Pangeran Dari Dunia Lain

Pangeran Dari Dunia Lain
Tidak Enak Badan


__ADS_3

"Riza ... Eriza ...."


Suara bisikan yang entah datang darimana membuat tidurku dipenuhi kegelisahan. Antara sadar dan mimpi aku mendengar bisikan namaku dipanggil berkali-kali. Tapi aku merasa suara itu sangat nyata.


"Eriza ...."


Aku terbangun dengan kaget. Keringat dingin mengucur dari seluruh tubuh. Dari jendela yang tertutup sebagian tirai nampak hari sudah terang. Ku lirik jam disamping tempat tidur. Sudah pukul tujuh pagi. Aku kaget dan secepat kilat turun dari tempat tidur. Aku sudah terlambat ke kampus hari ini.


Mau secepat apapun kalau sudah terlambat ya terlambat. Alhasil bolos kelas pertama kuliah pagi ini. Dan baru masuk untuk kelas kedua. Hingga berakhirnya jadwal kuliah.


Aku duduk di bangku taman kampus. Seharian ini belum melihat Sienna. Karena jadwal kami berbeda. Begitu pun dengan Edgar. Cuaca yang panas malah membuatku malas untuk bergerak. Rasanya sangat lelah. Aku duduk cukup lama di sana. Mungkin hampir ketiduran kalau Russel tak menyapaku.


"Hai, Riza! Kamu kenapa?" tanya Russel yang kebetulan lewat.


"Aku tidak apa-apa!" jawabku sekenanya.


"Benarkah? Tapi wajahmu pucat. Kamu mau ku antar pulang?" Russel menawarkan dengan sopan.


"Tidak usah, trims!" tolakku halus.


"Tidak apa-apa. Aku juga mau pulang. Kebetulan melihatmu duduk sendiri jadi aku sekalian menawari," kata Russel.


Aku tersenyum. Entah apa benar kata Russel, tapi aku benar-benar merasa sangat lelah.


"Kamu tunggu di sini sebentar, ya! Aku ambil motor dulu!" pesan Russel kemudian berlari ke parkiran.


Ia kembali dengan cepat sambil mengendarai motornya. Dan menyuruhku untuk segera naik.


Dalam perjalanan kami berbicara sedikit.


"Oh, tumben hari ini sendiri? Kenapa tidak bersama Sienna dan Edgar?" tanya Russel.


"Aku belum melihat mereka dari tadi pagi!" jawabku.


"Begitu. Aku juga tidak melihat Edgar hari ini!" timpal Russel.


Aku tak merasa aneh. Pikirku mungkin Edgar merasa tak enak padaku atas kejadian kemarin. Jadi menghindar mungkin lebih baik.


Aku tiba di rumah lebih cepat berkat Russel. Begitu sampai aku langsung masuk ke rumah dan beranjak ke kamar. Rumah masih sepi itu berarti Sienna belum pulang. Dengan sembarang ku taruh tas dan buku-buku sementara tubuh ini langsung jatuh ke atas kasur. Tak sampai lima menit aku sudah terlelap.


.......


.......


.......


.......


...★━━━━━PoV Edgar━━━━━★...


Edgar sedang duduk di samping tempat tidur Ginnevra sembari memperhatikan wajah gadis itu. Sejak kemarin ia terus tertidur. Dengan gelisah Edgar menatap jam tangannya. Hari telah siang. Tak banyak yang bisa dia lakukan untuk kakaknya. Sementara ia sendiri bingung dengan kondisi sang kakak.

__ADS_1


Dokter yang dihubunginya akhirnya datang. Setelah memeriksa sebentar kondisi Ginnevra, sang dokter menjelaskan.


"Nona tidak apa-apa, hanya kecapekan. Hanya perlu istirahat yang cukup!"


"Tapi dia sudah tidur semalaman, Dok! Benarkah tidak ada penyakit serius yang diderita kakakku?" tanya Edgar yang berusaha tenang.


"Tuan muda, aku tidak menemukan adanya tanda penyakit berbahaya didalam tubuh nona. Tuan muda, tenanglah! Biarkan nona istirahat dulu!" kata dokter. Edgar hanya mengangguk meski tak yakin.


"Kalau begitu saya permisi dulu! Jika ada apa-apa segera hubungi saya!" pamit sang dokter lalu pergi.


Edgar hanya mendesah. Kembali menatap wajah pucat Ginnevra yang terlelap. Kemudian beranjak meninggalkan kamar yang belum ia tinggalkan sejak kemarin malam.


Begitu ia menutup pintu kamar, Mr. Henry menghampirinya untuk menanyakan kondisi Ginnevra.


"Bagaimana keadaan Nona, Tuan muda?"


"Dokter bilang kakak hanya kecapekan dan butuh istirahat," jawab Edgar.


Mr. Henry menganggukkan kepala pelan.


"Mungkin sebaiknya Tuan muda menyuruh Nancy kembali!"


"Nenek Nancy? Untuk apa? Bukankah beliau sudah pensiun?" tanya Edgar tak mengerti.


