Pangeran Dari Dunia Lain

Pangeran Dari Dunia Lain
Berburu Oleh-oleh


__ADS_3

Kubuka pintu kamar dan menutupnya dengan pelan. Di tempat tidurnya Sienna berbaring dengan ponsel yang menemaninya. Ia menoleh padaku.


"Belakangan ini kamu selalu ke luar dan pulang larut malam. Apa yang kamu lakukan?" tanyanya curiga.


"Jalan-jalan," jawabku sambil melemparkan tubuh ke atas kasur.


"Sepertinya bukan sekedar jalan-jalan biasa. Apa kamu pergi berburu hantu?" tanya Sienna dengan nada mengejek.


Spontan aku tertawa mendengar pertanyaan konyol Sienna.


"Berburu hantu? Sayangku Sienna, kamu ini lucu sekali!" ejek ku.


"Secara kamu sangat penasaran dengan penginapan di Dixie Holly itu. Apa rasa penasaran mu sudah terjawab?" tanyanya lagi.


"Aku menemukan sesuatu yang lebih menarik daripada penginapan itu," kataku.


"Apa itu?" tanya Sienna penasaran.


"Rahasia! Belum saatnya kamu tahu!" godaku. Lalu menarik selimut hingga menutupi kepala menghindar dari pertanyaan Sienna selanjutnya. Aku yakin ia pasti penasaran.


"Hei ceritakan padaku! Riza ... Eriza ... Kamu sungguh menyebalkan!" gerutu Sienna karena aku tak mempedulikannya.


Sedangkan aku tersenyum sendiri dibalik selimutku.


'Wallace ....'


...*****...


Ini hari terakhir kami di Dixie Angeles. Dan tujuan terakhir kami kali ini membeli oleh-oleh. Di mana lagi kalau bukan di St. Barbara. Dengan jasa taksi Mr. Richard kami berangkat dari hotel usai sarapan pagi.


Seperti kebiasaannya, Mr. Richard lebih senang menunggu penumpangnya di taksi sambil baca koran ataupun mendengar radio daripada ikut menemani penumpangnya. Khusus hari ini aku menyisipkan beberapa lembar uang sebagai tip hitung-hitung bisa untuk membeli makan siang. Jadi kami tidak perlu cemas dengan waktu yang bisa kami habiskan seharian di sini. Maklum saja kalau perempuan pergi belanja pasti akan lama.


Aku dan Sienna mulai berkeliling di dalam plaza. Sambil melirik ke sana-kemari melihat sesuatu yang mungkin menarik minat kami. Kami sampai di toko Wanted di mana aku pernah ke sana dengan Mr. Mark. Aku dan Sienna langsung menuju rak berisi souvernir.


"Apa yang akan kamu belikan untuk mama?" tanya Sienna padaku.


"Entahlah. Menurutmu bagusnya kita belikan apa, ya?" Aku balik bertanya meminta pendapat Sienna.


"Tidak begitu banyak yang mama suka. Ia jarang membicarakan keinginannya," ujar Sienna.


"Adakah sesuatu yang pernah diinginkan bibi diam-diam?" Aku bertanya sambil mengira-ngira.


Tapi Sienna malah mengangkat kedua bahunya.


"Hanya sekali. Aku pernah melihat mama berhenti di sebuah toko jam tangan. Berdiri cukup lama di sana memandangi sebuah jam tangan di dalam etalase," lanjut Sienna.


"Kalau begitu belikan jam tangan saja!" Aku menyarankan.


"Boleh. Tapi, siapa yang akan membeli jam tangannya?" tanya Sienna.


"Kamu saja! Aku akan membelikannya kalung. Aku akan cari yang modelnya cocok dengan jam tangannya," jawabku.


"Boleh juga. Baiklah! Kita ke toko jam tangan dulu?!" Sienna bertanya.


"Boleh. Ayo!" kataku.


Dengan segera kami meninggalkan toko Wanted dan berkeliling kembali mencari toko jam. Ada beberapa toko jam di dalam plaza. Tapi langkah kami berhenti di sebuah toko jam yang tertutup pintu kaca.


Aku dan Sienna melihat beberapa jam tangan wanita yang terpajang di etalase toko. Ada sebuah model yang menarik perhatianku.


"Lihat yang itu! Mungkin cocok dengan mama," seru Sienna sambil menunjuk ke sebuah jam mungil nan elegan. Aku mengikuti arah tangannya dan tersenyum.


"Selera kita sama rupanya!" Aku berujar.


"Ayo, masuk!" ajak Sienna.


