Pangeran Dari Dunia Lain

Pangeran Dari Dunia Lain
Yang Tersisa Hanya Bayangannya


__ADS_3

Dengan tenang Edgar melangkah mendekati gadis yang menunggunya dari tadi di halaman. Gadis yang menghabiskan sisa hidupnya di atas kursi roda. Ia tersenyum manis pada Edgar begitu pemuda itu mendekat.


"Sudah lama menunggu?" tanya Edgar basa-basi.


"Baru saja! Hari ini mau mengajakku ke mana?" jawab Samantha dan bertanya balik dengan girang.


"Samantha, ada yang ingin aku katakan padamu!" ujar Edgar tegang.


Wajah Samantha pun berubah serius.


"Ada apa?" tanyanya.


"Aku .... Aku rasa aku tidak bisa menemuimu lagi! Ah, mungkin sekali-kali bisa," kata Edgar dengan gugup.


"Memangnya kenapa?" tanya Samantha serius.


"Besok aku akan berangkat ke New Angeles dan mungkin akan kembali setelah tahun baru," jawab Edgar.


"Oh. Itu tidak masalah. Kamu kan bisa datang setelah kembali!" ucap Samantha merasa lega.


"Tidak, Samantha. Masalahnya aku mencintai seseorang. Sekarang dia ada di New Angeles dan besok aku akan ke sana untuk memenangkan hatinya," terang Edgar.


"Apa? Jadi selama ini kamu .... Bukan aku yang kamu cintai?" ucap Samantha sambil menundukkan kepala. Ia merasa kecewa.


"Samantha, dulu aku memang pernah menyukaimu. Tapi itu sudah sangat lama, saat kita masih duduk di bangku SMU. Sekarang keadaannya sudah berbeda!" Edgar menjelaskan dengan pelan.


"Apa karena sekarang aku cacat?!" tanya Samantha sedih.


"Tidak, tidak, bukan itu, Samantha! Sebelum aku tahu kamu sekampus denganku aku sudah lebih dulu mencintainya. Dan aku tidak mau kehilangan untuk kedua kalinya. Kamu mengerti, kan?! Kamu adalah teman yang paling baik bagiku, Samantha!" jawab Edgar tulus.


"Yah, aku mengerti. Kalau begitu pergilah! Aku tidak akan mengganggumu lagi!" ujar Samantha.


Lalu ia membalikkan kursi rodanya dengan susah payah hingga ia kembali ke dalam rumah. Namun setelah berada dibalik pintu ia menangis.


...★━━━━━━━━━━━━★...


... ....


.......


.......


.......


.......


Di saat semuanya sedang begitu gembira, tertawa ria menikmati liburan mereka. Aku justru terdiam dengan pikiranku sendiri. Di hari pertama, sudah ada beberapa gedung museum dan perpustakaan yang kami kunjungi. Meski beberapa sudah pernah ku datangi sebelumnya. Aku sama sekali tidak ada semangat.

__ADS_1


Alex dan Ginnevra mulai terlihat akrab. Justin dan Sienna tentu tak terpisahkan, sedangkan bibi Jane dan Suzan terkagum-kagum sendiri dengan apa yang mereka lihat di depan mereka. Aku hanya seperti pengawas yang memperhatikan tingkah mereka. Sore ini kami makan di cafe terbuka dekat hotel. Aku menatap ke seberang jalan, di mana apartemen yang ku tinggali dulu berada. Sementara yang lain sibuk membahas tujuan mereka selanjutnya. Sekilas aku mendengar seseorang menyebut Dixie Holly. Aku mengarahkan kembali pandangan dan fokus pada apa yang mereka bahas.


"Ya, setelah ini kita ke Dixie Holly. Di sana sangat misterius. Kalian jangan takut ya! Tapi kalau Ginnevra takut, kamu boleh koq memelukku!" ucap Alex sambil menggoda. Dan yang lain menyorakinya.


Jadi, memang benar akan ke sana. Tempat yang seharusnya aku hindari, tapi aku tak punya alasan untuk menolak. Yang ada mereka malah curiga. Terpaksa aku ikut, karena Wallace pasti sudah tidak ada di sana lagi.


Setelah langit mulai gelap kami berangkat. Alex menyuruh yang lainnya masing-masing membawa senter. Ia pasti berencana masuk ke bangunan angker itu lagi. Benar dugaanku, begitu tiba di Dixie Holly. Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah Mansion Maera. Sebenarnya aku masih takut masuk ke sana mengingat pengalaman tak enak yang terjadi dulu. Aku berjalan menempel erat pada Ginnevra. Sementara pandanganku kesana-kemari dengan tak tenang.


"Tenanglah, Eriza! Tidak perlu takut seperti itu!" ujar Ginnevra sambil memegangi tanganku. Ia menyadari ketakutanku.


