
Hampir jam sembilan pagi. Dengan terburu-buru aku keluar dari hotel. Tapi aku belum melihat taksi Roger terparkir di depan. Dengan sabar aku menunggu.
Tidak lama taksi yang sudah sangat ku hafal nomor platnya itu muncul. Aku langsung melompat ke kursi depan.
"Selamat pagi, Riza!" sapa Roger dengan hangat.
"Pagi, Roger!" balasku.
"Maaf membuatmu sedikit menunggu! Jalanan agak sedikit macet!" kata Roger menjelaskan.
"Tidak apa-apa, Roger! Kira-kira berapa lama menuju ke Montana?" tanyaku.
"Kurang lebih dua setengah jam! Mediterania Residence berada di tepian lepas pantai," jawab Roger.
"Ada pantai juga di sana?" tanyaku.
"Iya. Kamarnya saja langsung berhadapan dengan laut!" jawab Roger.
"Kalau aku boleh tahu ada urusan apa kamu ke sana?" tanya Roger selanjutnya.
"Aku baru mendapat informasi kalau temanku menginap di sana!" jawabku.
"Oh. Temanmu pasti bukan orang biasa!" ujar Roger sangat yakin.
"Mengapa kamu berpikir begitu?" tanya ku.
"Ya, setahuku itu apartemen mewah. Yang rata-rata penghuninya berasal dari kalangan atas dan sosialita," jawab Roger.
"Oh," gumamku.
Sayangnya perjalanan pagi ini sedikit terhambat karena macet. Akibatnya waktu perjalanan jadi lebih lama dari pada seharusnya.
Memasuki Montana sudah terlihat pantai di tepi jalan raya. Untungnya jalan di Montana sepi jadi Roger melaju kencang dengan mobilnya. Saat kami sampai di Mediterania Residence jam sudah menunjuk ke pukul satu setengah siang.
Kami langsung memasuki gedung apartemen. Di meja resepsionis ada seorang wanita muda cantik berseragam ungu yang tersenyum menyambut kami. Roger segera menghampiri wanita itu dan berkata dengan sopan,
"Maaf Nona, kami di sini mencari seorang teman yang bernama ...."
"Edgar Juan Henley," aku melanjutkan ucapan Roger yang memberiku isyarat.
Wanita muda itu tersenyum sambil berkata.
"Tunggu sebentar!"
Dia mulai sibuk di belakang layar komputernya. Ia kembali dengan cepat.
"Kamar Tuan Henley berada di lantai 2!" kata sang resepsionis dengan ramah.
"Terima kasih, Nona!" ujar Roger. Kami baru hendak segera ke sana. Namun sang resepsionis segera mencegah.
"Tuan muda, Nona, tunggu sebentar! Maaf, apa kalian sudah membuat janji sebelumnya?" tanya sang resepsionis.
"Tidak," jawabku.
"Kalau begitu mohon maaf! Aku tidak bisa membiarkan kalian berdua masuk jika tidak memiliki janji. Itu sudah peraturan di sini! Orang asing tidak diperbolehkan masuk sembarangan ke dalam apartemen," jelas resepsionis.
"Tidak apa-apa. Kami mengerti!" jawabku.
Roger memikirkan sebuah ide. Dia meminta secarik kertas dan pulpen pada resepsionis. Kemudian ia menyuruhku menulis nomor ponsel dan namaku di sana. Setelah itu dimasukkan ke dalam sebuah amplop yang tersedia di samping meja. Roger menyerahkan amplop itu kepada si resepsionis.
" Maaf Nona, anda bisa tolong sampaikan surat ini pada tuan Henley, bukan?" pinta Roger.
"Tentu, Tuan! Akan saya sampaikan!" ujar si resepsionis.
" Terima kasih!" ucap Roger.
Akhirnya aku dan Roger meninggalkan apartemen mewah itu. Kami kembali ke hotel tempat ku menginap.
...****************...
Seperti malam-malam biasanya aku tetap pergi menemui Wallace. Aku ceritakan padanya hal yang ku lalui siang tadi. Sekalian berterima kasih karena telah membantuku. Tapi tidak seperti malam biasanya, malam ini Wallace lebih banyak diam. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu. Dia pun tak mau bercerita saat ku tanya. Ia hanya berkata 'aku baik-baik saja!' dan 'tidak apa-apa'.
