
Aku baru meninggalkan kelas. Saat berjalan di koridor tanpa sengaja aku melihat Sienna dan Edgar berdiri di depan ruang peralatan. Entah apa yang mereka bicarakan, kelihatannya sangat serius. Dari ekspresi wajah Edgar nampak sangat gusar. Kemudian ia pergi dengan terburu-buru sebelum aku sampai di sana. Aku mendapati Sienna yang kebingungan sendiri.
"Ada apa?" tanyaku.
"Tidak ada apa-apa!" jawab Sienna dengan helaan nafas berat.
"Sungguh?" aku menyakinkan sekali lagi.
"Iya!" jawab Sienna sembari berjalan mendahuluiku.
Meski kurang yakin kalau semua baik-baik saja, tapi aku tak bertanya lagi. Karena Sienna sepertinya juga enggan membicarakannya.
...★━━━━━PoV Edgar━━━━━★...
Edgar mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dihentikannya mobil dengan asal-asalan lalu membuka pintu dengan kasar. Dengan tergesa-gesa masuk ke dalam mansion. Ia menuju tempat biasa di mana Ginnevra bermain piano. Namun gadis itu tidak ada di sana. Ia lalu beralih ke ruangan lain di mansion megah itu.
Ditengah pencariannya ia berpapasan dengan seorang pelayan. Edgar langsung menanyainya.
"Di mana Ginnevra?"
"Nona ada di taman belakang, Tuan muda!" jawab si pelayan.
Tanpa menunda-nunda lagi Edgar langsung menuju ke sana. Seperti kata pelayan tadi Ginnevra berada di sana. Ia sedang duduk sambil membaca buku. Edgar langsung mendekatinya dan menyerangnya dengan sebuah pertanyaan.
"Kakak, apa yang kemarin kakak katakan pada Eriza?"
Ginnevra mengangkat kepalanya. Mengalihkan matanya dari buku kepada adiknya.
"Bukan urusanmu!" jawab Ginnevra dingin. Lalu kembali melanjutkan bacaannya.
Hal tersebut membuat emosi Edgar memuncak. Namun ia tetap bersikap tenang. Ia kembali berkata.
"Kakak, bukankah sudah ku tegaskan kemarin bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan Eriza sekarang menjadi urusanku! Sekarang tolong kakak katakan padaku apa yang kakak katakan padanya!"
"Itu bukan hal penting!" jawab Ginnevra dengan cueknya tanpa mengalihkan sedikit pandangan pun dari bukunya.
"Kakak, hentikan semua permainan bodoh ini, atau ...." Edgar menggantung kalimatnya.
"Atau apa?" Ginnevra baru menatapnya dengan menantang.
"Aku akan menceritakan semua ini kepadanya!" jawab Edgar tak mau kalah.
"Dia tidak akan percaya padamu!" kata Ginnevra sangat yakin.
"Dia pasti akan percaya dan akan aku buat dia percaya! Lihat saja nanti!" ujar Edgar dengan penuh percaya diri. Kemudian berjalan pergi.
Sedangkan Ginnevra hanya menatap kepergian adiknya yang sedang emosi itu.
...★━━━━━━━━━━━━★...
... ....
.......
.......
.......
Hari ini tidak ada kegiatan. Sementara Sienna dan bibi Jane pergi berbelanja ke supermarket. Jadi kuhabiskan waktu hanya dengan berbaring santai diatas tempat tidur sambil membaca buku.
Tiba-tiba ponsel di atas meja belajar berbunyi. Aku segera bangun kemudian meraihnya. Sebuah pesan dari Edgar tertera di layar. Aku membukanya.
📨[Riza, kamu bisa keluar? Aku ada di depan rumahmu sekarang!]
Di depan rumah?! Ada apa, ya? Tidak biasanya. Aku berpikir demikian. Tak kubalas pesan itu. Ku letakkan kembali ponsel di atas meja dan berlari keluar kamar. Aku membuka pintu depan dan menemukan Edgar di luar pagar melambaikan tangannya padaku.
Segera ku hampiri dia. Ku bukakan pintu pagar dan memintanya masuk. Tapi ia menolak.
__ADS_1
"Tidak. Aku ingin mengajakmu ke luar. Apa kamu punya waktu?" tanya Edgar.
"Sekarang?" Aku bertanya untuk memastikan.
"Iya! Kebetulan cuaca sedang bagus," jawab Edgar sambil pura-pura melihat langit.
Berhubung aku juga tak ada kegiatan hari ini jadi aku menyetujuinya.
"Oke! Tunggu sebentar, ya!" kataku sambil lari kembali ke dalam rumah.
Setelah memastikan pintu rumah sudah terkunci aku pun siap pergi.
Aku belum tahu ke mana tujuan Edgar akan membawaku. Sedari tadi kami hanya mengobrol dan bercanda terus. Tapi itu sudah menjadi kebiasaan Edgar tidak pernah menyebutkan tujuan ke mana dia akan membawaku pergi. Itu selalu jadi kejutan dengan tempat-tempat yang akan kami kunjungi.
