
Aku sedang duduk di teras belakang rumah. Tidak ada yang bisa ku lakukan. Tidak ada yang menelepon, tidak ada mood untuk membaca, apalagi menulis. Aku duduk termenung sendiri. Sienna datang dan ikut duduk di sampingku. Ia nampak senang.
"Mau biskuit?" tanya Sienna sambil menyodorkan sebungkus biskuit padaku.
Aku menggelengkan kepala. Menolak.
"Apa masih ada masalah?" tanya Sienna melihatku tak semangat.
"Tidak ada," jawabku.
"Jadi, kenapa lesu begitu? Oya, kamu tahu tidak siapa itu Samantha Jillian?" tanya Sienna penasaran.
"Kata Edgar teman sekolahnya dulu. Aku juga tidak tahu yang mana orangnya," jawabku.
"Hm ... begitu. Riza, liburan ini pergi jalan-jalan, yuk!" ajak Sienna.
"Pergi ke mana?" tanyaku.
"Jackville!" seru Sienna bersemangat.
"Untuk apa?" tanyaku tak begitu tertarik.
"Jalan-jalan. Kita belum pernah ke sana, kan?" jawab Sienna.
"Kapan?" tanyaku.
"Lusa," jawab Sienna.
"Siapa saja yang pergi?" tanyaku lagi.
"Aku dan Suzan. Mungkin kita akan menginap beberapa hari di sana. Kamu ikut, kan?" jawab Sienna dan kembali mengajakku.
"Em ... sepertinya tidak! Kamu pergi dengan Suzan saja!" aku menolak karena aku sedang tak ada semangat pergi ke mana-mana.
"Kamu yakin tidak mau ikut?" tanya Sienna memastikan lagi.
"Iya. Kamu pergi bersenang-senanglah!" kataku.
Sienna tersenyum, ia merangkulku. Kami berdua duduk menikmati langit malam yang penuh bintang.
...*****...
Setelah Sienna pergi rumah menjadi sepi. Hanya aku sendiri di sini, sedangkan bibi Jane masih sibuk bekerja. Ku habiskan waktu dengan melakukan pekerjaan rumah. Meski lelah tapi puas sekali melihat seisi rumah menjadi bersih. Karena kelelahan akhirnya aku tertidur di sofa sampai bibi Jane pulang dan membangunkanku.
Begitu selesai makan malam dan mengobrol sebentar dengan bibi Jane, aku masuk ke kamar. Berbaring di atas tempat tidur yang dingin. Sepi sekali. Malam yang begitu sunyi. Perasaan yang penuh kekosongan. Aku memejamkan mata, aku lihat si pemilik mata biru itu tersenyum padaku. Aku langsung membuka mata kembali. Yang semestinya aku lupakan akhirnya teringat lagi. Ku dekap tubuhku kuat-kuat dan kesedihan kembali mencuat.
Sudah beberapa hari Sienna berada di Jackville. Aku tetap sendirian melamun di rumah. Hari ini aku berencana mengunjungi Edgar. Setelah semua pekerjaan rumah selesai aku berangkat. Taksi berhenti di depan mansion Edgar. Aku turun dan memasuki halaman rumah. Setelah beberapa kali memencet bel akhirnya pintu terbuka. Ginnevra yang muncul dari pintu langsung tersenyum.
"Hai Ginnevra, apa Edgar ada?" tanyaku.
"Edgar sudah ke luar, Riza!" jawab Ginnevra.
"Oh ...," kedatanganku sia-sia.
__ADS_1
"Sejak beberapa hari ini dia sering pergi keluar. Dan baru akan pulang sore nanti," kata Ginnevra.
"Ya sudah, aku pulang saja!" ujarku kemudian.
"Masuklah dulu! Kamu jauh-jauh datang kemari masa langsung pulang?! Em, bagaimana kalau kita jalan-jalan? Aku ingin sekali ke luar jalan-jalan hanya tidak berani karena tidak ada teman," ajak Ginnevra.
"Baiklah! Kalau begitu akan aku temani," aku menerima ajakannya. Lagi pula di rumah juga tidak melakukan apa-apa.
Mobil yang dikemudikan sang supir membawa kami menuju ke mall. Seperti permintaan Ginnevra. Dia sangat ingin ke sana, tapi takut berjalan sendiri di keramaian. Dia berkata bahwa ia sangat senang akhirnya punya teman untuk ke sana.
"Kalau kamu ingin pergi ke tempat yang ramai, kamu bisa mengajakku! Aku akan menemanimu!" kataku padanya.
Ginnevra sangat senang mendengarnya. Dengan spontan dia merangkulku. Awalnya aku agak canggung, tapi Ginnevra yang sekarang sungguh berbeda. Ia menjadi gadis manis yang hangat dan ceria, tidak dingin dan angkuh seperti dulu. Ia juga teman yang menyenangkan.