"Aku hanya menyarankan. Mungkin beliau tidak keberatan kembali ke rumah ini sekedar menjenguk nona yang sakit!" jawab Mr. Henry yang lagi-lagi tak dipahami Edgar. Mr. Henry pun pergi meninggalkan Edgar yang bingung sendiri.


Edgar kembali ke kamarnya. Dengan rasa lelah dan ngantuk yang tertahan. Berada di kamar Ginnevra membuatnya tidak bisa tidur nyenyak. Ia duduk di atas sofa dan mulai menguap. Hingga kemudian tertidur.


Kamar Ginnevra terkunci saat ia hendak membukanya. Dan baru saja ia mengangkat tangan hendak mengetuk pintu tiba-tiba pintu terbuka. Dua orang pelayan keluar dari dalam kamar.


"Maaf Tuan muda, kami baru saja mengganti pakaian dan membersihkan badan nona!" kata salah satu pelayan yang bernama Yuna.


"Ya. Apa dia sudah bangun?" tanya Edgar.


"Belum. Dari sepeninggal Tuan muda, nona masih terus tertidur," jawab Yuna.


"Baiklah. Kalian pergilah!" kata Edgar.


Kedua pelayan mengangguk hormat lalu pergi.


Edgar kembali terduduk lemas di sofa kamar Ginnevra. Raut wajah Ginnevra tak berubah, tetap pucat seperti tadi. Dengan tangan terpaku di dagu ia berpikir.


'Apa maksud Mr. Henry menyuruhku memanggil nenek Nancy? Tapi kalau dipikir-pikir mungkin itu bisa membantu. Aku tidak bisa menjaga kakak sepanjang hari di sini. Kalau aku memanggil nenek kembali ia bisa sedikit membantuku. Dan ia juga bisa menjaga kakak selama aku tidak di rumah. Ya, mungkin ini juga keputusan yang tepat!'


Begitu Edgar merasa yakin dengan keputusannya. Ia langsung menghubungi Nancy.


Dulunya Nancy adalah kepala pelayan sekaligus pengasuh Edgar dan Ginnevra kecil. Ia sudah pensiun tujuh tahun yang lalu. Setelah pensiun dari pekerjaannya ia kembali ke desa dan tinggal di sana. Namun keluarga Henley tidak pernah hilang kontak dengannya. Oleh sebab itu Edgar bisa dengan mudah menghubunginya apalagi dalam situasi seperti ini.


Usai menelepon Nancy, Edgar menemui Mr. Henry, berpesan padanya.


"Mr, nenek Nancy akan datang besok. Ia akan tiba pukul 11.00 dengan kereta cepat. Aku ingin Mr. menjemputnya di stasiun."

__ADS_1


"Baik, tuan muda! Akan aku lakukan!" ujar Mr. Henry.


"Thanks!" kata Edgar kemudian berlalu.


...★━━━━━━━━━━━━★...


... ....


.......


.......


.......


Oh .... Sudah jam berapa ini? Kamarku nampak sangat gelap tanpa sedikitpun cahaya. Aku mengangkat tubuhku untuk bangun. Tapi ... ya ampun kepala ku sakit sekali! Rasanya seperti tertusuk ribuan jarum. Badan juga terasa nyeri. Nampaknya seperti tidak enak badan. Begitu kaki menyentuh lantai, badanku tiba-tiba menggigil. Tapi tetap ku paksakan bangun. Sebelumnya ku nyalakan lampu kamar baru kemudian keluar.


Aku turun ke bawah sambil memegangi kepalaku yang sakit. Yang ku butuhkan sekarang hanyalah obat. Aku langsung mencarinya di lemari obat dan meminumnya. Aku terduduk dengan lemas di kursi makan. Sienna datang kala itu dan melihatku.


"Eriza, kamu kenapa?" tanyanya cemas.


"Kepalaku sakit, sepertinya aku demam," jawabku.


Sienna lalu meletakkan tangannya di atas dahiku.


"Ya ampun, badanmu panas! Kamu sudah minum obat?" tanyanya.


"Sudah," jawabku.


"Apa sebaiknya kamu ke dokter saja?!" katanya.


"Tidak perlu. Setelah minum obat beberapa jam lagi pasti panasnya turun," aku menolak.


"Aku akan beritahu mama. Mama ...," teriak Sienna.


"Ya. Ya. Ada apa, sayang?" jawab bibi Jane yang datang menghampiri.


"Riza sakit, ma! Badannya panas!" kata Sienna pada bibi Jane.


"Benarkah? Coba ku lihat!" dan bibi Jane meletakkan tangannya di dahiku.


"Oh benar, badanmu panas! Kita harus ke dokter, Riza!" ujar bibi Jane.


"Tidak perlu, Bibi. Aku sudah minum obat! Nanti juga sembuh. Sebaiknya aku kembali ke kamar untuk istirahat saja!" kataku sambil berdiri.


"Kalau sampai besok panasnya masih belum turun, kita harus ke dokter, ya!" ucap bibi Jane yang nampak cemas.


"Iya, Bibi. Jangan khawatir. Aku istirahat dulu!" kataku.


Bibi Jane mengangguk. Sementara aku kembali ke kamar dan langsung tertidur.


bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2