__ADS_1
Tapi jelas sekali di wajahnya sedang menyimpan kekhawatiran. Aku pikir mungkin ia punya masalah pribadi jadi aku tak mau mengganggunya. Sehingga aku meninggalkannya lebih cepat untuk memberinya waktu sendiri.
Aku kembali ke hotel lebih awal dari biasanya. Ponselku tertinggal saat aku pergi tadi. Begitu aku mengambilnya dari atas meja rupanya mati. Sepertinya habis baterai, lantas aku langsung mengecas-nya tanpa ku hidupkan lagi. Aku langsung memutuskan untuk tidur.
...****************...
Seusai mandi pagi tubuh terasa lebih segar. Ku raih ponselku dan baru akan menghidupkannya. Pesan pun langsung masuk bertubi-tubi begitu ponsel menyala. Ada belasan bahkan puluhan. Dan semuanya dari nomor yang sama, nomor tak dikenal. Satu persatu pesan ku buka dan baca. Aku baru tahu ini pesan dari Edgar. Aku hampir lupa bahwa aku meninggalkan nomorku pada resepsionis itu. Tak perlu membaca habis pesan Edgar, aku segera membalasnya. Semua akan dibicarakan saat bertemu nanti.
......................
Aku berjalan menuju ke sebuah cafe pinggir jalan yang tak jauh dari hotel. Dari salah satu meja nampak seorang pemuda melambaikan tangannya padaku. Itu dia Edgar. Aku menghampirinya dengan cepat.
"Akhirnya kamu datang juga! Bagaimana kabarmu, Riza? Aku kaget kamu ada di New Angeles!" kata Edgar tak percaya.
Lama tak bertemu Edgar, ia jadi nampak agak kurus.
"Tidak perlu basa-basi. Apa yang kamu lakukan di sini?" Aku langsung menyerang.
"Bukankah aku sudah menjelaskannya melalui pesan yang ku kirim kemarin?" ujar Edgar.
Aku memutar bola mataku.
"Mana mungkin aku membacanya satu persatu sebanyak itu?! Sekarang jelaskan apa yang kamu lakukan di sini? Mengapa kamu kabur dari Losta? Dan nomormu tidak pernah aktif?" tanyaku.
"Maaf, ponselku dicuri saat tiba di bandara. Aku tidak kabur, Riza! Karena memang ada sesuatu yang harus ku lakukan di sini. Aku harus menyelesaikannya!" jawab Edgar.
"Iya, aku tahu! Jadi, apa yang sudah kamu katakan pada Wallace? Dan apa itu sudah dianggap selesai?" kata ku ketus.
"Wallace?! Ya ampun, Eriza .... Kamu masih memikirkan masalah itu juga!? Ini tidak ada hubungannya dengan Wallace. Bahkan sedikit pun aku tidak memikirkan itu. Aku kira kamu sudah tidak marah padaku mengenai masalah itu!" kata Edgar.
"Kalau bukan karena Wallace. Lantas untuk apa kamu ke sini?" tanyaku.
"Ini mengenai kakakku, Ginnevra. Tiba-tiba dia tidak sadarkan diri. Menurut nenek yang mengasuh kami dulu, Ginnevra terkena kutukan yang membuatnya mati suri. Jika kutukan itu tidak dicabut Ginnevra tidak akan bangun mungkin untuk selamanya. Dan cara untuk menyelamatkannya adalah aku harus mencari Crystal Orlov yang katanya ada di kota ini. Tapi sampai sekarang aku belum menemukan apa-apa di sini," jelas Edgar dengan wajah sedih.
"Kalau begitu aku minta maaf. Aku sudah berburuk sangka padamu. Sebagai gantinya aku akan membantumu mencari benda itu," janjiku merasa tak enak hati.
"Terima kasih. Dan kamu, apa yang sebenarnya kamu lakukan di sini, Riza? Bukankah ini belum musim libur? Bagaimana dengan kuliahmu?" tanya Edgar dengan heran.
Edgar malah menyengir.