Edgar mulai menepikan mobilnya memasuki area pantai. Lalu menempatkan mobilnya di parkiran yang kosong. Kami pun turun.
"Jadi, tujuan kita hari ini adalah pantai?!" seruku dengan senyum menggoda pada Edgar.
Edgar hanya tersenyum sambil mengangguk pelan. Kami lalu berjalan menyusuri tepian pantai yang berpasir putih berkilauan ini.
Sedari sampainya kami di pantai Edgar jadi banyak diam. Aku menangkap ada sesuatu yang aneh dari Edgar hari ini. Biasanya ia sangat ceria. Sekarang ia begitu banyak diam.
Kami berhenti berjalan. Berdiri di tepian pantai dengan ombak yang datang bergerumuh seolah-olah hendak menyeret kami ke dalam. Aku menatap Edgar beberapa saat. Menunggu apakah ia akan berkata sesuatu padaku atau tidak. Di wajahnya tersirat banyak keraguan. Aku putuskan untuk menggodanya.
"Aku penasaran apakah kamu akan mengajakku bicara atau hanya mengajakku ke sini untuk diam mematung saja?!"
Edgar baru menolehkan wajahnya padaku. Aku tersenyum manis seperti biasa padanya. Tapi wajahnya nampak tegang. Aku kebingungan sendiri jadinya.
"Hei!" Aku baru memanggil, begitu Edgar mulai membuka mulut.
"Riza ...."
Aku diam menunggunya bicara.
"Aku tidak tahu harus memulainya darimana. Tapi satu hal penting yang ingin ku sampaikan. Tolong ... jauhi Wallace!" Edgar berkata dengan tegang.
"Riza, ini membingungkan! Semua ini tidak seperti yang kita pikirkan! Kamu akan menyesal!" kata Edgar yang juga terlihat serba salah.
"Tunggu. Tunggu. Bukankah sebelumnya kamu bilang tidak kenal dengan Wallace?! Mengapa sekarang kamu menyuruhku menjauhinya?" tanyaku sungguh aneh.
"Ini sulit dijelaskan! Tapi kamu harus menjauhinya demi kebaikanmu!" jawab Edgar yakin.
"Demi kebaikanku?! Kebaikan apa? Kamu ini sungguh aneh!" kataku bingung.
"Riza, kamu tidak mengerti. Kamu tidak tahu siapa sebenarnya Wallace," ujar Edgar pelan.
"Memangnya Wallace siapa? Dan ada hubungan apa dia denganmu?" tanyaku ketus.
"Tidak ada. Tapi ...."
"Ah, sudahlah. Aku mau pulang saja!" kataku memotong ucapan Edgar.
Aku berjalan dengan cepat menuju parkiran meninggalkan Edgar yang mengejarku dari belakang. Rasanya sudah tidak ada mood untuk berlama-lama di sini.
Edgar menjalankan mobilnya dengan pelan. Ia pasti tahu aku marah karena sejak tadi aku hanya diam saja. Pembicaraan tadi membuatku jadi malas untuk bicara dengannya.
"Riza," panggil Edgar.
"Kamu bisa mengemudi lebih cepat tidak? Aku ingin cepat sampai di rumah!" kataku dingin.
Edgar tidak berbicara lagi. Ia menaikkan kecepatan laju mobilnya. Sampai tiba di depan rumah, aku langsung turun tanpa mengucapkan sepatah katapun padanya. Ia baru pergi begitu aku masuk ke dalam rumah.
.......
.......
.......
...★━━━━━PoV Edgar━━━━━★...
__ADS_1
Edgar tiba di mansion. Memarkirkan mobilnya dengan asal. Dibantingnya pintu kemudi lalu setengah berlari memasuki rumah. Suasana rumah begitu sepi tanpa alunan musik dari piano yang biasa Ginnevra mainkan. Edgar masuk ke dalam kamarnya. Direbahkan tubuhnya di atas sofa sambil memejamkan mata. Ia merasa begitu bersalah terhadap gadis yang dicintainya. Sementara ia juga tak bisa bersikap pura-pura tidak tahu dan tidak peduli.
Ketika itu sebuah sosok yang entah datang darimana tiba-tiba mencengkeram leher Edgar. Edgar kaget dan tersadar. Matanya melotot menatap sosok di depannya itu. Badannya seketika lemas, tangan dan kakinya pun kaku. Ia tak bisa berteriak, cengkeraman sosok berjubah hitam itu melumpuhkan seluruh badannya.
Sosok berjubah hitam itu menatapnya tajam dan dingin. Cengkeramannya pun semakin kuat. Edgar sampai sulit bernafas. Mungkin jika Ginnevra tidak datang Edgar sudah mati kehabisan nafas. Ginnevra juga begitu kaget saat ia masuk ke kamar Edgar.
"Pangeran!" seru Ginnevra.
Wajahnya yang biasanya datar tanpa ekspresi kini nampak begitu ketakutan.
Wallace tak menoleh tapi cengkeramannya sedikit melemah.
