Pangeran Dari Dunia Lain

Pangeran Dari Dunia Lain
Rahasia Kecil Ginnevra


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Sienna masuk ke kamarku. Dengan pelan mengusap dahiku dengan tangannya. Aku terbangun.


"Hai, pagi! Aku membuatmu kaget, ya? Bagaimana kamu merasa ada baikan?" tanya Sienna peduli.


Aku mengangguk.


"Iya. Sudah agak mendingan. Hanya masih agak sedikit pusing."


"Kalau begitu kamu istirahat saja! Aku akan buatkan permintaan izin ke dosen. Oh ya, aku juga bawakan bubur. Mama membuatnya tadi. Kamu makan ya selagi masih hangat!" kata Sienna.


"Iya. Trims." ujarku.


"Kalau kamu masih merasa kurang enak badan sepulang kuliah nanti aku akan menemani mu ke dokter!" kata Sienna. Tapi aku dengan cepat menolak.


"Tidak perlu. Sudah lebih baik. Setelah sarapan aku akan minum obat lagi dan istirahat. Setelah itu aku pasti akan sehat lagi!"


"Kamu yakin?" tanya Sienna.


"Ya. Apa bibi sudah berangkat kerja?" tanyaku mengalihkan topik.


"Baru mulai bersiap-siap. Kamu tidak apa kan ku tinggalkan sendiri?" tanya Sienna yang enggan pergi.


"Tidak apa-apa. Jangan cemas. Kamu pergilah! Nanti terlambat," jawabku.


"Baiklah, kalau ada apa-apa segera hubungi aku, ya! Aku akan pulang cepat hari ini!" pesan Sienna.


"Ya," kataku.


"Kalau begitu aku pergi kuliah dulu. Bye, Riza! Segera dimakan buburnya," ujar Sienna.


"Iya. Hati-hati di jalan, Sienna," balasku.


Sienna pun keluar dari kamarku. Dari kamar aku bisa mendengar suara pintu ditutup lalu langkah kaki meninggalkan rumah. Setelah itu suasana menjadi sepi. Aku bangun untuk menghabiskan bubur yang dibawakan Sienna. Selesai itu aku langsung minum obat dan kembali ke atas kasurku untuk istirahat.


.......


.......


... ....


...★━━━━━━PoV2━━━━━━★...


Pagi ini Sienna cukup gelisah meninggalkan Eriza yang sakit di rumah sendirian. Sehingga begitu kuliah selesai ia langsung meninggalkan kampus dengan cepat. Suzan pun turut ikut dengannya untuk menjenguk Eriza. Tapi baru sampai di gerbang kampus, Russel datang dengan motornya mengejar mereka.


"Hai, guys buru-buru sekali?! Ngomong-ngomong, Sienna di mana sepupumu?" tanya Russel yang heran karna biasanya mereka selalu bertiga.


"Eriza tidak masuk hari ini. Dia sakit! Oleh karena itu aku harus segera pulang karena dia sendiri di rumah," jawab Sienna.


"Sungguh? Kalau begitu aku mau menjenguknya. Bolehkan?" tanya Russel meminta persetujuan Sienna.


"Tentu saja boleh!" jawab Sienna.


"Kalau begitu Sienna biar aku antar kamu pulang dulu sementara Suzan menunggu di sini. Setelah itu aku akan kembali menjemput Suzan, bagaimana? Bukankah akan lebih cepat?" Russel mengusulkan karena hanya ia yang mengendarai motor.


"Idemu bagus juga! Kalau begitu Sienna kamu duluan. Aku akan tunggu di sini!" kata Suzan sependapat.


"Baiklah. Ayo! Aku duluan ya, Suzan!" pamit Sienna yang langsung naik ke atas motor Russel.


"Bye!" balas Suzan sembari berdiri di depan gerbang menunggu giliran Russel datang.


.......


.......

__ADS_1


.......


.......


Sementara itu di mansion Edgar. Kedatangan Nancy disambut dengan pelukan hangat dari Edgar. Sudah beberapa tahun berlalu, nenek ini tidak berubah. Meski diusianya yang semakin senja, tapi parasnya masih nampak muda dan menawan. Setelah memberi salam dan berbicara sebentar, Nancy dan Edgar kemudian ke kamar Ginnevra.


Nancy duduk di samping kasur Ginnevra sembari membelai dengan lembut wajah gadis yang tertidur itu.


"Sudah berapa lama dia tertidur?" tanya Nancy.


"Dua hari, Nek!" jawab Edgar.


Nancy kemudian meraih tangan Ginnevra. Ia kaget saat merasakan telapak tangan Ginnevra yang dingin. Tapi dia tak menunjukkan kekagetan itu di wajahnya.


"Aku sudah memanggil dokter kemarin, tapi kata dokter kakak hanya kelelahan dan butuh istirahat. Nyatanya sampai sekarang kakak tidak bangun-bangun juga. Nenek tahu apa yang terjadi pada kakak?" tanya Edgar yang sudah putus asa.