"Kamu pikir aku akan berbuat begitu? Aku tidak mungkin meninggalkan kuliah hanya untuk hal sepele begitu. Riza, sebaiknya kamu pulang saja. Kamu masih harus kuliah. Aku bisa mencari benda itu sendiri. Lagipula ini masalahku!" kata Edgar.
"Tidak, tidak. Aku sudah bilang akan membantumu. Lagipula aku sangat tidak enak telah menuduh mu yang bukan-bukan! Anggap saja untuk menebus kesalahan. Kalau tidak aku akan terus merasa tak enak hati," tukas ku.
"Bagaimana dengan kuliahmu?" tanya Edgar.
"Aku bisa mengejarnya tahun depan nanti. Lagipula ini sudah mendekati libur akhir tahun. Siapa yang ingin menghabiskan waktu bersama buku di kamar sementara Santa menari di luar?!" kataku dengan candaan.
"Iya juga, memang benar. Tapi kalau itu tidak membebani mu dan membuat cemas orang rumahmu, tidak masalah bagiku," ujar Edgar akhirnya.
"Tentu saja tidak. Aku mendapat ijin sepenuhnya dari mereka!" kataku mantap.
"Baguslah. Ngomong-ngomong kamu menginap di mana?" tanya Edgar.
"Di hotel yang tak jauh dari sini!" jawabku.
"Kenapa kamu memilih tinggal di apartemen daripada hotel? Aku sampai mencari mu di seluruh hotel di kota ini," tanyaku kemudian.
"Oh ya?! Aku kan tidak tahu sampai kapan aku akan tinggal di kota ini. Daripada menginap di hotel dengan biaya permalam yang mahal mungkin akan lebih hemat memilih apartemen. Bagaimana kamu bisa menemukan apartemenku?" tanya Edgar penasaran.
"Wallace yang memberitahuku!" jawabku.
"Oh," gumam Edgar. Wajahnya sedikit berubah.
"Kalian masih sering bertemu?" tanyanya hati-hati.
"Aku hanya menemuinya tiap malam saja! Karena pagi dia harus bekerja!" jawabku kalem.
"Hm," gumam Edgar. Ia tak bertanya tentang Wallace lagi.
"Sudah berapa lama kamu disini?" tanyanya.
__ADS_1
"Mungkin seminggu lebih," aku mengira-ngira.
"Sudah berapa biaya yang kamu habiskan untuk membayar sewa hotel?" tanya Edgar.
Aku tertegun, aku bahkan tak memikirkan itu. Aku jadi khawatir dengan jumlah tagihan yang harus ku bayar nanti.
Edgar malah menyengir menertawakan wajah bodohku.
"Aku ingin ke perpustakaan di pusat kota. Apa kamu mau ikut?" tanya Edgar membuyarkan pikiranku.
"Boleh. Aku ikut!" jawabku cepat.
Kami langsung beranjak dari cafe. Aku mengikuti Edgar yang berjalan menuju parkiran. Dan berhenti pada sebuah sedan mini dengan warnanya yang mulai kusam. Edgar membukakan pintu untukku dan kami masuk.
"Kamu juga menyewa mobil?" tanyaku sembari memperhatikan interior mobil yang sedikit kuno dan usang.
"Tidak. Aku membelinya dengan harga murah. Dari pada naik taksi, mobil tua ini cukup menghemat biaya transportasi," jawab Edgar dengan bangganya.
"Menghemat? Tapi kamu tinggal di apartemen mewah yang pasti sangat mahal!" ujarku.
"Aku suka suasananya yang tenang. Di sana udaranya masih bersih dan tidak berisik. Pemandangannya juga indah. Mahal sedikit tidak apa, setidaknya untuk hal lain bisa lebih berhemat," kata Edgar.
Begitulah kami menghabiskan waktu perjalanan sambil membicarakan hal-hal yang tak penting. Sampai akhirnya kami tiba di sebuah gedung perpustakaan umum yang sangat besar.
Di dalamnya penuh dengan rak-rak buku yang sampai menjulang tinggi. Dengan sekelilingnya yang semuanya hanya ada buku.
