Pangeran Dari Dunia Lain

Pangeran Dari Dunia Lain
Semakin Dikejar Semakin Jauh


__ADS_3

Suasana Natal semakin terasa di sepanjang jalan. Meski tidak mengalami musim dingin ini menjadi Natal yang hangat. Sama seperti di Losta, di New Angeles juga sudah dibuka taman salju buatan, Winter Land. Bedanya di New Angeles lebih besar dengan tambahan wahana ice-skating. Semuanya bermain sampai lupa waktu. Lagi-lagi kami melewatkan jam makan siang. Alhasil diganti dengan makan sore di restoran seafood. Selesai makan penjelajahan berlanjut hingga malam.


Usai makan malam bersama semua kembali ke kamar mereka masing-masing. Semua memilih istirahat setelah lelah bermain seharian. Namun tidak bagiku. Aku menyusup ke luar diam-diam.


"Ginnevra, aku keluar sebentar!" kataku padanya


"Mau ke mana, Eriza? Sudah malam, kan?" tanya Ginnevra.


"Sebentar saja. Hanya di sekitaran jalan sini mencari angin!" jawabku bohong.


"Oke!" ujar Gennivra.


Dan aku berangkat. Tapi tujuanku adalah Dixie Holly. Aku berangkat dengan bus kota. Karena bus terakhir hanya sampai jam 10 malam saja jadi aku takkan lama di sana.


Aku menyusuri sepanjang Dixie Street. Ini seperti kebiasaan lama ku dulu. Datang untuk satu tujuan. Sekarang pun begitu. Meski Pak Berto sudah berkata mustahil akan melihatnya lagi. Tapi buktinya kemarin dia masih muncul meski menghilang dengan cepat. Malam ini aku kembali memastikan apakah dia benar-benar sudah pergi dan tak muncul lagi. Aku sampai di depan katedral. Aku berhenti, membalikkan badan dan memandang lurus ke depan. Di tempat kemarin dia muncul sekarang aku tak menemukan apa-apa. Lalu berjalan beberapa langkah dan sampai di gang kecil yang dulu aku lewati dengannya. Gang ini sudah terang dengan lampu-lampu hias yang bergelantungan. Aku bisa melihat dengan jelas ujung gang itu dari sini. Seketika muncul bayanganku bersama Wallace di sana. Aku kembali sedih mengingatnya. Ku tundukkan kepala. Sekarang aku merasa bodoh. Apa yang ku lakukan di sini? Jelas-jelas dia sudah pergi. Kenapa masih berharap? Dengan lesu ku angkat kepalaku, hendak meninggalkan tempat ini. Namun aku masih sempat menoleh ke ujung gang itu. Saat itu, di sana ... Di ujung gang yang jauh dia muncul lagi. Bersinar dengan senyumnya yang tak pernah berubah. Aku kembali mengejarnya. Berlari dengan cepat melewati gang kecil itu untuk segera sampai di depannya. Tapi dia semakin jauh, meski seolah dia tetap berada diam di sana. Aku tetap tak bisa mendekatinya. Aku sampai di ujung gang dengan nafas ngos-ngosan. Ia masih tetap berdiri di sana. Di antara kerumunan orang yang berlalu-lalang. Aku kembali berlari mengejarnya.


'Wallace .... Tunggu aku, jangan pergi!' aku berteriak dalam hati.


'Wallace .... Berhentilah!' aku terus berlari mengejarnya.


Namun lagi-lagi begitu aku berhenti dia tak ada di mana-mana. Aku berdiri sambil berputar-putar mencari di sekelilingku. Tapi aku tak melihat dia. Aku hampir putus asa. Dia benar-benar pergi. Aku tak kuat menahan kesedihan ini sehingga aku hanya bisa tertunduk menangis. Tanpa aku sadari tiba-tiba seseorang datang memelukku. Aku mengangkat kepalaku menatap orang itu. Dengan air mata yang masih menggenang, aku bisa melihat wajah Edgar dengan buram. Edgar memelukku dengan erat. Untuk saat ini aku hanya bisa meluapkan segala kesedihanku dipelukannya.


...*****...


Hari ini aku sengaja bangun agak siang. Supaya yang lainnya bisa meninggalkan ku sendiri di hotel. Aku tahu Ginnevra sudah bangun dan bersiap. Ia bahkan beberapa kali membangunkan ku tapi aku berpura-pura sangat mengantuk. Dari balik selimut aku memberitahunya kalau aku tak ikut. Hingga kemudian bibi Jane datang ke kamar.