Nancy menghela nafas. Dengan wajah sendu ia meletakkan kembali tangan Ginnevra. Kemudian mereka keluar dari kamar Ginnevra. Nancy terduduk dengan lesu di ruang keluarga bersama Edgar di depannya. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.


"Nenek, ada apa? Ceritakan padaku apa yang terjadi pada kakak!" pinta Edgar. Ia tahu pasti ada sesuatu yang tak benar melihat ekspresi Nancy yang seperti itu.


"Edgar, ada hal yang tidak pernah kalian ketahui. Dan tidak pernah kita kira sebelumnya!" Nancy terdiam.


"Maksud nenek?" tanya Edgar tak paham.


Nancy tersenyum tipis lalu mulai bercerita.


"Selama 20 tahun aku mengasuh kalian berdua. Aku tahu pasti sifat kalian. Katakanlah aku orang yang paling mengenal kalian. Kamu dan Ginnevra memiliki sifat yang bertolak belakang. Kamu senang berteman, ceria, dan mudah akrab dengan siapa saja. Sementara Ginnevra lebih tertutup dan senang menyendiri. Tapi itu bukan tanpa alasan."


Edgar mendengarkan dengan penuh perhatian setiap cerita Nancy. Nancy mengenang sambil melanjutkan ceritanya.


"Saat Ginnevra berusia enam tahun ia memiliki indra lain yang membuatnya dapat melihat mahkluk dari dunia lain. Sejak saat itu aku sering mendengarnya berbicara sendiri, kadang juga tertawa sendiri. Ku kira dia bermain dengan mainannya, rupanya saat ku perhatikan ternyata bukan. Dia tidak sedang bermain. Dia duduk sendiri sambil berbicara sendiri."


"Aku bertanya padanya dengan siapa dia bicara. Dia bilang dia bicara dengan temannya, tapi aku tidak melihat ada siapapun di sana. Suatu hari Ginnevra memberi tahuku dia didatangi banyak teman. Mereka semua ingin berteman dengannya, tapi beberapa dari mereka memiliki rupa yang buruk sehingga membuat Ginnevra takut. Dia bersembunyi begitu teman yang buruk rupa itu mengunjunginya. Sampai ketika dia bertemu dengan teman yang lain yang selalu dia panggil pangeran. Pangeran itu selalu menemaninya ke mana-mana dan bermain dengannya. Ia juga berkata sejak berteman dengan pangeran temannya yang buruk rupa tidak pernah menggangunya lagi. Dan lagi-lagi aku pikir itu hanya imajinasi anak kecil saja. Tapi aku kaget saat melihat Ginnevra bermain dengan perabot teh mainannya. Gelas teh itu bisa bergerak dan bergeser sendiri. Barulah aku mulai mempercayai ceritanya."


"Tidak ada yang berubah. Hal itu terus berlanjut hingga ia dewasa. Ia hanya berteman dengan makhluk yang ia panggil pangeran itu. Sementara di luar ia tak memiliki seorangpun teman. Waktunya habis hanya untuk belajar piano dan berdiam diri di kamar. Itu mengapa ia kemudian berhenti pergi ke sekolah dan orang tua kalian memilih home schooling untuknya," jawab Nancy.


"Bagaimana dengan papa dan mama? Apa mereka tidak pernah melarangnya atau menasehatinya? Atau mungkin membawanya ke psikiater?" tanya Edgar.


"Sejak dulu anak perempuan yang lahir dari keluarga Henley sangat sulit bertahan hidup. Mereka takkan berumur panjang. Sebelumnya kalian memiliki dua orang kakak yang bernama Kimmy dan Ribka. Mereka hanya beda setahun. Tapi sayangnya Kimmy meninggal di usia sembilan tahun dan Ribka meninggal setahun kemudian. Itu sebabnya tuan dan nyonya sangat memanjakan Ginnevra. Mereka tak pernah menolak apapun yang diinginkan kakakmu meski kadang itu terdengar aneh," jelas Nancy.


"Memangnya apa yang salah dengan anak perempuan di keluarga Henley? Aku juga tidak pernah tahu kalau aku punya kakak selain Ginnevra. Mama tidak pernah membicarakannya," Edgar bertanya dengan penasaran.


"Nyonya memang tidak ingin mengingatnya. Oleh sebab itu ia merahasiakannya dari kalian. Tapi menurutku ini semacam kutukan!" jawab Nancy dengan suara pelan.


"Kutukan? Nenek jangan bercanda! Di jaman modern begini apa masih ada hal semacam kutukan?" ujar Edgar.


"Aku hanya berasumsi mendapat kenyataan bahwa anak perempuan memang sulit bertahan hidup di keluarga ini! Ginnevra satu-satunya anak perempuan yang masih hidup di keluarga Henley," kata Nancy datar.


"Lalu, kita harus bagaimana menolong kakak? Nenek, aku ingin kakak sehat kembali. Tolong, sembuhkan dia! Apapun caranya!" pinta Edgar gusar.


"Aku bukan dokter bagaimana bisa menolongnya?" Nancy bertanya balik.


