
Aku terbangun dengan kepala terasa berat. Ku pandangi sekitar, ini kamarku. Aku mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Aku berdansa dengan Edgar kemudian berciuman dan setelah itu tak ingat apa-apa lagi.
Aku turun ke bawah. Rumah sepi seperti biasanya. Sienna dan Justin pasti sudah pergi berbulan madu. Aku baru hendak naik ke atas. Saat bibi Jane pulang dengan banyak belanjaan.
"Bibi ... Bibi tidak bekerja?" tanyaku sambil membantunya membawa barang belanjaan ke dapur.
"Tidak. Bibi sudah berhenti. Sienna tidak mengijinkan bibi bekerja lagi!" jawab bibi Jane.
"Bibi pasti kesepian setelah ditinggal Sienna," ujar ku.
"Tidak, sayang. Sienna dan Justin akan tinggal di sini. Setelah bulan madu mereka selesai, mereka akan pulang ke Jackville. Beberapa hari di sana dan baru kembali ke sini. Lagipula Justin sudah mendapatkan pekerjaannya di sini," jelas bibi Jane.
"Oh. Bagus sekali! Jadi Bibi tidak akan tinggal sendiri lagi. Apalagi setelah mereka punya anak, rumah ini pasti tidak akan sepi lagi," kataku.
"Iya, Sienna sudah mendapatkan kebahagiaan kecilnya. Sekarang giliran mu, Riza! Jangan hanya memikirkan pekerjaan, pikirkan juga masa depanmu!" ujar bibi Jane.
"Oh iya, semalam Edgar yang membawamu pulang. Dia menjagamu hingga larut malam. Dia sangat mengkhawatirkan mu. Dia bilang kamu terlalu banyak minum. Dia pemuda yang baik, Riza!" bibi Jane melanjutkan.
Aku terdiam sesaat. Ya aku tahu soal itu.
"Bibi ...," panggilku.
"Ya?" jawab bibi ditengah kesibukannya menaruh barang.
"Bagaimana Bibi mampu melewati semua ini setelah kepergian paman?" tanyaku tiba-tiba.
Bibi Jane terhenti sejenak. Dengan tenang ia tersenyum. Lalu menjawab pertanyaan ku,
"Itu karena perasaan cinta yang besar yang membuat Bibi kuat. Pamanmu telah bahagia di alam sana, jadi Bibi tidak sepantasnya bersedih. Bibi sangat mencintai pamanmu dan rasa cinta itu tersalurkan pada Sienna. Riza, kita tidak bisa melawan takdir, tapi tidak baik terus berfokus pada kesedihan itu. Ingatlah di sisi lain masih ada orang yang membutuhkan kita. Masih ada mereka yang berharap pada kita dan mencintai kita. Jadi, kita harus tetap membuka mata dan biarkan kesedihan berlalu. Kita harus tetap hidup untuk orang yang mencintai kita."
"Mengapa kamu tiba-tiba bertanya begitu, Riza?" kini bibi yang bertanya karena merasa aneh.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu saja," jawabku sambil tersenyum.
"Kamu masih muda, Riza! Jalanmu masih panjang. Jangan biarkan 'kehilangan' itu menghambat mu! Suatu hari kamu pasti akan mendapatkan yang lebih baik daripada dia yang telah pergi!" ujar bibi Jane dengan nasehatnya.
__ADS_1
"Iya, Bibi. Trims!" balasku. Dan aku kembali ke kamarku.
Aku merenung memikirkan ucapan bibi. Apalagi nasehat terakhirnya tadi. Apakah setelah melepaskan kepergiaan Wallace sebagai gantinya ada Edgar yang sangat perhatian dan baik? Aku tidak mengerti. Tapi aku setuju dengan ucapan bibi. Aku tidak sepantasnya bersedih karena dia telah bahagia di sana. Meskipun kesedihan sudah berlalu tapi perasaan itu tidak mudah hilang begitu saja. Hingga kini pun aku tak berani menerima Edgar. Jika aku menerimanya hanya untuk melupakan Wallace, atau ternyata aku masih memikirkan Wallace, bukankah itu berarti aku sangat kejam. Tapi aku sudah menciumnya, apa bedanya? Aku merasa sangat jahat. Aku seperti mempermainkan perasaannya. Menggantung perasaannya tanpa kejelasan selama bertahun-tahun. Aku tidak rela dia pergi tapi juga tak bisa menerima cintanya. Aku sungguh bingung dengan perasaan ini.
