Pangeran Dari Dunia Lain

Pangeran Dari Dunia Lain
Bercerita Pada Wallace


__ADS_3

"Eriza ...."


Aku terbangun saat mendengar suara bisikkan yang memanggil namaku. Tidak ada siapa-siapa. Namun bisikan itu sangat jelas dan nyata. Ah, aku tak mau berpikir macam-macam. Ku lirik jam dinding kamar, sudah siang. Kemudian mengecek ponsel, tidak ada panggilan. Tumben Edgar tidak mengganggu ku pagi ini?


Aku beranjak dari tempat tidur. Segera mandi, sarapan kemudian pergi jalan-jalan sendiri. Tak ada tujuan ke mana akan pergi. Hanya berkeliling dengan bis kota sampai bis berhenti di suatu tempat. Ini tempat yang ku datangi bersama Edgar kemarin. Berada di jalanan yang ramai mungkin lebih baik. Sambil terus berjalan ke sana-kemari tak tahunya aku kembali melewati toko Gipsy yang kemarin. Sedikit ragu untuk masuk ke sana, tapi aku juga penasaran dengan maksud ucapan wanita Gipsy itu. Perasaan ragu belum reda saat sebuah suara memanggil dari dalam,


"Hei, kenapa berdiri di sana? Masuklah!"


Wanita Gipsy kemarin berdiri di depan toko dengan mata yang mengarah padaku. Dengan langkah pelan aku berjalan masuk. Wanita Gipsy itu sudah berada di balik mejanya.


"Aku ...."


Aku bingung akan memulai dari mana.


"Aku tahu, kamu pasti penasaran dengan ucapanku kemarin, ya kan? Dan setelah itu sesuatu terjadi. Aku bisa melihatnya dari mata mu yang penuh kekhawatiran dan ketakutan. Jika kamu tidak percaya itu terserah padamu!" kata wanita Gipsy dengan tepat.


"Aku memang tidak mengerti dengan ucapanmu. Memangnya kamu tahu apa yang ku cari?" tanyaku.


"Aku tahu benda yang kamu cari. Tapi, kamu tidak tahu kamu sedang berhadapan dengan siapa! Crystal Orlov terkutuk bagi siapa saja yang memilikinya! Aku bisa membantumu kalau kamu mau, tapi itu tidak gratis!" ujar wanita Gipsy dengan senyum tersungging di bibirnya.


"Kamu mau memerasku?!" tuduhku.


"Aku tidak butuh uang! Yang aku perlukan hanyalah beberapa tangkai Angel's Trumpet!" ujar wanita Gipsy.


"Setahuku itu bunga yang sangat beracun," kataku.


"Memang! Bagaimana? Syaratku tidak sulit, bukan?" ucap wanita Gipsy dengan enteng.


"Kenapa tidak kamu sendiri yang mengambil bunga itu? Kalau memang tidak sulit?!" tanyaku.


"Memang tidak sulit. Tapi sayangnya aku tidak menemukan bunga itu di sepanjang jalan maupun taman! Di kota ini, Angel's Trumpet dilarang ditanam di kawasan umum dan area pemukiman penduduk!" jawab wanita Gipsy.


"Kalau sudah tahu tidak ada dan dilarang di kota ini untuk apa aku mencarinya? Bukankah sia-sia? Lagipula apa yang ingin kamu lakukan dengan bunga itu?" tanyaku curiga.


"Akan ku apakan itu urusanku! Seperti kamu mencari Crystal Orlov aku tidak bertanya untuk apa! Ada satu tempat di mana tidak tersentuh oleh manusia! Aku yakin di hutan itu ada!" ujar wanita Gipsy.


"Hutan mana?" tanyaku.


"Hutan di belakang Dixie Holly!" jawab wanita Gipsy yakin.


"Kamu menyuruhku masuk ke sana? Kamu gila! Tembok itu bahkan tidak memiliki pintu masuk menuju hutan!" kataku tak percaya.


"Ya, terserah padamu! Aku juga tidak bisa bantu apa-apa! Tapi, jika kamu sudah mendapatkan bunga itu kembalilah ke sini!" ujar wanita Gipsy itu dengan cueknya.