"Eriza ini sudah siang! Bagaimana kami bisa menunggumu?!" gerutu bibi Jane.


"Bibi pergilah tanpaku. Aku sangat mengantuk. Hari ini aku ingin beristirahat saja. Boleh, kan?" kataku pada bibi Jane.


"Kamu yakin tidak ingin ikut? Jadi, kami akan meninggalkanmu sendiri di hotel?" tanya bibi Jane.


"Tidak apa-apa, Bibi. Lagipula aku sudah pernah liburan di sini sebelumnya dan hampir semua tempat pernah aku kunjungi. Jadi, kalian bersenang-senanglah! Tidak perlu mencemaskan ku!" kataku yakin.


"Baiklah, kalau itu mau mu apa boleh buat. Kami berangkat dulu! Jangan lupa sarapan, ya!" ujar bibi Jane. 


Aku mengangguk. Dan bibi pun keluar dari kamar.


Kini aku tinggal sendirian. Kejadian semalam masih membekas di kepalaku. Saat melihat Wallace semakin jauh. Dan saat menangis di pelukan Edgar, berulang kali ia berkata padaku, Wallace sudah pergi. Berulang kali pula ia berkata jangan menangis, masih ada aku di sini. Benarkah ini semua sudah berakhir? Tidak ada yang tersisa selain kenangan di kota ini. Perasaan benar-benar bercampur aduk. Tiba-tiba ponselku berbunyi. Ah, dari Edgar. Aku mengangkatnya dan bicara dengan singkat. Setelah itu turun dari tempat tidur dan bersiap.


Seperti janji Edgar, dia sudah menungguku di lobby begitu aku turun. Dia menghampiriku.


"Sudah lama menunggu?" tanyaku.


"Baru lima menit," jawabnya.


"Kamu pasti belum sarapan, kan? Ayo, kita pergi!" ajaknya kemudian.


Kami pun berangkat dengan mobil yang pernah dipakai Edgar dulu. Dan kami tiba di sebuah restoran seafood di tepian danau. Aku memilih duduk di tempat terbuka dengan pemandangan mengarah langsung ke danau. Usai makan, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini Edgar membawaku ke pantai.


__ADS_1


"Kuharap kamu tidak bosan dengan suasana pantai," ujarnya.


"Kenapa harus bosan?" tanyaku.


"Karena di Losta kita sering ke pantai, di New Angeles pun kita ke pantai!" jawab Edgar.


"Aku tidak akan bosan bila setiap hari ke pantai," kataku. Aku memang suka pantai.


"Bagus kalau begitu," Edgar menimpali.


Aku mulai berjalan menyusuri tepian pantai. Berjalan bertelanjang kaki dengan ombak kecil bergulung-gulung. Sesekali menendang air yang memercik ke arah Edgar.


"Hei!" Edgar menepis.


Aku tersenyum namun ia tertawa jahil.


Dengan tiba-tiba mengguyurku dengan air. Kemudian berlari menjauh, aku lalu mengejarnya. Sambil menyipratkan air padanya meskipun tidak kena. Ia malah terus mengejek.



Aku kembali mengejarnya. Tidak memperhatikan jalan tanpa sengaja kakiku menendang sesuatu dan hampir terjatuh. Edgar cepat sekali datang dan berhasil menangkapku ke dalam pelukan. Untuk beberapa saat kami saling memandang. Namun ku alihkan pandangan dan Edgar melepas pelukannya. Ia membungkuk ke bawah melihat apa yang menyandungku. Rupanya sebuah kelapa tua yang terbenam sebagian pasir. Ia menarik kelapa itu keluar dan melemparnya jauh ke tengah laut. Kami melanjutkan berjalan di pasir yang lebih kering.


"Bagaimana hubunganmu dengan Samantha?" tanyaku tiba-tiba.


Edgar nampak sedikit terkejut dengan pertanyaanku. Namun ia menjawab juga.


"Kami hanya berteman. Senang juga bisa bertemu dengan teman lama. Meski sekarang kondisinya terbatas."


"Tapi sepertinya kalian sangat akrab. Apa kamu tidak cemas meninggalkannya?" tanyaku.


"Tapi kamu menyukainya, kan? Dia pasti gadis yang kamu sukai waktu SMU dulu!" kataku yakin.


Edgar tertawa.


"Kenapa kamu begitu yakin? Dia memang cinta pertamaku, tapi itu dulu. Sekarang yang aku cintai adalah orang lain!" katanya.