"Pangeran, ku mohon lepaskan adikku!" pinta Ginnevra memohon.
Tubuh gadis itu gemetaran. Pangeran Wallace tak membalas ucapan Ginnevra. Perlahan-lahan ia mulai melepaskan cengkeraman tangannya. Dan berjalan menjauhi Edgar dengan tatapan mata yang tajam. Edgar terbatuk-batuk berusaha mengatur nafasnya kembali.
Pangeran Wallace berhenti tepat di depan Ginnevra. Dan berkata kepada gadis itu.
"Katakan padanya, jika sekali lagi dia berani mencampuri urusanku, aku tidak akan segan-segan membunuhnya!"
Setelah berkata demikian, pangeran Wallace pun menghilang tanpa jejak.
Ginnevra tersungkur lemah. Meski sudah merasa sedikit lebih lega namun di wajahnya masih tersirat ketakutan.
Setelah nafas Edgar kembali normal, ia bangkit berdiri. Tidak biasanya ia melihat kakaknya sangat ketakutan seperti itu. Namun berhubung suasana hatinya yang sedang tak bagus ditambah dengan kejadian barusan membuatnya semakin muak. Lantas ia malah mengacuhkan Ginnevra.
Edgar berjalan melewati Ginnevra yang masih tersungkur di depan pintu kamarnya. Tak ada keinginan untuk membantunya atau berbicara padanya.
"Edgar," panggil Ginnevra pelan dengan suara yang sedikit gemetar.
Edgar tetap tak menghiraukannya. Ia terus berjalan pergi.
"Edgar, dengarkan aku!" mohon Ginnevra.
"Tak ada yang perlu aku dengarkan! Apa semua ini belum cukup? Kamu rela aku mati demi pekerjaan bodohmu?" bentak Edgar penuh emosi.
Air mata Ginnevra tiba-tiba menetes. Untuk pertama kalinya Edgar melihat gadis itu menangis.
"Kamu tidak mengerti, Edgar!" ujarnya.
Edgar tercengang sejenak melihat kakaknya yang ia kenal selama ini begitu dingin, angkuh dan arogan tiba-tiba menjadi begitu lemah dan tak berdaya. Meski begitu tidak juga meluluhkan hati Edgar. Ia terlanjur kecewa dengan tindakan Ginnevra yang mau membantu pangeran Wallace. Tanpa berkata-kata Edgar berpaling pergi meninggalkannya.
Edgar masuk ke dalam mobilnya. Lalu melaju pergi meninggalkan rumah. Walau tanpa arah tujuan dan tak tahu akan ke mana. Pikirannya sangat kacau. Sampai di sebuah jembatan Edgar menepikan mobilnya. Kemudian ia keluar dari dalam mobil. Diraihnya ponsel yang ada di saku celana mencoba menghubungi sebuah nomor yang sudah sangat dihafalnya. Lama ia menunggu tapi tak ada yang mengangkat teleponnya. Tiga kali mencoba tetap tak ada yang menjawab. Akhirnya Edgar mengirimkan sebuah pesan. Setelah itu Edgar kembali ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan.
Meski seolah tak peduli tapi pikiran Edgar terus dibayangi wajah Ginnevra yang ketakutan. Ada perasaan cemas menghampirinya meninggalkan kakaknya sendiri dalam keadaan yang kurang baik. Edgar pun melaju kembali ke mansion.
Sesampai di mansion, ia langsung berlari ke kamarnya. Ginnevra sudah tidak berada di sana. Edgar beralih ke ruangan lain di mana biasa Ginnevra menghabiskan waktunya. Namun dia juga tak menemukan kakaknya. Dan ruangan terakhir yang ia cari, di kamar Ginnevra.
Edgar berdiri cukup lama di depan pintu kamar kakaknya. Ia ragu untuk mengetuk pintu. Dengan nekat langsung di buka pintu kamar Ginnevra yang tak dikunci. Dari balik pintu ia melihat Ginnevra sedang tertidur di atas kasurnya. Edgar pun bernafas lega. Dengan pelan ditutupnya kembali pintu kamar Ginnevra dan pergi.
.......
.......
.......
"AARRGGHH ....."
Saat tengah malam Edgar terbangun oleh suara teriakan dari kamar Ginnevra. Dia segera berlari menuju kamar Ginnevra. Sesampainya di sana sudah ada dua orang pelayan rumah yang menjaga Ginnevra. Gadis itu sudah kembali tertidur.
"Tuan muda. Kami segera kemari saat mendengar teriakan nona. Nona sepertinya mimpi buruk!" jelas salah satu pelayan.
"Kalian kembalilah tidur. Biar aku di sini menjaganya," suruh Edgar.
Kedua pelayan itu pun meninggalkan kamar Ginnevra. Edgar mulai menguap. Kantuknya kembali datang. Wajar saja dia baru tidur beberapa jam. Sedangkan Ginnevra nampak tertidur pulas. Edgar pun mencoba tidur di atas sofa kamar Ginnevra sembari menjaganya.
bersambung ....
__ADS_1