Aku terdiam menatapnya aneh. Kemudian pergi dengan perasaan dongkol. Sungguh aneh wanita ini. Tapi aku juga heran ia tahu aku mencari Crystal Orlov padahal aku belum memberitahunya. Apa ia benar-benar peramal sungguhan?


Lelah berjalan tanpa arah tujuan akhirnya aku memilih kembali ke apartemen. Edgar masih tak menghubungiku. Entah apa yang dilakukannya sekarang. Hari masih sore, ku ambil ponsel lalu menghubungi Roger. Aku memintanya menjemputku di apartemen jam tujuh malam nanti.


Saat aku keluar dari apartemen Roger sudah menunggu di parkiran. Dari jauh ia melambaikan tangan begitu melihatku. Aku menghampirinya dan langsung masuk ke dalam taksi. Begitu siap Roger mulai menjalankan taksinya.


Di sepanjang jalan Roger banyak bertanya padaku. Kenapa aku pindah ke apartemen, ke mana saja aku beberapa hari ini, dan banyak lagi. Aku menjawab semua pertanyaannya dengan senang hati. Dan juga memberitahunya aku pergi dengan temanku. Perjalanan tiba di Dixie Holly. Aku turun dari taksi. Seperti biasa Roger menunggu di taksinya.

__ADS_1


Aku berjalan dengan cepat memasuki Dixie Street. Saat melewati Mansion Maera ada sedikit perasaan ngeri mengingat cerita Edgar kemarin. Apalagi ini malam hari. Dengan langkah lebih cepat aku berjalan melewatinya. Aku sampai di depan katedral. Tidak ada siapa-siapa di sana. Sepi. Apakah Wallace tidak datang?! Sementara pintu katedral terbuka. Ada beberapa orang yang sedang berdoa di dalam. Dengan langkah pelan aku masuk ke dalam katedral. Lalu duduk di kursi paling belakang. Berdoa sebentar mungkin bisa menenangkan hati yang sedikit kacau. Ku pejamkan mata dan mengucap beberapa bait doa di dalam hati.


Aku pikir Tuhan juga tahu apa yang ku harapkan meski tanpa aku menjelaskannya.


Setelah berdoa aku masih duduk di sana. Sambil sejenak mengagumi keindahan langit-langit katedral.


"Ini pertama kalinya aku melihatmu duduk di sini!" ujar seorang lelaki tua.


Aku kaget dan menoleh. Pak tua yang dulu mengusirku saat mendekati Lucent Inn. Sejak kapan ia duduk di sebelahku?


"Anda ...."


"Ya? Aku penjaga katedral ini!" kata si pak tua dengan cepat.


"Aku kebetulan lewat dan melihat pintu katedral ini terbuka. Jadi, aku datang untuk berdoa sebentar. Mengapa katedral ini jarang dibuka? Padahal katedral ini begitu indah!" tanyaku.


"Katedral ini buka seharian di minggu pertama bulan pertama. Dan minggu biasa di pagi hari saja! Tidak banyak pengunjung yang datang berdoa. Karena itu sering di tutup. Tapi setiap hari aku datang untuk membersihkan lantai, kursi, altar dan segala perabotnya," jelas pak tua.


"Lalu, siapa yang membayar anda?" tanyaku.


"Tidak ada yang membayarku! Kadang pastur dan beberapa umat memberi ku sedikit banyak upah. Tapi aku mengambil yang ku perlukan saja selebihnya ku kembalikan kepada Tuhan!" jawab pak tua dengan mata berbinar.


"Anda sungguh mulia!" pujiku.


Pak tua itu tersenyum. Ia kemudian berdiri.


"Sepertinya ada yang sedang menunggumu!" ujarnya. Dan pak tua itu berjalan pergi.


"Aku kira kamu tidak akan datang lagi!" katanya.


Aku menoleh.


"Wallace!" panggilku.


"Aku minta maaf atas apa yang ku katakan beberapa hari yang lalu!" kata Wallace. Ia maju mendekatiku.


"Tidak apa-apa. Aku sudah tak mempermasalahkannya!" balasku.


"Benarkah? Lalu, kenapa kamu tidak datang lagi?" tanyanya.


"Aku sibuk! Akhir-akhir ini terjadi banyak masalah! Aku sampai bingung!" jawabku.


