Pangeran Dari Dunia Lain

Pangeran Dari Dunia Lain
Berkumpul Menyusun Rencana


__ADS_3

"Pagi, Riza! Apa tidurmu nyenyak?" tanya Edgar begitu aku keluar dari kamar.


"Hm .... Lumayan!" jawabku, padahal sebenarnya aku tak bisa tidur.


"Matamu kenapa?" tanya Edgar saat menyadari mataku sedikit bengkak.


"Tidak apa-apa. Kamu bisa antar aku pulang? Masih ada sedikit barang yang mau ku bereskan," kataku dengan menghindari tatapan darinya. Ini pasti karena terlalu banyak menangis.


"Tentu. Tunggu sebentar, ya!" jawab Edgar.


Setelah ia selesai dengan sedikit kesibukannya barulah kemudian kami berangkat. Edgar mengantarku sampai di depan apartemen saja.


"Kemasi semua barangmu, jangan sampai ketinggalan! Aku akan menjemputmu jam 5 sore nanti!" pesan Edgar.


"Iya. Terima kasih untuk semuanya!" balasku.


"Sama-sama," ujar Edgar. Dan ia pun melaju pergi.


Sebelum aku pergi, aku merapikan kamar apartemenku. Dan memastikan semua barang ku sudah dimasukkan ke koper. Masih ada waktu beberapa jam sebelum Edgar datang. Karena tak ada yang harus dikerjakan lagi jadi aku menelepon Sienna.


Hingga sore mulai menjelang aku mulai menyiapkan koper membawanya ke ruang tamu. Aku mulai merapikan diri. Begitu Edgar datang kami langsung pergi menuju bandara. Untuk terakhir kalinya aku melihat pemandangan kota ini dari balik kaca mobil. Entah kapan baru akan kembali lagi. Kota yang penuh kenangan.


Aku dan Edgar sudah berada di dalam pesawat. Masih ada waktu 10 menit sebelum pesawat lepas landas. Edgar mengeluarkan sebuah kotak dari tasnya. Ia memberikannya padaku.


"Apa ini?" tanyaku.


"Lihatlah!" jawab Edgar.


Aku membuka isi kotak itu. Aku langsung takjub melihatnya.


"Wow! Ini ...."


"Ya, itu sama seperti kalung yang dipakai Ratu Maera. Crystal Orlov!" jelas Edgar.


"Darimana kamu mendapatkan kalung ini?! Bukankah kita akan celaka kalau memilikinya?" seruku dengan panik.


"Tenang saja, ini Crystal Orlov palsu! Nenek Nancy pasti akan terkecoh. Bukankah sangat mirip dengan aslinya?" ujar Edgar tenang.


"Ya. Palsu saja seindah ini ...," gumamku sambil menatap kalung itu. Crystal yang sekelilingnya bertabur berlian. Nampak berkilau indah.


Aku mengelus bagian crystal itu namun tiba-tiba bayangan Wallace terpantul di atas crystal. Aku kaget dan sontak menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. Aku segera menutup kembali kotak itu dan mengembalikannya pada Edgar.


"Ada apa? Kamu terlihat panik," tanya Edgar sambil menerima kotak itu.


"Tidak apa-apa!" jawabku dengan memalingkan wajah.


Kami tiba di Losta hampir pukul sembilan malam. Kemudian perjalanan kami lanjutkan dengan taksi. Sebenarnya Sienna ingin menjemput tapi aku melarangnya karena hari sudah malam.


"Malam ini aku tidak akan pulang ke rumah. Aku akan bilang pada nenek aku sudah mendapatkan crystalnya dan kemungkinan pulang besok. Jadi, kita punya waktu esok hari untuk menyusun rencana," kata Edgar.


"Ya, terserah padamu saja!" ujarku.


"Kamu hanya perlu mengumpulkan teman-teman besok," kata Edgar mengingatkan.


"Baik. Tapi ku rasa mereka masih kuliah, jadi kemungkinan sore baru semuanya bisa berkumpul," aku menjelaskan.


"Tidak masalah. Hubungi aku begitu kalian siap," pesan Edgar. 


Aku menganggukkan kepala.


Akhirnya taksi berhenti di depan rumahku. Aku segera keluar dengan Edgar yang membantuku mengambil koper di bagasi mobil. Sienna sudah keluar dari dalam rumah.


"Sampai bertemu lagi besok. Tidur nyenyak, ya!" ujar Edgar sebelum kami berpisah.


"Tentu. Kamu juga!" balasku. Lalu aku melambaikan tangan padanya. Dan taksi pun kembali melaju.


Aku masuk ke dalam rumah disambut pelukan dari Sienna.


"Akhirnya kamu pulang!" ucapnya.


Aku hanya tersenyum.


"Mana bibi?" tanyaku.


