Pangeran Dari Dunia Lain

Pangeran Dari Dunia Lain
Pendekatan Alex


__ADS_3

Kring! Kring!


Alarm berbunyi dengan nyaring. Dengan mata masih berat aku bangun dan mematikannya.


Hoamz .... Masih ngantuk padahal semalam sudah tidur awal. Meskipun masih mengantuk tetap harus bangun juga. Aku baru akan beranjak dari tempat tidur saat aku menyadari sesuatu hal.


"Rasanya semalam seperti ada yang membelai kepalaku. Mungkin mimpi tapi rasanya nyata sekali," gumamku sambil memegang kepala yang terasa dibelai.


"Ah, mungkin mimpi 3D. Kan jaman sudah canggih," Aku berkata sendiri sambil menahan tawa geli.


Tak ingin ambil pusing lagi, aku segera mandi dan bersiap ke kampus.


...******...


Ponselku tiba-tiba berdering saat aku sedang asyik membaca berita dari sebuah majalah di teras belakang rumah. Tanpa melihat nama yang tertera di layar ponsel, aku langsung mengangkatnya.


"Halo!"


📲[Halo, Riza!] sapa suara diseberang.


Aku baru melihat ke layar ponsel, tertera nama Alex. Dan kembali ke pembicaraan.


"Alex? Tumben sekali?" kataku.


📲[Ya. Bukankah aku bilang akan meneleponmu?! Apa aku mengganggu?]


"Tidak. Kebetulan aku sedang santai."


📲[Oh, baguslah kalau aku tidak mengganggu. Jadi, kita bisa ngobrol lebih lama. Kamu tidak keberatan, kan?]


"Tentu saja tidak. Bagaimana kabar Mandy hari ini?"


📲[Dia sudah kembali normal seperti biasa. Hahaha ... Aku masih suka tertawa mengingat tingkahnya kemarin.]


"Bagus, ada sedikit hiburan. Kamu sendiri nampaknya kakimu cukup kuat?"


📲[Tentu saja. Aku kan setiap hari turun naik tangga jadi sudah terbiasa. Ngomong-ngomong minggu ini aku akan ke Losta lagi. Dan mengajakmu jalan-jalan lagi. Bagaimana?]


"Jauh-jauh dari Jackville hanya untuk mengajakku jalan? Apa tidak capek pulang pergi Jackville-Losta?"


📲[Aku sudah terbiasa melakukan perjalanan jauh dengan mobil. Lagipula hanya tiga jam menuju Losta. Itu bukan perjalanan yang jauh bagiku.]


"Oh, begitu. Lalu Mandy ikut juga?"


📲[Kurasa tidak. Minggu ini ia sibuk menyelesaikan skripsi terakhirnya.]


"Jadi, kamu sendiri?"


📲[Aku dan Justin. Ia tak mungkin mau ketinggalan bila tahu aku pergi ke Losta.]


"Apa kamu sudah memberitahu Sienna?"


📲[Justin pasti sudah memberitahunya duluan. Anak itu paling semangat kalau kuajak ke sana.]


"Oh ...."


📲[Jadi, kamu tidak bisa menolak, kan? Aku hanya ingin membuatmu senang. Aku suka kamu tersenyum seperti saat kita pergi ke Green Hill kemarin.]


Aku terdiam.


📲[Halo? Riza? Kamu masih di sana?]


"Ya. Aku dengar."


📲[Kenapa diam saja? Kamu sibuk? Baiklah lain kali ku telepon lagi. Sampai bertemu hari minggu, ya! Bye ....]


"Oke, Bye ...."


Telepon pun ditutup. Aku meletakkan ponsel kembali ke atas meja. Alex benar-benar tak mau menyerah.


"Hai, Eriza!" sapa Sienna yang entah sejak kapan sudah ada di dapur.

__ADS_1


"Eh, Sienna. Sudah pulang?" balasku.


"Sudah daritadi. Siapa yang menelepon?" tanyanya.


"Alex," jawabku.


"Oh. Dia pasti memberitahumu ia akan datang minggu ini, kan?" tanya Sienna.


"Kamu sudah tahu?" Aku pura-pura bertanya.


"Justin sudah memberitahu ku," jawabnya senang.


"Oh .... Ya, dia memberitahu ku tadi. Ia benar-benar masih belum menyerah," kataku.


"Dia sedang berusaha!" Sienna melarat ucapanku.


"Apa sajalah istilahnya," ujarku cuek.


Sienna tersenyum. Ia berjalan menghampiriku dan duduk disampingku.


"Kamu masih memikirkan pemuda misterius itu?" tanyanya hati-hati.