Edgar langsung menuju ke rak buku-buku sejarah. Ada banyak buku sejarah dunia. Tapi nampaknya ia tak menemukan yang dicari. Ia kemudian beralih ke rak buku lain. Kali ini rak dengan buku-buku di bidang tertentu, sembari memperhatikan papan kecil yang terpampang di atas rak, ia berhenti pada sebuah rak, Gemologi. Mengingat yang ia cari adalah sejenis crystal.
Ia melihat-lihat tiap judul buku. Kemudian menarik salah satu buku yang lumayan tebal. Sambil membalik-balikkan halaman dan membacanya sekilas. Ditaruhnya kembali buku itu. Dan beralih ke judul buku-buku lain. Sementara aku sibuk melihat kumpulan buku sejarah. Yang ingin ku cari adalah sejarah mengenai New Angeles. Menurutku kota ini tidak hanya indah tapi juga menyimpan banyak misteri terutama di Dixie Holly.
Aku berhasil menemukan buku yang ku cari. "Sejarah Awal New Angeles" buku tebal yang tampaknya sudah lama ini berada di depanku. Aku membawanya ke tempat yang disediakan khusus untuk membaca. Kemudian ku buka halaman tiap halaman sambil membacanya. Tiba-tiba Edgar datang dan duduk di sampingku. Dengan sebuah buku yang ia bawa.
"Buku apa yang kamu bawa?" tanyaku padanya.
"Aku baru tahu seperti ini rupa Crystal Orlov," kata Edgar sembari menunjukkan gambar Crystal Orlov yang dipakai seorang ratu.
"Bukankah itu sebuah kalung?" tanyaku.
"Ya," jawab Edgar.
"Di mana kita bisa menemukan kalung itu?" tanyaku lagi.
"Entahlah. Tidak ada keterangan sama sekali. Di sini hanya dijelaskan kalung ini awalnya milik Raja Dixie yang kemudian ia hadiahkan kepada istrinya, Ratu Maera. Saat sang ratu melahirkan putra pertama. Saat Kerajaan Dixie tumbang, Raja Edmund Darkoven berhasil mendapatkan kalung tersebut. Tapi tak berselang lama ia memiliki kalung itu, sang raja meninggal dengan misterius diikuti hilangnya kalung tersebut. Hingga saat ini banyak orang yang berusaha mencari kalung tersebut tapi tak ada satu pun yang berhasil menemukannya," kata Edgar mengutip bacaan dibuku.
"Aneh sekali. Kalau begini akan sulit menemukannya!" kataku.
"Iya. Bahkan tidak ada titik terang di mana harus memulai. Ini sungguh membingungkan. Apa yang harus aku lakukan untuk menolong Ginnevra?" ujar Edgar dengan putus asa.
"Tenanglah! Pasti ada jalan keluar!" hiburku sambil mengusap bahu Edgar.
"Apa nenek tidak memberitahumu di mana harus mencarinya?" tanyaku kemudian.
"Dia hanya bilang di New Angeles. Di tiap penjuru istana! Di mana penjuru istana itu? Memangnya ada istana di sini?" jawab Edgar.
"Aku pernah dengar dahulu Kerajaan Dixie ada di kota ini. Tapi tepatnya di mana itu belum pasti. Kata supir taksi langgananku bisa jadi Dixie Holly adalah wilayah kerajaan itu. Tapi aku masih kurang yakin. Apa aku bisa meminjam buku ini untuk dibawa pulang?" tanyaku sambil menunjukkan buku yang sedang ku baca.
"Tentu saja bisa. Kamu bisa meminjamnya kepada pengawas di sana!" jawab Edgar.
"Baiklah, aku akan meminjam ini untuk dibaca nanti. Lalu kamu berencana ke mana lagi? Atau kita akan seharian mencari buku di sini?" tanyaku.
"Tidak, aku sudah selesai. Aku ingin kembali ke apartemen. Kamu mau ikut? Atau kamu ingin kembali ke hotel?" jawab Edgar lalu bertanya.
"Hm, aku ikut saja. Aku ingin lihat seperti apa kamarmu. Aku penasaran dengan apartemen yang katanya langsung menghadap ke laut!" jawabku.
"Oke. Ayo pergi!" ajak Edgar.
Kami pergi setelah aku selesai meminjam buku pada pengawas perpustakaan.
__ADS_1
bersambung ....