tahu dia.


"Kamu ... Roger?!" seruku.


"Ya! Kamu masih ingat rupanya!" ujar Roger yang dulu pernah menjadi supir yang mengantarku. Tanpa segan-segan ia duduk di depanku.


"Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi! Dengan siapa kamu kemari?" tanya Roger antusias.


"Sendiri!" jawabku.


"Sendiri? Menempuh perjalanan sejauh ini? Wow!" ujar Roger kagum.


"Yah. Dan kamu masih bekerja sebagai supir taksi?" tanyaku.


"Iya. Tentu saja, usaha keluarga," jawab Roger.


"Ngomong-ngomong ada urusan apa kamu ke sini, Eriza? Apa berlibur lagi?" tanya Roger kemudian.


"Tidak. Aku mencari seseorang!" jawabku seadanya.


"Siapa?" tanya Roger penasaran.


"Teman," jawabku.


"Oh, mungkin ...," belum sempat Roger menyelesaikan kalimatnya, dari kejauhan terdengar seseorang memanggilnya.


"Oh maaf, penumpang ku sudah memanggil. Lain kali kita bicara lagi! Dan kalau kamu butuh supir, ini hubungi aku kapan saja aku akan siap melayani!" kata Roger terburu-buru sembari memberikan kartu nama-nya padaku.


"Oke, trims!" balasku. Roger berlari kembali ke dalam taksinya dengan cepat.


Aku menyimpan kartu nama itu ke dalam tas kecilku. Sekarang aku menuju ke St. Barbara. Area pertokoan yang tak pernah sepi pengunjung. Bahkan di hari biasa seperti sekarang. Aku berjalan menyusuri tiap ruko lalu masuk ke dalam plaza. Memandang ke sana-kemari yang semuanya hanyalah kios-kios kecil penuh dagangan. Sebenarnya tujuanku kemari adalah berharap mungkin aku bisa menemukan Wallace. Mengingat dulu dia pernah bilang bekerja di sini. Tapi seharian berkeliling aku tidak menemukan apapun. Yang ada kakiku yang pegal-pegal akhirnya. Sebelum hari menjadi gelap aku kembali ke hotel. Satu hari yang terlewati dengan sia-sia. Aku meraih ponselku dan menulis pesan untuk Sienna mengabarkan kegiatanku hari ini. Aku masih berusaha mencoba menghubungi Edgar. Tapi tetap nomornya tidak aktif. Aku lelah dan tertidur.

__ADS_1


Pagi ini aku kembali ke kedai makanan tepi jalan yang kemarin aku datangi. Tapi kali ini ada Roger sebagai teman bicaraku. Sengaja aku gunakan jasa taksinya. Selain karena kami telah saling mengenal aku juga akan memakai jasanya mengantarku seharian ini.


"Jadi, siapa teman yang kamu cari? Kamu sudah tahu alamatnya?" tanya Roger.


Aku menggelengkan kepala.


" Belum. Nomornya tak bisa dihubungi. Aku tak tahu dia menginap di mana," jawabku.


"Oh, dia bukan orang sini," ucap Roger.


"Bukan, dia dari Losta juga. Hanya ke New Angeles ada sedikit urusan," jawabku.


"Hm .... Aku mengerti. Begini saja, kita coba cari namanya di setiap hotel di sini. Aku tahu beberapa hotel terkenal yang paling banyak dipilih turis sebagai tempat menginap. Salah satunya hotel tempatmu menginap sekarang. Apa kamu sudah mengecek nama temanmu di sana?" kata Roger mengusulkan.


"Belum. Aku tidak berpikir sampai ke sana," jawabku.


"Baiklah, kita mulai dari sana saja. Kamu sudah siap berangkat?" tanya Roger.


"Iya. Ayo!" jawabku dan kami memulai perjalanan.


Sebelumnya kami kembali ke hotel tempat ku menginap. Aku langsung menuju ke meja resepsionis. Sedangkan Roger memilih menunggu di taksi.


Seorang wanita menyambutku dengan senyum ramah.


" Maaf aku sedang mencari temanku yang mungkin menginap di sini. Bisakah anda membantuku mencari namanya?" tanyaku dengan sopan.