Lantas kami pun memasuki toko tersebut. Lalu meminta penjaga toko mengambil model jam tangan yang kami lihat. Penjaga toko menunjukkan jam tangan itu pada kami.


"Ini tersedia dengan dua warna, gold dan silver," ujar si penjaga toko dengan ramah. Ia juga menunjukkan dua warna jam yang berbeda itu.

__ADS_1


Sienna mengambil jam rantai silver dengan hati-hati. Memperhatikan sejenak lalu meraih label yang tergantung di ujung rantai. Dia menyikut ku dengan tangannya sambil menunjukkan harga yang tertera pada label jam. Sangat mahal. Tapi aku tak berkata-kata. Aku justru menatap Sienna. Lalu berbalik pada penjaga toko.


"Apa ada diskon?" tanyaku dengan ramah pada penjaga toko.


"Tidak ada. Karena ini keluaran terbaru, stoknya juga terbatas!" jawab penjaga toko.


"Oh," Aku bergumam. Dan kembali menatap Sienna.


Sienna meletakkan kembali jam itu dan buru-buru menarikku menjauh dari si penjaga toko.


"Bagaimana? Apa cari model lain yang lebih murah saja?" Sienna berbisik.


"Jangan. Bukankah kita suka model itu?" jawabku.


"Terlalu mahal! Sisa uangku tidak cukup!" kata Sienna.


"Kita patungan saja!"


"Tapi, apa uangmu cukup? Kamu kan harus membeli kalung lagi nanti?" tanya Sienna.


"Aku tidak jadi beli saja. Aku lihat jam itu sangat bagus. Kita harus membelinya. Jadi oleh-oleh kali ini kita patungan saja, bagaimana?" jawabku dengan semangat.


"Baiklah, kalau kamu berkata begitu," Sienna sepakat.


Akhirnya kami kembali ke penjaga toko. Setelah berunding sebentar kami memutuskan memilih jam warna silver. Sebuah oleh-oleh spesial untuk wanita yang kami cintai pun kami dapatkan.


Kini kami beranjak ke toko pernak-pernik membeli beberapa souvenir untuk teman dekat.


Sebelum petang kami sudah kembali ke hotel. Aku tidak mau kecapekan karena aku masih ingin menemui Wallace di malam terakhir ini.


Malam ini aku berencana ke Dixie Holly lebih awal. Pukul 7 malam aku mulai bersiap. Mr. Richard pun sudah aku pesan tadi siang.


Sienna sedang merapikan pakaiannya saat melihatku yang telah rapi. Ia tahu aku akan ke luar lagi.


"Kamu akan ke Dixie Holly lagi?" tanyanya.


"Iya," jawabku singkat.


"Iya!" kataku.


"Aku benar-benar penasaran mengapa beberapa malam ini kamu begitu rajin ke sana," ujar Sienna.


"Ya," gumamku asal.


"Hei, kamu dengar aku bicara, tidak?! Dari tadi ya ya saja," gerutu Sienna.


"Ya," Aku menjawab sambil cekikikan sendiri.


"Menyebalkan sekali. Pokoknya sepulang dari sini kamu harus menceritakannya padaku!" desak Sienna tanpa bisa dibantah.


"Ya. Ya," jawabku.


"Jangan pulang terlalu malam! Supaya besok tidak kecapekan," pesan Sienna.


"Oke, sister! I'll go ...." kataku sembari melambaikan tangan dan pergi meninggalkan Sienna.


Aku melangkah keluar dari hotel. Di depan taksi Mr. Richard sudah menunggu. Tak mau membuang-buang waktu aku segera naik ke dalam taksi. Dan duduk dengan tenang di belakang supir.


"Selamat malam, Nona Eriza!" sapa si supir terdengar dari suaranya itu bukanlah suara Mr. Richard yang sangat kuhafal.


Aku mendongak kaget. Aku yakin tidak salah naik taksi.


"Loh, anda siapa? Bukankah ini taksi Mr. Richard?" seruku.


"Aku yakin anda masih ingat denganku!" ujar sang supir dengan tenang. Ia menoleh kearahku.


Aku menunjuk wajahnya sambil mencoba mengingat namanya. Ya, aku pernah bertemu orang ini!


"Kamu ... Roger?! Yang pernah jadi supir Mr. Mark!!" seru ku sekali lagi. Surprise sekali!

__ADS_1


"Benar! Ingatan anda memang masih bagus! "Roger berusaha memuji.


Ia mulai menjalankan mobil sambil melanjutkan ucapannya.


"Malam ini aku bertugas menggantikan Mr. Richard. Karena beliau sedang ada sedikit urusan."


