Pangeran Dari Dunia Lain

Pangeran Dari Dunia Lain
Kerasukan


__ADS_3

Suara ponsel yang berdering membangunkan ku dari tidur. Dengan setengah mengantuk aku bangun dan mengangkatnya.


"Halo!"


📲[Halo, Riza. Kamu masih belum bangun juga?] kata Edgar diseberang telepon.


"Hm ... kamu lagi! Kapan baru akan membiarkan ku tidur dengan tenang?!"


📲[Jangan bicara lagi! Sekarang cepat bukakan pintu! Aku ada di depan kamarmu!] Klik. Telepon langsung diputus.


"Hah? Halo. Halo. Edgar!" teriakku. Tapi dia sudah memutus telepon.


Seketika pintu mulai diketuk beberapa kali. Mau tak mau aku bangun dan membukakan pintu meski dengan tampang baru bangun seperti ini.



"Ternyata kamu jelek sekali kalau baru bangun tidur!" ejek Edgar begitu aku membuka pintu.


Aku memukul bahunya dengan tinju pelan.


"Aku tidak menyuruhmu datang pagi-pagi," kataku sebal.


"Cepat sana mandi! Aku tunggu di sini," kata Edgar.


Aku tak mau meladeni dia lebih lama. Jadi, aku segera mandi dan merapikan diri. Aku keluar dari kamar sambil membawa buku yang sudah selesai ku baca lalu memberikannya pada Edgar.


"Sudah selesai?" tanyanya.


"He em," aku mengangguk.


Lalu aku mengambil lagi buku itu dan membuka halaman tentang Legenda Kerajaan Dixie untuk menunjukkannya pada Edgar.


Sejenak dia tampak biasa saja. Dia membacanya sekilas dan beralih ke halaman lain. Tapi ia terdiam begitu melihat gambar keluarga raja. Ia menatapku dengan tanda tanya. Aku menunjuk pada gambar kalung yang dipakai Ratu Maera.


"Itu Crystal Orlov!" kataku.


"Iya!" ujar Edgar.


"Jadi, apa ada tertulis dalam buku ini, di mana kita bisa menemukan Crystal itu?" Edgar bertanya.


"Tidak ada. Tapi, kita harus memulainya dari Dixie Holly!" kataku yakin.


"Kenapa harus di sana?" tanya Edgar.


"Karena di sanalah dahulu Kerajaan Dixie berada," jawabku.


Edgar terdiam dengan wajah penuh kecemasan.


"Kamu tidak takut akan menemukan sesuatu yang mungkin membuatmu sangat kaget?" tanya Edgar.


"Tidak ada alasan untuk kaget tiba-tiba. Lagipula aku sudah sering ke sana. Kita kan tidak harus pergi saat malam hari," jawabku.


"Terserah padamu saja! Tapi jangan salahkan aku kalau kamu melihat sesuatu!" ujar Edgar misterius.


Aku cuma menatapnya sambil tertawa lucu. Mengabaikan ucapan yang menurutku menakut-nakuti anak kecil. Tidak ada hantu di siang hari.

__ADS_1


Usai dari perpustakaan kami langsung menuju ke Dixie Holly. Suasana siang ini nampak sangat sepi dibanding ketika malam hari biasa aku datang. Aku dan Edgar berjalan bersama. Sambil melirik kesana-kemari. Melihat dengan lebih jelas kondisi gedung-gedung yang lama tak berpenghuni itu. Sampai kami tiba di Mansion Maera.


"Aku tidak yakin akan menemukan petunjuk di sini!" kata Edgar begitu memasuki halaman mansion.


"Aku lebih tidak yakin akan melihat sesuatu yang membuatku kaget," sindirku.


Dengan pelan Edgar mendorong pintu utama yang terbuka sedikit itu. Dorongan Edgar membuat pintu tua itu mengeluarkan suara dericit yang cukup keras. Dengan pelan kami melangkah memasuki mansion yang sunyi itu. Meski siang hari pun suasana dalam mansion tetaplah suram. Edgar mengarahkan senternya ke segala arah. Aku juga menyalahkan senterku. Mengedarkan cahaya senter ke segala objek benda di sekitar ruang itu. Dan kemudian berhenti pada sebuah lukisan. Ku perhatikan lebih dekat. Aku ingat pernah melihat lukisan ini saat pertama kali datang. Lukisan ini sama persis dengan yang ada di buku yang kubaca. Keluarga Kerajaan Dixie. Ku arahkan senter lebih dekat ke wajah sang pangeran. Benar-benar mirip dengan Wallace.


Tiba-tiba Edgar datang.


"Apa yang kamu lihat?" tanyanya sembari mengikuti arah senterku.


"Keluarga Kerajaan Dixie!" jawabku tanpa menoleh pada Edgar.


"Itu lukisan yang sama seperti di buku," kata Edgar.