Kami memasuki beberapa toko pakaian. Ginnevra yang awalnya canggung dengan suasana yang ramai pelan-pelan terbiasa. Ia bahkan sangat bersemangat. Ia dapat memilih pakaian dan sepatu yang ia suka. Ia mendapatkan banyak barang yang ia sukai. Setelah lelah habis berkeliling mall, aku mengajaknya duduk-duduk sambil menikmati makanan kecil di cafe.
"Kamu belum pernah ke sini sebelumnya?" tanyaku.
Ginnevra menggeleng.
"Aku bahkan belum pernah ke manapun. Aku tidak berani keluar rumah. Dan takut di tempat yang ramai," jawabnya.
"Kenapa begitu?" tanyaku karna ini agak aneh.
"Itu mungkin trauma di masa kecil. Karena aku sangat diam dan hanya menyendiri. Kadang aku berbicara sendiri. Teman-teman menganggapku aneh. Jadi tidak ada yang mau berteman denganku. Mereka mengejek dan menindasku. Sampai aku tak berani masuk sekolah dan keluar rumah. Aku merasa lebih aman di rumah," jelas Ginnevra secara terbuka.
"Oh. Itu pasti sangat tidak menyenangkan," kataku ikut prihatin.
"Ya, menghabiskan masa kecil di dalam rumah. Untungnya pangeran selalu menemaniku, jadi aku tidak kesepian. Tapi sekarang dia sudah pergi dan aku harus menjadi gadis yang berani! Terima kasih ya, kamu sudah menemaniku hari ini," ujar Ginnevra dengan tulus.
"Aku akan menemanimu sampai kamu berani pergi sendiri!"
Ginnevra pun tersenyum, sangat lega dengan ucapanku. Cukup lama kami mengobrol, sampai rasa lelah hilang baru lanjut berkeliling. Saat berada di lantai atas tiba-tiba Ginnevra berseru padaku.
"Eriza, coba lihat di sana itu bukankah Edgar?!"
Aku menajamkan penglihatan ke arah yang ditunjuk Ginnevra. Iya itu Edgar. Dia ada di lantai bawah dan bersama seorang gadis. Namun gadis itu memakai kursi roda.
"Apa kita ke sana menemuinya!?" tanya Ginnevra.
"Tidak usah!" jawabku.
"Bukankah tadi kamu mencarinya?" tanya Ginnevra.
"Tadinya. Sekarang tidak lagi. Lagi pula kurasa dia pasti tidak mau diganggu," jawabku.
"Begitu, ya .... Apa kamu tahu siapa gadis yang bersamanya itu?" tanya Ginnevra lagi.
"Tidak, aku tidak kenal," jawabku.
"Oh, ya sudahlah. Ayo, kita lanjut jalan lagi!" ajak Ginnevra.
Kami berkeliling hingga sore. Setelah itu Ginnevra mengantarku pulang sampai ke rumah.
__ADS_1
Dimulai dari hari ini, akhirnya aku dan Ginnevra berteman baik. Ia selalu datang menjemputku tiap kali ia hendak keluar. Kami mengunjungi banyak tempat yang belum pernah dikunjunginya. Lama-lama Ginnevra jadi terbiasa dengan keramaian dan tak ada perasaan takut lagi. Ia terlihat jauh lebih bahagia.
Sudah seminggu Sienna berada di Jackville. Ia meneleponku beberapa kali memberitahu kabar serta liburannya. Ia sangat senang karena orang tua Justin menerimanya dengan baik. Bahkan mereka sangat akrab. Sedangkan Alex, sejak hari itu ia tidak pernah menghubungiku lagi. Ia benar-benar memegang janjinya. Dan Edgar masih sulit ditemui. Karena selama liburan ini ia terus pergi. Perkiraanku ia pasti menemui gadis yang kulihat di mall itu.
Hah .... Tak terasa sudah setengah bulan masa liburan ini berlalu. Namun aku masih betah di rumah tanpa melakukan apa-apa jika Ginnevra tak mengajakku pergi. Sudah begitu lama aku tak pernah melihat Wallace lagi. Entah apakah ia sudah benar-benar pergi atau tidak.
Bulan Desember yang penuh suka cita menjadi kelabu untukku. Tidak ada sukacita di hatiku. Meski jalanan semakin marak dan indah dengan lampu-lampu dan hiasan natal. Aku tetap merasa sepi, hatiku tetap kosong. Bahkan langit malam ini pun begitu gelap. Tidak ada satupun bintang yang nampak berkilau. Lelah berdiri lama di atas balkon aku berbalik hendak kembali ke kamar. Namun suara itu menghentikan langkahku.
"Eriza!"
Aku secepatnya menoleh sebelum dia pergi lagi. Aku tersenyum tapi dia kini nampak berbeda.
"Aku kira kamu tidak akan menemuiku lagi!" kataku.