"Dia menunggumu di dalam. Ayo, masuk!" ajak Sienna.


Kami memasuki rumah. Di sana bibi Jane sedang menunggu. Ia juga memelukku begitu aku sampai.


"Kamu membuatku khawatir, Riza! Tapi aku senang kamu pulang," katanya.


"Maaf, bibi! Aku tak bermaksud begitu," kataku tak enak.


"Sudah tidak usah dipermasalahkan, yang penting kamu sudah kembali! Ah ya, kamu sudah makan malam?" tanya bibi Jane.


"Ya. Aku tadi makan bersama Edgar!" jawabku.


"Oh," gumamnya. Wajahnya nampak kaget tapi kemudian ia bersikap biasa.


"Kamu pasti lelah, istirahatlah!" suruh bibi.


"Nanti saja aku masih ingin mengobrol dengan Sienna," kataku. Dan aku menepuk dahi melupakan sesuatu sambil berkata,


"Oh ya ampun, aku lupa membeli oleh-oleh untuk kalian! Aku minta maaf, benar-benar tak terpikirkan!"

__ADS_1


"Oleh-oleh apa? Jam tangan yang kalian berikan saja aku masih belum memakainya," ujar bibi Jane.


"Iya, aku juga tidak mau oleh-olehmu. Aku lebih tertarik dengan ceritamu. Ayo, ke kamar!" ajak Sienna sambil menarik ku naik ke atas kamar.


"Malam, Bibi!" kataku pada bibi Jane.


"Malam sayang!" balas bibi Jane.


Sienna langsung menyerang dengan segudang pertanyaan begitu sampai di kamar.


"Jadi, bagaimana rencana kita dengan Edgar? Bagaimana kelanjutan kisah mu dengan pemuda New Angeles itu? Kalian bertemu tiap malam, kan? Pasti ada tanda-tanda positif! Ceritakan semuanya padaku! Apa kalian sudah mulai pacaran? Sudah berhasil dapat nomor ponselnya?"


"Sienna ... satu-satu! Pertanyaan mu terlalu banyak. Yang mana yang harus aku jawab dulu?" aku menghentikan ocehannya.


"Hehehe .... Aku sangat penasaran. Kamu tidak banyak bercerita tentang dia di telepon. Oh ya ada kabar baik, besok Alex dan Justin akan kemari. Mereka libur seminggu. Dan berencana menghabiskan liburan di sini!" ujar Sienna dengan semangat.


"Oh, benarkah? Dia tidak memberitahuku," kataku.


"Ya, sebenarnya mereka sudah berencana akan datang sejak dua hari yang lalu. Tapi Alex mendengar kamu ke New Angeles jadi dia membatalkan rencananya. Terus tahu kamu pulang dia jadi bersemangat untuk datang," ujar Sienna.


Aku terus mendengarkan Sienna bercerita dengan semangat. Sambil mengeluarkan barang dari dalam koper. Ia kemudian bercerita mengenai Justin yang sangat perhatian padanya. Yang selalu menyempatkan waktu menghubunginya meski sangat sibuk.


"Apa besok kamu masih kuliah?" tanyaku begitu Sienna berhenti.


"Masih sampai minggu depan. Menyebalkan bukan? Padahal seharusnya sudah libur," gerutunya.


"Baru awal bulan, jelas saja belum libur. Kalau begitu aku simpan cerita ku untuk besok saja. Ini sudah malam, kamu tidur saja!" kataku.


"Apa besok kamu masuk?" tanya Sienna.


"Kurasa tidak. Banyak yang mau aku bereskan dulu. Oh ya, setelah pulang ajak Suzan kemari. Kita akan adakan rapat kecil bersama Edgar," jawabku tak lupa mengingatkan.


"Oke! Aku tidur dulu ya! Malam, Riza!" pamit Sienna.


"Malam!" balasku.


Setelah Sienna keluar, kamar kembali sepi. Tirai jendela yang dulu selalu terbuka kini tertutup. Aku berjalan ke jendela kamar dan membuka tirainya. Langit masih nampak kosong. Aku menghela nafas berat. Ku tutup kembali tirai itu. Dan berbaring di atas kasur.


╔═.✵.════════════════════╗


...5 November 2013,...


...Mimpi sudah berakhir. Saatnya bangun dan kembali ke kehidupan nyata....


╚════════════════════.✵.═╝


.......


.......


.......


Sambil menunggu pakaian yang sedang dicuci dengan mesin selesai, aku lanjut membereskan rumah. Bibi Jane dan Sienna sudah pergi, jadi hanya aku sendiri di rumah. Aku tak menyangka Alex dan Justin akan datang cepat. Saat aku tengah sibuk mencuci piring pintu sudah diketuk. Aku berhenti dan keluar membukakan pintu. Dua pemuda berdiri di depan dengan gaya cool mereka.