"Mungkin," jawabku kurang jujur.


"Pasti iya," kembali Sienna membenarkan ucapanku.


"Sama sekali tak ada sesuatu yang bisa dilakukan untuk menghubunginya?" tanya Sienna.


Aku menggeleng lemah. Sienna menghela nafas.


"Aku tak mengerti dengan perasaan itu. Bagaimana kita bisa menyukai seseorang yang baru kita kenal kurang dari lima menit? Setelah itu memikirkannya sepanjang hari. Perasaan itu manis sekaligus sakit. Manis ketika memikirkannya dan sakit ketika ...." Sienna menggelangkan kepala, ia tak mau melanjutkan kalimatnya. Ia malah berbicara lain.


"Aku tak mau kamu terus terpuruk dengan perasaanmu. Cinta sejati memang butuh perjuangan dan pengorbanan tapi jika hanya satu pihak yang berkorban, itu bukan cinta sejati. Menurutku tidak ada salahnya memberi kesempatan Alex untuk berjuang, tapi jika kamu rasa ia mengganggu, kamu bisa membicarakan itu dengannya," kata Sienna pada akhirnya sebelum ia pergi dari tempat duduknya. Ia terlihat jadi serba salah sendiri.


Aku tetap diam mencerna semua perkataan Sienna. Aku mengerti mengapa Sienna tak melanjutkan kalimat terakhirnya. Aku juga tahu apa yang akan ia katakan, ia hanya berusaha menjaga perasaanku. Tapi untuk sarannya yang terakhir, aku rasa perlu mempertimbangkannya.


...******...


Tak terasa hari minggu tiba sudah. Di mana Alex dan Justin akan datang hari ini.


Tepat pukul 09.00 pagi mereka sudah menunggu di depan rumah. Mereka pasti berangkat lebih pagi dari minggu kemarin. Tetap dengan mobil yang sama. Tujuan hari ini ialah pantai. Bukan tempat istimewa mungkin, namun cukup untuk bersenang-senang dan menghilangkan penat.


Sebelum berangkat bibi Jane menawari Alex dan Justin untuk ikut sarapan bersama kami. Usai sarapan barulah kami berangkat.


Perjalanan ke pantai hanya memakan waktu 45 menit. Begitu sampai Justin langsung menarik Sienna memisahkan diri dari kami berdua Mau tak mau aku harus ikut dengan Alex.


Alex tak mengajakku bermain ombak di pantai. Ia malah membawaku duduk di sebuah pondok yang menjorok ke tepi pantai.


"Aku tak tahu mengapa kamu mengajakku ke sini. Kamu tidak mandi, tidak bermain ombak, tidak juga berjalan-jalan di tepian pantai," kataku padanya.


"Karena Justin dan Sienna ingin bersenang-senang," jawab Alex kalem.


"Jadi, kamu tidak senang?" tanyaku.


"Aku sudah senang kalau bisa duduk seperti ini denganmu," jawabnya sambil menyunggingkan senyum coolnya.


Aku membuang muka pura-pura tak melihat.


"Berhentilah menggombal!" kataku.


"Aku tidak menggombal. Aku mengatakan yang sebenarnya!" ujar Alex.


"Kenapa kamu begitu ngotot?" kataku judes.


"Ngotot bagaimana? Aku tidak memaksakan apapun!" kata Alex tetap kalem.


"Kamu tidak perlu memaksakan diri hanya demi menyenangkan orang lain. Sementara kamu tidak menyukainya," balasku.


"Aku tidak bilang aku tidak menyukainya, kan?! Aku juga tidak bilang aku tidak senang! Kan sudah kukatakan aku senang di mana saja asal di sana ada kamu. Kamu mau main air? Ayo, kita bermain!" ujar Alex dengan semangat.


"Tidak mau!" tolakku.

__ADS_1


"Lalu, kamu mau bagaimana? Jangan cemberut begitu, aku ke sini kan untuk menemuimu juga. Satu minggu bagiku sangat lama. Untuk bisa ke sini dan melihatmu," ujar Alex dengan lembut.


"Aku kan tidak meminta kamu untuk datang," balasku tak peduli.


"Jangan begitu, Eriza. Aku rindu padamu makanya aku datang. Tersenyumlah sedikit. Kamu lebih manis kalau sedang tersenyum," goda Alex berusaha menyenangkan hatiku.


"Jangan menggodaku!" ujarku.


"Aku tidak menggoda, aku berkata apa adanya. Ayolah! Senyum ...." ujar Alex sembari memamerkan senyumnya.


Aku menatapnya dengan sebal namun ikut tersenyum juga.