"Oh ... Jadi, kamu bekerja pada Mr. Richard?" tanyaku.


"Tidak juga. Aku hanya membantu bisnis keluarga. Mr. Richard adalah pamanku!" jelas Roger.


"Benarkah? Aku tidak menyangka!" ujarku.


"Ya. Selain menyediakan beberapa taksi untuk disewakan kepada supir lain, ia sendiri juga masih menjadi supir untuk mengantar orang lain. Padahal sudah seharusnya dia pensiun. Karena usianya sudah tua. Seharusnya ia duduk sebagai bos saja. Tapi ia menolak, ia benar-benar orang tua yang keras kepala," kata Roger dengan bahasanya yang lucu.


Aku tertawa kecil dengan ucapan Roger yang seperti mengadu. Ini kali pertama aku bicara padanya, ternyata ia sangat bersahabat.


"Mungkin Mr. Richard tipe pekerja keras yang tak suka duduk diam di rumah," Aku menimpali.


"Ya, memang benar. Karena itulah tak ada yang bisa menyuruhnya berhenti bekerja," Roger sependapat.


"Oya, kalau aku boleh tahu apa yang kamu lakukan di Dixie Holly malam-malam begini?" tanya Roger.


"Jalan-jalan saja!" jawabku sekenanya.


"Sendirian?" tanya Roger dengan heran.


"Iya," Aku mengangguk.


"Dimana temanmu? Bukankah kalian berdua?" tanya Roger lagi.


"Dia di hotel!" jawabku.


"Oh ... Kamu tidak takut ke sana sendirian?" tanya Roger.


"Tidak," jawabku.


"Kamu memang pemberani! Saat musim panas begini memang di sana cukup ramai, asal jangan sampai ke ujung jalan. Di sana sangat sepi dan ... angker!" ujar Roger.


"Angker ... bagaimana?" tanyaku pelan.


"Katanya sering terlihat penampakan, terutama di sekitar bekas penginapan," jawab Roger tenang tanpa bermaksud menakuti.


"Apa lagi yang kamu tahu tentang penginapan itu?" tanyaku tertarik.


"Tidak banyak. Apa paman tidak pernah menceritakan sesuatu padamu?" tanya Roger yang membuatku heran.


"Tidak. Memangnya ada cerita apa?" tanyaku sangat penasaran.


"Beberapa abad yang lalu pernah ada seorang turis asing yang melancong kemari. Ia datang menurut buku kuno nenek moyangnya yang salah seorang bagian dari rakyat Kerajaan Dixie. Dahulu di kawasan Dixie Holly ada kerajaan yang bernama Kerajaan Dixie. Ada kisah tragis dari kerajaan tersebut. Di mana sang raja dan putranya tewas saat terjadi pertempuran. Sementara ratu yang tak sanggup menahan kesedihan akhirnya bunuh diri. Saat itulah penduduk yang tersisa memilih meninggalkan Kerajaan Dixie. Kisah ini cepat beredar dari mulut ke mulut. Meski tak banyak yang tahu kebenaran kisah ini. Ditambah lagi tak ada jejak keberadaan sisa istana di sini. Tapi kisah itu justru kuat melekat di kawasan ini dikarenakan Dixie Holly yang menyimpan keangkeran dan kemisteriusan. Apalagi tembok tinggi yang menutupi ujung jalan itu. Tak ada yang tahu apa yang tersembunyi di belakangnya itu, semua hanya mengira itu hutan belantara, tapi menurutku ada sesuatu yang disembunyikan di sana," jelas Roger dengan panjang lebar.


Aku terdiam menyimak ceritanya. Baru kali ini aku mendengar kisah kota ini. Tembok di ujung Dixie Street memang terlampau tinggi untuk bisa diintip. Selain yang terlihat hanya pepohonan lebat yang tinggi menjulang. Awalnya aku juga heran untuk apa tembok itu dibangun.


"Apa itu juga alasan kawasan ini disebut Dixie Holly?! Sesuai dengan nama Kerajaan Dixie?" tanya ku.


"Bisa jadi begitu," jawab Roger. "Nah, Nona Eriza kita sudah sampai!"


"Ah, ya," jawabku.


"Semoga jalan-jalannya menyenangkan!" ujar Roger.


"Iya," ucapku sambil turun dari taksi. Sebelumnya aku berpesan padanya.


"Aku akan kembali sebelum jam 11 malam!"


"Oke! Kamu yakin tidak butuh teman?" tanya Roger.


"Tidak. Trims!" tolakku.


Roger tersenyum dan aku pergi meninggalkannya.

__ADS_1


bersambung ...


__ADS_2