Pangeran Dari Dunia Lain

Pangeran Dari Dunia Lain
Seiring Waktu Aku dan Edgar Menjadi Dekat


__ADS_3

Waktu terus berlalu. Hari berganti minggu. Dan minggu berganti bulan. Satu bulan. Dua bulan akhirnya juga berlalu.


Melewati dua bulan dengan kesibukan kuliah serta tugas rumah yang semakin banyak cukup menyita banyak waktu. Alex, Justin, dan Mandy masih sering datang ke Losta mesti kadang tidak setiap minggu. Mereka sekarang sibuk menyiapkan surat lamaran kerja dan mencari pekerjaan yang sesuai. Hubunganku dengan Alex juga tak berubah. Aku masih tidak memiliki ketertarikan apa-apa terhadapnya. Hanya menganggapnya teman biasa. Kalau Sienna dan Justin tidak perlu dibicarakan lagi. Mereka semakin mesra saja. Sementara Mandy masih senang menyendiri.


Namun dari semua kabar itu, ada sebuah kabar baik lagi. Yaitu kedekatan ku dengan Edgar. Selama dua bulan belakangan ini kami menjalin persahabatan. Aku tahu ada puluhan pasang mata yang mengawasi dengan iri atau tidak suka melihat kedekatan ku dengan Edgar. Dasarnya aku memang orang yang cuek, jadi tidak peduli dengan apa anggapan mereka. Selagi mereka tidak sampai bertindak keterlaluan apalagi sampai merundung, aku masih merasa tenang.


Selama dua bulan terakhir ini juga surat demi surat tanpa nama masih sering ku terima. Setiap selang tiga hari sekali selalu datang surat misterius tersebut. Isinya juga tidak berubah, kalau bukan kartu pos pasti foto dengan sebuah pesan singkat. Anehnya seluruh kartu pos dan foto berlatar New Angeles. Tidak pernah dengan latar kota lain. Karena sudah terbiasa dengan surat misterius itu aku pun tak terlalu memikirkannya lagi dan menjadikan itu hal biasa.


Walau begitu aku masih sering merasakan tangan berat dan dingin menempel di dahi ku saat aku tertidur pulas. Selalu ketika aku terbangun aku tak menemukan apa-apa. Dan lagi ini bukan mimpi. Aku benar-benar sadar, terbangun oleh belaian tangan dingin itu.


Kini memasuki awal bulan September. Aku tidak pernah banyak berharap seperti bulan yang lalu-lalu. Aku hanya butuh semangat. Menyelesaikan kuliah hingga tahun depan. Kemudian mencari pekerjaan dan hidup mandiri. Aku tak mau menyusahkan bibi Jane lagi. Ia sudah terlalu baik padaku. Aku sudah cukup dewasa dan harus mampu mengatur hidupku sendiri. Oleh karena itu aku belajar lebih keras agar mendapat nilai terbaik dan mendapat pekerjaan yang menjanjikan nantinya.


.......


.......


.......


.......


Jam kuliah telah usai. Aku sedang mengambil buku-buku di dalam loker. Hari ini aku pulang sendiri. Sienna sudah pergi dengan Suzan. Dari balik pintu loker yang terbuka tiba-tiba wajah Edgar muncul.


"Halo, Eriza!" sapanya.


Aku terlonjak tapi tak sampai berteriak. Dengan pelan menepuk dada. Edgar tertawa.


"Mengagetkan saja!" kataku.


"Sorry! Apa sore ini kamu punya rencana?" tanya Edgar.


"Tidak. Aku berniat segera pulang!" jawabku.


"Kalau begitu kita pergi makan dulu, ya! Aku yang bayar!" ajak Edgar.


"Aku masih kenyang! Lain kali saja!" tolak ku halus.


"Hanya makanan kecil. Cemilan sore hari! Ayolah!" bujuk Edgar.


Aku terdiam sebentar. Menimbang-nimbang menerima ajakan Edgar atau tidak. Ya bukan pertama kali juga ia mengajakku makan.


"Em .... Tapi, setelah itu langsung pulang, kan?" tanyaku sebelum menyetujui.


"Iya," jawab Edgar.


"Baiklah, aku pergi!" kataku.

__ADS_1


"Nah, begitu!" ujar Edgar senang.


Aku pun segera menutup kembali lokerku dan pergi bersama Edgar. Ada alasan lain aku enggan pergi dengannya. Aku merasa tak nyaman pergi bersama Edgar yang mengendarai mobil mewah. Ditambah dengan tatapan seluruh gadis kampus yang mengarah pada kami. Meski tak peduli namun ada sedikit rasa risih juga. Apalagi mereka saling berbisik satu sama lain. Cukup membuat jengah. Aku menyadari semenjak dekat dengan Edgar mereka semua mulai memperhatikanku. Dari gerak-gerik sampai cara berpakaian. Aku mungkin kurang terampil soal make-up tapi selera fashion ku cukup bagus. Itu menurutku. Hehehe ....


Kami sampai di parkiran. Edgar membukakan pintu mobilnya untukku. Aku masuk ke dalam dan Edgar menyusul. Setelah itu mobil melaju meninggalkan kampus. Tanpa kutahu ke mana Edgar akan membawaku.


Tujuan kami akhirnya tiba di sebuah Coffee shop. Kami turun dan memasuki toko. Aroma harum kopi langsung tercium begitu memasuki cafe bergaya klasik ini. Edgar menuntunku ke sebuah meja. Menarik kursi dan mempersilahkanku duduk. Untuk kesekian kalinya aku terkesan.