"Aku ingin terus menemuimu, tapi aku sungguh menyesal karena aku tak bisa," jawab Wallace. Ia berjalan mendekat.
"Ada apa? Apa yang terjadi?" tanyaku cemas.
"Eriza, kamu sudah tahu sekarang dunia kita berbeda! Sekarang adalah waktuku untuk pergi. Aku sudah lama berada di dunia ini. Aku harus kembali ke tempat di mana seharusnya aku berada," ucap Wallace. Meski nampak tenang namun ada raut kesedihan di wajahnya.
"Jadi, maksudmu kamu akan pergi untuk selamanya? Aku tidak akan bisa melihatmu lagi?" tanyaku dengan sedih.
"Ya. Memang seharusnya begitu! Aku hanyalah sebuah jiwa tanpa raga yang terombang-ambing di dunia tanpa ada tujuan. Sekarang aku menyadari, bahwa aku seharusnya pergi. Supaya kamu juga tidak terus bersedih, Riza!" jawab Wallace.
"Tapi Wallace .... Bagaimana bisa kamu meninggalkan orang yang kamu cintai disaat dia begitu ingin bersamamu?" aku bertanya dengan mata mulai memanas.
"Dia tetap hidup di hatiku, Riza! Beginilah takdir mempertemukan kita, ingatlah selalu ada pertemuan dan ada pula perpisahan! Mungkin di kehidupan ini kita tidak bisa bersama, tapi semoga di kehidupan yang akan datang takdir mempertemukan kita kembali. Kamu tidak perlu sedih, Riza! Aku pasti akan tetap mengingatmu!" ujar Wallace lembut.
"Aku tidak pernah menyangka ini akan berakhir secepat ini. Aku benar-benar sudah kehilangan orang yang ku cintai, ya?!" kataku lirih.
"Tidak, Riza. Cinta itu akan tetap tersimpan di hatimu! Seperti halnya aku menyimpan rasa cintaku sampai takdir memihak kita kembali. Meski tak pernah tahu akan terlahir menjadi apa kelak. Asal bisa bersamamu, aku rela terlahir meski bukan manusia. Walau begitu Riza, kamu harus tetap bangkit. Kamu tidak boleh terus bersedih karena ku. Kamu harus hidup dan berjuanglah untuk hidupmu, meski tanpa aku. Kamu harus melepasku supaya aku tenang meninggalkanmu!" Wallace berkata dengan berat.
Aku mencoba menahan air mata agar tidak jatuh. Tanpa bisa berkata apa-apa. Aku hanya bisa menundukkan kepala.
"Riza, aku sungguh merasa bersalah padamu! Jika melihatmu seperti ini terus, aku semakin bersalah. Seharusnya aku tidak muncul jadi kamu tidak perlu sedih karena aku. Aku sungguh menyesal, Riza! Maafkan aku!" ujar Wallace sedih.
"Tidak, Wallace. Kamu tak perlu menyesalkan apapun. Semua yang sudah terjadi, tidak ada yang harus disesalkan. Aku mengerti jika demikian, aku akan merelakannya. Aku akan berusaha untuk melupakan semuanya. Aku akan berusaha ...," kataku disela isak tangis yang akhirnya tumpah juga.
"Eriza, aku mencintaimu! Ingatlah, cinta tidak mesti harus bersama!" ucap Wallace pelan.
Aku mengangkat kepala menatapnya. Ia mengangkat tangannya untuk mengusap air mataku. Namun tangannya tidak bisa menyentuhku lagi. Aku tak percaya, lalu ku angkat tanganku dan mencoba meraihnya. Namun tanganku hanya lewat begitu saja tanpa bisa menyentuhnya. Berkali-kali ku coba tetap tidak bisa. Air mata kembali jatuh.
"Kenapa? Kenapa tidak bisa?" aku bertanya sambil terisak.
"Karena dunia kita berbeda, Riza! Jangan menangis lagi! Aku akan sedih melihatmu terus menangis. Aku ingin kamu bahagia meskipun bersama orang lain," jawab Wallace.
Aku menggeleng.
"Riza, jadilah dirimu yang dulu! Dirimu yang bahagia sebelum kamu bertemu denganku. Hiduplah dengan bahagia bersama orang yang mencintaimu! Aku tak akan melupakanmu sampai kapanpun. Sekarang aku harus pergi. Selamat tinggal, Riza! Aku akan selalu mencintaimu!" ucap Wallace.
Perlahan-lahan sosok Wallace mulai memudar. Seperti debu yang tertiup angin, jiwanya perlahan berubah menjadi ribuan kilauan cahaya kecil layaknya bintang yang kembali ke langit.
__ADS_1
Aku masih terus menangis sendiri. Apakah ini benar-benar menjadi pertemuan yang terakhir? Apa aku tidak akan pernah bisa melihatnya lagi?
bersambung ....