"Siapa?" tanyaku penasaran.


"Kamu mau tahu?" tanya Edgar. Aku mengangguk.


Kemudian Edgar mendekatkan wajahnya ke telingaku.


"Rahasia!" bisiknya.


Dan ia kembali tertawa sambil berjalan menjauh dariku.


Aku hanya diam saja tanpa ekspresi. Sambil berjalan dengan pandangan ke arah laut. Tidak masalah dia tidak memberitahuku siapa yang dia cintai. Hanya aku merasa aneh. Bagaimana dia bisa menemukanku di Dixie Holly kemarin?


*Brugh*


Aku menabraknya. Edgar dengan berkacak pinggang menggelengkan kepala padaku.

__ADS_1


"Kamu ini matanya tidak melihat ke jalan. Bagaimana tidak tersandung tadi! Untung aku cepat datang!" ujar Edgar bak superhero.


"Ya. Ya. Terima kasih pertolonganmu, Pak Superman!" kataku mengejek. Dan berlalu dari hadapannya.


"Hei, aku bukan Superman!" protesnya.


"Jadi? Spiderman? Iron-Man? Batman?" aku bertanya dengan jahil.


"Aku .... E-Man!" ucap Edgar dengan bangga.


"E-Man?! Edgar Man begitu?" tanyaku aneh.


"Salah. Tapi ... Eriza Man!" jawab Edgar dengan pede nya.


Aku melongo dan tertawa keras.


"Hahaha ... Hahaha ... Hahaha ...," lalu terdiam dengan wajah serius menatap Edgar.


"Tidak lucu!" ucapku.


"Yah ...," Edgar tertunduk lesu.


"Dasar aneh!" ledekku.


"Seingatku kamu bukan tipe penggombal!" kataku pada Edgar yang belum bergerak.


"Memang bukan! Aku hanya ingin membuatmu senang," jawab Edgar langsung kembali lagi cerianya.


Aku cuma menyengir. Dan berlalu dari hadapannya. Aku berjalan ke pinggir dan duduk di sebuah bebatuan. Edgar mengikuti dari belakang.


"Apa sekarang kamu sudah yakin dia benar-benar pergi? Kamu tidak perlu ke Dixie Holly lagi. Jika itu hanya membuatmu sedih. Yang kamu cari sudah tak ada di sana," kata Edgar.


"Mungkin aku memang tidak perlu ke sana lagi. Apa sekarang aku terlihat bodoh?" tanyaku.


"Tidak. Kenapa terlihat bodoh?" Edgar balik bertanya.


"Karena menyukai seseorang yang tidak memiliki raga. Memikirkan dan mengharapkannya setiap waktu. Sampai lupa siapa diri ini," jawabku.


"Sama sekali tidak bodoh. Bukankah Ginnevra juga begitu? Mencintainya sampai lupa siapa dirinya dan apa yang dilakukannya. Tapi itu dulu. Lihatlah Ginnevra yang sekarang, dia berubah. Dia menjadi dirinya lagi. Dan berani membuka hati untuk orang lain. Kamu juga harus begitu, Riza! Wallace mencintaimu, tapi dia tidak mau kamu menderita makanya dia pergi. Supaya kamu kembali ke kehidupanmu yang normal. Menjadi dirimu yang dulu. Dia ingin kamu pergunakan hidupmu untuk hal yang lebih berarti. Karena hidup sangat singkat. Kamu memiliki masa depan yang masih panjang. Tidak seperti Wallace yang sudah kehilangan semuanya. Oleh karena itu dia menghargai hidupmu. Dia ingin kamu bahagia. Seperti dia juga bahagia melihatmu bahagia!" Edgar memberi pengertian dengan panjang lebar.


Tanpa sadar air mata malah menetes lagi. Aku cuma menunduk menyembunyikan wajahku dari Edgar.


"Eriza, kenapa? Kamu menangis lagi?" tanya Edgar dengan halus.


"Aku tidak apa-apa!" jawabku disela isak ku. Ku seka air mata dan mengangkat kepalaku.


"Aku tidak apa-apa. Aku hanya butuh waktu untuk memulai semuanya dari awal kembali," kataku kemudian.


Mendengar aku berkata begitu Edgar lalu tersenyum. Dengan pelan meremas bahuku.


"Aku akan selalu berdiri di sampingmu!" ucapnya memberi dukungan.

__ADS_1


Aku tersenyum. Dan kembali berbasa-basi. Hingga hari kembali sore. Ia mengantarku pulang.


bersambung ....


__ADS_2