Seorang pelayan datang dan menyerahkan buku menu. Lalu Edgar menyodorkan buku menu itu padaku.


"Pesan saja apa yang kamu suka!" katanya.


Aku menarik nafas. Membuka buku menu. Cukup bingung dengan daftar menu yang banyak dan bahasa yang sulit diucapkan.


"Aku ingin roti yang jadi menu favorit di sini saja! Sekalian minumannya yang hangat kalau ada," kataku pada pelayan. Si pelayan mengangguk.


"Pilihan yang bagus, Nona!" puji Edgar. Sementara Edgar memilih menunya sendiri. Dan pelayan mencatatnya.


Begitu pelayan pergi Edgar bertanya,


"Mengapa tidak memilih yang ada di daftar menu?"


"Aku bingung saking banyaknya. Tidak tahu mana yang lebih enak. Lagipula kamu suka sekali membawaku makan di tempat-tempat aneh begini," jawabku kalem.


Edgar tertawa.


"Bosan atau tidak, rasanya tetap enak. Aku kan tidak punya banyak uang untuk bisa memilih tempat makan dan jenis makanan mahal," ujarku agak malu.


"Oleh sebab itu aku mengajakmu!" kata Edgar.


"Tapi, aku juga tidak enak kalau kamu yang bayar terus!" Aku berkata dengan tak enak.


"Bukankah kita ini sahabat? Tidak perlu lagi sungkan. Kalau ingin menyenangkan seseorang jangan memperhitungkan uang. Uang tidak seberapa nilainya jika dibanding dengan kebahagiaan orang lain," kata Edgar begitu bijak.


"Trims, ya!" balasku. Cuma itu kata yang bisa ku ucapkan.


Edgar mengangguk dengan senyum di wajahnya.


Tak lama kemudian pelayan datang dengan pesanan kami. Kami mulai menikmatinya sambil sesekali bercanda. Seperti janji Edgar, usai makan ia mengantarku pulang.


Aku berjalan memasuki rumah. Di ruang tamu ada Sienna dan Suzan. Suzan langsung mengejek.


"Wah, yang baru pulang habis kencan. Seru sekali! Kalian pergi ke mana?"


"Siapa yang habis kencan? Kami cuma pergi makan saja," jawabku. Aku ikut bergabung dengan dua gadis itu.

__ADS_1


"Pasti rasanya seperti makan bersama pangeran!" ujar Suzan dengan imajinasinya.


"Kenapa bisa begitu?" tanyaku.


"Karena Edgar pasti tidak mungkin membawamu makan di pinggir jalan! Ya, kan? Katakan di restoran mana kalian makan? Apa dilayani banyak pelayan? Hidangannya enak?" tanya Suzan bertubi-tubi.


"Suzan, kami cuma makan roti di sebuah cafe. Tidak ada pelayan ataupun pelayanan khusus. Sama seperti makan di tempat makan biasanya," jelasku meluruskan.


"Ah masa? Ia begitu kaya tapi hanya mengajakmu makan roti? Pelit sekali!" ujar Suzan mencibir.


"Itu cafe yang cukup mewah menurutku. Ah, jangan berpikir yang berlebihan, Suzan! Aku sangat tidak enak dibayar terus olehnya," kataku jujur.


"Jadi, benar kalian sudah pacaran?" Sienna bertanya tiba-tiba.


"Tidak. Kami hanya berteman! " jawabku cepat.


"Lalu, kapan kalian memutuskan pacaran?" tanya Sienna lagi.


"Sienna, kamu bicara apa? Itu sangat mustahil!" jawabku bingung.


"Ya betul, kalian sudah sangat dekat. Kenapa tidak pacaran saja? Aku perhatikan Edgar sepertinya memiliki ketertarikan padamu!" Suzan menimpali.


"Sudahlah, kalian ini jangan bicara yang tidak-tidak. Aku mana mungkin pacaran dengannya. Jalan dengannya saja sering membuatku minder!" kataku.


"Minder kenapa?" Suzan bertanya dengan polos.


"Bayangkan dia tampan dan pintar, aku biasa saja. Dia juga kaya, aku tidak. Dan dia juga terkenal di kampus. Dia harusnya mencari yang sepadan dengannya!" Aku menjelaskan.


"Tidak juga. Cinta kan tidak memandang status. Ya kan, Suzan?" kata Sienna.


"Betul!" sahut Suzan.


"Sudah jangan bicarakan Edgar lagi. By the way, kenapa Russel jadi jarang terlihat?" tanyaku mengganti topik.


"Dia patah hati!" jawab Suzan blak-blakan.


"Dengan siapa?" tanyaku.


"Riza, kamu tak sadar, ya? Sebenarnya Russel suka padamu. Makanya ia membuntuti kita ke mana-mana. Begitu melihat kamu dan Edgar sangat akrab, dia jadi patah semangat dan menyerah. Anak itu belum juga berjuang sudah mundur duluan!" gantian Sienna yang menjawab.


"Oh, pantas saja dari awal sikapnya aneh! Kalian juga jadi tiba-tiba aneh! Tapi jujur saja aku tidak tertarik!" kataku cuek.


"Ya .... Siapa sih yang bisa membuatmu tertarik selain Edgar!?" Suzan mengejek.


"Edgar lagi .... Sudahlah! Aku mau naik ke atas dulu!" ujarku lalu beranjak meninggalkan Sienna dan Suzan untuk naik ke atas kamar.

__ADS_1


bersambung ....


__ADS_2