"Setidaknya apa yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkannya?!" ujar Edgar tak tenang.


Nancy terdiam sambil berpikir. Kemudian ia bergumam dengan senyum di bibirnya.


"Crystal Orlov."


"Apa?" tanya Edgar karena tak mendengar jelas gumaman Nancy.


"Crystal Orlov, sebuah batu crystal yang memiliki kekuatan magis. Dulu crystal itu dimiliki seorang ratu dari kerajaan Dixie. Setelah ratu meninggal kalung itu menghilang dan tak ada yang pernah menemukannya," jelas Nancy.


"Lalu untuk apa crystal itu?" tanya Edgar yang memang tak mengerti.

__ADS_1


"Crystal itu bukan crystal biasa. Crystal itu bisa menangkal kutukan, menyembuhkan penyakit, melindungi bahkan memberi umur panjang bagi pemiliknya. Dan kamu harus menemukan Crystal itu untuk membangunkan Ginnevra! Kamu tahu Ginnevra bukan sekedar tidur biasa, dia mati suri!" ujar Nancy dengan nada menakuti.


"Tapi ... di mana aku harus mencari Crystal itu?" tanya Edgar panik.


"Kamu harus ke New Angeles malam ini juga! Istana Dixie ada di kota itu. Kamu harus mencarinya di tiap penjuru istana!" jelas Nancy.


"New Angeles? Istana Dixie? Ah, apa semua ini dongeng?! Aku bahkan tidak pernah ke sana!" gerutu Edgar.


"Jangan buang waktu, Edgar! Kamu harus segera pergi!" desak Nancy.


"Baiklah, Nek! Aku akan bersiap! Tolong, jaga Ginnevra selama aku pergi! Dan kalau bisa jauhkan dia dari temannya yang bernama pangeran itu!" pinta Edgar cemas meski ia tak yakin Nancy bisa melihat Wallace atau tidak.


"Tentu saja! Sudah menjadi tugasku, Edgar!" sahut Nancy dengan senyum tersungging.


Dan malam itu juga Edgar langsung terbang ke New Angeles.


...★━━━━━━━━━━━━★...


.......


.......


.......


.......


Aku sedang berbaring di kamar sambil mengecek ponsel yang terabaikan dari kemarin. Setelah kedatangan kedua temanku tadi kamar jadi agak berantakan. Maklum saja hampir seharian mereka di sini. Dengan alasan membesuk orang sakit tapi berubah jadi acara rumpi. Meski agak berisik tapi aku senang, kesehatanku pulih dengan cepat. Aku bisa kembali beraktifitas lagi besok.


Ku baca beberapa pesan yang masuk ke inbox. Salah satunya dari Edgar. Ia juga meneleponku kemarin tapi aku tertidur. Aku bingung akan membalas pesannya atau tidak. Tapi aku sedang malas membahas masalah Wallace dengannya jadi aku acuhkan saja. Ku letakkan kembali ponsel di atas meja belajar. Lebih baik tidur supaya besok bangun lebih semangat.


...****...


Aku berjalan berdampingan dengan Sienna memasuki kampus. Melewati koridor kami bertemu Russel.


"Pagi, Riza! Sudah sembuh sakitnya?" sapanya.


"Yeah, berkat kalian!" jawabku.


"Oh, aku senang mendengarnya!" balas Russel dan kami berjalan beriringan memasuki kelas pertama.


Tidak ada yang berubah dengan suasana kampus. Di cafe tempat kami berada sekarang pun sama ramainya. Sementara Suzan celingak-celinguk ke sana-kemari mencari sesuatu.


"Apa yang kamu cari, girl?" tanya Sienna risih dengan tingkahnya.


"Kalian sadar, tidak?! Sudah beberapa hari tak melihat Edgar berkeliaran di kampus?" jawab Suzan.


Aku terperangah. Baru tahu atau sadar.


"Lalu, apa urusannya denganmu?" tanya Sienna ketus.


"Tidak ada. Hanya aneh saja!" jawab Suzan. Lalu ia melirikku dan mendekatkan wajahnya ke depanku. Dengan pelan ia bertanya.


"Apa kalian bertengkar?"


Aku menggeleng dengan cepat.


"Suz, kamu ini kenapa, sih? Bukannya hal biasa kalau Edgar memang jarang kelihatan di kampus?! Siapa tahu dia menghadiri suatu kompetisi di tempat lain! Dia kan sering mewakili kampus untuk hal seperti itu!" ujar Sienna.


"Begitu, ya! Hmm ...," gumam Suzan. Gadis itu pun tak lagi banyak tingkah.


Sementara aku masih terdiam dengan pertanyaan di hati. Apa Edgar menghindariku atau memang dia ada pekerjaan lain sehingga meninggalkan kampus? Pertanyaan itu tak terjawab. Sampai beberapa hari berlalu dengan begitu saja. Satu minggu berlalu aku masih tidak melihat sosok Edgar di kampus. Apa yang terjadi dengannya?


bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2