Pangeran Dari Dunia Lain

Pangeran Dari Dunia Lain
Bayangan Dirinya


__ADS_3

Aku duduk di bangku taman kampus. Kuliah sudah selesai. Hanya sambil menunggu Sienna. Lebih tenang berada di tempat terbuka seperti ini dari pada di dalam cafe. Tiba-tiba Edgar duduk di sampingku.


"Sendiri saja, Nona?" tanyanya.


"Tadinya, sekarang tidak lagi!" jawabku.


Edgar tertawa.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanyanya melihatku bengong.


"Tidak ada!" jawabku.


"Kamu belum menjadi Eriza yang dulu! Pasti masih ada yang mengganjal di pikiranmu!" kata Edgar seolah ia tahu semuanya.


"Sok tahu!" balasku.


"Ayo, jalan-jalan! Sudah lama kita tidak pergi jalan," ajak Edgar.


"Tapi aku menunggu Sienna!" tolakku.


"Tidak apa-apa, aku akan meneleponnya nanti. Dia pasti tidak akan marah aku membawa mu pergi," kata Edgar sambil menarik tanganku ikut bersamanya.


"Tapi ...."


Edgar menyuruhku diam sementara ia mulai berbicara dengan Sienna di telepon. Selesai bicara telepon ditutup.


"Beres, kan!" ujarnya santai. Dan kami pun masuk ke dalam mobil.


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi di jalanan yang sepi. Entah ke mana ia akan membawaku hari ini. Seperti biasanya ia tidak akan bilang ke mana tujuannya. Sampai mobil masuk ke halaman parkir sebuah wahana bermain. Kami turun. Wah, di luar wahana saja dekorasi Natalnya begitu meriah. Bagaimana dengan di dalam?!


Aku belum pernah datang ke sini sebelumnya. Wahana dengan nama 'Winter Land' ini sepertinya baru dibuka. Namanya saja belum pernah dengar. Kami masuk ke dalam, tapi sebelumnya diberikan pakaian hangat oleh penjaga. Aku sedikit bingung.


"Tempat apa ini?" tanyaku setengah berbisik pada Edgar.


"Pakai dulu sarung tanganmu. Nanti juga tahu!" jawab Edgar yang siap dengan pakaian hangat.


Aku menurut saja. Begitu semua siap, pintu baru dibuka. Dan tadaaa .... Sebuah taman salju yang sangat luas membentang di depan mata.


"Wahhh ...." Aku berseru kagum.


Edgar tertawa melihat reaksiku. Ia kemudian menarik tanganku.


"Ayo, bermain!" ajaknya.


Edgar membawaku berkeliling di taman salju buatan tersebut. Ada pohon natal besar di tengahnya, pepohonan cemara, pondokan, kereta luncur, semuanya ada dan nampak nyata seperti aslinya.


Edgar melempariku dengan bola salju. Aku tak mau kalah dan membalasnya. Perang lemparan bola salju pun terjadi. Kami sampai saling mengejar dan melempar. Aku tertawa keras saat Edgar terpeleset jatuh untuk menghindari lemparan dariku. Ia juga ikut tertawa. Hari ini menjadi hari yang menyenangkan.


...*******...


Selesai kuliah siang ini, Aku duduk di cafe bersama Sienna dan Suzan. Kami bergosip ria. Hari ini Edgar mulai bernyanyi kembali di cafe. Setelah cukup lama tidak tampil. Pengunjung cafe pasti selalu ramai oleh para gadis bila ia tampil. Setelah selesai membawakan satu lagu ia bergabung bersama kami. Banyak gadis menatap iri ke arah kami. Tapi kami acuhkan.


Yah, sampai hari ini pun Edgar masih menjadi idola para gadis. Dan lokernya tetap penuh dengan surat cinta.


Namun ada yang menarik siang ini, begitu Edgar turun panggung. Giliran sekelompok pemuda yang membawa alat musik sendiri naik membuat pertunjukan. Salah satunya ada Russel di sana menenteng gitar listrik.


