Pangeran Dari Dunia Lain

Pangeran Dari Dunia Lain
Edgar Meminta Bantuan Wallace


__ADS_3

Masih dalam perjalanan, di dalam mobil menuju apartemen. Sejenak aku melupakan masalahku dan berbicara pada Edgar mengenai masalah Ginnevra.


"Edgar, kamu harus pulang! Karena kamu tidak membutuhkan Crystal Orlov untuk menolong Ginnevra," kataku pada Edgar diperjalanan.


"Kamu ini bicara apa?" tanya Edgar tak mengerti.


"Kamu hanya perlu menemukan Hati Ruby yang sebenarnya ada di dalam rumahmu, Edgar! Hanya itu yang bisa membangunkan Ginnevra. Hati Ruby akan menuntun kembali sebagian jiwanya yang pergi. Itu karena Hati Ruby diberikan oleh seseorang yang sangat dicintai oleh kakakmu. Dan itu bukan Ruby biasa, melainkan Ruby pelindung jiwa." Aku menjelaskan seperti yang dikatakan Batilda.


"Hati Ruby? Maksudmu kalung dengan batu merah delima? Aku sudah lama tidak melihat kakakku memakainya. Darimana kamu tahu tentang kalung itu?" tanya Edgar.



"Tadi aku kembali ke toko Gipsy. Wanita Gipsy yang bernama Batilda itu yang memberitahuku," jawabku.


"Kamu kembali ke sana? Kenapa harus percaya kata peramal?" tanya Edgar meremehkan.


"Tidak ada salahnya mencoba, Edgar! Jika ada hal yang lebih mudah untuk dilakukan, kenapa harus mencari yang mustahil? Aku yakin yang dia katakan benar. Kamu harus pulang dan menemukan Hati Ruby itu, Edgar!" kataku dengan setengah memaksa.


"Kalau aku pulang bagaimana denganmu?" tanya Edgar tak setuju.


"Aku akan di sini menyelesaikan masalahku sendiri. Setelah semua selesai aku akan pulang!" jawabku.


"Tidak bisa. Kita harus pulang bersama!" Edgar bersikeras.


"Edgar, Ginnevra tidak bisa menunggu! Bukankah sudah lama kamu di sini? Lagi pula saat berangkat kita sendiri-sendiri, kenapa pulang harus bersama?" tanyaku.


"Bukan begitu, Riza! Aku juga butuh kamu untuk menjelaskan kepada nenek Nancy bahwa kita tidak butuh Crystal Orlov! Dan lagi kamu pikir apa aku tega meninggalkanmu sendiri di sini dengan keadaanmu yang seperti sekarang ini?" ujar Edgar.


Aku diam saja menatap Edgar sekilas.


"Kalau begitu kita kembali lagi ke Dixie Holly nanti malam!" usulku.


"Tidak! Malam ini kamu sebaiknya istirahat! Setelah yakin kamu benar baik-baik saja, aku baru akan mengantarmu lagi besok malam," jawab Edgar.


Aku tak berkata-kata lagi. Kami pun sampai di apartemen. Aku turun dari mobil Edgar dan berpamitan dengannya. Ia nampak masih enggan pergi, tapi aku yakinkan padanya aku baik-baik saja. Barulah kemudian ia pergi.


.......


... ....


.......


.......


...★━━━━━━PoV2━━━━━━★...


Malam di Dixie Holly tidak seperti malam biasanya. Meski sudah memasuki bulan November, suasana Natal sama sekali tidak terasa di kawasan ini. Tempat ini tetap suram dengan hawa kemisteriusannya.


Pak Berto sedang menutup pintu katedral. Begitu ia berbalik sosok seseorang berdiri di luar pagar. Ia mendekatinya sambil bergumam,


"Permainan sudah selesai! Kamu tertangkap!" 


Sambil tertawa terkekeh ia berlalu dari hadapan sosok itu.

__ADS_1


Sosok tersebut pun hanya diam mematung tanpa membalas sepatahpun kata-kata Pak Berto.


.......


.......


.......


.......


Di apartemen Edgar.


Pemuda itu sedang melihat daftar buku telepon di ruang tamu. Teringat akan sesuatu ia lalu meraih telepon yang tak jauh dari tempat duduknya. Memencet beberapa angka lalu menelepon. Menunggu beberapa detik, telepon diangkat,


📲[Halo] Suara yang sangat dikenalnya berbicara.