...
....
.......
... ....
...★━━━━Pov Edgar━━━━★...
Di kediaman Edgar. Ia sedang duduk di teras taman belakang rumah. Pikirannya penuh dengan berbagai pertanyaan.
'Bagaimana kabar Eriza hari ini, ya? Dia sudah bangun belum, ya? Apa dia marah padaku setelah semalam menciumnya? Atau apakah ini akan menjadi awal yang baik? Ah, aku berharap semoga saja begitu.'
...★━━━━━━━━━━━━★...
... ....
.......
.......
Aku sedang berdiri di depan jendela kamar. Saat kudengar ponselku berbunyi. Aku langsung meraihnya. Sebuah pesan dari Edgar. Aku langsung membalasnya.
Mobil Edgar melaju menerobos jalanan yang sepi. Hari ini dia mengajakku ke pantai. Kami masih bercanda seperti biasa. Dia sama sekali tidak membahas soal kemarin.
Kami bermain air seperti biasa, saling mengejek dan berkejaran, hingga tak terasa hari mulai sore. Kami duduk-duduk di atas bebatuan sambil menunggu matahari terbenam.
"Edgar, minggu depan aku akan kembali ke luar kota meneruskan kontrak kerjaku!" Aku memulai obrolan.
__ADS_1
"Apa secepat itu? Kamu baru sebulan di sini. Sudah mau pergi lagi?" tanya Edgar tak percaya.
"Lalu, berapa lama kamu pergi?" ia melanjutkan.
"Mungkin lima tahun," jawabku datar.
"Selama itu?! Riza, kamu tidak memikirkan bagaimana perasaanku? Apa aku harus menunggu selama itu lagi? Tidak bisakah pekerjaanmu pindah ke sini saja?" tanya Edgar.
"Aku tidak memintamu menunggu, Edgar! Carilah gadis lain! Aku tidak pantas untukmu!" jawabku.
"Yang aku cintai itu kamu, Riza! Bagaimana bisa aku mencari gadis lain?!" jelas Edgar dengan suara memelas.
"Maaf Edgar, tapi aku tidak mencintaimu. Tidak bisa!" kataku pelan.
"Kenapa tidak bisa? Apa karena kamu masih memikirkan Wallace?" tanya Edgar.
"Aku tidak ingin memikirkannya. Aku bahkan tidak merasa sedih. Tapi begitu aku mencoba membuka hatiku untuk orang lain, dia ikut muncul di dalam kepalaku. Aku tak ingin menerimamu hanya agar aku melupakannya. Sementara aku tidak mencintaimu. Aku tidak ingin begitu. Jadi, lebih baik kamu berhenti mengharapkanku!" jawabku pada Edgar.
"Aku tak mengerti hati wanita, entah berapa lama mereka sembuh dari luka masa lalunya. Namun jika itu keputusanmu aku akan coba menerimanya. Meski itu berarti aku harus menjauhimu! Kamu mengerti, kan?" ucap Edgar dengan nada pilu.
Aku hanya menganggukkan kepala. Aku mengerti dia tidak akan bisa melupakanku bila masih terus bersamaku. Mungkin begini lebih baik. Dengan perasaan yang terus muncul dan tenggelam seperti matahari aku bahkan tak berani mencintai siapapun.
Di dalam diam kami hanya suara deburan ombak yang terdengar. Matahari yang terbenam menyisakan rona jingga kemerahan. Mungkin ini matahari terakhir yang bisa kami nikmati bersama. Di dalam hati aku hanya mampu berbisik 'maaf, Edgar!'. Aku tidak akan menjadi beban lagi untukmu.
╔═.✵.════════════════════╗
...29 July 2019,...
...Mungkin ini hari terakhir di mana aku bertemu Edgar. Aku tidak hanya kehilangan satu-satunya orang yang mencintaiku namun juga dia sebagai sahabat terbaikku. Akan lebih baik bila aku pergi jauh. Berteman dengan kesendirian dan menikmati hidupku. Terlepas dari perasaan serba salah yang terus menjerat hatiku....
╚════════════════════.✵.═╝
Hanya sedikit goresan di buku harianku. Ini bukan hari yang indah. Namun tidak juga buruk. Aku akan pergi dengan segera. Kembali pada kehidupan ku yang sibuk.
bersambung ....
__ADS_1