"Hei, hei coba lihat di sana itu siapa!" kataku pada yang lainnya.


Ketiga sahabatku menoleh.


"Bukankah itu Russel?! Mau apa dia di sana?" tanya Suzan.


"Sepertinya anak itu mulai ada kemajuan!" Sienna menimpali.


Edgar tertawa sambil berkata,


"Yah, kita nikmati saja pertunjukkannya!"


"Ayo, Russel!" teriakku dengan keras pada Russel.


Russel melambaikan tangannya padaku. Dengan senyum malu-malu. Saat semuanya siap mereka mulai bermain. Russel memainkan gitar listriknya dengan mahir sambil sesekali ikut bernyanyi bersama rekannya. Pengunjung Cafe mulai bersemangat dengan musik yang dibawakan band Russel.



Suzan dan Sienna pun ikut menyoraki sambil bertepuk tangan. Saat keduanya tengah asyik dengan pertunjukan Russel, Edgar memegang tanganku. Ia mengajakku keluar dari sana. Kami lalu berjalan-jalan di taman kampus.

__ADS_1


"Ternyata Russel benar-benar membuktikan ucapannya!" kataku salut pada Edgar.


"He em. Setiap orang punya bakat terpendam. Hanya tergantung diri mereka sendiri mau mengembangkannya atau tidak," ujar Edgar.


"Hei, kita pergi yuk!" ajak Edgar kemudian.


"Ke mana? Bagaimana dengan Sienna dan Suzan?" tanyaku.


"Biarkan saja! Mereka juga pasti tahu kamu pergi denganku. Ayo!" ajak Edgar sambil menarik tanganku lagi mengikutinya ke mobil.


Mobil melaju meninggalkan kampus. Dan membawaku sampai di mansionnya.


"Kamu mengajakku ke rumahmu?" tanyaku pada Edgar.


"Iya! Kenapa? Kamu tidak mau?" Edgar balik bertanya.


"Eh, tidak, tidak. Hanya aku merasa aneh saja. Karena kamu tidak pernah membawaku ke rumahmu sebelumnya," jawabku sambil mengikuti Edgar masuk ke dalam mansion mewahnya.


Tidak ada yang berubah dengan segala isi di dalam mansion ini. Edgar meninggalkanku di ruang tamu.


"Duduklah! Aku ke dalam ambil minuman sebentar!" suruhnya.


Aku mengangguk. Tapi aku tidak menuruti kata-katanya. Aku berjalan dan melihat-lihat sesukaku. Dari dalam ruangan aku mendengar suara piano dimainkan. Ku ikuti darimana suara piano itu berasal. Dan membawaku ke sebuah ruangan yang besar dengan dinding dan pintu kaca. Di sana terlihat Ginnevra sedang memainkan pianonya. Dia berhenti saat melihatku berdiri di luar.


"Hai, Eriza!" sapa Ginnevra dengan senyum ramah.


"Hai, Ginnevra," balasku.


"Kenapa berdiri di sana? Masuklah!" suruh Ginnevra.


Dengan pelan aku melangkahkan kaki masuk ke ruangan itu.


"Ada yang bisa aku lakukan untukmu?" tanya Ginnevra menawarkan diri.


"Tidak. Edgar yang membawaku kemari. Tadi aku mendengar suara piano jadi aku berjalan-jalan dan sampai di sini!" jawabku.


"Oh .... Kamu bisa bermain piano?" tanya Ginnevra.


"Sama sekali tidak bisa," jawabku jujur.


"Hai, Kakak! Sudah makan siang!?"


"Sudah!" jawab Ginnevra.


"Ayo!" Edgar menarik tanganku.


"Aku tinggal dulu ya, Kak!" pamit Edgar. Sambil berjalan keluar dari ruangan.


"Iya," balas Ginnevra. Kemudian ia kembali memainkan piano.


"Apa setiap hari Ginnevra bermain piano?" tanyaku.