"Nah, begitu manis, bukan?! Aku jadi ingin menatapmu terus," puji Alex yang terus menatapku.


"Jangan menatapku seperti itu!" protesku karna aku merasa tak nyaman.


"Kenapa? Habis kamu cantik!" tanya Alex namun tetap menatapku.


"Aku tak suka. Kalau kamu masih terus menggombaliku, aku akan pergi!" Aku mengancam.


"Oke, oke .... Aku tidak akan sering-sering menatapmu. Dan aku tidak akan pernah menggombalimu!" kata Alex segera mengalihkan pandangan dariku.


"Mau jalan-jalan di pantai? Masa hanya duduk di sini saja? Apa tidak bosan?" tanya Alex.


"Baiklah. Ayo!"


Dan kami meninggalkan pondokan berjalan menyusuri tepian pantai. Sesekali berjalan mendekati ombak.


Seharian ini waktu habis bermain di tepi pantai. Hingga sore menjelang, tak ada satupun dari Alex dan Justin yang mengajak pulang. Aku heran karena seharusnya mereka tak pulang terlalu malam mengingat perjalanan yang mereka tempuh cukup jauh.


Aku dan Alex duduk di tepi pantai. Sementara Justin dan Sienna ada di pondokan.


"Ini sudah sore. Bukankah seharusnya waktunya kalian untuk pulang?" tanyaku pada Alex.


"Ya. Setelah matahari terbenam," jawab Alex.


"Bukankah sudah terlalu malam? Apa tidak terlalu malam sampai di Jackville nanti? Lagipula mengapa harus menunggu matahari terbenam?" Aku bertanya lagi.


"Tidak apa-apa. Mumpung sedang di pantai, aku ingin melihat sunset bersama orang yang aku sayangi," jawab Alex kalem. Meski pandangannya lurus ke depan tapi ia tersenyum. Aku terdiam tak membalas kata-katanya.


Terangnya langit perlahan memudar. Matahari perlahan-lahan tenggelam dibalik awan. Menyisakan rona kemerahan dibalik awan. Hingga lenyap dan langit kembali gelap.


Udara pantai semakin dingin. Hanya suara ombak terdengar menderu dan angin yang riuh. Aku merinding karena cuaca yang mulai dingin.


"Ayo, pulang!" ajak Alex yang telah berdiri dan menawarkan tangannya padaku.


Dengan canggung aku meraihnya dan berdiri dibantu Alex. Beberapa saat ia belum melepaskan tanganku. Ia baru melepaskannya begitu kami mulai berjalan meninggalkan pantai.


"Hei .... Ayo, kita pulang!" teriak Alex pada Justin dan Sienna yang masih berada dalam pondokan.


Segera mereka bergabung dengan kami begitu dipanggil Alex. Dalam perjalanan pulang ini aku lebih banyak diam. Ia mengantar kami sampai di depan rumah. Sekali lagi kedua pemuda itu berpamitan dengan bibi Jane untuk kembali ke Jackville. Bibi Jane juga nampak senang dengan kedua pemuda itu.


"Mereka pemuda yang baik!" puji bibi Jane begitu mobil Alex melaju pergi.


Dan Aku langsung masuk ke kamar. Ku lemparkan tubuhku di atas kasur yang empuk. Rasa capek baru terasa sekarang. Aku menatap keluar jendela yang sejak beberapa hari ini tidak pernah ku tutup lagi tirainya. Langit malam ini nampak lebih banyak bintang. Aku kembali terhanyut dalam kerinduanku. Disaat malam menjelang, kegundahan hati kembali datang.


Aku tersenyum getir. Aku bangkit dari tempat tidur berjalan ke depan jendela. Menatap lagi bintang-bintang yang berkilau indah. Dengan harapan bintang akan menyampaikan rasa rinduku.


Doa kecil yang ku panjatkan dalam hati,


'Bintang, sampaikan rinduku padanya. Aku ingin menemuinya lagi.'


Malam ini saat sedang tertidur tiba-tiba aku dibuat terbangun. Dengan debar jantung berdegup kencang, aku merasakan kembali ada tangan dingin yang menyentuh kepalaku. Tapi tidak ada siapa-siapa di kamarku. Tidak ada juga sesuatu benda atau barang yang berubah posisi. Aku tidak mau berpikir macam-macam dan memutuskan kembali tidur.


...---PoV2---...


Namun sebenarnya Eriza tidak menyadari kehadiran Wallace di sana. Ia menyembunyikan keberadaan dirinya dari penglihatan Eriza.


...-----...


 

__ADS_1


bersambung ....


__ADS_2