"Eriza!" teriak Alex girang begitu melihat aku yang menyambut mereka.


"Hai, Alex! Justin! Apa kabar?" sapa ku.


"Hai Eriza, kamu sendiri saja? Kabar kami baik," tanya Justin. Sepertinya sudah tahu.


"Iya, Sienna belum pulang! Masuklah kalian berdua. Aku sedang sibuk, jadi maaf belum bisa menemani kalian," kataku sambil berjalan meninggalkan kedua pemuda itu ke dapur.


Aku kembali segera dengan dua gelas minuman.


"Tak apa kan kalian tunggu sebentar di sini? Aku harus membereskan dapur sebentar!" kataku sambil menyodorkan gelas berisi minuman.


"Bagaimana kabar Mandy? Aku sudah lama tak dengar kabar darinya," tanyaku kemudian.


"Mandy bekerja di luar negeri sekarang. Ya, dia sangat sibuk jadi sudah jarang menghubungi kami," jawab Justin.


"Riza, kamu bereskan saja dulu pekerjaanmu! Kami tidak apa-apa menunggu di sini," ucap Alex yang dari tadi terus menatapku.


"Baiklah, aku tinggal dulu!" kataku sambil lalu.


Aku kembali ke dapur dan lanjut membersihkan piring kotor yang tersisa.


"Riza." Alex tiba-tiba menyapa.


"Ah, ya?"


Aku kaget, piringku hampir terlepas dari tangan. Entah kenapa Alex malah mengikuti ku ke dapur.


"Maaf, aku membuatmu kaget, ya!" ucap Alex mungkin tak enak.


"Tidak apa-apa. Untung tidak pecah," kataku.


"Kamu tega sekali pergi sendiri ke New Angeles tanpa mengajakku?" gerutu Alex. Ia mendekat dan berdiri di sampingku. Ia ikut membantu.


"Bukankah kamu sangat sibuk? Bagaimana mungkin aku mengajakmu?!" balasku.


"Memangnya apa yang kamu lakukan di sana? Kata Sienna kamu mencari seseorang. Apakah seseorang yang berarti bagimu?" tanya Alex sangat ingin tahu.


"Tidak. Hanya teman biasa," jawabku santai.

__ADS_1


"Benarkah? Kalau hanya teman biasa kamu sampai rela mengejarnya ke sana?" Alex bertanya tak percaya.


"Aku harus untuk mencegah sesuatu yang tak diinginkan terjadi," jawabku.


"Mencegah apa?" Alex bertanya penuh curiga.


Sejenak aku terdiam dengan pertanyaan Alex. Lalu mengambil alih piring terakhir dari Alex dan membersihkannya. Selesai. Aku berpaling menjauh beberapa langkah


"Semua itu sudah tidak penting," jawabku kemudian.


"Maksudmu?" Alex masih bertanya.


"Alex, ku mohon berhentilah mengejar ku! Aku ...," Aku berhenti berkata. Tidak tahu bagaimana menjelaskan.


"Ada orang lain yang kamu sukai?!" Alex memastikan.


Dengan pelan aku mengangguk.


"Ya."


Alex terdiam. Tidak kaget tapi juga tidak panik. Ia cukup terlihat tenang.


"Aku mengerti. Seperti janjiku dulu, aku tak akan mengganggu mu! Yah, seperti itulah," kata Alex nampak serba salah dengan kata-katanya.


"Jadi ... sudah menyerah?" tanyaku menggoda.


"Menyerah? Ya, memang harusnya begitu kan?" jawab Alex.


"Harusnya? Memangnya selama ini kamu tidak menemukan gadis yang lebih menarik? Kamu bertemu dengan banyak orang setiap hari," kataku.


"Tidak, aku tidak fokus pada hal itu. Aku terlalu mementingkan pekerjaanku, jadi belum sempat melirik gadis lain di luar sana. Tapi nampaknya sekarang aku harus lebih fokus pada setiap gadis yang ku temui," ujar Alex dengan senyum nakal.


Aku menyunggingkan senyum.


"Cepatlah temukan! Kamu sudah nampak tua!" ejekku.


"Tua? Yang benar? Jangan bercanda! Aku masih tampan begin ...," protes Alex tak terima.


Aku hanya menertawainya sambil berjalan ke ruang tamu. Sedangkan Alex menggerutu tak jelas karena aku mengatainya tua. Perbincangan berlanjut hingga Sienna dan Suzan pulang. Suasana pun semakin ramai. Sienna mengenalkan Justin sebagai pacarnya pada Suzan. Sedangkan Alex nampak sudah mulai menggoda Suzan. Aku hanya menertawainya saja. Itu lebih baik daripada dia terus menggantungkan perasaannya padaku.