"Apa kamu masih punya kekuatan itu?" tanyaku setengah berbisik. Aku ingat Ginnevra bisa melihat makhluk tak kasat mata.


"Ya. Tapi aku tak melihat ada apa-apa di sini! Semuanya normal saja!" jawab Ginnevra.


"Oh. Sebenarnya aku punya pengalaman tak enak di sini. Jadi, aku masih merasa takut!" jelasku.


"Tenanglah tidak ada apa-apa!" ucap Ginnevra meyakinkan.


Namun begitu sampai di lukisan keluarga Dixie, saat Alex mengacungkan senternya ke lukisan. Spontan aku berlari keluar mansion dengan cepat. Di sini aku kerasukan arwah Ratu Maera dulu. Jangan-jangan sang ratu sedang mengawasiku, begitu pikirku.


.......


.......


.......


...★━━━━━PoV2━━━━━★...


Sementara yang lainnya menatap heran pada Eriza yang lari terbirit-birit tanpa sebab. Ginnevra justru mengarahkan senternya lebih dekat ke lukisan.


"Pangeran ...." gumamnya.


...★━━━━━━━━━━━━★...


... ....


.......


.......


.......


Nafasku terengah-engah sehabis berlarian. Tanpa sadar aku sampai di depan katedral. Namun pintunya tertutup. Ya, ini hari rabu. Aku putuskan duduk di depan katedral saja sambil mengatur nafas. Nafasku belum kembali normal kembali aku dikagetkan dengan tepukan seseorang di pundak. Aku berteriak tanpa berani menoleh.


"Hei, tenanglah Nona! Ini aku!" ucap suara berat yang sudah sangat kukenal.


Aku baru berani menatapnya.

__ADS_1


"Oh, Pak Berto .... Anda sungguh membuatku kaget!" kataku.


Pak Berto terkekeh.


"Ada apa Nona kemari? Bukankah dia sudah pergi?" tanya Berto seolah tahu semuanya.


"Anda juga tahu dia sudah pergi?" tanyaku.


"Dia berpamitan denganku! Kamu masih ingin menemuinya? Kekekeke .... Mustahil!" jawab Berto sambil tertawa terkekeh.


"Mustahil maksud Pak Berto?" tanyaku tak paham.


"Mustahil kamu akan bertemu dengannya lagi! Dunia kalian benar-benar sudah berbeda!" jawab Berto.


"Sebenarnya aku datang berlibur bersama keluarga dan teman-temanku. Aku sama sekali tak ada niat untuk kembali ke sini. Kebetulan mereka mengunjungi Mansion Maera. Sementara aku masih trauma masuk ke sana jadi aku lari meninggalkan mereka. Tanpa sadar sampai di sini," aku menjelaskan pada Pak Berto.


"Begitu .... Yah, seharusnya kamu tidak perlu mencemaskan apa-apa lagi. Dia ...."


Pak Berto terus berbicara sampai mataku tak sengaja menangkap sosok seseorang jauh di depan sana, di antara kerumunan keramaian. Ia nampak bersinar di antara para kerumunan. Sontak aku berdiri mengabaikan apa yang dikatakan pak Berto.


"Maaf, Pak Berto aku harus pergi!" pamitku.


Aku langsung berlari mengejar sosok itu. Aku masih bisa melihatnya bersinar di antara keramaian. Namun saat aku semakin dekat dia justru semakin jauh. Dan begitu aku sampai dia menghilang. Hampir-hampir aku tak percaya. Lemas kaki seketika. Aku terduduk di atas tanah di antara keramaian. Tubuhku bergetar, mataku panas. Ini hampir sama seperti mimpi ku dulu.


Seperti dugaanku semuanya tengah menungguku di depan Mansion Maera.


"Deja Vu! Ini seperti pertama kalinya kita bertemu kan, Riza?! Hai, kita belum kenalan, namaku Alex!" goda Alex begitu aku sampai di depan mereka.


"Jangan bercanda, Alex!" tegur Sienna.


"Maaf, semuanya!" kataku singkat dengan wajah tertunduk.


Aku tak ingin mereka menangkap semburat mendung di mataku, terutama Sienna.


"Baiklah, kita kembali ke hotel saja! Kita lanjutkan lagi besok!" usul bibi Jane.


Semuanya setuju. Kami kembali ke hotel untuk beristirahat.


Aku sedang berbaring di atas kasur. Saat ku lihat Ginnevra masih sibuk dengan ponselnya. Aku bangun dan bertanya sekali lagi untuk meyakinkan,


"Ginnevra, benarkah kamu tidak lihat apa-apa di Dixie Holly tadi?"


"Ya. Sama sekali tidak," jawab Ginnevra.


"Baiklah. Selamat malam!" kataku dan kembali berbaring di kasurku. Meskipun belum bisa tidur.


bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2