"Iya. Setiap hari, dia sangat suka duduk dibalik piano dan memainkannya!" jawab Edgar.


Kami kembali ke ruang tamu dan duduk di sana. Edgar menyerahkan sebuah kotak padaku. Ku ambil dan membukanya.


"Ini kan Crystal Orlov palsu?!" ujarku.


"Iya. Aku ingin kamu menyimpannya!" jawab Edgar.


Aku menaruh kembali kotak itu ke atas meja.


"Aku tidak mau!" tolakku langsung.


"Kenapa? Meskipun palsu tapi ini dibuat dengan berlian asli loh!" jelas Edgar.


"Aku tidak peduli dibuat dengan apa! Pokoknya aku tidak mau!" kataku bersikeras.


"Ya, sudahlah kalau tidak mau. Tadinya ku pikir ku berikan untukmu saja. Tapi karena kamu tak mau ya akan ku simpan saja," ujar Edgar.


Aku menatapnya sekilas. Ya, jelas saja aku tidak mau. Selain itu kalung berlian yang harganya pasti sangat mahal, menyimpan kalung itu juga hanya akan membuatku teringat terus dengan Wallace.


...******...


Masa-masa yang sulit telah lewat. Berkat Edgar dan teman-teman yang sering membuatku tertawa, sedikit banyak beban di hati mulai hilang.

__ADS_1


Hari ini merupakan hari terakhir masuk kuliah. Karena besok liburan sudah dimulai. Liburan akhir tahun yang panjang. Aku sedang mengemasi barang di dalam lokerku. Ingin ku bawa pulang semuanya. Dengan sebuah kardus bekas ku masukkan semua barang ku ke dalam. Edgar datang belakangan. Begitu membuka lokernya puluhan surat cinta langsung berjatuhan. Ia dengan cepat memungutnya. Aku lantas menertawainya. Dan menyodorkan sebuah kantong yang cukup besar yang sengaja ku siapkan untuknya.


Sambil menggerutu dimasukkan semua surat-surat itu ke dalam kantong yang kuberikan. Aku tertawa lagi mendengarnya.


"Bawa pulang semuanya dan akan ku bacakan satu persatu. Aku penasaran apa isinya!" kataku sambil berbisik pada Edgar.


"Merepotkan saja! Jika kamu mampu membaca habis suratnya dalam sehari aku sungguh salut padamu," ujar Edgar.


"Tentu saja! Akan kubacakan untukmu! Hehehe ...," jawabku sambil tertawa.


"Edgar, kamu bisa antar aku pulang nanti, kan! Barang yang akan ku bawa cukup banyak," pintaku sambil menunjukkan kardus yang penuh barang.


"Tentu saja. Aku siap mengantar ke mana pun kamu mau pergi," kata Edgar menyetujui.


Selesai membereskan loker. Aku dan Edgar pergi. Yang membuatku tertawa lagi, Edgar benar-benar membawa pulang semua surat cinta itu di dalam kantong yang ku berikan. Para gadis yang kami temui melihat dengan harap-harap cemas ke surat yang dibawa Edgar. Berharap suratnya akan dibaca dan cintanya diterima, mungkin .... Hahahaha ....


Aku dan Edgar sampai di cafe. Bergabung bersama Sienna dan Suzan yang sudah lebih dulu berada di sana. Di depan Russel dan bandnya sedang tampil membawakan lagu yang mellow. Aku melambaikan tangan pada Russel. Ia mengangguk pelan.


"Wah, bawaan kalian banyak sekali!" seru Suzan.


"Kalian penasaran dengan apa yang diungkapkan para gadis kepada Edgar? Kita akan membuka semua suratnya nanti!" kataku sambil berbisik pada kedua temanku. Kami lalu tertawa.


"Ya, teruslah tertawa Nona-nona! Aku sangat senang melihat kalian bahagia, terutama kamu Eriza!" ujar Edgar menggoda.


Aku langsung menyikut lengannya.