"Halo, nenek! Ini aku Edgar. Bagaimana keadaan kakak?" tanya Edgar.


📲[Oo Edgar, kamu rupanya! Sudah lama kamu tidak telepon. Ginnevra masih sama seperti saat terakhir kamu pergi. Apa kamu sudah mendapatkan Crystal Orlov?]


"Belum, tapi aku menemukan cara lain untuk menolong kakak. Nenek pasti tahu kalung yang biasa dipakai kakak. Bisakah nenek menemukan kalung itu? Karena kalung itu dapat membangunkannya dari tidurnya!" terang Edgar.


📲[Kalung apa? Aku sama sekali tidak tahu. Edgar, Ginnevra hanya bisa dibangunkan dengan Crystal Orlov! Temukan crystal itu maka Ginnevra akan sembuh!]


"Tidak mungkin, Nek! Crystal Orlov dikutuk! Bagaimana mungkin bisa menyembuhkan kakak!? Lagipula mustahil menemukan crystal itu. Sementara sampai detik ini belum ada orang yang berhasil menemukannya!" jelas Edgar.


📲[Tentu saja bisa, aku akan menangkal kutukannya. Mereka hanya tidak tahu di mana crystal itu berada! Temukan istana Kerajaan Dixie dan cari kalung itu di Penjuru Istana!]


"Di mana Penjuru Istana? Istananya saja aku tidak tahu. Nenek, tidak ada salahnya kita mencoba dengan Hati Ruby milik kakak dulu ...."


📲[Temukan Crystal Orlov atau kamu akan kehilangan Ginnevra untuk selamanya! Waktumu tiga hari dari sekarang!] Telepon langsung ditutup begitu saja.


"Nek. Nenek Nancy!" panggil Edgar tapi percuma.


Dengan kesal dibantingnya gagang telepon itu. Ia mulai panik. Waktunya hanya tersisa tiga hari. Ia mengambil gagang telepon lagi lalu memencet nomor telepon Eriza. Tinggal satu angka terakhir, ia berhenti dan menutup kembali gagang teleponnya.


"Aku tak bisa mengganggunya sekarang!" gumamnya sendiri.


Akhirnya Edgar memilih meninggalkan apartemen. Dengan kecepatan tinggi ia memacu mobilnya menuju ke Dixie Holly. Ia tiba dengan cepat. Memarkirkan mobilnya dengan sembarang kemudian masuk ke Dixie Street.


Dengan pandangan kesana-kemari seolah mencari sesuatu. Ia sampai di depan katedral. Tidak ada siapa-siapa di sana. Sementara ia kebingungan sendiri. Dilihatnya pintu katedral yang tertutup. Ia mencoba mengetuk-ngetuk pintu itu dengan kuat sambil memanggil pak Berto. Tapi tidak ada jawaban. Tiba-tiba Wallace muncul dari balik pagar.


"Percuma kamu berteriak. Pak tua itu sudah pergi!" kata Wallace.


Edgar langsung menghentikan aksinya dan ke luar mendekati Wallace.


"Kebetulan, aku memang mencarimu!" kata Edgar yang panik.


"Ada apa? Kenapa kamu datang sendiri? Apa gadis yang kucintai sudah tak mau bertemu denganku lagi?" tanya Wallace dengan murung.


"Aku sedang tidak mau mengurusi masalah kalian. Yang ini lebih penting. Ini menyangkut Ginnevra! Aku harus mendapatkan Crystal Orlov dalam waktu tiga hari atau aku akan kehilangan kakakku selamanya!" Edgar menjelaskan.


Namun Wallace menyunggingkan bibirnya. Dengan yakin ia berkata.

__ADS_1


"Crystal Orlov tidak akan membantu apa-apa. Itu bukan obat penawar malah mungkin hanya membawa petaka. Percayalah kamu tidak butuh crystal itu untuk menyelamatkannya!"


"Aku tahu masih ada cara lain untuk menyelamatkan Ginnevra. Tapi nenek Nancy sangat yakin kalau Crystal Orlov-lah yang bisa menyembuhkannya bukan Hati Ruby!" jelas Edgar.


"Hati Ruby?!" Wallace bergumam. Ia mengerutkan dahinya.


"Seharusnya Ginnevra tidak selemah itu jika Hati Ruby masih menempel ditubuhnya. Di mana Hati Ruby itu sekarang?" tanyanya pada Edgar.