"Siapa nama teman Nona?" tanya si resepsionis.


"Edgar," jawabku.


"Tunggu sebentar!" ujar si resepsionis kemudian ia beralih ke mejanya. Mengetik beberapa huruf di papan keyboard sembari memperhatikan layar komputer di depannya.


"Apa namanya Edgar Julius?" tanyanya kemudian.


"Bukan. Edgar Juan Henley. Nama belakangnya Henley," aku menjelaskan.


"Maaf Nona, tidak ada nama Edgar Juan Henley di daftar tamu kami!" ucap resepsionis kemudian.


"Oh, trims kalau begitu!" kataku sembari berlalu pergi. Dan kembali ke tempat di mana Roger menunggu.


"Bagaimana?" tanya Roger begitu aku tiba.

__ADS_1


"Dia tidak menginap di sini!" jawabku.


"Kalau begitu kita cari di hotel lain," usul Roger.


Kami mulai berangkat. Roger membawa ku menuju ke beberapa hotel ternama di daerah yang berbeda. Dengan pertanyaan yang sama ku lontarkan pada setiap resepsionis hotel yang ku temui. Semua memberi jawaban yang sama, tidak ada tamu yang bernama Edgar Juan Henley di penginapan mereka. Aku mulai putus asa. Namun Roger terus memberiku semangat di sepanjang perjalanan. Sampai tiba di penginapan terakhir yang terletak agak jauh dari kota pun tetap tidak ada nama Edgar di sana.


"Aku benar-benar putus asa harus mencari di mana lagi ...," kataku lemas.


"Jangan patah semangat dulu. Kota ini terlalu luas untuk dijelajahi sehari. Kamu yakin temanmu ada di kota ini, bukan? Dia pasti berada di suatu tempat di kota ini. Kalau aku tebak dia pasti teman yang sangat special bagimu, ya!" kata Roger.


"Tidak juga. Kami hanya berteman dekat. Tidak ada hubungan apa-apa. Aku hanya mencemaskan sesuatu yang tak ku inginkan terjadi," kataku.


"Begitu, ya .... Ngomong-ngomong ini sudah sore, ke mana tujuan kita selanjutnya?" tanya Roger.


"Kita kembali ke hotel saja. Kamu bisa datang lagi jam tujuh malam nanti? Aku ingin ke Dixie Holly," jawabku.


"Baik. Aku akan tiba tepat waktu," ujar Roger dengan semangat. Dan kami melaju kembali ke hotel tempat aku menginap.


.......


.......


.......


.......


Tepat jam tujuh malam aku ke luar dari hotel. Di sana Roger sudah menunggu dengan taksinya. Aku menghampirinya.


"Tepat waktu seperti yang kamu katakan!" pujiku.


"Aku tidak suka membuat tamu ku menunggu," balas Roger sembari membukakan pintu penumpang bagiku.


"Trims," ucapku.


Roger langsung menjalankan taksi. Dia tak perlu lagi bertanya tujuanku karena aku sudah mengatakannya tadi sore. Perjalanan cukup cepat. Kami tiba tak lama kemudian. Seperti kebiasaanya Roger lebih suka menunggu di taksi. Aku pun berjalan sendiri menyusuri sepanjang Dixie Street yang ramai. Yah, bulan ini lebih ramai pengunjung dibanding beberapa bulan lalu.


Tak terasa langkahku sampai pada penghujung jalan yang sepi. Tidak ada yang berubah. Tembok tinggi itu masih berdiri kokoh. Hanya saja gang kecil yang dulu aku lewati dengan Wallace kini sudah dipasang penerang. Sehingga suasananya tidak seseram dulu.


Lelah berjalan aku memutuskan duduk di bangku kosong dekat katedral. Sambil menunggu dengan penuh harap orang yang kutunggu akan muncul. Wallace.


Satu jam, dua jam berlalu. Pandanganku masih mencari ke segala sisi. Tapi dia tidak terlihat sama sekali. Sementara udara malam semakin dingin. Hingga waktu hampir menunjuk pukul sebelas malam aku memutuskan pulang. Aku beranjak dari bangku dan berjalan pergi.

__ADS_1


bersambung ....


__ADS_2