"Ada masalah apa? Ceritakan padaku!" pinta Wallace bersimpati.


"Kamu yakin ingin tahu?" tanyaku memastikan terlebih dulu.


"Iya! Aku janji tidak akan marah seperti kemarin!" Wallace berkata dengan sungguh-sungguh.


"Ini tentang Edgar! Lebih tepatnya mengenai Ginnevra! Kamu kenal dia kan, kakak Edgar?!" tanyaku.


"Apa yang terjadi pada Ginnevra?" tanya Wallace.

__ADS_1


"Entahlah, ini terdengar agak aneh. Kata Edgar dia terkena kutukan yang membuatnya mati suri. Dan satu-satunya cara untuk menyelamatkan hanyalah dengan sebuah benda bernama Crystal Orlov. Tapi benda itu sangat misterius dan terkutuk bagi pemiliknya. Bagaimana mungkin bisa mendapatkannya? Bahkan keberadaan crystal itu pun tidak jelas. Ke mana harus mencarinya? Bukankah ini membingungkan?" Aku menjelaskan pada Wallace.


"Apa Edgar mengatakan sesuatu hal lain padamu?" tanya Wallace.


"Edgar bilang aku dirasuki arwah Ratu Maera saat kami masuk ke Mansion Maera. Aku juga ingat di buku yang ku baca Crystal Orlov merupakan hadiah raja untuk Ratu Maera. Crystal itu juga membawa kutukan bagi pemiliknya. Ratu juga memakai kalung itu di lukisan. Dan ...," aku terdiam menatap Wallace dengan lekat.


"Dan apa?" tanya Wallace.


"Apa nama belakangmu?" tanyaku.


"Nama belakang?" Wallace nampak bingung tapi ia menjawab dengan cepat,


"Nama belakangku ... Grayson!"


"Oh ... Aku hanya merasa wajahmu mirip," ujarku.


Wallace terdiam, tetapi ia seperti tidak tenang.


"Mungkin memang sebaiknya kamu tidak mencari crystal itu!" kata Wallace kemudian.


"Kenapa?" tanyaku.


"Mungkin kamu memang tidak butuh crystal itu. Ingat crystal itu terkutuk! Kamu bisa saja ikut celaka!" jawab Wallace dengan takut-takut.


"Ucapanmu sama seperti peramal Gipsy itu! Kaum sepertinya tahu sesuatu! Katakan padaku!" desakku.


"Aku tidak tahu apa-apa! Aku hanya katakan apa yang aku tahu saja! Sejak beberapa ratus tahun lalu, tidak ada seorangpun yang pernah menemukan crystal itu! Kamu pikir apa kamu mungkin menemukannya?" kata Wallace.


Aku terdiam mendengar ucapan Wallace.


"Jangan sia-siakan waktumu! Pasti ada cara lain untuk menolong Ginnevra!" ujar Wallace kemudian.


"Ah, peramal Gipsy itu berkata ia akan membantuku tapi dengan satu syarat! Aku harus mendapatkan Angel's Trumpet sebagai imbalannya! Di mana aku bisa menemukan bunga itu?" aku berkata.


"Angel's Trumpet. Hm ... Riza, besok siang kamu kembalilah ke sini! Temui pak tua tadi di katedral. Dia akan memberikannya padamu! Untuk pertemuan malam ini kita sudahi dulu, ada yang harus aku lakukan!" kata Wallace.


"Apa yang ingin kamu lakukan? Apa pak tua itu tahu di mana bisa menemukan bunga itu?" tanyaku.


"Pulanglah dan kembali lagi besok! Aku janji takkan mengecewakanmu!" ujar Wallace sambil tersenyum kecil.


Aku mengangguk.


"Baiklah kalau begitu! Sampai bertemu besok!" pamitku. Lalu aku berjalan pergi.


 


bersambung ....


╔═.✵.════════════════════╗


"Suka karya ini?! Berikan dukunganmu dengan tanda suka, favorit, atau gift, ya! Eits, jangan diboom like tapi ya, cukup like 20 bab perhari. Supaya jumlah dukunganmu tetap masuk ke hitungan Top Fans. Terima kasih!"

__ADS_1


╚════════════════════.✵.═╝


__ADS_2