Saat hari mulai sore, Edgar datang. Kami semua berkumpul di ruang tamu. Edgar mulai mengadakan rapat kecil. Kebetulan Alex dan Justin di sini, mereka juga tak mau ketinggalan untuk ikut ambil bagian dalam rencana ini. Meski sebelumnya kami harus menceritakan masalah yang cukup rumit ini pada mereka berdua. Mereka tetap setuju ikut membantu.


Edgar pun mulai menyusun rencana, memberikan intruksi pada kami semua bagaimana kami akan bertindak besok. Sampai semua benar-benar mengerti, barulah ia sudahi rapat kecil ini. Hari sudah sangat sore saat bibi Jane pulang. Ia langsung tersenyum sumringah melihat kedatangan Alex dan Justin ditambah suasana rumah yang ramai. Dengan semangat ia memasak makan malam enak dan menyuruh semuanya ikut makan bersama. Moment seperti ini memang jarang terjadi. Biasanya rumah sepi, hanya ada kami bertiga. Sekarang terasa ramai dan hidup karena banyaknya sahabat, suasana pun menyenangkan.


Seusai makan malam mereka semua kembali mengobrol di ruang tamu. Aku memilih memisahkan diri. Aku ke dapur, sambil membereskan piring kotor untuk dicuci. Edgar datang dan ikut membantu.


"Kenapa tidak berkumpul bersama teman-temanmu?" tanyanya.


"Akan lebih baik kalau pekerjaan rumah beres dulu!" jawabku sambil tersenyum.


"Kamu bukan sedang menghindar, kan?" tanya Edgar.


"Menghindar dari apa?" aku balik bertanya karena tak mengerti.


"Kamu masih sedih?!" tanya Edgar.


Aku hanya diam. Lalu ia melanjutkan,


"Saat hati sedang sedih tidak peduli ditengah keramaian pun akan tetap merasa sepi. Daripada diam saat semua tertawa bukannya lebih baik pergi dengan pikiran sendiri?! Karena di manapun kita berada akan tetap lebih baik jika sendiri."


Aku terdiam mendengar ucapan Edgar. Berhenti dengan kesibukanku. Aku berkata dengan pelan,


"Edgar, aku tak mau memikirkannya. Tapi entah kenapa dia selalu muncul. Jika awalnya aku tahu seperti ini, aku tidak akan berharap lebih. Aku tak akan menyusulmu untuk sesuatu yang sia-sia."


"Tidak ada yang sia-sia, Riza! Karena kamu menyusulku akhirnya kamu mengetahui kebenaran. Jika tidak, selamanya kamu akan terus tersiksa dengan perasaanmu!" ujar Edgar.


"Tapi, apa dengan begini semuanya jadi lebih baik? Aku tidak tahu apakah harus sedih atau senang. Sedih karena kenyataan yang begini menyedihkan atau senang karena aku tahu semua perasaannya? Ini membuatku gila! Jika aku sedang bermimpi maka bangunkan aku sekarang juga, Edgar!" kataku dengan penuh emosi.


Edgar lalu memutar tubuhku menghadapnya. Ia memegang pundakku dengan kedua tangannya. Ia menatapku dengan serius tapi suaranya begitu lembut.


"Kamu tidak bermimpi, Riza! Kamu tidak tidur. Cobalah untuk menerima kenyataan! Ini bukan salahmu, ini terjadi di luar kendalimu. Tidak ada yang tahu akhir kisahnya seperti apa. Kamu harus hidup dan kembalilah menjadi dirimu! Dirimu yang dulu yang belum mengerti kesedihan dan patah hati," hibur Edgar.


"Tapi, Edgar ...."


Aku belum selesai bicara, Alex tiba-tiba datang dan melihat kami.


"Ups ... Sorry aku mengganggu!" katanya dengan serba salah. Ia segera pergi dengan wajah murung.


"Pergilah temui teman-temanmu! Aku akan selesaikan sisanya," suruh Edgar.


"Tidak apa-apa sebentar lagi juga selesai," aku membantah.


"Sudah sana! Nanti mereka curiga kalau kamu terus menghindar," kata Edgar.


Benar kata Edgar, aku pun berbalik hendak ke luar. Namun Edgar tiba-tiba menarik tanganku.


"Ingat masih ada aku! Kalau kamu sedih ingatlah aku, aku akan datang dan menghiburmu!" ucapnya dengan lembut.


Aku terdiam tak bisa berkata-kata. Hanya mengangguk pelan. Edgar melepaskan tangannya.


"Bersenang-senanglah!" ujar Edgar dengan senyumnya.


Lalu aku kembali berkumpul dengan teman-temanku yang semakin berisik di ruang tamu. Mencoba melupakan semua kesedihan di hati. Kami berkumpul hingga larut malam. Saat Edgar hendak pulang ia memberikan sesuatu untuk ku bawa besok.

__ADS_1


bersambung .... 


__ADS_2