"Cieeee ...." Suzan mengejek. Dan semua kembali tertawa.


Lagu yang dimainkan band Russel berhenti. Teman-temannya bubar kecuali Russel. Pemuda itu masih memegang mic-nya. Ia berjalan maju selangkah. Nampaknya ia ingin mengatakan sesuatu.


"Selamat siang semuanya! Senang sekali dapat kembali menghibur kalian di hari terakhir menjelang libur akhir tahun ini. Ada yang special siang ini, karena ini hari terakhir kita berkumpul di sini jadi aku ingin meminta seseorang untuk naik dan bernyanyi untuk kita. Setuju?" seru Russel.


"Setuju ...." teriak para penonton termasuk Suzan dan Sienna.


"Baiklah, kita sambut ... Eriza Ravella!" seru Russel dengan suara membahana sambil menunjuk ke arahku.


Semua yang mengenaliku langsung melemparkan pandangan ke arahku.


"Aku?!" tanyaku tak percaya.


"Cepat, naik! Tunjukkan kemampuanmu!" dukung Suzan. Sienna dan Edgar pun ikut mendukung.


Ya, semua sedang menunggu. Tak punya pilihan untuk lari. Aku pun maju dengan perasaan gugup. Sungguh aku belum pernah tampil di depan banyak orang seperti ini.


"Hai, Eriza, kamu siap?" tanya Russel dengan tawa mengejek.


Aku menariknya agak menjauh dari mic. Lalu berkata dengan gugup.


"Kamu ini suka sekali bercanda. Aku belum pernah bernyanyi di depan umum seperti ini. Sekarang kamu malah menyuruhku bernyanyi. Bagaimana kalau mereka menertawai ku?"


"Tenanglah, kamu tidak perlu cemas. Nyanyikanlah sebuah lagu yang sudah sangat kamu hafal. Aku akan mengiringinya. Jangan hiraukan penonton anggap saja mereka bebek yang sedang berbaris menonton aksimu. Riza, aku sudah tunjukkan kemampuanku! Sekarang giliranmu!" kata Russel dengan nada mengejek.


"Kamu siap?! Kita mulai!" ujar Russel yang sudah siap dengan gitar akustik di pangkuannya.


Aku benar-benar gugup. Kulihat ketiga temanku di tempat duduk mereka terus menyoraki memberi semangat. Aku tersenyum pada mereka. Yang datang menonton juga semakin ramai. Seperti kata Russel anggap saja mereka bebek. Aku sedikit tertawa membayangkannya. Namun sosok bayangan yang tiba-tiba muncul jauh di depan sana membuatku tertegun. Spontan suaraku langsung keluar menyanyikan lagu I Never Told You milik Colbie Caillat yang begitu mengena dengan apa yang kurasakan saat ini. Russel dengan cepat mengiringinya mengikuti suaraku.


Tepuk tangan meriah langsung membahana begitu aku selesai bernyanyi. Band Russel kembali mengambil alih. Aku turun dan kembali ke tempat temanku.


"Eriza, kamu benar-benar hebat!" puji Suzan.


"Aku belum pernah dengar kamu bernyanyi, tapi suaramu bagus!" Edgar juga ikut memuji.


"Thanks!" balasku. Tapi aku belum bisa tenang.


Aku menatap keluar tapi terhalang oleh banyaknya orang. Tanpa pamit pada yang lainnya aku langsung beranjak pergi.


"Riza, kamu mau ke mana?" tanya Sienna tapi aku tak menjawab.


Aku berlari ke depan cafe. Menoleh ke kanan dan kiri. Dan sekelilingnya, aku tidak melihat dia di manapun. Edgar tiba-tiba datang dan merangkul bahuku. Aku menoleh. Edgar tersenyum.


"Dia tidak mungkin ada di sini! Ayo, masuk!" ajaknya.


Tanpa berkata-kata aku mengikuti. Tapi aku yakin tadi aku melihatnya.


bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2