
Dug .... Dug .... Dug ..... Dug ....
Aku mendengar keramaian, suara-suara orang yang berbicara tidak jelas, teriakan, dan sirine mobil ambulance. Tubuhku terasa diangkat tapi kelapa ku terasa sangat berat dan sakit yang luar biasa menusuk. Bahkan hanya untuk membuka kedua mata saja, aku tidak mampu.
Aku tidak tahu apa yang terjadi sekarang. Dadaku mulai terasa sesak. Seluruh tubuhku sakit menusuk sampai ke tulang-tulang. Beberapa menit terakhir yang ku ingat, sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi ke arahku. Aku tidak sempat mengelak, mobil itu menabrak ku dengan kuat. Dan sekarang aku tidak tahu di mana aku berada. Dadaku semakin sesak tapi jantungku mulai berpacu cepat.
Aku merasakan ada sesuatu yang menekan dada ku. Saat itu kenangan bersama Sienna dan bibi Jane tiba-tiba muncul di ingatanku. Diikuti kenangan lain ketika bersama teman-teman, Suzan, Russel, Alex, Mandy, Vanessa, Edgar, Ginnevra. Satu persatu wajah mereka muncul di dalam ingatanku. Dan terakhir saat-saat kebersamaan ku dengan Wallace.
Jantungku kembali berdetak sangat cepat, semakin cepat kemudian pelan, menjadi semakin pelan dan melemah. Satu detakkan ... dua detakkan ... tiga detakkan ... hingga akhirnya detakkan itu perlahan berhenti. Semua rasa sakit yang begitu luar biasa tadi perlahan lenyap seketika. Aku tidak ingat apa-apa lagi.
Aku akhirnya terbangun oleh cahaya yang sangat menyilaukan. Baru sekarang aku bisa membuka kedua mataku. Namun aku tidak bisa melihat apapun selain cahaya putih itu. Di mana aku?
"Eriza ... Eriza ...."
Suara yang sangat ku kenal itu memanggil.
"Hah?" Aku terkejut. Suara yang selama ini sangat ku rindukan. Apakah aku sedang bermimpi? Atau itu hanya halusinasi saja?
Tiba-tiba saja dia muncul di depanku. Dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Raut wajahnya begitu bahagia. Ia terlihat jauh lebih baik dibandingkan dulu.
"Eriza!" ucapnya.
"Wallace!? Apa benar itu kamu?" tanya ku untuk memastikan kalau aku sedang tidak berhalusinasi.
"Ini memang diriku, Eriza! Aku datang untuk menjemputmu!" jawab Wallace.
"Menjemputku? Menjemputku ke mana? Aku tidak sedang bermimpi, kan? Atau ini hanya khayalan ku?" tanya ku yang benar-benar bingung.
Namun Wallace hanya tersenyum padaku. Dia menarik tanganku. Tangannya terasa lebih hangat sekarang. Kemudian ia membawaku pergi. Cahaya putih itu memudar membawaku berpindah ke suatu tempat. Sekarang aku berada di salah satu ruangan yang nampaknya merupakan salah satu kamar rumah sakit. Melihat pemandangan di dalam kamar rumah sakit tersebut membuatku begitu tercengang. Beberapa perawat sibuk melepaskan alat-alat medis dari tubuh seorang wanita yang terbaring tak sadarkan diri di atas brankar. Yang membuat ku tercengang adalah siapa sosok wanita tersebut.
"Bukankah itu ... aku?" tanyaku pada Wallace sambil menunjuk wanita yang terbaring itu.
"Iya. Itu tubuhmu! Kamu sudah meninggal, Riza!" jawab Wallace pelan.
"A ... Apa?!" Aku kaget mendengar ucapan Wallace.
'Aku sudah meninggal?'
Berpindah ke waktu berikutnya aku melihat bibi Jane, Edgar dan Ginnevra menangis di samping tubuhku. Menit-menit terakhir yang masih aku ingat mengenai kecelakaan itu. Pasti kecelakaan itu yang membuat ku kehilangan nyawa. Wallace menggenggam erat tanganku. Aku menatapnya. Dia memandangku dengan lembut.
"Tak ada yang mengharapkan ini terjadi! Mau tidak mau, suka atau tidak, kita harus menerimanya," ucap Wallace.
Aku menarik nafas dengan berat. Perasaanku campur aduk. Entah harus merasa senang atau sedih. Namun yang pasti aku harus rela menerima takdir ini.
__ADS_1
"Semua ini memang bukan kehendak kita. Jika takdir menghendaki ini terjadi maka terjadilah. Mungkin dengan kepergian ku ini, aku tidak akan menyakiti perasaan orang yang mencintaiku lagi. Meski aku harus meninggalkan mereka untuk selamanya!"
"Sekarang dunia kita sama. Takdir juga telah menyatukan kita kembali!" Wallace menimpali dengan senyum terindahnya.
"Apakah takdir berpihak pada kita?" tanya ku.
"Mungkin," jawab Wallace.
Aku tersenyum kecil. Mungkin memang takdir menginginkan ku untuk berada di sisi Wallace. Setidaknya jiwaku bisa bahagia. Aku dapat meninggalkan dunia dengan senyum merekah. Aku tahu pasti ada kesedihan di hati mereka yang aku tinggalkan. Biarlah waktu yang akan menghapusnya dan waktu akan mengobati duka mereka. Kenangan akan tinggal di hati mereka yang mencintaiku dan jiwaku akan tenang bersama orang yang ku cintai.
.......
.......
.......
.......
...★━━━━━━━━━━━━★...