"Aku tidak tahu, dia tak memakainya lagi. Kata peramal Gipsy Hati Ruby masih berada di dalam rumahku, di sebuah ruangan, di dalam kotak dan terkunci. Dan aku harus menemukannya! Sementara nenek Nancy mendesakku untuk segera menemukan Crystal Orlov dan membawanya pulang! Aku sungguh bingung, panik, dan waktuku hanya tiga hari! Tiga hari!! Apa yang harus aku lakukan?!" jawab Edgar dengan perasaan gusar.


"Aku rasa nenek itu punya rencana lain. Dia pasti punya tujuan tak baik dengan memanfaatkan Ginnevra supaya kamu menemukan Crystal Orlov itu untuknya!" ujar Wallace tanpa disangka-sangka.


"Apa? Tidak mungkin nenek berbuat seperti itu! Dia yang merawat dan membesarkan kami! Dia sudah seperti nenek kami sendiri. Bagaimana mungkin dia melakukan perbuatan jahat pada kami?" sangkal Edgar tak percaya sama sekali.


"Kamu tidak pernah tahu bagaimana hati manusia. Yang nampak baik dari luar bisa diam-diam menusuk dari belakang! Aku hanya mengantisipasi. Terdengar sangat aneh jika nenek tua itu ngotot memintamu membawa Crystal Orlov sementara ada pilihan lain yang bisa dia coba. Aku sangat penasaran. Seandainya aku bisa masuk ke sana, aku pasti akan tahu apa rencananya!" ujar Wallace dengan serius.


"Kamu pikir nenek juga yang memasang segel pelindung rumah?" tanya Edgar.


"Bisa jadi begitu," jawab Wallace.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan!?" tanya Edgar bingung.


"Aku punya rencana! Itu jika kamu mau bekerjasama denganku. Aku bisa membantu! Tapi, tetap tanpa Crystal Orlov! Aku tidak mau mengorbankan siapapun!" jawab Wallace.


"Baik, aku setuju! Apa rencanamu?" ucap Edgar.


Wallace menyunggingkan senyumnya,


"Pertama, lepaskan semua segel, itu ada di lima sudut rumahmu. Supaya aku bisa masuk dan mencari Hati Ruby, aku akan menemukannya lebih cepat daripada mata manusia. Tapi untuk menjalankan rencana ini kamu tidak bisa melakukannya sendiri. Kamu butuh orang lain untuk membantu," jelasnya.


"Hm ... aku mengerti. Lalu?" tanya Edgar.


"Kemudian bawa nenek itu menjauh dari rumah supaya temanmu bisa menyelinap masuk untuk melepas semua segelnya. Setelah segel lepas aku akan masuk mencari Hati Ruby kemudian mengembalikannya pada Ginnevra," jawab Wallace.


"Aku paham. Tapi, bagaimana caranya melepaskan segel itu?" tanya Edgar lagi.


"Itulah masalahnya, aku tidak tahu. Ah tunggu, aku tahu siapa yang bisa membantu! Besok kamu harus pergi ke toko Gipsy, temui wanita yang bernama Batilda. Dia bisa membantu," jawab Wallace cepat.


"Peramal itu ...," gumam Edgar.


"Kamu kenal?" tanya Wallace.


"Tidak. Hanya Eriza pernah ke sana. Ia mengetahui tentang Hati Ruby untuk menolong Ginnevra juga dari peramal Gipsy itu," jawab Edgar.


"Kalau begitu kamu memang harus ke sana!" ujar Wallace.


"Ya, besok aku akan ke sana! Meski aku tidak begitu percaya ucapan peramal!" balas Edgar karena tak punya pilihan.


"Kamu tidak punya waktu untuk berpikir harus percaya atau tidak! Kamu tetap harus melakukannya," Wallace mengingatkan.


"Ya, aku tahu. Terima kasih sudah mau membantu!" kata Edgar. Ia baru mulai berjalan beberapa langkah. Namun ia berhenti.


"Satu masalah lagi, aku tak berniat ikut campur dalam urusanmu dengan Eriza. Tapi, aku berharap masalah kalian segera selesai. Aku akan kembali lagi besok!" ujar Edgar, kemudian ia pun pergi meninggalkan Dixie Holly.

__ADS_1


bersambung ....


__ADS_2