Edgar masih melanjutkan kata-katanya tapi seketika suara Edgar tak terdengar lagi. Aku baru menoleh padanya, saat ku rasakan pandanganku mulai kabur. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi. Saat tersadar tahu-tahunya aku berada di kamar apartemennya. Aku langsung bangun dan berdiri. Di waktu bersamaan Edgar masuk ke kamar.


Dengan wajah khawatir ia bertanya.


"Kamu sudah sadar? Apa kamu baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja! Apa yang terjadi? Kenapa aku ada di sini?" tanyaku heran.


Edgar terdiam. Ia memalingkan wajahnya. Sepertinya sulit menjelaskan.


"Edgar? Ada apa? Katakan padaku!" pintaku.


"Tadi kamu dirasuki arwah Ratu Maera!" ucap Edgar dengan pelan.


"Apa?!" seruku kaget.


 


...★━━━━━Pov2━━━━━★...


Saat Edgar sedang berbicara tiba-tiba Eriza menatapnya dengan bola mata biru yang tajam. Edgar menyadari itu bukan Eriza, ia kaget.


"Siapa kamu? Kamu bukan Eriza!" seru Edgar.


Wajah Eriza nampak marah. Suara wanita yang terdengar parau keluar dari mulut Eriza.


"Apa mau kalian? Jangan ganggu wilayah kami!"


"Aku tidak mengganggu kalian! Aku hanya mencari sesuatu. Siapa kamu? Keluar dari tubuh Eriza!" bentak Edgar. Meski ia sendiri takut namun ia memberanikan diri.


"Beraninya kamu membentakku! Kamu tidak tahu siapa aku?! Aku adalah Maera Vadronia, Ratu Kerajaan Dixie!" ujar suara yang keluar dari mulut Eriza.


"Ratu Maera?!" gumam Edgar. Meski sempat kaget ia kemudian menyunggingkan senyum.


"Hm, kebetulan kalau begitu! Bisakah Yang Mulia membantuku? Aku sedang mencari Crystal Orlov seperti yang dipakai Yang Mulia di lukisan itu! Bisakah ...."


Belum selesai Edgar berbicara, suara Ratu Maera memotong dengan marah.


"Tidak akan! Kalian manusia serakah .... Tidak pantas memiliki Crystal itu! Kalian akan menerima akibatnya!"

__ADS_1


"Tapi, aku harus mendapatkan Crystal itu demi menolong kakakku!" ujar Edgar.


Saat itu entah darimana tiba-tiba Pangeran Wallace muncul.


"Ibu, keluar dari tubuh Eriza!" pintanya.


Mata biru itu kini beralih menatap Pangeran Wallace.


"Aku harus memberi pelajaran kepada manusia-manusia ini!"


"Tidak, Ibu! Eriza tidak bersalah. Kumohon, jangan ganggu dia!" pinta Wallace.


"Kamu membela gadis ini?! Apakah ini gadis yang sering kamu hantui!?"


Pangeran Wallace tidak menjawab.


"Mengecewakan!" ujar suara Ratu Maera.


Arwah Ratu Maera pun keluar dari tubuh Eriza. Mata Eriza kembali normal namun kemudian ia tak sadarkan diri. Edgar dengan cepat membopong tubuhnya dan membawanya pulang ke apartemennya. Hanya bagian di mana Wallace muncul saja Edgar tak menceritakannya pada Eriza.


...★━━━━━━━━━━━━★...


.......


.......


.......


.......


Aku mendengarkan dengan tak berkutik. Kejadian yang tak pernah terbayangkan. Aku melihat ekspresi wajah Edgar yang begitu bersalah.


"Jadi, sekarang bagaimana?" tanyaku.


"Aku tak mau ke sana lagi!" katanya.


"Bagaimana dengan Crystal-nya?" tanyaku.


"Aku akan mencarinya sendiri! Aku tak mau kejadian ini terulang," jawab Edgar.


"Tapi, Edgar ...."


"Sudahlah Riza, ini masalahku! Aku tak mau menyusahkanmu. Beruntung kamu tidak apa-apa," kata Edgar.


"Edgar, mungkin yang dikatakan peramal itu benar!" kataku mengingat apa yang pernah dikatakan wanita Gipsy.


"Aku tidak percaya ucapan peramal itu! Pokoknya aku tidak akan pulang sebelum menemukan Crystal itu!" ujar Edgar dengan tekad yang kuat.


"Tapi Edgar, kamu mungkin akan celaka karena Ratu Maera akan murka! Dan kamu juga tidak tahu di mana ia menyembunyikannya!" kataku.


"Ku pikir ia hanya menakut-nakuti! Memangnya apa yang akan terjadi padaku?! Aku tidak percaya sampai hal itu terjadi!" balas Edgar.


"Edgar .... Tidak adakah cara lain untuk menyelamatkan Ginnevra?" tanyaku dengan wajah memelas.


"Tidak ada. Hanya itu caranya!" jawab Edgar.

__ADS_1


"Aku akan mengantarmu pulang!" lanjutnya kemudian.


bersambung .... 


__ADS_2