Pemakaman dilaksanakan setelah Sienna dan Justin kembali. Semua sahabat dari Jackville, teman kampus bahkan pimpinan perusahaan tempat Eriza bekerja juga ikut menghadiri upacara pemakamannya. Bibi Jane dan Sienna tak henti-hentinya mengusap air mata saat pembacaan doa sampai prosesi pemakaman berakhir. Dan orang yang paling bersedih setelah bibi Jane dan Sienna pastilah Edgar.
"Aku tidak pernah menginginkan kamu pergi secepat ini. Jika aku tahu ini akan terjadi, aku pasti akan menemanimu lebih lama. Aku pasti tidak akan menghindari mu hanya karena perasaan egoku," kata Edgar dengan penuh penyesalan.
"Tapi sekarang kamu bisa tidur dengan tenang. Aku akan selalu mendoakan agar kamu bahagia di sana. Mungkin kamu juga akan bertemu dia di sana. Namun yang pasti aku akan selalu merindukanmu, Eriza!" Edgar mencium nisan Eriza untuk terakhir kalinya.
Ginnevra datang dengan sebuah payung untuk melindungi Edgar dari guyuran gerimis. Ia sangat iba melihat adiknya yang begitu sedih, mungkin di antara semuanya Edgarlah yang paling merasa kehilangan. Ginnevra pun tak bisa berbuat banyak untuk menghiburnya.
Di kejauhan Ginnevra melihat dua sosok jiwa yang samar-samar sedang melambaikan salam perpisahan padanya. Ginnevra tidak bereaksi. Ia hanya tersenyum tipis dengan mata berkaca-kaca. Dengan lembut ia mengusap punggung Edgar.
"Edgar, Eriza sudah bahagia di sana bersama Pangeran! Kamu tidak perlu lagi bersedih," ujar Ginnevra dengan pelan.
Edgar hanya terdiam mendengar ucapan Ginnevra. Dengan tenang Ginnevra menuntun Edgar berdiri. Edgar masih berdiri cukup lama di depan makam Eriza. Sebelum akhirnya berjalan pergi bersama Ginnevra. Ginnevra membalikkan wajahnya menatap tempat di mana dua sosok jiwa itu berada tadi. Kedua sosok jiwa itu masih berada di sana. Keduanya saling berpegangan tangan dan tersenyum pada Ginnevra. Ginnevra ikut tersenyum untuk mereka. Kedua sosok jiwa tersebut saling berpandangan kemudian sekali lagi melambaikan tangan kepada Ginnevra. Secara perlahan sosok Eriza dan Wallace pun menghilang menjadi kilauan cahaya yang melayang ke atas langit.
...★━━━━━━━━━━━━★...
.......
.......
.......
__ADS_1
.......
Di tengah hutan belantara, tepatnya di salah satu puing-puing reruntuhan seperti paviliun bangunan kuno.
Seorang pria tua sedang berdiri di tengah bangunan. Matanya menatap nanar pada ukiran patung sosok seorang wanita yang pernah berjaya di masanya. Meski hampir sebagian patung tertutup lumut namun tidak merusak detail bentuk asli dari patung tersebut.
Pria tua itu menghela nafas. Ia kemudian berjongkok di depan patung. Mengeluarkan sekop kecil dari ransel yang ia bawa. Ia mulai menyingkirkan tanaman dan rerumputan yang ada di sekitar kaki patung. Begitu menemukan tanah, ia menggali tanah itu dengan sekop kecil yang dibawanya. Setelah dirasa cukup dalam, pria tua itu berhenti. Ia mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil dari ranselnya. Saat ia membuka kotak tersebut nampaklah kalung kristal yang menjadi rebutan banyak orang selama ini, Crystal Orlov. Batu kristal yang memancarkan kilau indah itu benar-benar terlihat menggoda. Seolah memiliki sihir yang menarik orang untuk berebut memilikinya. Pria tua itu menutup kembali kotaknya.
"Sudah terlalu lama aku menyimpannya. Benda ini harus dikembalikan kepada pemiliknya. Dengan begitu aku pun bisa merasa tenang," gumam pria itu.
Pria tua itu pun meletakkan kotak itu ke dalam tanah yang digalinya. Kemudian menguburnya. Setelah kotak benar-benar terkubur di dalam tanah, pria tua tersebut kembali menyingkirkan tanaman liar yang ada di sekitarnya. Sampai akhirnya ia menemukan batu dengan ukiran huruf kuno yang tertutup lumut. Pria tua membersihkan lumut yang ada di permukaan batu. Dia tersenyum. Dia memang tidak bisa membaca tulisan kuno itu. Tapi dia tahu itu bukanlah batu biasa melainkan sebuah batu nisan. Sedang paviliun tempatnya sekarang berada sebenarnya merupakan sebuah makam. Dan dia jelas mengetahui siapa pemilik makam ini.
...★━━━━THE END━━━━★...
.......
.......
.......
...🍁🍁🍁...
Hai... Hai... maaf ya bagi teman-teman yang udah nunggu lama cerita ini tapi gak update2. Dikarenakan kondisi badan kurang fit dan sedikit kesibukan di real jadi tidak sempat untuk nulis.
Terima kasih banyak juga kepada teman-teman yang telah setia membaca cerita ini sampai selesai dan selalu mensupport aku baik dengan komen2 atau gift like, itu sudah cukup berarti dan memberikan semangat buatku. (✿^‿^)
Maafkan juga jika masih terdapat banyak kesalahan kata atau kalimat. Aku masih harus banyak belajar.
Jika teman-teman suka cerita fantasi seperti ini, boleh mampir di karya fantasi aku yang di bawah ini, ya! Boleh cek dulu sinopsisnya...
Oke, sekian dulu perjumpaan kita di sini! Sampai bertemu di karya selanjutnya ya! ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
╔═.✵.═════════════════════╗
...🎉Happy Holiday🎉...
...🎄Merry Christmas🎄...
__ADS_1
╚═════════════════════.✵.═╝